One Paid Two

One Paid Two
14


__ADS_3

Bright lebih tenang di pelukan Win sekarang ia melepaskan pelukannya


pada Win dan menyeka bekas air matanya, ia melihat ke arah Win lalu


mendorongnya gengsi. Ia malu karena sempat menangis dalam pelukan Win, Win yang


didorng merasa bingung


“Apa yang kau lakukan padaku!” Bright sambil memondar mandirkan


bola matanya


“Aku hanya ingin menenangkanmu Phi”


Wajah Win memelas


“Aku tidak membutuhkannya! !” Bright


bangkit lalu berjalan keluar kamar dan membanting pintu.


Win melongo melihat pintu yang


tertutup “Apa apaan dia?” dalam hati Win


“Sssshhhh” Win baru sadar akan


keadaan tangannya ia buru buru berlari ke toilet untuk membersihkan lukanya.


“Awww” rasa perih mulai terasa saat


air menyentuh tangannya,matanya melihat kiri kanan mencari tisu kering. Ia


membalut telapak tangannya melingkar, Bright memang tidak memborgol tangan Win


lagi hanya lehernya saja yang di borgol.


.


.


.


Alex seperti biasa masuk membawakan


makanan untuk Win


“Ini makananmu” Alex


“Ummm” Win hanya mengangguk


Alex menyadari tangan Win terbalut


tissue


“Ada apa dengan tanganmu?” Alex


“Ahhh ini? tidak apa apa” Win


Alex menunduk lalu mengambil tangan


Win dan membuka balutan tisu tersebut


“Apa yang terjadi?” Alex saat tahu


tangan Win terluka


“Euhh apa terjadi sesuatu pada P’Bright


tadi?” Win


“Apa tuan Bright marah marah


padamu?” Alex


“Euuuhh ada apa dengan P’Bright ?”


Win

__ADS_1


“Tuan Bright..” Alex


“Aku tidak apa apa!” Bright tiba


tiba masuk ke kamar dan melihat ke arah Win dan Alex dengan tatapan tidak suka.


Alex reflex langsung berdiri dan menunduk hormat


“Maaf tuan” Alex


“Kau anak buahku! Seharusnya kau


menjaga privasiku bukan?” Bright


“Maaf tuan maafkan saya” Alex


beberapa kali menundukan badannya


“Keluar! ! !” Bright


Alex menuruti perintah tuannya


dengan perasaan tidak enak


Bright mendekati badan Win yang sedang


duduk di tempat biasanya yaitu di pojok ruangan kamar Bright, ia mengangkat


dagu Win dengan telunjuknya membuat Win menengadah


“Jangan ikut campur urusanku! !”


Bright di depan wajah Win


“Maafkan aku Phii aku hanya ingin


tahu apa yang terjadi padamu” Win dengan pelan


“Tidak ada hubungannya denganmu!”


Bright


hidupmu bukan? Aku hanya ingin tahu salahku dimana apa aku salah?” Win sedikit


meninggikan suaranya


(PLAKK) Bright memang tidak suka


dibentak ia reflex menampar Win dengan kerasnya, Bright mengusap wajahnya kasar.


Win memegang pipinya ia menunduk, tak tahu kenapa rasanya begitu sakit kali


ini, bukan sakit bekas tamparan tapi sakit di dekat dadanya. Mungkin karena Win


ingin mengerti Bright namu Bright selalu menyalah artikannya


“Apapun yang terjadi jangan ikut


campur urusanku! Jangan lupa bahwa aku bisa melakukan padamu dan ibumu jika aku


mau!” Bright


Win yang mendengar kata ibunya


langsung membelakan matanya dan merapatkan kedua tangannya di dadanya


“Jangan libatkan ibuku aku mohon aku


berjanji akan menurutimu” Win


Bright melihat punggung tangan Win


yang membiru dan darah yang masih basah, seketika ia langsung mengingat


kejadian tadi siang saat ia memukul tangan Win di dinding. Bright keluar kamar


tanpa kata kata

__ADS_1


Tak lama Bright masuk lagi dengan


sekotak PPPK di tangannya,


“Awww” Win meringis saat Bright


meraih tangannya tanpa aba aba


“Apa yang kau lakukan Phi?” Win


melongo


“Kau tidak ingin tanganmu di potong


karena infeksi bukan?” ketus Bright sambil membuka tutup alcohol dengan satu


tangannya


“Kau peduli padaku?” Win menggoda


Bright


“Jangan salah paham! Aku hanya tidak


ingin mendengar kau merengek saat tidur! Itu menggangguku! !” Bright


“Aku tidak pernah merengek” Win


“Ohh benarkah?” Bright


“AWWWW Phi pelan pelan” Win meringis


saat Bright menekan lukanya dengan kapas yang di balur alcohol


“Kau bilang kau tidak pernah


merengek” Bright menarik sebelah bibirnya karena berhasil membalas Win


“Aku tahu kau sebenarnya baik Phi”


Win tersenyum kecil sambil memandang wajah Bright yang tengah sibuk membalit


tangannya dengan perban


“Aku bukan orang baik” Bright dengan


wajah datar


“Kau baik Phi! Buktinya kau


membantuku sekarang” Win


“Selain kehilangan pendengaranmu kau


juga kehilangan urat malumu? Sudah bilang aku tidak ingin mendengarmu merengek,


itu menyebalkan! Aku berasa ingin membunuhmu saat itu juga!” Bright


“Ohhh benarkah?” Win


“Berhenti berkata omong kosong atau


aku akan membungkam mulutmu!” Bright selesai membalut tangan Win dan segera


bangkit meninggalkan Win


“Terimakasih Phi” Bright


menghentikan langkahnya saat Win berkata ‘Terimakasih’


“Sudah kubilang aku tidak sedang


membantumu! Menyebalkan” Bright melanjutkan langkahnya.


Win hanya tersenyum melihat sikap


tuannya yang tidak ingin disebut orang baik itu.

__ADS_1


Gimana ceritanya? Seru gak? Silahkan


Like! Terimakasih><


__ADS_2