One Paid Two

One Paid Two
26


__ADS_3

Bright benar benar sangat sibuk empat hari ke belakang ini, bahkan ia


selalu pulang ke rumah sampai larut malam. Sama halnya dengan hari ini waktu


menunjukan pukul 02:20 namun Bright baru sampai di kamarnya dengan wajah


kelelahan entah apa yang ia kerjakan hingga ia selalu pulang selarut ini.


Win kini sudah ada peningkatan, ia tidur dengan alas dan selimut serta


bantal. Namun hal itu tak membuat Win tidur dengan nyaman setelah ia mengetahui


jika ibunya sedang sakit, ia selalu terbangun tanpa tahu jam berapapun itu


biasanya ia akan berdiri di dekat kaca sambil melihat pemandangan luar karena


hanya itu hiburan Win satu satunya saat Win merasa sedih dan kesepian.


Dering telpon Bright terus berbunyi hingga beberapa kali namun Bright


terlalu malas untuk menjawabnya apalagi itu sangat dini hari, hingga dering


telpon ke lima Bright berusaha menjawabnya namun bukan untuk mendengar si


penelpon tetapi untuk memarahinya agar tidak menelponnya sedini ini.


“Tidak kah kau punya jam? ! apa kau tak tahu jam berapa ini? ! jangan pernah mengganggu jam istirahatku atau aku tak akan segan segan


membunuhmu! ! !”


Bright berteriak sangat keras, ia benar benar marah


tanpa tahu siapa dan ada keperluan apa si penelpon tadi. Win yang mendengar


kebisingan langsung terbangun saat itu juga, ia melihat Bright dengan mata


terpejam namun wajahnya di tekuk. Bright yang terlanjur bangun karena gangguan


tadi akhirnya bangkit dari tidurnya, ia duduk dengan punggungnya bersandar pada


bantal sambil menengadahkan wajahnya.


“Ada apa Phi?” Win memberanikan bertanya


“Tak ada! Hanya seorang penelpon tak tahu waktu!” ketus Bright kesal


“Siapa tahu itu penting Phi, kenapa kau tak mencoba


mendengarkannya” Win dengan suara serak khas orang bangun tidur. Namun perkataan


baik Win malah membuat Bright tak terima dan membuatnya semakin marah


“Kau pun sama seperti mereka! !  apa susahnya menunggu sampai


pagi hari? ! !” Bright sangat kesal ia membanting


badannya dan langsung memejamkan matanya. Sedangkan Win menggelengkan kepalanya


sudah tak heran dengan sikap Bright yang seperti itu. Saat Win menapakan

__ADS_1


tangannya di lantai tak sengaja sesuatu yang tajam menancap di jari telunjuknya


“Awwww” Win segera melihat jarinya ternyata serpihan


kaca yang sangat kecil menacap di sana, entah dari mana kaca itu berasal namun


Win tak memikirkannya ia langsung mencabut serpihan kaca itu sukses membuat


setetes darah merah segar keluar dari sana. Win memijat jarinya membuat darah


keluar lebih banyak, terlintas di pikirannya melewat bayangan ibunya. Dadanya langsung


nyeri entah kenapa namun ia memikirkan hal yang tidak tidak tentang ibunya “Tuhan


tolong jaga ibuku” pintanya di hatinya.


Pagi hari Alex mengetuk pintu dengan cepat, membuat


Bright yang masih tertidur pulas terbangun dengan kesalnya


“Arghhhhhh tak bisakah orang orang membiarkanku tidur


dengan nyaman!” Bright sudah marah pagi pagi


Win juga ikut terbangun mendengar kebisingan itu


Saat pintu dibuka dilihatlah Alex dengan raut wajah


penuh pesan seperti keadaan darurat dengan nafas ngos ngosan, namun karena


Bright sedang kesal ia tak memperhatikan hal itu ia malah memarahi Alex


“Tuann anuu euuuu” karena Alex berbicara sambil ngos


ngosan ia sampai tak bisa meneruskan perkataannya


“Cepatlah aku ingin tidur! !” Bright


“Ibu Win… ibu Winn..” Alex


Bright sangat panic, ia masuk ke kamar dan langsung


memakai pakaian seadanya namun ia berusaha menyembunyikan kepanikannya di depan


Win. Ia sekuat tenaga menahan rasa takut dan paniknya namun semua pertahanannya


runtuh sia sia saat melihat Win dengan polosnya mengamati apa yang Bright


lakukan, Bright mengampiri Win dan langsung memeluknya penuh penyesalan.


“Winn bunuh aku jika kau mau! Bunuh aku sekarang juga! Ayo bunuh phi ayo Win lakukan sesuatu” Bright dengan


posisi masih memeluk Win dengan eratnya, Bright tak bisa menahan tangisannya ia


menangis sejadi jadinya dengan seluruh badannya gemetar.


Win benar benar tak mengerti apa yang sedang Bright katakan,


ia juga tak mengerti mengapa Bright menangis dan memeluknya seperti itu.

__ADS_1


“Phii tenanglah apa yang terjadi padamu?” Win masih


mencerna apa yang terjadi


Flashback beberapa menit sebelumnya


“Cepatlah aku ingin tidur! !” Bright


“Ibu Win… ibu Winn.. ibu Win meninggal tuan, Louis


bilang ia menelponmu namun ia belum sempat bicara tapi kau sudah menutupnya..


aku sengaja member nomormu agar Louis bisa mengabarimu” Alex


Sakitt sakit sekali hati Bright mendengar hal itu,


hatinya bagai di hujam panah habis habisan ia kehilangan akal tubuhnya membeku


hampir saja ia kehilangan keseimbangan tubuhnya sendiri


“Jangan bercanda padaku!”


Bright berusaha berkata seperti itu berharap bahwa semua itu hanya lelucon di


pagi hari


“Aku tak bercanda tuan, aku pikir aku akan


menyampaikan kabar gembira pagi ini padamu karena detektif sudah mengirimkan


rekaman dashboard tentang kematian ayahmu” Alex dengan kepala menunduk


Mendengar kematian ibu Win sudah cukup membuat Bright


hilang akal namun Alex malah membicarakan kematian ayahnya, hati Bright bagai


di sambar petir habis habisan. Ia tak bisa berkata apa apa ia perlahan meraih


hp yang berisikan rekaman dashboard yang Alex tunjukan. Jantungnya berdetak


sangat kencang ia belum siap menerima apa yang akan terjadi selanjutnya saat ia


melihat rekaman itu, terlihat ayah Win sudah tergeletak di tanah sebelum Thanat


(ayah win) sampai ke sana bahkan setelah itu terlihat Thanat berusaha


membangunkan Lakorn (ayah Bright) dan berusaha menolongnya. Bright menangis tak


bersuara namun ia menghentikan tangisannya dan kembali memperlihatkan wajah


seperti tak terjadi apa apa dan masuk ke kamar untuk menemui Win.


Maaf pendek banget ya


chap ini?, nantikan penyesalan Bright di chap selanjutnya><


Author bakal Update


besok kalo banyak yang vote sama komen selamat membaca><

__ADS_1


__ADS_2