
Bright benar benar sangat sibuk empat hari ke belakang ini, bahkan ia
selalu pulang ke rumah sampai larut malam. Sama halnya dengan hari ini waktu
menunjukan pukul 02:20 namun Bright baru sampai di kamarnya dengan wajah
kelelahan entah apa yang ia kerjakan hingga ia selalu pulang selarut ini.
Win kini sudah ada peningkatan, ia tidur dengan alas dan selimut serta
bantal. Namun hal itu tak membuat Win tidur dengan nyaman setelah ia mengetahui
jika ibunya sedang sakit, ia selalu terbangun tanpa tahu jam berapapun itu
biasanya ia akan berdiri di dekat kaca sambil melihat pemandangan luar karena
hanya itu hiburan Win satu satunya saat Win merasa sedih dan kesepian.
Dering telpon Bright terus berbunyi hingga beberapa kali namun Bright
terlalu malas untuk menjawabnya apalagi itu sangat dini hari, hingga dering
telpon ke lima Bright berusaha menjawabnya namun bukan untuk mendengar si
penelpon tetapi untuk memarahinya agar tidak menelponnya sedini ini.
“Tidak kah kau punya jam? ! apa kau tak tahu jam berapa ini? ! jangan pernah mengganggu jam istirahatku atau aku tak akan segan segan
membunuhmu! ! !”
Bright berteriak sangat keras, ia benar benar marah
tanpa tahu siapa dan ada keperluan apa si penelpon tadi. Win yang mendengar
kebisingan langsung terbangun saat itu juga, ia melihat Bright dengan mata
terpejam namun wajahnya di tekuk. Bright yang terlanjur bangun karena gangguan
tadi akhirnya bangkit dari tidurnya, ia duduk dengan punggungnya bersandar pada
bantal sambil menengadahkan wajahnya.
“Ada apa Phi?” Win memberanikan bertanya
“Tak ada! Hanya seorang penelpon tak tahu waktu!” ketus Bright kesal
“Siapa tahu itu penting Phi, kenapa kau tak mencoba
mendengarkannya” Win dengan suara serak khas orang bangun tidur. Namun perkataan
baik Win malah membuat Bright tak terima dan membuatnya semakin marah
“Kau pun sama seperti mereka! ! apa susahnya menunggu sampai
pagi hari? ! !” Bright sangat kesal ia membanting
badannya dan langsung memejamkan matanya. Sedangkan Win menggelengkan kepalanya
sudah tak heran dengan sikap Bright yang seperti itu. Saat Win menapakan
__ADS_1
tangannya di lantai tak sengaja sesuatu yang tajam menancap di jari telunjuknya
“Awwww” Win segera melihat jarinya ternyata serpihan
kaca yang sangat kecil menacap di sana, entah dari mana kaca itu berasal namun
Win tak memikirkannya ia langsung mencabut serpihan kaca itu sukses membuat
setetes darah merah segar keluar dari sana. Win memijat jarinya membuat darah
keluar lebih banyak, terlintas di pikirannya melewat bayangan ibunya. Dadanya langsung
nyeri entah kenapa namun ia memikirkan hal yang tidak tidak tentang ibunya “Tuhan
tolong jaga ibuku” pintanya di hatinya.
Pagi hari Alex mengetuk pintu dengan cepat, membuat
Bright yang masih tertidur pulas terbangun dengan kesalnya
“Arghhhhhh tak bisakah orang orang membiarkanku tidur
dengan nyaman!” Bright sudah marah pagi pagi
Win juga ikut terbangun mendengar kebisingan itu
Saat pintu dibuka dilihatlah Alex dengan raut wajah
penuh pesan seperti keadaan darurat dengan nafas ngos ngosan, namun karena
Bright sedang kesal ia tak memperhatikan hal itu ia malah memarahi Alex
“Tuann anuu euuuu” karena Alex berbicara sambil ngos
ngosan ia sampai tak bisa meneruskan perkataannya
“Cepatlah aku ingin tidur! !” Bright
“Ibu Win… ibu Winn..” Alex
Bright sangat panic, ia masuk ke kamar dan langsung
memakai pakaian seadanya namun ia berusaha menyembunyikan kepanikannya di depan
Win. Ia sekuat tenaga menahan rasa takut dan paniknya namun semua pertahanannya
runtuh sia sia saat melihat Win dengan polosnya mengamati apa yang Bright
lakukan, Bright mengampiri Win dan langsung memeluknya penuh penyesalan.
“Winn bunuh aku jika kau mau! Bunuh aku sekarang juga! Ayo bunuh phi ayo Win lakukan sesuatu” Bright dengan
posisi masih memeluk Win dengan eratnya, Bright tak bisa menahan tangisannya ia
menangis sejadi jadinya dengan seluruh badannya gemetar.
Win benar benar tak mengerti apa yang sedang Bright katakan,
ia juga tak mengerti mengapa Bright menangis dan memeluknya seperti itu.
__ADS_1
“Phii tenanglah apa yang terjadi padamu?” Win masih
mencerna apa yang terjadi
Flashback beberapa menit sebelumnya
“Cepatlah aku ingin tidur! !” Bright
“Ibu Win… ibu Winn.. ibu Win meninggal tuan, Louis
bilang ia menelponmu namun ia belum sempat bicara tapi kau sudah menutupnya..
aku sengaja member nomormu agar Louis bisa mengabarimu” Alex
Sakitt sakit sekali hati Bright mendengar hal itu,
hatinya bagai di hujam panah habis habisan ia kehilangan akal tubuhnya membeku
hampir saja ia kehilangan keseimbangan tubuhnya sendiri
“Jangan bercanda padaku!”
Bright berusaha berkata seperti itu berharap bahwa semua itu hanya lelucon di
pagi hari
“Aku tak bercanda tuan, aku pikir aku akan
menyampaikan kabar gembira pagi ini padamu karena detektif sudah mengirimkan
rekaman dashboard tentang kematian ayahmu” Alex dengan kepala menunduk
Mendengar kematian ibu Win sudah cukup membuat Bright
hilang akal namun Alex malah membicarakan kematian ayahnya, hati Bright bagai
di sambar petir habis habisan. Ia tak bisa berkata apa apa ia perlahan meraih
hp yang berisikan rekaman dashboard yang Alex tunjukan. Jantungnya berdetak
sangat kencang ia belum siap menerima apa yang akan terjadi selanjutnya saat ia
melihat rekaman itu, terlihat ayah Win sudah tergeletak di tanah sebelum Thanat
(ayah win) sampai ke sana bahkan setelah itu terlihat Thanat berusaha
membangunkan Lakorn (ayah Bright) dan berusaha menolongnya. Bright menangis tak
bersuara namun ia menghentikan tangisannya dan kembali memperlihatkan wajah
seperti tak terjadi apa apa dan masuk ke kamar untuk menemui Win.
Maaf pendek banget ya
chap ini?, nantikan penyesalan Bright di chap selanjutnya><
Author bakal Update
besok kalo banyak yang vote sama komen selamat membaca><
__ADS_1