
Win berjalan membelah kerumunan dengan wajah yang sangat kacau, kini ibunya telah berada di balik
peti di bawah tanah sana. Airmatanya sudah tak terlihat lagi di wajah Win,
namun kesedihannya Nampak terlihat jelas. Win berjalan sempoyongan di papah
oleh pamannya Louis, terlihat Bright memperhatikan Win dengan raut wajah tak
kalah sedihnya dari Win. Ia sudah pasrah apapun yang akan terjadi antara Win
dan Bright nantinya, kini Win sudah berada tepat di samping makam mendiang
ibunya tercinta. Ia duduk di samping tempat beristirahat ibunya itu, tangannya
menggenggam tanah merah segar yang menumpuk dengan taburan bunga di atasnya.
“Mae…..” sesak dan rasa sakit itu masih sama seperti sebelumnya, benar
benar tak kurang sedikitpun.
“Mae mu sudah bahagia Win, kau juga harus bahagia nantinya” Louis sambil
merangkul tubuh Win, sedangngkan Bright dan Alex berdiri agak jauh dari mereka.
“Bagaimana aku bisa bahagia sedangkan kebahagiaanku sudah ikut terkubur
bersama ibuku di bawah sana?” Win
“Kau harus kuat Win, ibumu pasti akan ikut bersedih jika kau terlarut
dalam kesedihan seperti ini. Lihatlah kau tak sendirian, masih ada aku, temanmu
Bright yang akan selalu menjagamu” Louis
Otak Win terasa berhenti
seketika saat Louis mengucapkan kata “Bright”, manusia kejam dan biadab itu?
Bagaimana dia akan menjagaku? Dia bahkan mengidam ngidamkan penyiksaanku,
perlahan membasmi keluargaku, dia membiarkan ibuku meninggal bahkan tidak
mengizinkanku bertemu dengannya di saat terakhirnya. Setelah ibu mungkin aku
juga akan dibunuh, semoga aku di bunuh secepatnya. Aku bersumpah akan
membencimu selamanya! Kau bukanlah manusia, kau iblis! Kau iblis berwujud manusia. Jika kau tidak membunuhku
maka aku yang akan membunuhmu!.
Win
sambil menatap Bright dengan penuh amarah, kebencian serta dendam sambil
menyumpah serapahi Bright dalam hatinya. Sedangkan yang di pandangi hanya diam
membeku dengan wajah penuh arti, walaupun begitu Win tidak ingin Louis tahu apa
yang sebenarnya terjadi padanya. Tentang betapa tersiksanya ia selama ini,
tentang betapa lelahnya hati dan fisiknya Win, tentang bagaimana Win di
perlakukan layaknya hewan, tentang tak berharganya nyawa Win di mata Bright dan
tentang semua perlakuan kejam Bright padanya.
“Win!Ayo kita pulang” Louis berhasil
memudarkan lamunan Win.
“Aku ingin disini dulu” Win dengan suara serak nan
perlahan, bahkan hampir tak terdengar.
“Apa kau yakin Win? Bahkan kau terlihat kacau dan tak
__ADS_1
sehat” Louis
Namun yang di Tanya memilih untuk diam, Melihat hal
itu Louis sangat mengerti perasaan Win.
“Emmmhh baiklah, aku akan menunggumu di mobil.
Cepatlah kembali!” Louis sambil mengusak rambut Win
lembut, namun seperti biasa Win tak merespon apapun.
Louis
berjalan berjalan menghampiri Bright sambil mengangguk seakan menyapa dan
dibalas oleh anggukan balik dari Bright dan Alex, lalu Louis berjalan melewati
mereka.
“Kembalilah duluan!Aku akan disini dulu” Bright pada Alex, namun tampaknya Alex agak ragu untuk
meninggalkan Bright dengan Win dalam keadaan dan suasana seperti ini.
“Apa kau yakin tuan? Sepertinya kau harus menunggu Win
tenang dulu sebelum bicara padanya” Alex
“Aku yakin!” Bright
Sebenarnya Bright juga benar benar tak siap untuk berbicara dengan Win
mengingat semua perlakuan Bright pada Win sebelumnya, mau tak mau Alex menuruti
perintah dari tuannya itu. Terlihat Win hanya duduk tanpa melakukan apapun di
samping makam ibunya itu, Bright menarik nafas dalam meyakinkan diri untuk
melangkah mendekati Win.
“Win?” Kata Bright perlahan, namun Win tak merespon.
“Win aku minta maaf” Kini Bright bersimpuh di tanah
menghadap Win, ia juga merasa tak pantas untuk di maafkan.
“Win maafkan aku, maafkan aku yang terlambat menjenguk
ibumu, maafkan aku yang tak sempat membawamu pergi menemuinya. Kau bisa
menghukumku Win!kau bisa melakukan apapun yang kau mau
padaku Win” tak ada kebohongan sedikitpun yang tergambar di wajah Bright, ia
benar benar menunjukan ketulusannya. Ia menangis sambil memundukan kepalanya.
Win terlalu
lelah untuk menangis, walau hatinya sangat sakit dan sedih mendengar setiap
ucapan yang keluar dari mulut Bright yang terdengar seperti omong kosong oleh
Win. Namun anehnya badannya tak bereaksi apapun, di sisi lain Win ingin
menangis sejadi jadinya namun fisiknya benar benar tak bisa melakukannya, hal
itu membuat Win sangat tersiksa. Win masih berada di posisi yang sama seperti
sebelumnya, duduk terdiam memandang batu nisan tanpa ekspresi apapun.
“Win kumohon jangan diamkan aku seperti ini, lakukan
sesuatu Win kau boleh memukulku!” Bright meraih tangan Win lalu
memukulkannya ke pipinya, namun di luar dugaan Win malah menatap Bright datar
__ADS_1
benar benar tanpa ekspresi.
“Win? Kumohon katakana sesuatu!Jangan seperti ini” dengan Win yang seperti ini bahkan lebih menyakitkan
daripada saat Win menangis sejadi jadinya
“Kau benar benar tau cara menyiksaku Win, kau benar
benar tau cara bersikap menyakitkan” Bright menatap Win sangat memelas, namun
yang di tatap hanya bersikap dingin lalu memalingkan wajahnya kembali menatap
kosong kearah batu nisan.
“Apakah sangat menyakitkan Win?” Bright memeluk Win
dari belakang, namun Win hanya diam tak marah bahkan tak bergerak.
“Lebih baik kau marah, menyiksaku, memukulku! Daripada kau mendiamkanku seperti ini” Bright tak
hentinya memohon berharap agar Win bisa luluh, namun naas hal itu tak bereaksi
apapun pada Win.
Perlahan
Win menyandarkan punggungnya pada dada bidang Bright, kaget dan senang di
rasakan Bright bersamaan.
“Kau bisa bersandar padaku sepuasnya Win” Bright
sambil menyeka air matanya kegirangan, namun setelah beberapa saat Bright
melihat Win Nampak menutup matanya ternyata Win pingsan. Bright kembali
frustasi untuk beberapa saat
“Win! Win!”
Bright menggoyahkan badan Win beberapa kali, tak sengaja Bright menyentuh
perban yang melingkar di leher Win. Sepertinya sayatan yang Win buat dengan
pecahan kaca saat di rumah sakit kembali berdarah, melihat hal itu Bright
langsung menggendong tubuh Win dengan tergesa gesa menghampiri Alex di
mobilnya. Tampaknya Louis yang sedang menunggu Win di mobilnya ikut menyaksikan
hal itu, Louis cepat cepat turun dari mobil dan segera menghampiri Bright untuk
menanyakan apa yang terjadi.
“Ada apa dengan Win?” Louis
“Dia pingsan, sepertinya lukanya kembali berdarah
biarkan aku yang membawanya ke rumah sakit” Bright sambil menudukan Win di
kursi penumpang di susul oleh dirinya.
“Aku percayakan Win padamu, aku akan menyusulmu di
belakang” Louis berlari ke mobilnya dan langsung mengekori mobil Bright yang
melaju dengan sangat cepat.
BTW Maaf ya guys
author baru bisa ngemakamin ibu Win hari ini, jenazahnya gak busuk kok guys
soalnya author pake in pengawetL. Btw ibu Win udah meninggal minggu lalu dan baru author
makamin hari ini, berdosa banget author;(.
__ADS_1
Like dan komentar dari
kalian sangat berharga bagi author;v Happy Reading