One Paid Two

One Paid Two
28


__ADS_3

        Win berjalan membelah kerumunan dengan wajah yang sangat kacau, kini ibunya telah berada di balik


peti di bawah tanah sana. Airmatanya sudah tak terlihat lagi di wajah Win,


namun kesedihannya Nampak terlihat jelas. Win berjalan sempoyongan di papah


oleh pamannya Louis, terlihat Bright memperhatikan Win dengan raut wajah tak


kalah sedihnya dari Win. Ia sudah pasrah apapun yang akan terjadi antara Win


dan Bright nantinya, kini Win sudah berada tepat di samping makam mendiang


ibunya tercinta. Ia duduk di samping tempat beristirahat ibunya itu, tangannya


menggenggam tanah merah segar yang menumpuk dengan taburan bunga di atasnya.


“Mae…..” sesak dan rasa sakit itu masih sama seperti sebelumnya, benar


benar tak kurang sedikitpun.


“Mae mu sudah bahagia Win, kau juga harus bahagia nantinya” Louis sambil


merangkul tubuh Win, sedangngkan Bright dan Alex berdiri agak jauh dari mereka.


“Bagaimana aku bisa bahagia sedangkan kebahagiaanku sudah ikut terkubur


bersama ibuku di bawah sana?” Win


“Kau harus kuat Win, ibumu pasti akan ikut bersedih jika kau terlarut


dalam kesedihan seperti ini. Lihatlah kau tak sendirian, masih ada aku, temanmu


Bright yang akan selalu menjagamu” Louis


         Otak Win terasa berhenti


seketika saat Louis mengucapkan kata “Bright”, manusia kejam dan biadab itu?


Bagaimana dia akan menjagaku? Dia bahkan mengidam ngidamkan penyiksaanku,


perlahan membasmi keluargaku, dia membiarkan ibuku meninggal bahkan tidak


mengizinkanku bertemu dengannya di saat terakhirnya. Setelah ibu mungkin aku


juga akan dibunuh, semoga aku di bunuh secepatnya. Aku bersumpah akan


membencimu selamanya! Kau bukanlah manusia, kau iblis! Kau iblis berwujud manusia. Jika kau tidak membunuhku


maka aku yang akan membunuhmu!.


          Win


sambil menatap Bright dengan penuh amarah, kebencian serta dendam sambil


menyumpah serapahi Bright dalam hatinya. Sedangkan yang di pandangi hanya diam


membeku dengan wajah penuh arti, walaupun begitu Win tidak ingin Louis tahu apa


yang sebenarnya terjadi padanya. Tentang betapa tersiksanya ia selama ini,


tentang betapa lelahnya hati dan fisiknya Win, tentang bagaimana Win di


perlakukan layaknya hewan, tentang tak berharganya nyawa Win di mata Bright dan


tentang semua perlakuan kejam Bright padanya.


“Win!Ayo kita pulang” Louis berhasil


memudarkan lamunan Win.


“Aku ingin disini dulu” Win dengan suara serak nan


perlahan, bahkan hampir tak terdengar.


“Apa kau yakin Win? Bahkan kau terlihat kacau dan tak

__ADS_1


sehat” Louis


Namun yang di Tanya memilih untuk diam, Melihat hal


itu Louis sangat mengerti perasaan Win.


“Emmmhh baiklah, aku akan menunggumu di mobil.


Cepatlah kembali!” Louis sambil mengusak rambut Win


lembut, namun seperti biasa Win tak merespon apapun.


         Louis


berjalan berjalan menghampiri Bright sambil mengangguk seakan menyapa dan


dibalas oleh anggukan balik dari Bright dan Alex, lalu Louis berjalan melewati


mereka.


“Kembalilah duluan!Aku akan disini dulu” Bright pada Alex, namun tampaknya Alex agak ragu untuk


meninggalkan Bright dengan Win dalam keadaan dan suasana seperti ini.


“Apa kau yakin tuan? Sepertinya kau harus menunggu Win


tenang dulu sebelum bicara padanya” Alex


“Aku yakin!” Bright


        Sebenarnya Bright juga benar benar tak siap untuk berbicara dengan Win


mengingat semua perlakuan Bright pada Win sebelumnya, mau tak mau Alex menuruti


perintah dari tuannya itu. Terlihat Win hanya duduk tanpa melakukan apapun di


samping makam ibunya itu, Bright menarik nafas dalam meyakinkan diri untuk


melangkah mendekati Win.


“Win?” Kata Bright perlahan, namun Win tak merespon.


“Win aku minta maaf” Kini Bright bersimpuh di tanah


menghadap Win, ia juga merasa tak pantas untuk di maafkan.


“Win maafkan aku, maafkan aku yang terlambat menjenguk


ibumu, maafkan aku yang tak sempat membawamu pergi menemuinya. Kau bisa


menghukumku Win!kau bisa melakukan apapun yang kau mau


padaku Win” tak ada kebohongan sedikitpun yang tergambar di wajah Bright, ia


benar benar menunjukan ketulusannya. Ia menangis sambil memundukan kepalanya.


         Win terlalu


lelah untuk menangis, walau hatinya sangat sakit dan sedih mendengar setiap


ucapan yang keluar dari mulut Bright yang terdengar seperti omong kosong oleh


Win. Namun anehnya badannya tak bereaksi apapun, di sisi lain Win ingin


menangis sejadi jadinya namun fisiknya benar benar tak bisa melakukannya, hal


itu membuat Win sangat tersiksa. Win masih berada di posisi yang sama seperti


sebelumnya, duduk terdiam memandang batu nisan tanpa ekspresi apapun.


“Win kumohon jangan diamkan aku seperti ini, lakukan


sesuatu Win kau boleh memukulku!” Bright meraih tangan Win lalu


memukulkannya ke pipinya, namun di luar dugaan Win malah menatap Bright datar

__ADS_1


benar benar tanpa ekspresi.


“Win? Kumohon katakana sesuatu!Jangan seperti ini” dengan Win yang seperti ini bahkan lebih menyakitkan


daripada saat Win menangis sejadi jadinya


“Kau benar benar tau cara menyiksaku Win, kau benar


benar tau cara bersikap menyakitkan” Bright menatap Win sangat memelas, namun


yang di tatap hanya bersikap dingin lalu memalingkan wajahnya kembali menatap


kosong kearah batu nisan.


“Apakah sangat menyakitkan Win?” Bright memeluk Win


dari belakang, namun Win hanya diam tak marah bahkan tak bergerak.


“Lebih baik kau marah, menyiksaku, memukulku! Daripada kau mendiamkanku seperti ini” Bright tak


hentinya memohon berharap agar Win bisa luluh, namun naas hal itu tak bereaksi


apapun pada Win.


        Perlahan


Win menyandarkan punggungnya pada dada bidang Bright, kaget dan senang di


rasakan Bright bersamaan.


“Kau bisa bersandar padaku sepuasnya Win” Bright


sambil menyeka air matanya kegirangan, namun setelah beberapa saat Bright


melihat Win Nampak menutup matanya ternyata Win pingsan. Bright kembali


frustasi untuk beberapa saat


“Win! Win!”


Bright menggoyahkan badan Win beberapa kali, tak sengaja Bright menyentuh


perban yang melingkar di leher Win. Sepertinya sayatan yang Win buat dengan


pecahan kaca saat di rumah sakit kembali berdarah, melihat hal itu Bright


langsung menggendong tubuh Win dengan tergesa gesa menghampiri Alex di


mobilnya. Tampaknya Louis yang sedang menunggu Win di mobilnya ikut menyaksikan


hal itu, Louis cepat cepat turun dari mobil dan segera menghampiri Bright untuk


menanyakan apa yang terjadi.


“Ada apa dengan Win?” Louis


“Dia pingsan, sepertinya lukanya kembali berdarah


biarkan aku yang membawanya ke rumah sakit” Bright sambil menudukan Win di


kursi penumpang di susul oleh dirinya.


“Aku percayakan Win padamu, aku akan menyusulmu di


belakang” Louis berlari ke mobilnya dan langsung mengekori mobil Bright yang


melaju dengan sangat cepat.


BTW Maaf ya guys


author baru bisa ngemakamin ibu Win hari ini, jenazahnya gak busuk kok guys


soalnya author pake in pengawetL. Btw ibu Win udah meninggal minggu lalu dan baru author


makamin hari ini, berdosa banget author;(.

__ADS_1


Like dan komentar dari


kalian sangat berharga bagi author;v Happy Reading


__ADS_2