One Paid Two

One Paid Two
9


__ADS_3

“Tuan ada surat undangan untukmu” Alex memberikan sebuah surat


berwarna cokelat terikat pita berwarna abu. Bright mengambil surat dan segera


membacanya


“Aku sibuk akhir akhir ini


sepertinya aku tidak bisa datang” Bright melemparkan surat undangan tersebut ke


meje di depannya.


“Keluarga Phunsawat adalah keluarga


terpandang tuan, ini akan menjadi kesempatan bagus” Alex


“Kesempatan apa maksudmu?” Bright


“Kesempatan untuk mempublikasikan


status Tuan dengan Win seperti rencana kita sebelumnya” Alex


Bright memiringkan kepalanya sambil


tersenyum dan mengangguk angguk kecil


“Apa kau yakin mereka (musuh Bright)


juga datang kesana” Bright


“Aku sudah memeriksa ini sebelumnya


tuan, dan mereka juga pasti diundang” Alex


Bright mengambil kembali surat itu


dan membacanya kembali, seperti sedang mencari sesuatu pada undangan itu


“Ahh itu akhir minggu ini, tapi


tangan Win sedang terluka bagaimana aku bisa mengenalkannya pada orang orang? Aku


tidak ingin dianggap tidak bisa menjaga pasangan hingga membuatnya terluka”


Bright


“Apa kau peduli tentang hal itu


tuan?, tujuan kita hanya untuk mempublikasikannya” Alex


“Euhh persetan dengan semua itu”


Bright


Bright tampak berfikir keras dengan


tatapan kosongnya(Hayo mikirin Win ya??), namun tak lama ia menggelengkan


kepalanya kasar dan merubahnya menjadi senyuman licik.


.


.


Bright berdiri di pintu kamar


melihat ke arah Win, begitupun Win yang berada di ujung kamar langsung melihat ke


arah Bright. Win melihat kiri kanan memsatikan Bright benar benar


memperhatikannya atau bukan


“Kenapa Phi berdiri disana?” Win


memberanikan diri bertanya, Win sudah membuang jauh jauh kebenciannya pada


orang yang sedang menyiksanya itu, ia hanya sedang menunggu kematian yang akan


datang kapan saja padanya ia sudah memberikan dan mengabdikan seluruh hidupnya

__ADS_1


pada Bright.


“Ini kamarku, aku bebas berdiri


dimanapun” jawab Bright ketus lalu berjalan masuk dan duduk di ujung kasur


sambil membuka kancing lengan kemejanya lalu melipatnya. Sedangkan Win


memperhatikan Bright “Dia sangat tampan, tapi kenapa sangat jahat?” dalam hati


Win ia duduk dengan menekuk dua kakinya dan memeluknya,sedangkan  dagunya bersarang di lututnya. Matanya tidak


teralihkan dari wajah tampan Bright


“Aku tidak mengizinkanmu menatapku


seperti itu” Bright meraih sebuah buku berwarna hitam di nakas sebelah kasurnya


lalu membacanya. Sedangkan Win memajukan bibirnya dan berhenti menatap Bright


lalu beralih menatap langit dari jendela yang terbuka. Bright melirik Win


sebentar dan mendapati Win sudah tidak menatapnya seperti tadi “Sangat penurut”


batin Bright sambil memiringkan bibirnya. Sunyi adalah kata yang tepat untuk


menggambarkan suasana kamar tersebut Bright sibuk membaca buku dan Win menatap


langit. Tiba tiba (plek plek plek) Win sengaja mengepakan kakinya kelantai kiri


kanan secara bergantian (Keknya Win kangen pengen di tampar nihL)


“Berhenti! Kau menggangguku, aku


tidak focus membaca” Bright


Win berhenti mengepakan kakinya,


sekarang ia memainkan borgol di tangannya dan menimbulkan kebisingan


“Apa maumu?, kau berisik sekali!”


Bright


suara, aku kesepian” Win


“Suara suara apa maksudmu?” Bright


“Seperti suara P’Bright, tak peduli


suara kemarahan atau apapun itu tapi aku hanya ingin mendengarnya” Win menunduk


sambil memilin ujung kakinya


“Apakah aku peduli?” Bright


“Kau tidak akan peduli” Win


“Kau tahu itu” Bright


“Tapi P’Bright terus menyahut


ucapanku” Win


“Aku tidak!” Bright


“Kamu melakukannya” Win


“Tidak aku tidak melakukannya”


Bright


“Lalu mengapa Phi menjawab?” Win


“Apa kau berani mengaturku? Apa kau


melarangku? Siapa dirimu?” Bright


“Aku pacarmu” kata kata itu tiba

__ADS_1


tiba keluar dari mulut Win


(Deggg) entah kenapa hati Bright


seperti bedegup mendengar Win berkata seperti itu, dan Bright tidak menjawab


lagi. (Drrrrttt) suara panggilan dari telpon Bright lalu diangkatnya dan Bright


segera keluar kamar, Win menjadi kesepian lagi sekarang. Entah kenapa Win


sangat suka mendengar suara Bright, walau suara marah atau apapun itu. Mungkin karena


Win selalu kesepian di kurung dikamar sendirian.


.


.


Akhir minggu


Alex sambil membuka borgol Win,


sedangkan Win hanya memperhatikan dengan bingung


“Mau kemana Phi Alex?” Win


“Apa kau tidak ingin keluar?” Alex


“Aku ingin Phi! !” Win dengan wajah


Exited


“Tapi kemana Phi? Bagaimana jika P’Bright


marah? Ahhh aku tidak ingin ikut” Win melepaskan tangannya yang digenggam Alex


“Kau lebih suka dikurung disini?”


Alex


“Tidak, tapi jika P’Bright tidak


mengizinkan aku lebih baik disini” Win


“Ini perintah tuan Bright! Dia akan


membawamu ke pesta pernikahan patner kerjanya” Alex


“Ahh benarkah?” Win


“Jangan banyak bicara ayo ikuti aku!”


Alex


Alex membawa Win ke sebuah salon


paling ternama di kota Bangkok, Bright tidak ingin dipermalukan dengan membawa


pasangan berwajah kusam meski pada dasarnya Win sudah cantik Bright ingin


membuat Win lebih cantik. (Drrrttt) dering telpon Alex “Tuan Bright” nama yang


terpampang di layar hp tersebut, Alex langsung mengangkatnya


“Ada apa tuan?” Alex


“Pastikan Win memakai gaun lengan


panjang!” Bright


“Baik tuan!” Alex


(Pip) Bright memutuskan panggilan


sepihak, sedangkan Alex melihat layar telpon sambil tersenyum dan menggelengkan


kepalanya pelan.


Gimana ceritanya gereget gak? maaf kalo agak gak nyambung, typo bertebaran dimana mana:)

__ADS_1


*komentar di bawah ya**! *


vote + like dong biar mimin semangat up tiap hari:) Happy Reading..


__ADS_2