
Bright datang ke rumah sakit tak terlalu larut hari ini, seperti biasa
ia duduk di kursi dekat kasur dimana Win berbaring.
“Apa kau sedang balas dendam Win?, apa ini bentuk balas dendam mu? Kau benar
benar membuatku tak enak makan, tak enak tidur enam hari ke belakang ini”
perlahan Bright meraih jari jemari cantik Win lalu diusapnya secara perlahan. Dua
jam berlalu Bright telah masuk kea lam mimpinya, namun sesuatu membuat Bright
harus kembali ke alam sadar. Jari jari Win yang sejak tadi Bright pegang
bergerak, walau sedikit pergerakan namun Bright dapat merasakannya bahkan
terbangun dari tidurnya. Bright masih terkejut dengan hal itu namun mata Win
masih tertutup sempurna
“Win Win?” Bright dengan suara pelan, perlahan mata cantik Win terbuka. Sedikit
terbuka, setengahnya, lalu terbuka sepenuhnya. Mata Win langsung tertuju pada
Bright karena Bright lah satu satunya orang yang ada di sana, Bright sangat
senang amat sangat senang terlihat dari matanya yang berbinar menatap Win penuh
arti. Namun bibirnya terbungkam Bright benar benar tak tahu harus berkata apa
ia sangat kikuk, turun satu tetes air mata dari ujung mata Bright mungkin
karena mulut Bright tak bisa mengutarakan hatinya lalu air mata lah yang
mewakili betapa bahagianya Bright
“Kenapa kau menangis P’Bright?” Win dengan suara yang serak
Bright tak menyeka air matanya, ia duduk tegak sambil menatap Win. Ia benar
benar bahagia namu ia juga marah karena Win menyiksanya
“Apakah menyenangkan membuat hidupku tak tenang?” satu tetes air mata
menetes lagi di pipi Bright, namun yang ditanya hanya menatap Bright terheran
heran
“Apakah ini cara balas dendamu padaku?” Mulut Bright mulai bergetar
menahan tangis
“Apa kau tahu aku tak bisa makan?, apa kau tahu tidurku tak nyenyak? Apa
kau tahu aku merasa bersalah setiap detik?” kini Bright tak mampu menahan
tangisnya lagi ia menangis terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua
tangannya. Win benar benar heran tentang apa yang terjadi pada Bright
“Apa kau khawatir aku akan mati?” Win
Bright yang sedang menangis langsung menghentikan tangisannya dan
menatap Win dengan marah karena telah mengatakan kata “mati”
__ADS_1
“Kau tahu aku sungguh benci kata itu?” Bright
“Ada apa sebenarnya denganmu?” Win
“Aku benci kata mati, kata itu membuatku menjadi jahat, kata itu
membuatku menjadi gila!” Bright kembali menangis
“Maafkan aku… membuatmu khawatir” Win dengan perlahan
“Benar! Kau harus meminta maaf padaku!” Bright menyeka air matanya
“Yaa yaa aku minta maaf” Win dengan wajah mengejek
“Aku tak akan memaafkanmu jika kau mati!” Bright
“Kenapa? Apa kau tak rela aku di bunuh orang lain?”
Win kembali mengejek Bright, padahal Win juga asal bicara
“Ya aku tak rela!” Bright
Wajah bahagia Win perlahan memudar menjadi sedih
“Jadi kau benar benar sedih karena takut aku mati di
tangan orang lain dan bukannya di tanganmu?” Win
Bright sungguh tak tahu apa yang ia rasakan, ia juga
tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya apa dia akan benar benar membunuh Win
atau tidak. Bright tak bisa menjawab ia hanya menundukan kepalanya (uhukk
menengadahkan wajahnya khawatir
“Apa kau mau minum?” Bright
“Ummmmm” Win hanya menganguk
Bright berdiri lalu menuangkan air ke dalam gelas yang
tersedia di nakas dekat kasur Win, ia juga mengambil sedotan lalu meletakannya
pada gelas. Bright mengangkat kepala Win dengan tangan kirinya sedangkan tangan
kanannya memegang gelas berisi air tersebut, terasa sakit saat air memasuki
tenggorokan Win jadi ia hanya minum sedikit hanya membasahi tenggorokannya.
“Apa perlu aku panggilkan dokter” Bright
“Tak perlu” Win singkat
“Tidurlah lagi” Bright
“Aku tak ingin tidur, Phi yang harus tidur ini sudah
malam” Win sambil melihat jam dinding di depannya
“Aku juga tak ingin tidur” Bright
Win terdiam sejenak, banyak pertanyaan yang
berkecambuk di pikirannya
__ADS_1
“Seberapa lama aku tak sadarkan diri?” Win
“Enam hari” Bright
“Pantas saja aku berasa tidur sangat lama” Win
Bright menatap Win sambil mengangguk kecil
“Terimakasih telah menyelamatkanku” Win
Entah kenapa Bright salah tingkah, jika dibilang
Bright menyelamatkan Win memang benar tapi jika dibilang Bright tak
menyelamatkan Win juga benar karena Brightlah yang membawa Win pada posisi itu
“Ummmm” akhirnya itulah yang keluar dari mulut Bright
“Kenapa kau menyelamatkanku?, bukankah kau tak perlu
mengotori tanganmu jika aku harus berakhir di tangan orang lain?” entah apa
yang Win pikirkan, namun ia benar benar ingin mengatakan hal itu
Degggg Bright tak tahu harus menjawab apa, Bright juga
tak tahu tentang apa yang ia rasakan pada Win yang Bright tahu saat itu Bright
benar benar kacau, menyesal dan takut kehilangan Win
“Aku tak tahu” Bright kembali menunduk
“Kenapa kau tak tahu” Win
“Ya aku tak tahu, aku hanya tak ingin kau mati” Bright
“Tak ingin aku mati di tangan orang lain?” Win
Bright berdiri lalu menundukan wajahnya hingga membuat
Win seperti berada di bawah kukungannya
“Aku ingin cepat kau sembuh, bisakah kau tak banyak
bertanya? Saat itu aku hanya ingin kau tak mati aku tak tahu alasannya apa” Bright,
mereka saling menatap hingga beberapa detik
“Kenapa kau melakukan ini? Aku benar benar bingung
dengan perlakuanmu padaku Phi” Win
“Lalu jangan dipikirkan kalau begitu” Bright
“Aku..” ucapan Win terhenti tatkala bibirnya terhalang
benda empuk milik Bright, ya Bright mencium Win. Win membulatkan matanya ia
sedang mencerna apa yang sedang terjadi, ‘apa yang kau lakukan Phi’ batin Win.
Singkat padat dan tidak jelas, hheee segini dulu ya guys
kalau suka silahkan Vote! Bantu follow author juga dong:) Terima kasihhhhhh dan selamat membacaaa
semuanya:)
__ADS_1