One Paid Two

One Paid Two
22


__ADS_3

Bright datang ke rumah sakit tak terlalu larut hari ini, seperti biasa


ia duduk di kursi dekat kasur dimana Win berbaring.


“Apa kau sedang balas dendam Win?, apa ini bentuk balas dendam mu? Kau benar


benar membuatku tak enak makan, tak enak tidur enam hari ke belakang ini”


perlahan Bright meraih jari jemari cantik Win lalu diusapnya secara perlahan. Dua


jam berlalu Bright telah masuk kea lam mimpinya, namun sesuatu membuat Bright


harus kembali ke alam sadar. Jari jari Win yang sejak tadi Bright pegang


bergerak, walau sedikit pergerakan namun Bright dapat merasakannya bahkan


terbangun dari tidurnya. Bright masih terkejut dengan hal itu namun mata Win


masih tertutup sempurna


“Win Win?” Bright dengan suara pelan, perlahan mata cantik Win terbuka. Sedikit


terbuka, setengahnya, lalu terbuka sepenuhnya. Mata Win langsung tertuju pada


Bright karena Bright lah satu satunya orang yang ada di sana, Bright sangat


senang amat sangat senang terlihat dari matanya yang berbinar menatap Win penuh


arti. Namun bibirnya terbungkam Bright benar benar tak tahu harus berkata apa


ia sangat kikuk, turun satu tetes air mata dari ujung mata Bright mungkin


karena mulut Bright tak bisa mengutarakan hatinya lalu air mata lah yang


mewakili betapa bahagianya Bright


“Kenapa kau menangis P’Bright?” Win dengan suara yang serak


Bright tak menyeka air matanya, ia duduk tegak sambil menatap Win. Ia benar


benar bahagia namu ia juga marah karena Win menyiksanya


“Apakah menyenangkan membuat hidupku tak tenang?” satu tetes air mata


menetes lagi di pipi Bright, namun yang ditanya hanya menatap Bright terheran


heran


“Apakah ini cara balas dendamu padaku?” Mulut Bright mulai bergetar


menahan tangis


“Apa kau tahu aku tak bisa makan?, apa kau tahu tidurku tak nyenyak? Apa


kau tahu aku merasa bersalah setiap detik?” kini Bright tak mampu menahan


tangisnya lagi ia menangis terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua


tangannya. Win benar benar heran tentang apa yang terjadi pada Bright


“Apa kau khawatir aku akan mati?” Win


Bright yang sedang menangis langsung menghentikan tangisannya dan


menatap Win dengan marah karena telah mengatakan kata “mati”

__ADS_1


“Kau tahu aku sungguh benci kata itu?” Bright


“Ada apa sebenarnya denganmu?” Win


“Aku benci kata mati, kata itu membuatku menjadi jahat, kata itu


membuatku menjadi gila!” Bright kembali menangis


“Maafkan aku… membuatmu khawatir” Win dengan perlahan


“Benar! Kau harus meminta maaf padaku!” Bright menyeka air matanya


“Yaa yaa aku minta maaf” Win dengan wajah mengejek


“Aku tak akan memaafkanmu jika kau mati!” Bright


“Kenapa? Apa kau tak rela aku di bunuh orang lain?”


Win kembali mengejek Bright, padahal Win juga asal bicara


“Ya aku tak rela!” Bright


Wajah bahagia Win perlahan memudar menjadi sedih


“Jadi kau benar benar sedih karena takut aku mati di


tangan orang lain dan bukannya di tanganmu?” Win


Bright sungguh tak tahu apa yang ia rasakan, ia juga


tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya apa dia akan benar benar membunuh Win


atau tidak. Bright tak bisa menjawab ia hanya menundukan kepalanya (uhukk


menengadahkan wajahnya khawatir


“Apa kau mau minum?” Bright


“Ummmmm” Win hanya menganguk


Bright berdiri lalu menuangkan air ke dalam gelas yang


tersedia di nakas dekat kasur Win, ia juga mengambil sedotan lalu meletakannya


pada gelas. Bright mengangkat kepala Win dengan tangan kirinya sedangkan tangan


kanannya memegang gelas berisi air tersebut, terasa sakit saat air memasuki


tenggorokan Win jadi ia hanya minum sedikit hanya membasahi tenggorokannya.


“Apa perlu aku panggilkan dokter” Bright


“Tak perlu” Win singkat


“Tidurlah lagi” Bright


“Aku tak ingin tidur, Phi yang harus tidur ini sudah


malam” Win sambil melihat jam dinding di depannya


“Aku juga tak ingin tidur” Bright


Win terdiam sejenak, banyak pertanyaan yang


berkecambuk di pikirannya

__ADS_1


“Seberapa lama aku tak sadarkan diri?” Win


“Enam hari” Bright


“Pantas saja aku berasa tidur sangat lama” Win


Bright menatap Win sambil mengangguk kecil


“Terimakasih telah menyelamatkanku” Win


Entah kenapa Bright salah tingkah, jika dibilang


Bright menyelamatkan Win memang benar tapi jika dibilang Bright tak


menyelamatkan Win juga benar karena Brightlah yang membawa Win pada posisi itu


“Ummmm” akhirnya itulah yang keluar dari mulut Bright


“Kenapa kau menyelamatkanku?, bukankah kau tak perlu


mengotori tanganmu jika aku harus berakhir di tangan orang lain?” entah apa


yang Win pikirkan, namun ia benar benar ingin mengatakan hal itu


Degggg Bright tak tahu harus menjawab apa, Bright juga


tak tahu tentang apa yang ia rasakan pada Win yang Bright tahu saat itu Bright


benar benar kacau, menyesal dan takut kehilangan Win


“Aku tak tahu” Bright kembali menunduk


“Kenapa kau tak tahu” Win


“Ya aku tak tahu, aku hanya tak ingin kau mati” Bright


“Tak ingin aku mati di tangan orang lain?” Win


Bright berdiri lalu menundukan wajahnya hingga membuat


Win seperti berada di bawah kukungannya


“Aku ingin cepat kau sembuh, bisakah kau tak banyak


bertanya? Saat itu aku hanya ingin kau tak mati aku tak tahu alasannya apa” Bright,


mereka saling menatap hingga beberapa detik


“Kenapa kau melakukan ini? Aku benar benar bingung


dengan perlakuanmu padaku Phi” Win


“Lalu jangan dipikirkan kalau begitu” Bright


“Aku..” ucapan Win terhenti tatkala bibirnya terhalang


benda empuk milik Bright, ya Bright mencium Win. Win membulatkan matanya ia


sedang mencerna apa yang sedang terjadi, ‘apa yang kau lakukan Phi’ batin Win.


Singkat padat dan tidak jelas, hheee segini dulu ya guys


kalau suka silahkan Vote! Bantu follow author juga dong:) Terima kasihhhhhh dan selamat membacaaa


semuanya:)

__ADS_1


__ADS_2