
“Swadee khrap” wai Bright pada
seorang wanita yang membukakan pintu rumahnya untuk Bright
“Swadee ja” Wanita itu membalas
wai pada Bright namun dengan wajah bingung
“Perkenalkan saya Bright, saya
senior Win di perusahaan” Bright sambil tersenyum ramah
“Ohhh mari masuk nak Bright” Ibu
win dengan ramahnya, Bright masuk mengekori ibu Win
“Silahkan duduk, ingin minum apa
nak Bright? Kopi? Jus? Teh?” Ibu Win benar benar ramah
“Emm teh boleh” tak enak bagi
Bright untuk menolak orang sebaik ibu Win
Tak lama ibu Win datang dengan
secangkir teh di tangannya lalu meletakannya di meja tepat di hadapan Bright
“Silahkan” ibu Win dengan
senyuman khasnya
Bright hanya mengangguk, entah
kenapa Bright sangat gugup melihat kebaikan dari ibu Win
“Nak Bright kau seniornya Win
bukan?” ibu Win ingin bertanya namun tampak tak enak
“Khrap”Bright
“Apa kau tahu keadaan Win? Apa dia
baik baik saja? Jujur ibu sangat khawatir, dia pergi ke luar kota tanpa membeir
tahuku sebelumnya bahkan tak sempat bertemu” ibu Win dengan raut wajah khawatir
dan sedih
Degg mendapat pertanyaan itu
Bright Nampak kaget, jujur tak ada rasa benci pada ibu Win walau baru pertama
kali ia bertemu dengannya Bright malah terasa nyaman dengannya. Namun bayangan
ayahnya dan yang dilakukan ayah Win Thanat selalu menjadi virus di hatinya. Bagaimana
jika ibu Win tahu bahwa anaknya sedang tidak baik baik saja, bahkan Bright
hendak membunuhnya
“Win baik baik saja tante, memang
Win mendapat tugas mendadak” terlihat kebohongan di wajah Bright namun sayang
ibu Win tidak menyadarinya
“Ahh syukurlah mungkin aku bisa
makan dan tidur tenang malam ini,kau tahu Win anak yang sangat baik dia begitu
berbakti pada orangtuanya sepertinya dia tak pernah punya musuh selama hidupnya”
ibu Win sambil tersenyum membayangkan kebaikan Win
“Ahh emm kedatangan saya kesini
ingin menyampaikan pesan dari Win, euu hp Win hilang jadi Win tidak bisa memberi
kabar padamu tapi dia bilang dia baik baik saja emmm dan jangan khawatir”
Bright sambil mengangguk angguk menyembunyikan kebohongannya
“Ahhh pantas saja” ibu Win ikut
mengangguk
“Ya saya hanya ingin menyampaikan
hal itu” Bright
“Nak Bright” Ibu Win
“Khrap” Bright
“Apa kau akan bertemu Win?” IW(Ibu
Win)
“Ya aku akan bertemu Win” Bright
“Boleh aku meminta bantuanmu?”
Ibu Win dengan wajah penuh beban
Bright hanya mengangguk ragu
“Aku titipkan Win padamu ya, aku
sangat khawatir karena Win bukanlah orang yang kuat ia terlalu naïf dia sangat
rapuh” wajah ibu Win kini penuh harap pada Bright
“Tolong jaga dia nak Bright, aku
serahkan semua padamu” timbale ibunya lagi
Bright yang mendengar itu tentu
saja merasa sesak, bagaimana ia akan melindunginya? Padahal ia sendiri adalah
ancaman bagi Win
“Emmm tentu saja, jangan khawatir”
Kata kata itu tentu saja hanya untuk penenang semata, karena kenyataannya ya tahu
lah ya?..
Bayangan itu melintas di pikiran Bright saat dilihatnya Win yang sedang
berbaring kesakitan mempertahankan hidupnya,
“Bukannya menyenangkan kenapa rasanya malah sakit melihatmu seperti ini?
__ADS_1
Kenapa aku melakukan ini? Kenapa aku menghukumu dengan ini? Kenapa kau terlahir
sebagai anak Thanat?” Bright meraih jari jari tangan Win dan mengusapnya dengan
lembut
“Win? Kau bisa mendengarku?” bibir Bright mulai bergetar menahan isak
tangisnya, namun air matanya sudah mendahului turun sejak tadi. Namun yang di
panggil tak pernah menyaut dia masih di dibawah alam sadarnya
“Win kau tak tahu betapa sakitnya hatiku saat aku melihatmu terluka
karenaku, kau tak tahu bahwa aku juga tak ingin menyakitimu, tapi apalah daya
sisi gelapku selalu menutupiku menjadikanku buas” tangisan Bright sudah tak
tertahankan ia mengeluarkan seluruh isi hatinya dan betapa tertekannya ia
“Kau tak tahu betapa aku sangat ketakutan saat merasakan tubuhmu yang
mendingin di pangkuanku, sangat mengerikan saat seberapa keras apapun aku
memanggilmu namun tak ada jawaban darimu, yang aku tahu aku sangat membencimu
namun kenapa aku tak bisa membiarkanmu pergi” Seorang pria buas seperti Bright
mustahil rasanya menangis terisak, menangisi orang yang dianggapnya musuh,
malam menjelang pagi di ruang rawat yang gelap namun itulah yang sedang terjadi
sekarang. sudah hampir lima hari Win belum siuman juga, namun Bright dengan
setianya menemani Win setiap malam setelah ia pulang kerja “Win apa kau tak
bosan tidur terus? Win kapan kau akan bangun? Huh sangat menyenangkan tidur
setiap hari?” kata kata itu terlontar hampir setiap hari. Berbicara tentang
siuman, ibu Win sudah siuman dua hari setelah operasi bahkan ia sudah pulang kerumah
tanpa ia ketahui bahwa anaknya juga sedang berbaring disana.
.
.
Hari sudah pagi, Bright masih tertidur dengan posisi duduk dengan tangan
melipat di kursi pasien sebagai bantalan kepalanya. (Srlekkk) seorang suster
membuka gorden kamar rumah sakit tersebut dengan seketika matahari berlomba
lomba masuk membangunkan Bright yang nampak tidur kelelahan. Bright perlahan
mengangkat kepalanya dan menyipitkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk,
dengan rambut yang berantakan namun Bright masih tetap tampan bahkan saat ia
menguap. Ia masih terlihat linglung khas orang bangun tidur ia melihat Win
masih berbaring dengan mata tertutup lalu bernafas kasar. Terdengar suara
suster yang menyapa seseorang dekat pintu namun Bright mengabaikannya lalu
perlahan orang itu berjalan kearah Bright
“Tuan ada sesuatu yang ingin di bicarakan” ternyata dia adalah Alex
Alex mengangguk tanda mengiakan
Bright lalu beranjak dari kursi, mengambil jas dari nakas dekat kasur
lalu segera berjalan melewati Alex. Nampak terlihat Alex sedang menatap Win
dengan raut wajah sedih, jika ia punya hak ingin rasanya memeluk Win dan
berkata padanya “Cepatlah bangun”, namun Alex tak ada mampu melakukannya ia hanya
mengambil nafas dengan kasar lalu pergi menyusul Bright.
Di mansionnya Bright sudah rapih dengan kemeja biru
donker dan rambut rapinya, ia sedang duduk di ruangan pribadinya dengan
beberapa kertas di tangannya.
“Tuan bisa bicara sekarang?” Alex yang sedari tadi
berencana member Bright tentang sesuatu
“Masuklah!” Bright segera menyimpan kertas yang
sedang ia baca lalu mengubah posisi menjadi menghadap Alex
Alex memberikan sebuah amplop coklat dan segera dibuka
oleh Bright
“Kita sudah mendapatkannya?” Bright nampak sedikit
terkejut
“Ya tuan, namun kita belum benar benar mengambilnya
pihak ibu Win juga masih belum mengetahui jika tanahnya akan segera di ambil
alih” Alex lalu member Bright sebuah surat lagi
“Ini adalah daftar hutang keluarga Thanat dan keuangan
mereka saat ini, jika kita mengambil tanah bagian selatan mereka tidak akan
punya apa apa lagi khususnya ibu Win yang tidak tahu apa apa tentang hutang
pihutang ini. Selama ini ibu Win mengandalkan adiknya Louis untuk memegang
perusahaan di tanah itu, ibu Win hanya menerima uang bulanan dari Louis untuk
biyaya hidupnya. Sejauh ini hanya itu info yang saya tau tuan” Alex
Hal yang Alex katakan membuat Bright frustasi kembali,
jika ia tidak menepati janjinya pada Zhen Win akan berada dalam bahaya. Sebaliknya
jika ia memberikan tanah itu pada Zhen ibu Win lah yang akan tersiksa.
For your information nih guys buat yang bertanya Tanya emangnya Thanat
itu mafia yang kerja apa sih?, Thanat adalah keturunan dari mafia La Cosa
Nostra italia Lahir pada abad 19, La Cosa Nostra
dianggap sebagai salah satu kelompok mafia termuda. Namun, tidak butuh waktu
__ADS_1
lama bagi kelompok asal Sisilia ini untuk menjadi besar dan berpengaruh. La
Cosa Nostra dengan basis kekeluargaan dan hierarki. Upacara penerimaan anggota
baru dalam kelompok ini dikenal rumit dan hanya terbuka bagi orang Sisilia.
Selain itu, mereka juga memiliki banyak kode etik yang harus ditaati, salah
satunya adalah "omertà", di mana anggotanya wajib menjaga rahasia.
Gagal melakukannya berarti sama dengan eksekusi mati.bahkan Thanat bergabung pada organisasi
tersebut pada generasinya. Ia berteman dengan Lakorn namun sayang Lakorn
merupakan keturunan dari sekutu La Cosa Nostra yaitu Ndrangheta sejak saat itu
pertemanan mereka mulai retak namun tak dapat di pungkiri Thanat masih
menganggap Lakorn sebagai sahabatnya hingga kejadian yang membuat Lakorn
meninggal terjadi.
Balik lagi ke masa sekarang Bright memutuskan untuk
menepati janjinya pada Zhen, kini Bright sudah berada di sebuah vila mewah
milik Zhen.
“Setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi Khun
Bright” Zhen dengan sumringah sambil membuka dokumen yang di berikan Bright
“Dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuh orang orang
terdekatku lagi!” Bright menatap Zhen benci
“Memang seharusnya begitu” Zhen mengangguk angguk
dengan Wajah menyebalkannya di mata Bright
Bright beranjak dari tempat duduk lalu meninggalkan
Zhen tanpa sepatah katapun, namun dalam hatinya berbagai sumpah serapah ia
lontarkan pada Zhen. Bukannya Bright tidak mampu mengatakannya namun suaranya
terlalu berharga untuk di dengar orang selicik Zhen.
Di rumah Win, Louis dan ibu Win sedang berada duduk
berhadapan. Melihat keadaan kakaknya yang sedang sakit itu membuat Louis enggan
mengatakan tentang diambilnya tanah bagian selatan
“Apa obatmu sudah di minum Phi?” Louis
“Sudah, hey jangan membuat wajah sedih seperti itu!Phi baik baik saja” ibu Win
“Jaga kesehatanmu Phi!”
Louis
“Umm” Ibu Win hanya mengangguk lemah dengan bibir
pucatnya
“Emm Phii” kini Louis merasa kikuk
“Ada apa Louis?” ibu Win yang menyadari ada yang salah
pada adiknya tersebut
“Keuangan kita sedang di bawah, kita tak akan mampu
untuk membeli obatmu dalam jangka panjang” Louis sambil menunduk
Ibu Win memalingkan wajahnya kearah jendela, ia tak
tahu harus berbuat apa. Ia benar benar tak mengerti akan bisnis almarhum
suaminya tersebut karena itu benar benar rahasia, bahkan Louispun tak berani member
tahu kakaknya itu. Namun seketika wajah Win melintas di pikiran Louis, ia
langsung menengadahkan wajahnya
“Phi bukankah Win bekerja di luar kota selama beberapa
bulah kebelakang ini?, harusnya dia punya uang untuk sekedar membeli obatmu!” Louis tampak bersemangat
Ibu Win menatap adiknya itu
“Kau benar! Tapi kasihan Win” ibu Win
“Aku yakin dia takan keberatan, dia sangat
menyayangimu Phi jangan terlalu banyak berfikir dia bekerja untukmu” Louis
“Emmm” ibu Win mengangguk
“Aku akan menghubunginya” Louis merogoh hp dari saku
celananya
“Eh tapi Win mengganti hpnya, bahkan ia tidak
mengabariku karena hp yang lama hilang” ibu Win
Louis menyatukan alisnya heran
“Lalu dari mana kau tahu?” Louis
“Dari seniornya yang datang ke sini pekan lalu” ibu
Win
Louis nampak heran dan curiga kini ia tengah berfikir
keras
“Apa dia memberi nomor telpon Win yang baru?” Louis
“Aku lupa menanyakannya” ibu Win menggaruk tengkuknya
tak gatal
“Huh” Louis mendaratkan punggungnya pada bantal sofa,
namun pikirannya tak lepas pada Win “Sangat aneh Win berangkat kerja tanpa
pulang dulu, bahkan ia tak membawa tas” batin Louis
Oke Guyss gimana ni? makin banyak misteri gak tuh? Silahkan Vote kalo suka!! ! !
Follow author juga ya! ! ! !
__ADS_1
Thank You and Happy Reading! !! ! !! ! !