One Paid Two

One Paid Two
8


__ADS_3

Parkiran sangat sepi kala itu (Dorrrr) satu tembakan entah darimana


mengarah ke arah Lyn namun meleset dan mendarat di sebuah vas bunga di dekat


kaki Lyn, Lyn yang kaget menjatuhkan dirinya di atas pecahan vas tersebut hingga telapak tangannya tergores pecahan vas yang sedikit tajam, dengan sigap Win langsung melindungi Lyn dengan tubuhnya ,Win menutupi


kepala Lyn dengan belanjaan yang ia bawa belum shok menghilang dua orang lelaki menghadang mereka, sepertinya merekalah yang melakukan penyerangan, sial parkiran itu benar benar sepi


“Siapa kalian!?” Win berdiri di depan Lyn dengan wajah panik


dan meregangkan kedua tangannya, sedangkan Lyn yang kaget bersembunyi di balik


Win. Tanpa basa basi dua orang tersebut langsung menarik Lyn dengan paksa


terjadilah rebut rebutan Lyn antara dua pria tersebut dengan Win, Lyn berusaha


berontak dengan sekuat tenaga, Win mengambil vas berukuran sedang di pinggirnya


lalu melemparkan tepat di punggung salah satu laki laki tersebut membuat si


empu sempoyongan, saat memiliki kesempatan Win langsung merebut Lyn dari tangan


mereka dan membawanya masuk kemobil. Salah satu dari mereka bersikeras mengejar


Lyn dan Win, Win membuka pintu mobil untuk Lyn tapi laki laki tersebut


mengambil pisau dari salah satu kantung jaketnya dan mengarahkannya kepada Lyn


dengan otomatis di hadang oleh Win (Crtttt) darah muncrat dari lengan kiri Win,


. Win menerima pisau yang di arahkan ke Lyn, laki laki tersebut terjungkal


tatkala Win menendang bagian sensitifnya


(Pritttttttttt) pluit dari salah satu petugas


keamanan yang baru keluar dan menghampiri mereka, dua laki laki tersebut


langsung berlari terpirit dan memasuki sebuah mobil.


Win langsung masuk ke mobil dan mengemudi


dengan sebelah tangannya rumah adalah tujuan Win. Hati Win masih terguncang


bahkan ia tidak focus menyetir ditambah satu tangannya terluka, darah segar


terus mengalir melewati tangannya. Lyn menggigit jemarinya sambil menggigil


ketakutan tidak ada percakapan di antara mereka seperti “apa kau baik baik


saja?”,”apa ada yang terluka”, karena mereka tahu mereka tidak sedang baik baik


saja.


Bright berlari dengan wajah panic memasuki


sebuah ruangan, disana duduk Lyn dengan dokter dan Alex di sampingnya. Lyn yang


melihat kedatangan Bright langsung memeluknya dan menangis ketakutan


“Apa kau baik baik saja?, apa kau terluka?”


Bright sambil mengecek seluruh badan Lyn


“Aku baik baik saja Phi aku hanya shok”


“Lyn hanya mengalami goresan di tangannya, itu


tidaklah parah dokter sudah menanganinya” Alex menenangkan Bright


“Benar sekali, dia hanya mengalami trauma dan


itu tidak terlalu buruk” Dokter menambahkan dan langsung keluar ruangan.

__ADS_1


“Dimana orang itu! !?”


“Siapa maksud tuan?” Alex kebingungan


“Win!”


“Dia berada di luar tuan”


Bright langsung berdiri dan bergegas menemui


Win


(Ckk uhuk uhuk) Bright mencekik Win dengan


tangan kirinya (Plakk) satu tamparan yang sangat kuat mendarat di pipi Win


(Plakkk) dua tamparan


“Sudah kubilang kepadamu untuk menjaga Lyn agar


tidak terluka sedikitpun! !, apa kau tuli hah! !?”


(Plakk) tamparan ke empat, Win tidak melawan


sedikitpun bahkan ia tidak mencegah Bright yang mencekik lehernya Win hanya


memegangi tangan Bright tanpa tenaga.


“Ma..maafkan a..aku” Win berusaha bicara, namun


Bright semakin mencekiknya Wajah Win sangat merah, ujung bibir cantiknya sobek


akibat tamparan dari Bright, ujung matanya berair, tetes demi tetes darah


mengalir dari ujung bibirnya namun Bright tidak kasihan sedikitpun ia terus


melayangkan tamparan hingga tak terhitung lagi (Uhuk uhukk) Win hampir tak


“Apa kau ingin mati sekarang!? Kau tidak peduli


ibumu lagi!?” Bright memegang kanan kiri lengan Win sedangkan si empu hampir


kehilangan keseimbangan. Bright merasakan sesuatu yang lengket mengalir kesela


sela jarinya, dilihatnya kebawah cairan berwarna merah kehitaman ternyata sudah


berceceran di lantai sejak tadi, darah dari tangan Win yang tertikam akibat


menyelamatkan Lyn tadi. Bright melihat kelantai dengan wajah kaget dan


menghentikan aktivitasnya lalu melepaskan genggamannya pada Win


“Aku sudah berusaha, tapi aku hanyalah seorang


wanita sama seperti Lyn, aku tidak punya tenaga lebih untuk melawan dua orang


pria, tolong maafkan aku tolong jangan sakiti ibuku ,aku janji tidak akan


membuat Lyn tergores sedikitpun lagi kumohon!” bahkan Win masih memohon untuk


orang lain dengan keadaannya yang sudah babak belur dan luka di tangannya.


“Bawa dia kekamarku dan rantai seperti biasa!”


perintah Bright pada Alex yang menyaksikan mereka dari tadi namun tidak bisa


berbuat apa apa.


“Baik tuan” Alex langsung menggiring Win yang


hampir sudah tidak bisa berjalan, bahkan kesadarannya sudah remang remang


“Maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apa apa”

__ADS_1


Alex sambil memborgol tangan dan leher Win. Bahkan setelah menyiksa Win dan


melihatnya terluka separah itu Bright tidak tergerak hatinya setidaknya untuk


membalut luka di tangan Win bekas menyelamatkan adiknya. Win menyandarkan


punggungnya ke dinding air matanya tak berhenti mengalir, ia menggigit bibir


bawahnya sambil mengerang kesakitan. Bahkan Win tidak bisa memegang tangan


kirinya dengan tangan yang lain untuk meredakan rasa nyeri dengan tangan


terborgol, bahkan rasa sakit di wajahnya tidak seberapa sakit seperti di


tangannya.


Bright belum juga memasuki kamar walau matahari


sudah tenggelam, Win sudah kehilangan kesadarannya sejak tadi sore ia tergeletak


dengan darah yang berceceran di lantai. Alex memasuki kamar untuk melihat


keadaan Win, melihat Win yang tergeletak tak sadarkan diri ia langsung


memanggil Bright keluar.


Win terbangun di kasur Bright dengan tangan


kirinya yang sudah berbalut perban, meski begitu bibirnya masih sangat pucat


mengingat banyaknya darah yang keluar. Bright memasuki kamar dengan wajah tidak


bersalah walau telah membuat Win jatuh pingsan


“Kau sudah bangun?”


“Umm” Win mengangguk


“Bahkan jika kau sekarat sekalipun jangan harapkan


aku akan mengasihanimu!” Bright menarik tangan Win dan menyeretnya ke sudut


kamar tempat Win biasanya di borgol. Seperti biasa Win tidak memberontak walau


apapun yang Bright lakukan padanya, ia hanya bertanya tanya dalam hatinya


“kemana rasa kemanusiaannya hilang?”, setelah Bright memborgolnya Win langsung


bersender di tembok dan langsung memejamkan matanya karena itu sudah malam


ditambah badannya sangat lemah. Bright tahu bahwa Win belum tidur dan merasakan


sakitnya, Win mengerutkan keningnya dan merapatkan bibir pucatnya rapat rapat.


(hmmmhhhhhhhhh) Bright bernafas kasar, dia juga


bertanya Tanya pada dirinya apakah dia manusia atau bukan tetapi sisi gelapnya


selalu menentang Bright agar tetap melanjutkan balas dendamnya dan jangan


mengasihani siapapun yang telah menyakiti orang orang tercintanya.


“Kau tidak perlu menyalahkanku, salahkan ayahmu


yang membuatmu berada di tempat ini!” kata Bright sebelum akhirnya keluar


kamar, walau sebelumnya ia selalu terlihat senang saat melihat Win tersiksa


tapi sekarang saat ia melihat Win dengan keadaan seperti ini Bright tidak ingin


menikmatinya.


Hai kakak kakak gimana ceritanya? Like sama komen dong biar mimin semangat Up tiap hari Happy Reading:)

__ADS_1


__ADS_2