
Parkiran sangat sepi kala itu (Dorrrr) satu tembakan entah darimana
mengarah ke arah Lyn namun meleset dan mendarat di sebuah vas bunga di dekat
kaki Lyn, Lyn yang kaget menjatuhkan dirinya di atas pecahan vas tersebut hingga telapak tangannya tergores pecahan vas yang sedikit tajam, dengan sigap Win langsung melindungi Lyn dengan tubuhnya ,Win menutupi
kepala Lyn dengan belanjaan yang ia bawa belum shok menghilang dua orang lelaki menghadang mereka, sepertinya merekalah yang melakukan penyerangan, sial parkiran itu benar benar sepi
“Siapa kalian!?” Win berdiri di depan Lyn dengan wajah panik
dan meregangkan kedua tangannya, sedangkan Lyn yang kaget bersembunyi di balik
Win. Tanpa basa basi dua orang tersebut langsung menarik Lyn dengan paksa
terjadilah rebut rebutan Lyn antara dua pria tersebut dengan Win, Lyn berusaha
berontak dengan sekuat tenaga, Win mengambil vas berukuran sedang di pinggirnya
lalu melemparkan tepat di punggung salah satu laki laki tersebut membuat si
empu sempoyongan, saat memiliki kesempatan Win langsung merebut Lyn dari tangan
mereka dan membawanya masuk kemobil. Salah satu dari mereka bersikeras mengejar
Lyn dan Win, Win membuka pintu mobil untuk Lyn tapi laki laki tersebut
mengambil pisau dari salah satu kantung jaketnya dan mengarahkannya kepada Lyn
dengan otomatis di hadang oleh Win (Crtttt) darah muncrat dari lengan kiri Win,
. Win menerima pisau yang di arahkan ke Lyn, laki laki tersebut terjungkal
tatkala Win menendang bagian sensitifnya
(Pritttttttttt) pluit dari salah satu petugas
keamanan yang baru keluar dan menghampiri mereka, dua laki laki tersebut
langsung berlari terpirit dan memasuki sebuah mobil.
Win langsung masuk ke mobil dan mengemudi
dengan sebelah tangannya rumah adalah tujuan Win. Hati Win masih terguncang
bahkan ia tidak focus menyetir ditambah satu tangannya terluka, darah segar
terus mengalir melewati tangannya. Lyn menggigit jemarinya sambil menggigil
ketakutan tidak ada percakapan di antara mereka seperti “apa kau baik baik
saja?”,”apa ada yang terluka”, karena mereka tahu mereka tidak sedang baik baik
saja.
Bright berlari dengan wajah panic memasuki
sebuah ruangan, disana duduk Lyn dengan dokter dan Alex di sampingnya. Lyn yang
melihat kedatangan Bright langsung memeluknya dan menangis ketakutan
“Apa kau baik baik saja?, apa kau terluka?”
Bright sambil mengecek seluruh badan Lyn
“Aku baik baik saja Phi aku hanya shok”
“Lyn hanya mengalami goresan di tangannya, itu
tidaklah parah dokter sudah menanganinya” Alex menenangkan Bright
“Benar sekali, dia hanya mengalami trauma dan
itu tidak terlalu buruk” Dokter menambahkan dan langsung keluar ruangan.
__ADS_1
“Dimana orang itu! !?”
“Siapa maksud tuan?” Alex kebingungan
“Win!”
“Dia berada di luar tuan”
Bright langsung berdiri dan bergegas menemui
Win
(Ckk uhuk uhuk) Bright mencekik Win dengan
tangan kirinya (Plakk) satu tamparan yang sangat kuat mendarat di pipi Win
(Plakkk) dua tamparan
“Sudah kubilang kepadamu untuk menjaga Lyn agar
tidak terluka sedikitpun! !, apa kau tuli hah! !?”
(Plakk) tamparan ke empat, Win tidak melawan
sedikitpun bahkan ia tidak mencegah Bright yang mencekik lehernya Win hanya
memegangi tangan Bright tanpa tenaga.
“Ma..maafkan a..aku” Win berusaha bicara, namun
Bright semakin mencekiknya Wajah Win sangat merah, ujung bibir cantiknya sobek
akibat tamparan dari Bright, ujung matanya berair, tetes demi tetes darah
mengalir dari ujung bibirnya namun Bright tidak kasihan sedikitpun ia terus
melayangkan tamparan hingga tak terhitung lagi (Uhuk uhukk) Win hampir tak
“Apa kau ingin mati sekarang!? Kau tidak peduli
ibumu lagi!?” Bright memegang kanan kiri lengan Win sedangkan si empu hampir
kehilangan keseimbangan. Bright merasakan sesuatu yang lengket mengalir kesela
sela jarinya, dilihatnya kebawah cairan berwarna merah kehitaman ternyata sudah
berceceran di lantai sejak tadi, darah dari tangan Win yang tertikam akibat
menyelamatkan Lyn tadi. Bright melihat kelantai dengan wajah kaget dan
menghentikan aktivitasnya lalu melepaskan genggamannya pada Win
“Aku sudah berusaha, tapi aku hanyalah seorang
wanita sama seperti Lyn, aku tidak punya tenaga lebih untuk melawan dua orang
pria, tolong maafkan aku tolong jangan sakiti ibuku ,aku janji tidak akan
membuat Lyn tergores sedikitpun lagi kumohon!” bahkan Win masih memohon untuk
orang lain dengan keadaannya yang sudah babak belur dan luka di tangannya.
“Bawa dia kekamarku dan rantai seperti biasa!”
perintah Bright pada Alex yang menyaksikan mereka dari tadi namun tidak bisa
berbuat apa apa.
“Baik tuan” Alex langsung menggiring Win yang
hampir sudah tidak bisa berjalan, bahkan kesadarannya sudah remang remang
“Maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apa apa”
__ADS_1
Alex sambil memborgol tangan dan leher Win. Bahkan setelah menyiksa Win dan
melihatnya terluka separah itu Bright tidak tergerak hatinya setidaknya untuk
membalut luka di tangan Win bekas menyelamatkan adiknya. Win menyandarkan
punggungnya ke dinding air matanya tak berhenti mengalir, ia menggigit bibir
bawahnya sambil mengerang kesakitan. Bahkan Win tidak bisa memegang tangan
kirinya dengan tangan yang lain untuk meredakan rasa nyeri dengan tangan
terborgol, bahkan rasa sakit di wajahnya tidak seberapa sakit seperti di
tangannya.
Bright belum juga memasuki kamar walau matahari
sudah tenggelam, Win sudah kehilangan kesadarannya sejak tadi sore ia tergeletak
dengan darah yang berceceran di lantai. Alex memasuki kamar untuk melihat
keadaan Win, melihat Win yang tergeletak tak sadarkan diri ia langsung
memanggil Bright keluar.
Win terbangun di kasur Bright dengan tangan
kirinya yang sudah berbalut perban, meski begitu bibirnya masih sangat pucat
mengingat banyaknya darah yang keluar. Bright memasuki kamar dengan wajah tidak
bersalah walau telah membuat Win jatuh pingsan
“Kau sudah bangun?”
“Umm” Win mengangguk
“Bahkan jika kau sekarat sekalipun jangan harapkan
aku akan mengasihanimu!” Bright menarik tangan Win dan menyeretnya ke sudut
kamar tempat Win biasanya di borgol. Seperti biasa Win tidak memberontak walau
apapun yang Bright lakukan padanya, ia hanya bertanya tanya dalam hatinya
“kemana rasa kemanusiaannya hilang?”, setelah Bright memborgolnya Win langsung
bersender di tembok dan langsung memejamkan matanya karena itu sudah malam
ditambah badannya sangat lemah. Bright tahu bahwa Win belum tidur dan merasakan
sakitnya, Win mengerutkan keningnya dan merapatkan bibir pucatnya rapat rapat.
(hmmmhhhhhhhhh) Bright bernafas kasar, dia juga
bertanya Tanya pada dirinya apakah dia manusia atau bukan tetapi sisi gelapnya
selalu menentang Bright agar tetap melanjutkan balas dendamnya dan jangan
mengasihani siapapun yang telah menyakiti orang orang tercintanya.
“Kau tidak perlu menyalahkanku, salahkan ayahmu
yang membuatmu berada di tempat ini!” kata Bright sebelum akhirnya keluar
kamar, walau sebelumnya ia selalu terlihat senang saat melihat Win tersiksa
tapi sekarang saat ia melihat Win dengan keadaan seperti ini Bright tidak ingin
menikmatinya.
Hai kakak kakak gimana ceritanya? Like sama komen dong biar mimin semangat Up tiap hari Happy Reading:)
__ADS_1