
Hari sudah malam Bright masuk kamar dan mendapati Win yang masih
terbangun, sekian detik mata mereka temu pandang namun Bright segera
mengalihkannya. Bright membuka jasnya lalu melipat tangan kemejanya
“Bagaimana harimu?” Win
Bright kaget mendengar Win menyapanya, ia memalingkan wajahnya kesana
kemari seperti sedang mencari sesuatu
“Mengapa kau bertanya?” Bright
“Aww aku hanya bertanya saja, apa tidak boleh?” Win
“Tidak perlu” Bright
“Yasudah” Win mempotkan bibirnya sambil memeluk kedua lututnya
Bright meraih handuk berwarna putih dan langsung menuju kamar mandi,
sedangkan Win ah jangan di Tanya lagi ia seperti biasa menunduk di pojok kamar.
Dengan rambut basah dan bertelanjang dada Bright berdiri depan cermin,
(Wrrrrrrrrr) Bright menyalakan hair dryer lalu mengarahkannya ke rambutnya. Win
selalu menyaksikan kegiatan itu setiap hari, bagaimana tidak? Ia sudah dikurung
di kamar Bright selama lebih dari tiga bulan lamanya. Rambut Bright belum
kering sepenuhnya bahkan ia belum memakai pakaian, yang dikenakannya hanya
celana tidur kotak kotak namun ia sudah beranjak ke tempat tidur dan meraih
buku yang biasa ia pakai di nakasnya.
Win yang kesepian kembali mengoceh walau tahu ia akan dimarahi tapi ia
suka dariapada kesepian.
“P’Bright rambutmu belum kering bagaimana jika kau sakit?” Win
“Aku tidak akan sakit hanya karena rambut basah” Bright sambil focus
pada bukunya
“Apa Phii memang suka dikamar sebelumnya?” Win
Bright sebenarnya tidak sering di kamar sebelumnya, namun saat Win ada
entah kenapa Bright jadi betah dikamar.
“Apa kau sensus?” Bright
“Aku hanya bertanya Phii” Win
“Kau meminta aku melakban mulutmu?” Bright
“Jika kau mau melakukannya bukankah tidak ada yang bisa melarang?” Win
“Kau tahu itu” Bright
“Phii apa kau punya kekasih?” Win
Bright menutup bukunya lalu bernafas dengan kasar
“Mengapa kau terus bertanya hah? Apa maumu!?” Bright
“Maafkan aku Phii” Win langsung menciut saat Bright meninggikan suaranya
“Apa maumu?” Bright kembali merendahkan suaranya
“Aku ..aku ingin bertanya sesuatu, tapi..” Win gelagapan
“Katakan!” Bright
“Apa kau tidak akan marah?” Win
“Umm” Bright
Win tersenyum dan membulatkan matanya
“Apa ibuku baik baik saja Phii?” Win seperti tidak
__ADS_1
sabar mendengar jawaban dari Bright
Bright tidak menyangka Win sesayang itu pada ibunya,
ia tidak mengkhawatirkan diri sendiri sedikitpun yang ada di otaknya hanyalah
ibunya
“Dia baik baik saja” Bright
“Apakah dia minum obatnya?, apa dia makan teratur?”
Win berkata dengan tempo yang cepat
“Aku bukan pengasuh ibumu!”
Bright
“Aku sangat merindukannya Phii, apa ada kesempatan
satuuuuuuuuu kali saja untuk aku bertemu ibuku?” Win membuat angka satu dengan
telunjuknya
“Aku akan mempertimbangkannya” Bright
Wajah Win berubah menjadi sedih
“Kau tak perlu menekuk wajah di hadapanku!” Bright
“Maafkan aku Phii” Win
“Saat aku ada waktu aku akan membawamu pada ibumu”
Bright
Win menengadah senang namun tak lama sedih lagi
mengingat begitu sibuknya Bright
“Mungkin saat itu tiba, kau sudah lebih dulu
membunuhku” Win
selama ini Win mengira ia akan membunuh Win padahal keadaannya memang benar
seperti itu
“Kau berpikir aku akan membunuhmu?” Bright
“Bukankah memang begitu?, lalu kenapa kau mengurungku
seperti anjing?” Win
Bright terdiam karena memang seperti itu adanya
“Aku tidak pernah menyangka ayahku yang membunuh tikus
saja ia enggan akan membunuh orang” Win
“Mengapa kau mengatakannya padaku?” Bright
“Ahh benar juga” Win
Tak menyangka sudah hampir satu jam mereka tenggelam
dalam percakapannya hingga kantuk terlebih dahulu menyerang Win, ia
memposisikan tubuhnya menekuk lututnya untuk menghangatkan diri. Sebenarnya
hati Bright sakit melihat Win yang tidak tahu apa apa tentang ayahnya harus
menanggung semuanya, namun apalah daya Bright juga sangat menyayangi ayah
angkatnya ia tidak akan tinggal diam atas apa yang terjadi padanya.
“Apa kau sudah tidur?” Bright
Tidak ada jawaban dari Win, yang berarti Win sudah
lelap dalam mimpinya.
.
.
__ADS_1
“P’Bai! Bangun!”
Win yang masih tertidur terganggu dengan suara perempuan yang memanggil P’Bai
itu, ia mengucek matanya khas orang bangun tidur
“Ada apa peri kecil?” Bright yang sudah bangun
langsung mengusak rambut Lyn, yah Lyn masuk kamar Bright untuk membangunkan
Bright
“Apa P’Bai lupa?” Lyn
“Apa?” Bright dengan wajah bingung
“AAaaa P’Bai ini akhir pekan, apa kita tidak akan
berjalan jalan?” Lyn dengan wajah cemberut, sedangkan Bright menggaruk
tengkuknya tak gatal.
“Apa kita bisa mengundurnya Lyn?, kita bisa jalan
jalan minggu depan Phii janji” Bright
“Tidak! Aku tidak mau!”
Lyn
Bright Nampak sedang berpikir, disisi lain Win sangat
cemburu dengan perlakuan manis Bright pada Lyn lain dengan perlakuan Bright
padanya. Win juga tidak tahu kenapa ia cemburu padahal dirinya hanya tahanan
yang sewaktu waktu Bright akan membunuhnya.
Bright memondar mandirkan wajahnya ke kiri dan kanan
mencari alasan, lalu ia berhenti saat melihat Win
“Emmmm Lyn bisa jalan jalan di temani Win” Bright
Lyn dan Bright memandang ke arah Win, sedangkan yang
di pandangi membuat wajah bingung. Kedua kalinya Bright menaruhkan nyawa Win
untuk Lyn lagi
“Tapi Phii” rengek Lyn
“Ayolah tuan putri Phii ada urusan penting yang harus
Phii selesaikan, na naa?” Bright
“Baiklah” Lyn akhirnya menyerah
Ia keluar dari kamar Bright sambil menghentak hentakan
kakinya seperti anak kecil yang sedang merajuk
Bright menatap Win
“Tolong jaga Lyn untuku!”
Bright
Win tidak bisa menolak ia mematuhi perintah dari
Bright
“Baik” Win
“Aku akan menyuruh Alex menyiapkan pakaianmu”Bright
“Umm” Win hanya mengangguk
Yeeee Up lagi, setelah satu hari gak Up maaf ya
mentemen! !
Komen sama Like biar mimin makin semangat! ! Happy Reading!
!
__ADS_1