
Gaby menatap pantulan dirinya dalam 𝘤𝘦𝘳𝘮𝘪𝘯, dan sebuah kurva tercetak di bibir tipisnya yang kini berwarna 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘥𝘢 setelah dipoles 𝘭𝘪𝘱𝘴𝘵𝘪𝘬. Untuk sentuhan terakhirnya ia mengaplikasikan 𝘣𝘭𝘶𝘴𝘩 𝘰𝘯.
Rambutnya sudah di tata sedemikian rupa, dibantu Bi Inah, ia menuju lemari dan mengambil kotak berwarna putih dengan pita hitam yang mengitari tiap sisi, mempercantik kotak tersebut, di keluarkan nya sepasang 𝘩𝘪𝘨𝘩 𝘩𝘦𝘦𝘭𝘴 berwarna merah. Tampak sangat serasi dengan gaun yang berwarna senada. Karena tema di pesta Ariella merah-hitam. Begitu informasi yang didapat dari Deluna.
Setelah seharian mengelilingi kota Jakarta hanya untuk mencari satu gaun, sekalian mencari kado untuk Ariella, ditemani Deluna tentunya.
Akhirnya pilihan nya jatuh 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘪𝘥𝘪 𝘥𝘳𝘦𝘴𝘴 𝘴𝘤𝘶𝘣𝘢 𝘥𝘪𝘷𝘪𝘯𝘨 dengan potongan lengan rendah. Atas rekomendasi Deluna.
Gadis itu tidak berhenti untuk tersenyum, merasa bahagia akan datang ke pesta ulang tahun Ariella. Dan lebih tersenyum lagi saat mengingat ucapan Deluna. Yang akan membuat Gaby 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 dengan Albian 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯𝘴𝘢 nanti. Membayangkan nya saja sudah membuat nya tersenyum sendiri.
Deluna belum datang untuk menjemputnya. Ngomong-ngomong, mereka akan datang bersama.
Sekali lagi ia menatap dirinya di cermin, kenapa ia merasa gugup? Apa karena akan bertemu Albian setelah dua hari tidak bertemu? Ah, pasca kejadian di toilet hari itu, Gaby dipaksa istirahat dirumah selama dua hari. Dengan janji Deluna yang akan membantunya mencarikan gaun untuk pesta malam ini.
Dering ponsel mengalihkan atensinya, nama sang sahabat tertera disana. Dengan cepat ia menekan tombol hijau.
"𝘎𝘢𝘣.. 𝘒𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘳𝘦𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘩." Terdengar suara Deluna dari seberang telpon.
__ADS_1
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢? 𝘈𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩? 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵?" Tanya Gaby, karena tidak mungkin rasanya Deluna membatalkan untuk datang ke acara Ariella, meski dia tidak menyukai gadis angkuh itu, tapi rasanya tidak sopan menolak undangan anak dari 𝘣𝘰𝘴 𝘢𝘺𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢.
"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬. 𝘉𝘢𝘯 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 𝘣𝘰𝘬𝘢𝘱 𝘨𝘶𝘦 𝘣𝘰𝘤𝘰𝘳.. 𝘎𝘶𝘦 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢." Jawab Deluna cepat. "𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘨𝘶𝘦 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘯𝘪𝘯 𝘨𝘰-𝘤𝘢𝘳." Sambung Deluna. Panggilan terputus saat Gaby hendak menjawab.
Satu notifikasi tertera di layar ponselnya.
𝘓𝘶𝘯𝘢 :
𝘐𝘯𝘪 𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢..(𝘭𝘰𝘤𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯📍)
"Ya ampun..,cantik sekali non Gaby.." Ucap Bi Inah yang tiba-tiba berdiri di pintu membuat Gaby berjengit kaget.
Bi Inah tersenyum, ikut bahagia melihat binar dimata nonanya ini.
"Bibi mah cuma bantu sedikit, karena emang non Gaby itu dasarnya udah cantik." Ucap Bi Inah.
"Mobil yang jemput non Gaby udah di depan." kata Bi Inah. "Tapi kok Bibi gak lihat non Luna?"
__ADS_1
"Mobilnya Luna, ban nya bocor Bi." jelas Gaby.
Gadis itu segera memasukkan ponselnya ke dalam tas, tak lupa membawa 𝘱𝘢𝘱𝘦𝘳 bag berisi kado untuk Ariella.
Gaby akhirnya berangkat setelah berpamitan pada Bi Inah yang mengantar nya sampai pintu depan. Meski sebenarnya ia sedikit ragu. Entah kenapa ia sedikit cemas.
* * * * * *
" Non yakin mau ke alamat ini?"
Gaby mengerutkan keningnya bingung dengan pertanyaan supir taksi ini.
"Eee, iya Pak." Jawab Gaby. 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘳𝘢𝘨𝘶?
Gaby mengamati sekitar jalan. Ia sedikit bingung, kenapa jalanannya terasa asing. Banyak pohon-pohon besar di sisi kanan-kiri jalan.
Tidak hanya Gaby, supir itu pun merasa sedikit ragu untuk mengantarkan gadis di belakang kemudi nya ini. Tapi dia harus profesional dengan tidak bertanya banyak.
__ADS_1
Setelah kurang lebih 50 menit perjalanan, akhirnya Gaby sampai. Di depan 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘢?"