
Selama kurang lebih satu bulan gadis itu mengenalnya, semakin dirinya tahu sifat dan watak Kenzi Alexis. Salah satunya 'pemaksa. Seperti saat ini.
Gaby menghela napas panjang, pasrah saja saat tubuhnya diputar-putar untuk di cobakan pakaian untuk nya. Entah kemana pemuda itu akan membawa nya.
"Gue mau belajar Ken." Ujar Gaby sedikit memelas.
"Belajar mulu, ntar pala lo botak baru tahu rasa lo." nyinyir pemuda itu.
"Gak ada hubungan nya." Ketus Gaby.
"Nah, ini baru cocok." Ucap Kenzi saat dirasa sudah pada pilihan yang tepat.
"Buruan sana ganti. Gue tunggu." Selain 'pemaksa, pemuda itu juga hobi 'memerintah' ternyata.
Gaby berdecak, menurut untuk ke ruang ganti.
Sungguh dirinya menyesal meng-iya kan ajakan Kenzi untuk makan diluar tadi, dan harusnya tidak percaya begitu saja kata 'sebentar, yang keluar dari mulut pemuda itu.
Karena nyata nya kini keduanya tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan, dan kurang lebih satu jam disana hanya untuk mencari satu set pakaian yang bukan style Gaby sekali.
Selesai dengan acara bergantinya, gadis itu keluar dari bilik dan menghampiri Kenzi yang duduk di salah satu kursi yang tersedia.
Mendengar suara langkah, buru-buru Kenzi mendongak menatap Gaby yang berjalan kearah nya.
"Woww, perfect. So beautifull.!!" Seru pemuda itu heboh, melihat penampilan Gaby. Yang jauh berbeda dari biasanya. Gadis itu memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Crop top putih yang memperlihatkan sedikit perut nya - - - yang kini rata, dipadukan dengan bawahan jeans hitam.
Meski gadis itu sedikit mengiyakan dalam hati, tampilan nya kini sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya.
"Ah satu lagi." Ucap Kenzi. Dan beranjak dari sana.
Pemuda itu menyampirkan jaket kulit hitam di bahunya.
"Perfect!!" Ujarnya.
* * * * * *
Kenzi mendesah panjang, entah sejak kapan gadis yang duduk disamping kemudi nya ini jadi keras kepala.
"Sebentar Gabyy." Ucap Kenzi dengan senyum paksa nya.
"Ck, lagian lo itu udah pasti masuk seleksi. Gak perlu lah belajar-belajar segala." Ucap Kenzi menyesatkan.
Gaby menatapnya sinis.
"Gue ada kejutan buat lo." Pemuda itu menatap ke arah luar.
Gaby mengangkat sebelah alisnya.
"Kelamaan, udah ayo buru." Kenzi melepaskan seatbelt nya dan membantu Gaby melepaskan nya juga.
__ADS_1
Gaby mengedarkan pandangan, tempat yang tidak asing. Deru motor yang bersahutan, memekakkan telinga yang mendengarnya. Gaby menoleh kearah Kenzi yang pemuda itu tengah menatapnya juga.
"𝘓𝘦𝘵'𝘴 𝘴𝘵𝘢𝘳𝘵 𝘵𝘩𝘪𝘴 𝘨𝘢𝘮𝘦." Ucap pemuda itu dengan senyum miring nya.
Gaby membenarkan posisi topi yang dipakaikan Kenzi tadi, tak lupa mengenakan masker hitam. Entah apa yang direncanakan Kenzi.
Keduanya berjalan beriringan, menghampiri teman-teman Kenzi yang tiba lebih dulu di sirkuit.
"Lama amat kencannya." Sembur Bryan saat baru saja mereka tiba disana.
"Sampai bentol-bentol badan gue digigitin nyamuk." Lanjutnya, jangan lupakan bibirnya yang dimajukan lima centi.
"Lo belum mandi kali, kata nenek gue, nyamuk suka ngambil darah orang yang bau keringat." Ucap Arsen. Si paling 'kata nenek.
"Najisin banget sok manyun-manyun segala." Ucap Azka menampol bibir Bryan yang memang 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘰𝘭-𝘢𝘣𝘭𝘦 itu.
"Halo Gabriella cantikk" Sapa si kadal 𝘈𝘳𝘧𝘢𝘯.
Gaby bergerak gelisah, gadis itu teringat kejadian saat dirinya membuntuti Gavin, kakaknya.
Dimana ada seorang pria yang hendak melecehkan nya. Keringat dingin mulai membanjiri pelipis nya. Tangannya sedikit gemetar.
Kenzi yang menyadari hal tersebut menggenggam tangan mungil yang berkeringat itu. Mengusapnya pelan, guna menyalurkan ketenangan.
Arfan yang sedari tadi meperhatikan hendak bertanya, tapi urung saat sang ketua meng-kode nya untuk diam.
__ADS_1
Perlahan jantung Gaby berdetak normal. Gadis itu mulai tenang, selain karena usapan Kenzi, gadis itu kini merasa aman ketika teringat bahwa pemuda yang disamping nya kini lah, yang menyelamatkan nya kala itu. Bukan hanya sekali, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘒𝘦𝘯𝘻𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢.