
Pagi ini Gaby berangkat menggunakan taksi, tepat saat gadis itu turun, Albian juga baru saja tiba.
Gadis itu melewati gerombolan Albian begitu saja.
"Sampai hari ini gue masih mikir apa Albian mendadak jadi transparan?" Ujar Tian.
"Gue lebih percaya 'kalian ada '𝘴𝘰𝘮𝘦𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨 ketimbang lihat Gaby gak noleh sedikitpun ke Al." Ucap Tania yang tiba-tiba berdiri di belakang mereka.
"𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 siapa maksud lo?" Tanya Bima.
"Ya lo sama Tian." Jawab Tania santai.
"Anjir amit-amit, gue masih normal." Bima mengetuk-ngetukkan kepalan tangannya ke kepala dan bagian depan motornya.
"Ya habisnya kalian tuh udah kayak sepasang sumpit bambu." Ujar Leoni ikut-ikutan.
"Kalau gue mau nge-gay gue juga pilih-pilih, gak yang butek buluk kayak dia." Ucap Tian pada kedua gadis 'sinting itu.
"Lo kira gue sudi sama lo? Udah rambut macam mi, buluk pula gak ada cakep-cakepnya." Ucap Bima tak terima dengan ucapan Tian.
"Wah 'body singing lo." Balas Tian yang mulai menjambak rambut Bima.
"Bapak lo 'singing" Bima membalas.
__ADS_1
"Udah deh, kita ting.." Ucapan Ariella tergantung. Albian berlalu begitu saja, bahkan mengabaikan uluran tangannya.
Leoni yang menyadari aura tidak nyaman dari Ariella segera menghampirinya.
"Kita tinggal aja mereka." Ucapnya menarik tangan Ariella. Meninggalkan Tania bersama duo sebleng yang kini saling jambak.
* * * * * * *
Jika kalian berpikir Gaby berhenti di bully, maka salah. Para pembully itu tetap mengganggu Gaby. Tapi gadis itu tidak diam saja seperti sebelum-sebelumnya. Seperti saat ini.
Gaby menendang mejanya yang penuh dengan coretan.
Gaby menatap dingin seisi kelas.
"Gue!!"
"Kenapa? Lo suka?" Lena berjalan ke arah Gaby.
"Cuma karena dekat sama salah satu anak Aligros," Lena menjeda kalimat nya. "Gak akan ngerubah kenyataan kalau 'LO ANAK HARAM!!" Lanjutnya, dengan tulunjuk yang menekan bahu Gaby.
Gaby terkekeh, menepis tangan Lena. Kemudian bersedekap didepan dada.
"Lena.., Lena. Segitu terobsesinya 'lo ingin nukar takdir lo dengan gue?" Sarkas Gaby.
__ADS_1
Lena yang tak terima dengan ucapan Gaby, mendorong gadis itu.
"Apa maksud lo?" Desis Lena.
"Harus banget gue umumin sekarang?" Gaby menatap sekeliling. "Kalau disini" Gaby menjeda kalimatnya, ''lo, anak haram nya." Lanjutnya dengan berbisik ditelinga Lena. Gadis itu mengepalkan tangan.
Nadine yang sedari tadi menyaksikan, kini berjalan ke arah Gaby.
Belum sempat tangan nya menyentuh permukaan wajah Gaby, gadis itu segera mencekalnya.
Tidak sampai disitu. Gaby memelintir nya, kemudian menendang tulang kering Nadine. Membuat nya kini bertekuk lutut dan meronta minta dilepaskan. Bukannya melepaskan Gaby malah menjambaknya.
Tidak terima temannya diperlakukan seperti itu, Lena hendak membantu Nadine. Tapi tendangan di perutnya membuat nya terdorong hingga membuat beberapa meja dan kursi ikut terdorong.
'𝘎𝘢𝘬 𝘴𝘪𝘢-𝘴𝘪𝘢 𝘨𝘶𝘦 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘒𝘦𝘯𝘻𝘪.' batin Gaby.
Tidak hanya Lena yang terpaku melihat aksi Gaby. Seisi kelas turut terpaku. Terbukti mereka yang tadi sudah siap melontarkan kalimat-kalimat buruk untuk Gaby, kini secara kompak mengatupkan bibirnya rapat.
"Ganti meja gue." Perintah Gaby. Yang langsung diangguki Nadine.
Saat Lena hendak protes, Gaby menatapnya nyalang. Membuat nya langsung mengatupkan bibirnya rapat.
Deluna yang sedari tadi berdiri di depan pintu, mengepalkan tangan, kemudian berlalu begitu saja. Niatnya untuk meminta maaf, dia urungkan.
__ADS_1
"Perubahan lo terlalu drastis Gab.." Gumam Deluna.