Other Side Of Me

Other Side Of Me
15. Starion cafe


__ADS_3

"Den Gavin, tolong bantu Bibi cari non Gaby.." Mohon Bi Inah dengan wajah yang tampak putus asa. Gavin baru saja sampai, dari pulang kampusnya. Dan sudah disuguhkan kalimat yang entah ke berapa kalinya ia dengar.


"Ck, dia lagi..dia lagi, 𝘀𝘁𝗼𝗽 𝗯𝗮𝗵𝗮𝘀 𝗱𝗶𝗮!!, 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗴𝘂𝗲 𝗴𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗱𝘂𝗹𝗶 𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗮𝗽𝗮𝗽𝘂𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗷𝗮𝗱𝗶 𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗶𝗮!!." Ucap Gavin menekan setiap kalimatnya. Membuat Bi Inah terperangah ditempat nya.


"Bagaimanapun dia adik Aden.." perkataan Bi Inah membuat langkah Gavin berhenti di ambang pintu.


Gavin memutar kepalanya kesamping, melirik Bi Inah. "Adik?" Gavin terkekeh, "𝗚𝘂𝗲 𝗴𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗽𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗱𝗶𝗸!!" Lanjutnya dan meninggalkan Bi Inah yang kini menunduk lesu. Tangannya terangkat mengusap sudut matanya yang berair.


"Jika saja den Gavin membaca 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘳𝘺 Nyonya, mungkin tidak akan sekeras ini pada non Gaby." Lirih Bi Inah pada 𝘚𝘢𝘳𝘢𝘩 yang kini mengusap punggungnya.


Sarah tidak tahu, karena dia bekerja di kediaman '𝖠𝗇𝖽𝗋𝗂𝗈 𝖠𝖽𝗂𝗍𝖺𝗆𝖺' baru tiga tahun terakhir ini, tapi sungguh dia merasa kasihan dengan nona nya itu. 𝘋𝘪𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘺𝘢.


"Kita datang ke kantor polisi lagi ya, kita tanyakan." Ucap Sarah menenangkan.


Bi Inah menggeleng tidak setuju, kasus pencarian Gaby di hentikan karena tidak menemukan hal ataupun bukti.


"Kita harus cari kemana sarah.." sarah menggeleng, kedua wanita itu putus asa. Sudah satu bulan dan Gaby belum kembali. Sampai-sampai kadang dirinya berpikir 'apakah mungkin nona nya itu? Ah semoga tidak.


* * * * * * *


𝙎𝙩𝙖𝙧𝙞𝙤𝙣 𝙠𝙖𝙛𝙚.

__ADS_1


Seorang gadis baru saja memasuki cafe yang sedang hits itu, tampak masih mengenakan seragam sekolah. Meski hanya terlihat bagian roknya saja, karena atasannya tertupi hoodie. Gadis itu membawa langkahnya ke salah satu kursi yang terdapat di samping jendela besar. Tangannya terangkat memanggil salah satu barista, setelah mengatakan pesanannya ia kembali sibuk dengan ponsel ditangan nya.


Sesekali kepalanya menoleh ke samping, ke arah luar jendela. Rintik-rintik hujan masih terlihat.


Tidak lama setelah nya, tiga orang gadis lainnya memasuki kafe yang sama. Dengan segera meraka duduk di hadapan temannya yang sudah tiba lebih dulu.


"Sory agak lama, kami kejebak macet tadi." Ujar salah satunya.


"Hmm, gue juga baru sampai kok"


"Pesen dulu gak sih?" Tanya Leoni yang di angguki Tania.


"Kalian pesen aja, gue udah." Ucap si gadis ber hoodie.


"Jadi, udah ada hasilnya belum?" Tanya Tania.


Ariella mengedikkan bahu.


"Tapi kemana ya kira-kira si culun itu?" Leoni mengerutkan keningnya.


"Apa di culik om-om?" Tebak Tania.

__ADS_1


"Tapi bisa jadi sih, secara kan alamat yang lo kasih itu gedung kosong yang di samping nya banyak warung-warung kayak gitu 'kan?" Sahut Leoni.


"Hmm, 𝘮𝘢𝘺𝘣𝘦". Ucap Ariella.


"Kalo misalnya di jual sama om-om itu gimana? Terus dibeli sama '𝘴𝘶𝘨𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘥𝘥𝘺' gimana?" Ucap Tania meracau.


"Ih, kalo 𝘴𝘶𝘨𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘥𝘥𝘺 nya ganteng gue juga mauu." Leoni mulai ikut-ikutan. Ariella yang mendengar itu tak segan-segan meng geplak kepala Leoni.


"Kata orang yang lo suruh buat ngecek gimana? Ada tanda-tanda keberadaan '𝘥𝘪𝘢?"


"Gak ada, mereka cuma nemu tas sama paper bag yang kemungkinan punya dia. Selebihnya gak di temukan apapun." Ujar Ariella, jangan lupakan senyum miring nya. Membuat mereka yang melihat itu ikut tersenyum.


Tidak menyadari seorang gadis yang duduk di belakang mereka dengan topi dan masker hitamnya itu meremat kuat tangannya yang disatukan, dengan nafasnya yang memburu. Matanya bergerak ke kanan dan kiri, titik keringat mulai terlihat di keningnya.


"Jadi kemungkinan terbesarnya adalah?" Tanya Tania.


"Hmm, 𝘐 𝘥𝘰𝘯'𝘵 𝘬𝘯𝘰𝘸 𝘢𝘯𝘥 𝘐 𝘥𝘰𝘯'𝘵 𝘤𝘢𝘳𝘦." Jawab Ariella. "Ya gak Lun?"


"Hmm, 𝘐 𝘥𝘰𝘯'𝘵 𝘤𝘢𝘳𝘦." Jawab Deluna.


Yang membuat gadis 'ber masker hitam itu kian meremat tangannya. Tapi tidak saat sepasang tangan menggenggam dan mengusapnya dengan lembut.

__ADS_1


"𝘐𝘵'𝘴 𝘰𝘬𝘢𝘺, ada gue disini. 𝘌𝘷𝘦𝘳𝘺𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨 𝘸𝘪𝘭𝘭 𝘣𝘦 𝘢𝘭𝘳𝘪𝘨𝘩𝘵. Oke." Bisik pemuda 𝘣𝘦𝘳-𝘫𝘢𝘬𝘦𝘵 𝘩𝘪𝘵𝘢𝘮 dengan lambang elang di bagian punggungnya yang bertuliskan 𝘈𝘭𝘪𝘨𝘳𝘰𝘴 di bagian atasnya.


__ADS_2