
Semenjak kejadian Gaby membalas Lena dan Nadine, siswa-siswi nampaknya mulai sedikit takut pada nya. Terbukti mereka yang diam saja, tidak mengolok-olok seperti biasa dan justru kompak menutup mulut.
Lena dan Nadine sendiri hanya menatap penuh permusuhan pada gadis itu dari balik kursinya.
Gadis itu dengan tenang menyelesaikan soal-soal di kertasnya.
Jam istirahat tiba. Miss Selena keluar dari kelas, disusul para siswa-siswi yang berhamburan keluar.
Saat kelas mulai sepi, barulah dirinya beranjak akan ke kantin. Efek begadang semalam membuat nya bangun kesiangan pagi tadi, dan berakhir tidak sarapan. Itu juga setelah Kenzi menelponnya.
Gaby turut mengantri, jika sebelum nya dirinya dibicarakan untuk dipermalukan, maka kini dibicarakan karena perubahan nya dengan aura yang berbeda. Tak jarang pula para siswa yang menatapnya dengan tatapan kagum secara terang-terangan.
"Hai Gab.., mau pesan juga?" Tanya siswa yang berdiri di sebelahnya. Tampak sekali basa-basi.
Gaby hanya acuh.
"Eh ada Gaby.. Apa kabar? Gak nyangka loh, lo ternyata secantik ini." Sahut teman dibelakang siswa tadi.
"Bagi nomor sama id line nya dong" Ucap siswa tadi.
Tiba gilirannya, membuat nya terbebas dari cowok-cowok kurang kerjaan itu. Gadis itu segera memesan. Mencari tempat kosong, Gaby mendesah berat. Hanya ada posisi di tengah kantin, namun bukan itu masalahnya. Tepat di meja sebelah nya, ada Ariella beserta kedua anteknya dan.. Deluna. Tidak ada pilihan selain duduk dan makan dengan tenang.
Sepertinya memang manusia-manusia kurang kerjaan itu tidak ingin membiarkan Gaby makan dengan tenang.
"Hai bit**" Sapa Tania.
Gaby hanya melirik tak berminat. Dan lanjut memakan bakso nya.
Byuurrr.
__ADS_1
Tania dengan sengaja menumpahkan jus jeruk nya ke tubuh atas Gaby.
Gaby memejamkan mata. Menahan amarahnya. Rasa dingin mulai terasa. Gaby membuka mata dan menatap sekeliling, mereka yang disana juga melihat ke arahnya. Lebih tepatnya - - - -tubuh bagian atasnya.
Hari ini tidak mengenakan jas almamater, atasan putihnya yang basah membuat bagian hal yang tidak seharusnya terlihat, kini terlihat.
Gaby bergerak gelisah, menggigit dalam bibir bawahnya, mencoba tenang. Apalagi saat dirinya sadar, ada ponsel yang diarahkan ke arahnya, Gaby nencoba menutupi bagian dadanya.
Tubuhnya tersentak kala seragam yang sama tersampir ke bagian depan depan tubuhnya, dan sepasang tangan melingkar di pundaknya.
"Ken.." Gaby mendongak dan tersentak kala Albian berdiri di depannya. Perlahan Albian melepaskan tangannya.
BUGHH
Siswa yang mengacungkan ponsel tersungkur, Albian merebut ponsel itu dan
PRAKKK
BUGHH.
Lagi, Albian menonjok rahang pemuda itu.
Membuat siswa-siswi terpekik heboh.
"Al udah," Pekik Ariella.
Namun Albian menulikan telinganya. Dan terus menghajar pemuda yang kini berusaha berdiri. Jelas pemuda itu tidak dapat melawan.
"Al udah" Bima dan Tian mencoba menahan Albian dengan memegangi kedua tangannya.
__ADS_1
"Albian udah!! Lo mau bikin anak orang sekarat?" Sentak Tian menyadarkan Albian.
Tanpa sengaja Albian melirik Tania di samping Ariella yang mematung.
Albian menyentak kedua tangannya yang ditahan Bima serta Tian.
BUGHH.
Satu pukulan terakhir yang didapat pemuda tadi.
Tania meneguk ludahnya kasar saat Albian berjalan ke arahnya. Bahkan cowok itu menghempaskan tangan Ariella yang mencoba menahannya.
Tania memejamkan saat tangan Albian terangkat dengan kepalan tangannya.
BUGHH
Albian meninju dinding dibelakangnya.
"Gue rasa lo udah keterluan Tania." Desisnya.
Ariella mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya, melihat Albian keluar dari kantin dengan merangkul bahu Gaby.
Deluna yang menyaksikan itu berjalan ke arah Ariella.
"Gue rasa, lo harus mulai waspada dari sekarang Ar. Dan.." Deluna sengaja menggantung ucapannya. "Ini cukup menghibur" Lanjutnya, dengan senyum miring yang tersungging di wajahnya. Kemudian berlalu dari sana.
"BRENGSEK" Maki Ariella.
BRAKK
__ADS_1
Ariella menendang kursi di sampingnya hingga terpental.
Leoni dan Tania hanya diam tak mampu membuka suara. Bahkan sekedar untuk menenangkan Ariella.