
Bi Inah berjalan mondar mandir, sesekali mengusap kasar wajahnya yang mulai keriput. Wanita yang hampir berkepala empat itu menatap pintu utama dengan cemas.
"Den Gavin, tolong.. Bibi bener-bener khawatir sama non Gaby." Ucap wanita itu langsung saat melihat Gavin menuruni tangga.
𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶. Gavin mendengus, masih terlalu pagi untuk mendengar nama yang tidak pernah ingin dia lihat keberadaannya.
"Paling juga lagi di rumah temen nya." Ucap Gavin cuek tanpa menoleh ke arah Bi Inah.
Bi inah menghela nafas, dia tidak bisa memaksa Gavin mencari tahu keberadaan Gaby. Hatinya tidak tenang, semalam setelah ia menelpon untuk bertanya apakah nona nya itu telah sampai, Gaby justru terdengar berteriak memanggilnya, apa situasinya seramai itu? Tapi dia tidak mendengar kebisingan apapun. Ditambah gadis itu tidak pulang, dan membuat nya semakin gusar.
* * * * *
Deluna berdiri di depan kelas dengan tangan bersedekap di depan dada, menunggu kedatangan Ariella. Dia bahkan tidak menjawab atau sekedar menganggukkan kepala kala teman kelas nya menyapa. Entah kenapa ia merasa 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨?. Entahlah dia tidak tahu.
Gadis itu menegakkan tubuhnya saat yang ditunggunya sudah nampak di koridor, bersama kedua anteknya juga Albian dengan kedua temannya. Dengan tangan Ariella yg mengapit lengan Albian, sesekali Ariella tertawa mendengar ucapan Tania.
"Lo gak macem-macemin Gaby kan?" Kata Deluna dengan tangan yang langsung menahan bahu Ariella.
__ADS_1
"Hmm?" Ariella mengangkat satu alisnya. "Gue gak ngerti maksud lo!!" Lanjutnya setelah menyingkirkan tangan Deluna. Dan menabrak bahu Deluna saat memasuki kelas.
Deluna mengepalkan tangan. Dimana Gaby sekarang.., pagi tadi Bi Inah menghubungi nya dan bertanya 'apa Gaby ada bersamanya. Apakah semalam Gaby tidak pulang?.
* * * * * * *
Gavin berjalan gontai ke arah kamarnya, sesekali memijat pelipisnya yang terasa pening. Tugas kuliah menumpuk, dan lagi, Melody yang entah kenapa seperti menghindari nya, dan itu serasa membuat kepalanya ingin pecah. Sesaat pemuda itu berhenti di depan pintu kamar berwarna coklat tua dan terdapat ukiran papan nama '𝘎𝘢𝘣𝘳𝘪𝘦𝘭𝘭𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘴𝘵𝘢𝘴𝘩𝘢' menggantung disana.
Sudah satu minggu berlalu dari hari dimana dia di minta, lebih tepatnya 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 Bi Inah mencarinya, dan hingga hari ini gadis itu tak kunjung pulang. Mengedikkan bahu tak peduli, Gavin melanjutkan langkahnya ke kamar.
* * * * * * *
"Kerasa aneh gak sih?" Tanya Tian tiba-tiba.
Albian yang di tanyai hanya melirik Tian dan mengangkat satu alisnya. Seolah bertanya '𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢.
"Ha? Aneh kenapa?" Tanya Bima.
__ADS_1
"Perasaan gue aja apa gimana. Kok kayak ada yang kurang gitu ya akhir-akhir ini?" Jawab Tian dengan telunjuk yang di ketuk-ketuk kan di dagunya.
"Kurang apa?" Tanya Albian sambil melihat sekeliling nya.
"Gak tahu juga ya." Kata Tian dan menyengir setelah nya. Membuat Albian mendengus.
"Gak jelas deh lo." Bima yang kesal akhirnya menoyor kepala Tian.
Albian segera meninggalkan parkiran, mengabaikan ke dua temannya itu yang sibuk saling menoyor.
Saat memasuki kelas Albian berpapasan di pintu dengan Deluna yang akan keluar. Mengernyit heran karena Deluna seperti menatap nya tajam kemudian melengos begitu saja. Tidak peduli akan itu, karena mereka memang tidak akrab sejak dulu.
Albian mendudukkan dirinya di kursi. Menelungkup-kan kepala di atas meja. Sebenarnya ia juga merasa sedikit aneh dan seperti ada yang kurang akhir-akhir ini. Entah karena apa.
Cowok itu menegakkan tubuhnya saat terdengar suara ribut di depan kelasnya. Ariella datang dengan tangan yang masing-masing memegang kerah belakang seragam Tian dan Bima. Keduanya berteriak memohon ampun pada gadis cantik itu.
Albian menghela nafas panjang karena merasa bukan itu 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢. Hah? Memang siapa yang dia harapkan?.
__ADS_1