
"Tolooong.." Teriak Gaby.
PLAKKK
karena geram laki-laki itu menamparnya.
"Tadinya gue udah bersikap baik sama lo." Desis orang itu. Bau alkohol tercium dari mulut orang tersebut.
Gaby memejamkan mata, berharap ada yang akan menolong nya dari laki-laki mabuk tersebut.
BUGHH
Gaby merasakan tangannya yang tadi dicengkram terlepas, membuka matanya dengan perasaan takut. Ia terbelalak kala melihat laki-laki mabuk tadi, kini sudah terkapar di tanah, dengan pemuda berjaket hitam yang terdapat gambar elang dibagian punggungnya menduduki perutnya. Mengabaikan itu, Gaby segera berlari menjauh, ia tidak tahu apakah pemuda itu hendak menolong nya atau justru ingin melakukan hal serupa seperti orang mabuk tadi.
Saat melihat Gaby, Gavin segera menarik gadis itu untuk memasuki mobil, tidak mempedulikan Gaby yang masih terengah beserta keringat di pelipis nya, Gavin tetap menyeret nya. Membuat Gaby mati-matian menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tahu jika ia menangis itu akan membuat Gavin semakin marah, meski sejujurnya saat ini ia ingin memeluk kakaknya untuk setidaknya sedikit membuat nya tenang.
Setelah memastikan Melody pulang diantar sahabatnya, Gavin segera mamacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, membuat Gaby lagi-lagi harus memejamkan mata.
Di dalam mobil terasa begitu hening, tak ada satupun yang memecah keheningan. Hening itu bukannya menciptakan rasa nyaman tapi justru menciptakan suasana berat yang terasa mencekam.
__ADS_1
Gavin berjalan keluar mobil, membanting pintunya ketika memasuki pekarangan dan memakir mobilnya asal. Membiarkan Gaby mengekor di belakang nya.
"Apa maksud lo kayak gitu ha?!" Maki Gavin ketika sampai di ruang tamu. Membalikkan badan dengan kesal, menatap tajam pada Gaby yang hanya diam sambil menunduk dalam.
Gavin begitu kesal mengingat Melody tadi yang ikut serta dalam mobilnya. Ia hanya khawatir, bagaimana jika terjadi sesuatu? Dia tidak ingin 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 itu terluka. Karena itu, ia melampiaskan kekesalannya pada Gaby.
Dengan helaan nafas berat Gavin bersiap menaiki tangga, menuju kamarnya sebelum emosinya semakin besar.
"Abang kenapa galak sih sama Gaby?" Cicit Gaby yang masih bisa didengar oleh Gavin.
Gavin tertawa remeh sambil membuang pandangannya kearah lain. Membuat Gaby menegakkan kepala, penasaran dengan reaksi kakaknya itu.
"Karena gue.." menjeda nya sesaat. "𝗯𝗲𝗻𝗰𝗶 𝗹𝗼!!". Jawab Gavin dengan menekan kalimat terakhirnya. "𝗞𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗹𝗼, 𝗺𝗮𝗺𝗮 𝗻𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹𝗶𝗻 𝗴𝘂𝗲!!, puas lo?" Bentak Gavin dengan mata memerah, menahan emosi juga air mata.
Gaby menunduk dengan lemah.
𝘓𝘢𝘨𝘪, 𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩.
Gaby menunduk dengan lesu, menoleh saat Bi Inah mengelus pundaknya. Pertahanan Gaby runtuh. Segera Bi Inah membawa Gaby ke dalam peluknya, membiarkan nya terisak yang terdengar begitu menyedihkan.
__ADS_1
"Tangan non Gaby kenapa?" Tanya Bi Inah setelah melihat tangan Gaby yang terlihat sedikit memar.
Gaby hanya menggelengkan kepala. segera pamit untuk pergi ke kamarnya. Ia tidak ingin Bi Inah semakin khawatir.
Saat tiba di kamarnya, ia segera berganti pakaian. Ia berdiri menatap pantulan dirinya di depan cermin. Tangannya terulur mengusap pipinya yang memerah, bekas tamparan orang tadi. Untungnya Bi Inah tidak menyadari itu.
Dering ponsel menghentikan lamunannya, terlihat nama sahabat-nya di layar. Banyak notifikasi panggilan tak terjawab, ia memang mematikan ponselnya tadi.
"Lo dari mana sih? gue telponin dari tadi juga." Hatinya sedikit menghangat, ada yang masih peduli padanya, selain Bi Inah.
"Aku tadi ketiduran Luna," Ia melihat jam di ponselnya yang ternyata sudah pukul sebelas malam.
"Sory, gue ganggu lo istirahat ya?" gumam Deluna.
"enggak kok, kebetulan juga akunya kebangun." Jelas Gaby berbohong.
"Oh yaudah, gue cuma khawatir sama lo."
Gaby bergumam dan sambungan terputus.
__ADS_1
Gaby menghela nafas, ia benar-benar lelah dan ingin mengistirahatkan tubuhnya.