
Gavin membanting dirinya dengan kasar ke sofa di ruang tamu, wajah tampannya kini terhiasi memar di beberapa bagian wajahnya dan juga darah yang terlihat sudah mengering di bagian sudut bibir.
"Ya ampun den, kenapa wajahnya?". Tanya Bi Inah cemas saat melihat kondisi tuan mudanya. Meski ini bukan pertama kali, tapi tetap saja ia merasa ngilu saat melihatnya.
Memilih abai pada pertanyaan Bi Inah, Gavin justru memejamkan matanya, ia baru saja pulang dari kampus dan masih kesal jika mengingat ia di cegat tadi oleh geng musuhnya, main keroyokan pula.
Gavin membuka matanya sesaat, ketika ia merasa ada seseorang yang mendudukkan diri disampingnya, dan aroma strawberry langsung memasuki indra penciuman nya, tanpa menolehkan kepalanya pun ia sudah tau pemilik aroma itu.
" Ngapain lo?" Tanya Gavin dengan nada dingin nya, menatap tajam pada Gaby.
Matanya mengikuti pergerakan tangan Gaby, saat gadis itu mulai membuka kotak obat yang ia letakkan di meja depan mereka. Dengan telaten ia mengambil kapas, menyiapkan 𝘳𝘦𝘷𝘢𝘯𝘰𝘭 dan juga 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘥𝘪𝘯𝘦, serta 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 luka.
Dengan kasar Gavin menepis tangan Gaby yang mengarah pada sudut bibirnya. Membuat kapas yang sudah diberi obat anti septik itu terlempar.
"Nanti infeksi abang, adek obati ya..". Ujar Gaby sambil tersenyum lembut.
Gavin berdiri dari posisi duduknya, mengambil jaket kulitnya kasar, lalu menatap Gaby tajam dengan jari telunjuk yang mengulur ke depan wajah Gaby.
"Berhenti usik kehidupan gue, dan urus hidup lo sendiri.!!".
__ADS_1
Setelah mengucapkan kalimat dingin itu Gavin segera pergi menuju kamarnya, meninggalkan Gaby yang kini menggigit bibirnya menahan rasa sesak di dadanya.
" Gaby cuma khawatir sama abang." lirih gadis itu.
Bi Inah yang menyaksikan ikut merasa sesak, dan membawa langkahnya menuju nona mudanya itu.
"Non..," panggil Bi Inah, tangannya mengusap pelan punggung Gaby. Membuat gadis itu menoleh.
"Biar Bibi nanti yang kompres den Gavin, sekarang non Gaby makan dulu. Tadi nggak makan siang kan?"
Gaby melihat jam di pergelangan tangannya, dan ternyata sudah jam tujuh malam.
"Tuan mungkin tidak pulang malam ini, karena sedang melakukan pekerjaan di luar kota." sambung Bi Inah, saat Gaby hendak bertanya.
𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘰𝘯𝘨𝘬𝘰𝘬 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘳𝘸𝘢𝘳𝘯𝘢 𝘩𝘪𝘵𝘢𝘮 𝘪𝘵𝘶. 𝘚𝘦𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘵 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘯𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘨𝘦𝘯𝘥𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘥𝘦𝘸𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘳𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢.
"𝘗𝘢𝘱𝘢.." 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘗𝘢𝘱𝘢.
"𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘯?" 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘎𝘢𝘣𝘺 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘗𝘢𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢.
__ADS_1
𝘈𝘯𝘥𝘳𝘪𝘰 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢.
"𝘎𝘢𝘷𝘪𝘯 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘗𝘢, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨?" 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘎𝘢𝘷𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘵𝘰𝘱𝘪𝘯𝘺𝘢.
𝘈𝘯𝘥𝘳𝘪𝘰 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘫𝘶 𝘎𝘢𝘷𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘰𝘯𝘨𝘬𝘰𝘬 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘤𝘪𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘵𝘰𝘱𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘱𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘬𝘦𝘵𝘯𝘺𝘢. 𝘗𝘳𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘵𝘢𝘱𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢.
"𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢? 𝘎𝘢𝘣𝘺 𝘮𝘢𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵.." 𝘜𝘫𝘢𝘳 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘢𝘴.
"𝘋𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘗𝘢?" 𝘛𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘎𝘢𝘷𝘪𝘯.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘎𝘢𝘷𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘶, 𝘬𝘪𝘵𝘢..."
"𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘥𝘪𝘢 𝘪𝘬𝘶𝘵, 𝘎𝘢𝘷𝘪𝘯 𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵." 𝘜𝘫𝘢𝘳 𝘎𝘢𝘷𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘰𝘵𝘰𝘯𝘨 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘈𝘯𝘥𝘳𝘪𝘰.
𝘈𝘯𝘥𝘳𝘪𝘰 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯𝘤𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢.
"𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵." 𝘗𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘯𝘥𝘳𝘪𝘰 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘎𝘢𝘷𝘪𝘯.
"𝘎𝘢𝘣𝘺 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵.." 𝘔𝘢𝘵𝘢 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘤𝘢-𝘬𝘢𝘤𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘢 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
__ADS_1
𝘛𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘦𝘥𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘯𝘥𝘰𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘮𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘎𝘢𝘣𝘺 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬 𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘭𝘦𝘩𝘦𝘳 𝘉𝘪 𝘐𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘰𝘯𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘨𝘦𝘯𝘥𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.
Gaby menghela nafas panjang. Kejadian nya sudah lama berlalu, tapi rasa kecewanya tetap sama.