Other Side Of Me

Other Side Of Me
09. Kartu undangan


__ADS_3

Berbeda dengan pagi biasanya, Gaby berjalan dengan lesu di koridor, akibat ia yang tidak bisa tidur malam tadi, membuat pagi ini bangun dengan terlambat.


"Hey... Lesu banget". Deluna tiba-tiba merangkul Gaby, membuat nya terkejut.


" Luna ngagetin aja.." Ucap Gaby sambil mengusap-usap dadanya.


"Kenapa sih? Bete banget kelihatannya." Tanya Deluna heran menatap Gaby yang lesu.


Gaby menghela nafas, menghadap Deluna yang mengerutkan kening karena bingung. Tapi tidak lama, karena gadis itu kembali menghadap kearah depan membuat Deluna semakin heran.


Langkah Gaby berhenti, membuat Deluna ikut menghentikan langkahnya. Ketika dari arah berlawanan sosok Albian berjalan bersama kedua temannya. Buru-buru Gaby menegakkan punggungnya.


Deluna menghembuskan nafas, ia sekarang mengerti apa yang membuat sahabatnya itu nampak lesu.


"H-hai.., Pagi Al.." Sapa Gaby dengan tersenyum manis. Yang dijawab dengan sebelah alih terangkat oleh Albian.


𝘉𝘪𝘮𝘢 yang melihat tangan Gaby kosong, menyenggol lengan 𝘛𝘪𝘢𝘯, memberi kode dengan melirikkan ekor matanya.


"Emm, aku gak masakin kamu hari ini, maaf ya.." Ujar gadis itu sedih.


"Yaahh, padahal lo laper 'kan Al?" Bohong Bima, membuat Tian si rambut kriwil mendelik mendengar nya.


"Emang iya Al?" Tanya Tian.

__ADS_1


Albian mendengus, ia tahu akal-akalan kedua temannya ini.


Biasanya ketika Gaby memberikan bekal untuknya, akan dihabiskan oleh kedua temannya itu, 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘣𝘢𝘻𝘪𝘳 katanya. Albian tidak pernah sekalipun memakan bekal yang diberikan Gaby.


"Iya Al? Kamu laper? Mau aku beliin di kantin? Atau di depan?" Tanya Gaby beruntun.


"Di dep---"


"Gak perlu" jawab Albian memotong ucapan Bima, 𝘴𝘪 𝘳𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘬𝘳𝘪𝘸𝘪𝘭.


"Al..." Panggil seseorang membuat cowok itu menoleh kearahnya.


Gadis dengan rambut sepunggung berlari kearahnya, membuat kesan cantik saat angin membuat rambutnya terayun.


"Ck, pelan-pelan gak usah lari." Ucap Albian, satu tangannya terulur merapikan rambut Ariella. Membuat beberapa siswi yang berlalu-lalang menjerit tertahan. Berbeda dengan Gaby yang memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain.


Ariella tersenyum kearah 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢- itu, tapi sedetik kemudian wajahnya berubah datar, menatap Gaby, dengan tangan bersedekap depan dada.


"Ngapain lo? Ganggu Albian lagi?". Tanya Ariella. Yang kini berjalan maju.


Dengan sigap Deluna menarik Gaby kebelakang punggungnya.


Gaby segera menggeleng, "E-eggak kok Ar, tadi nyapa aja."

__ADS_1


"Oke, karena gue lagi seneng dan males ladenin kutu macam lo, gue lepasin lo kali ini." Ucap Ariella, membuat ke dua temannya 𝘛𝘢𝘯𝘪𝘢-𝘓𝘦𝘰𝘯𝘪 mendesah kecewa.


Dengan tubuh yang masih menghadap Gaby, Ariella menengadah-kan satu tangan nya ke arah Tania, membuat temannya itu mengernyit.


"Ck, mana?"


Tania memberikan satu 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 yang dipegangnya dengan sedikit ragu.


"Lo yakin Ar?" Tanya Leoni yang ikut mengerutkan kening.


"Yakin." Jawab Ariella. Sedikit seringaian muncul di bibirnya.


Gaby menatap bingung tangan Ariella yang mengulurkan kartu yang ber dominasi warna biru-pink.


"Acara 𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 gue, dua hari lagi." Ucap gadis itu saat Gaby menerima kartu undangan nya.


Deluna menatap Ariella dengan alis terangkat, ia sedikit sangsi dengan yang dilakukan Ariella kali ini.


"Lo juga bisa deteng, undangan nya udah gue sebarin ke anak kelas." Jawab Ariella saat Deluna hendak bicara.


Deluna, Ariella, Albian beserta 𝘢𝘯𝘵𝘦𝘬 dan 𝘥𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 mereka, berada di kelas yang sama.


Gaby mengangguk pasti, gadis itu tampak senang, sangat jarang ia pergi ke pesta. Bahkan saat acara keluarga, mungkin ia tidak pernah menghadiri. Bukan dia tidak ingin, ia tidak pernah di perbolehkan, mungkin dulu saat 𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘺𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 yang juga 𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬 𝘈𝘭𝘦𝘯𝘢 masih hidup, ia diperbolehkan karena permintaan beliau, yang pasti setelah perdebatan panjang. Terutama Mama Lena, yang paling menentang kehadiran nya.

__ADS_1


__ADS_2