
Camelia tercenung di tempatnya.
Entah kenapa dia mempunyai firasat kuat setelah mendengar jawaban Jasmine barusan. Firasat bahwa dia dilarang bertanya lebih jauh mengenai siapa orang yang dimaksud Jasmine.
Seolah-olah sepupunya itu akan marah jika dia bertanya lebih lanjut mengenai orang itu.
Tiba-tiba, beberapa makhluk berkromosom XY menyerobot duduk di tempat Jasmine dan Camelia berada.
Seisi kantin dibuat heboh karena kedatangan beberapa anggota Oberon yang jarang sekali menginjakan kaki ke kantin. Apalagi mereka duduk bersama dengan si murid baru yang sempat membuat seantero sekolah heboh itu.
Ekspresi Jasmine dan Camelia menjadi kaku melihat kedatangan beberapa cowok pentolan sekolah itu.
"Hai, cewek! Lagi pada ngapain, nih?" celetuk Abrisam.
"Eh, Tokek Albino. Nggak usah sok basa-basi, lo!" Camelia memberengut pada Abrisam.
Abrisam tersenyum masam. "Galak banget lo jadi cewek!"
Ethrion mengamati Jasmine dalam diam. Dia melirik ke meja yang hanya terdapat satu kaleng minuman yang sudah kosong. "Lo nggak makan?"
"Nggak." Jasmine menggerutu dalam hati. Dia sampai lupa memesan makanan karena terlalu sibuk mengeluarkan unek-uneknya tadi.
Ethrion mengkode ke arah Gasten. Gasten yang cepat tanggap langsung berdiri.
"Mel, lo mau makan apa? Sekalian gue pesenin!" tanya Gasten. Dia mengedipkan mata ke arah Camelia kemudian ke arah Jasmine. Dia melakukannya beberapa kali hingga nembuat Camelia kebingungan.
Tapi dia memang ada maksud tertentu. Berharap Camelia paham akan maksudnya supaya siasat bosnya itu berhasil.
Camelia mengerjap bingung. Sedetik kemudian dia menyadari maksud Gasten. "O-oh, bakso sama nasi goreng. Minumnya air putih dingin."
"Oke!" Gasten langsung menyeret Cakra bersamanya untuk ikut memesan makanan.
Abrisam menatap Ethrion yang tersenyum puas. Dia sangat paham dengan siasat bosnya itu. Gasten tadi menyuruh Camelia untuk menyebutkan menu yang biasa Jasmine pesan. Untung saja gadis itu paham dengan kode Gasten.
Dan benar saja, tak berapa lama kemudian, Gasten dan Cakra sudah membawa beberapa porsi makanan dan minuman dingin di atas meja. Dengan sigap Camelia membantunya dan menyodorkan seporsi nasi goreng dan sebotol air dingin ke arah Jasmine.
Jasmine menatap makanan di depannya dengan raut wajah datar kemudian mengalihkan pandangan ke arah Camelia yang justru tersenyum lebar ke arahnya.
'How dare you, Lia?' batin Jasmine sambil menatap tajam sepupunya itu.
"Flower, pulang sekolah lo bareng gue. Gue mau bicara penting sama lo." Ethrion menyeletuk tiba-tiba.
"Gue nggak mau," tolak Jasmine mentah-mentah. Dia yakin bahwa cowok tampan di depannya ini mempunyai maksud tertentu.
"Udah, Jas. Nurut aja apa kata Rion," saran Cakra sambil menuang sambal ke dalam baksonya.
Camelia mendelikkan mata. "Apa-apaan lo main ngajak cabut sepupu gue? Nggak, nggak bisa. Jangan mau, Je!"
__ADS_1
"Eh, Babon Somalia. Diem!" Abrisam memberi isyarat Camelia untuk diam. Bisa gagal acara nyepik-pernyepikkan Ethrion kalau gadis berponi tersebut terus mendistraksi rencananya.
Jasmine menatap tepat di iris Ethrion. "Nggak perlu. Gue bawa kendaraan sendiri."
"Sayangnya lo nggak boleh nolak. Pulang sekolah nanti lo harus bareng gue."
Jasmine berdecak. Ethrion benar-benar keras kepala dan tidak bisa di bantah. Dia tidak memedulikan ucapan Ethrion dan memilih diam sembari memakan nasi goreng di depannya dengan perasaan kesal.
...(a n o t h e r s i d e)...
"Nah, itu cewek yang lagi lo cari!" kata Fabian yang tengah duduk di meja sudut kantin. Dia menunjuk dua orang gadis yang baru saja memasuki gedung kantin. Salah satu dari dua gadis itu lah yang di maksud oleh Fabian.
Cello meluruskan pandangan ke arah gadis yang di maksud Fabian.
"Yang badannya tinggi, ramping itu? Yang duduknya deket mantannya Diaz itu?" Cello memastikan sekali lagi.
"Iya. Gimana?" Fabian tersenyum Jahil. "Cantik nggak menurut lo?"
Cello berdecih. "Liat yang bening dikit langsung oleng lo!"
"Halah, nggak usah munafik! Bilang aja kalo lo juga kesem-sem sama tuh cewek!" sungut Fabian.
"Tapi kok kayak Familiar, ya?"
"Familiar gimana maksud lo?"
"Gue kayak pernah liat dimana gitu." Cello mencoba mengingat sesuatu. "Dia pindahan dari mana?"
"Bener juga." Cello berdecak.
Itu artinya gadis itu dalam masalah besar.
Kenapa juga gadis itu harus berasal dari SMA yang menjadi musuh bebuyutan sekolahnya. Sekolah yang selalu menjadi rival SMA Duaja Wijaya sejak dulu. Sekolah mereka selalu bersaing dalam bidang apapun.
Cello yakin jika hampir satu sekolah sudah mengetahui bahwa ada satu murid pindahan yang berasal dari sekolah musuh.
Bukankah itu berarti mereka mendapat sasaran yang empuk?
Semua tinggal menunggu waktu saja dan gadis itu benar-benar dalam bahaya.
"Gimana kalo lo aja yang jagain dia? Itung-itung sebagai tanda terima kasih lo sama dia?"
Eh?
Cello mengangkat satu alisnya? Dia kembali menatap gadis cantik yang kelihatannya tengah berdebat dengan temannya itu.
Harus kah?
__ADS_1
...---*---...
...-----*-----...
Jasmine mematung ditempatnya. Dia menatap motor milik abangnya dengan pandangan dingin. Semenjak sang bunda berniat memindahkannya ke SMA ini, dia sudah bisa mengira hal-hal menyebalkan seperti ini pasti akan terjadi, cepat atau lambat.
Entah siapa yang melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini. Dia nyaris mengumpat saat melihat ban depan dan belakang motor berwarna merah itu sudah kempis tanpa angin yang tersisa. Belum lagi di hampir seluruh body motor berwarna merah itu dicoreti rubber paint berwarna putih. Walau pun itu bisa dikelupas, tapi tetap saja, itu perbuatan yang tidak pantas!
Bagaimana ini? Jasmine takut abangnya akan marah jika mengetahui motor kesayangannya telak dirusak.
Dia mengutuk siapa pun yang berani melakukan hal ini padanya. Dapat dipastikan bahwa dia akan segera mengetahui siapa dalang dibalik kekacauan ini. Lihat saja!
Jasmine berniat menghubungi pak Rudiㅡsupir pribadinya. Tapi sebelum itu ponselnya sudah terlebih dahulu berpindah tangan. Seseorang merebutnya. Orang itu juga mengambil kunci motor yang ada di genggaman tangannya.
"Ikut gue!"
Jasmine tersentak saat seseorang mencengkram pergelangan tangannya. Seseorang itu menyeret Jasmine untuk ikut bersamanya. Tentu saja gadis itu memberontak, terlebih lagi saat dia telah mengetahui siapa yang berani menarik tangannya dengan kasar seperti ini.
"Lepas!"
"Nggak."
"Balikin hape sama kunci motor gue!"
"Ikut gue dulu."
"Sakit! Lepasin tangan gue, brengsek!"
"Diem, Flower, jangan berisik."
Kalian pasti sudah bisa menebak siapa yang sedang bersama Jasmine saat ini.
Mereka berdua menjadi pusat perhatian beberapa siswa yang masih ada di sekolah. Di sepanjang koridor, kebanyakan siswa perempuan sedang berbisik-bisik lalu sesekali melirik ke arah dirinya dan Ethrion dengan sorot tidak suka.
Ah, some Dementors are mad in here.
Ternyata Ethrion membawa Jasmine menuju GOR Basket yang berada di sekolah elite ini. Suara decitan pintu membuat seluruh orang yang ada di dalam GOR Basket menoleh ke arah mereka berdua.
Jasmine mengabaikan tatapan tersebut. Dia mengarahkan pandangan ke arah lapangan Basket. Di sana sudah ada coach Wahid serta anggota klub Basket yang sedang menunggu kedatangan Ethrion.
"Lo duduk di sini." Ethrion melepaskan tautan tangannya. Dia menyuruh Jasmine duduk di kursi tribune. Karena terlalu malas mengeluarkan tenaga untuk mendebat perintah Ethrion, gadis itu hanya bisa menurut. Lagi pula dia masih merasa kesal dengan apa yang terjadi di gedung parkir tadi.
"Tunggu gue latihan bentar. Abis itu gue anter pulang," kata Ethrion yang sarat akan perintah.
"Oke, tapi balikin hape gue!" Jasmine memerintah dengan kesal.
"Nggak akan gue balikin sebelum lo pulang bareng gue." Ethrion menutupi paha Jasmine dengan jaket denim miliknya. Beruntung, tidak ada penolakan dari gadis cantik di depannya ini.
__ADS_1
Jasmine menyugar rambut panjangnya ke belakang dan membuang napas kesal.
'Dasar cowok nyebelin!'