Owned By The Devil

Owned By The Devil
[OBTD] BAB 11 : Oberon vs Proteus 2


__ADS_3

Kaisar tertawa remeh melihat kedatangan Ethrion dan teman-temannya.


Ethrion menghampiri meja yang ditempati Jauzan diikuti oleh Kares, Gasten, Cakra dan Abrisam.


"Ada perlu apa kalian kesini?" Jauzan lebih dulu berbicara. Hanya sekadar basa basi busuk. Itu sengaja dilakukan Jauzan. Dia tentu sudah tau maksud kedatangan Oberon malam ini.


Ethrion melemparkan sebuah ponsel ke arah Jauzan dan langsung ditangkap dengan mudah oleh lelaki berdarah campuran tersebut.


"Putar video yang ada di situ," kata Ethrion dengan tenang.


Jauzan dengan cuek menuruti perintah Ethrion. Kaisar, Marsel, Baron dan Jonathan juga terlihat penasaran dengan video yang Ethrion maksud. Ketika Jauzan memutar video di ponsel berwarna graphite itu, terputarlah sebuah video yang memperlihatkan seseorang dengan motor berwarna hitam-silver melempar sesuatu ke dalam sebuah hunian.


Kaisar menatap Jauzan lekat. "Bos? Motor itu k--"


"Bukan gue." Jauzan berceletuk dengan tenang. Dia melempar kembali ponsel itu ke Ethrion yang ditangkap dengan tangkas olehnya.


Ethrion mengangguk paham. "Gue tau." Lelaki itu berjalan mendekat ke tempat Jauzan berdiri. Kini jarak mereka hanya satu langkah. "Tapi, si Anon ini bilang kalau dia adalah leader Proteus."


Jauzan menatap datar Ethrion. "Gue b—"


"Gue tau kalau lo bukan leader Proteus." Ethrion mengangguk sekali lagi.


Jauzan mengumpat dalam hati. Merasa kesal ketika Ethrion terus memotong ucapannya. "Terus, ada urusan apa lo ke sini?"


Ethrion berdehem singkat. "Gue cuma penasaran. Kenapa motor sama helm si Anon bisa sama persis kayak punya lo. Gue tau itu motor custom dan kecil kemungkinan ada orang lain yang punya dengan model sama persis. Apalagi dia ngaku sebagai leader proteus?"


"Gue leader Proteus." Kaisar menyela dengan tenang.


Ethrion mengalihkan pandangan ke arah Kaisar.


"Tapi sayangnya...," Kaisar menatap Ethrion penuh ejekan. "Bukan gue pelakunya."


"Kalian sadar nggak, kalau bukan cuma gue dan temen-temen gue yang dipermainkan. Tapi kalian juga?" Ethrion menatap anggota Proteus satu per satu. "Kalian nggak curiga sama orang dalam?"

__ADS_1


Jauzan dan Kaisar saling melempar pandangan dalam diam.


Orang dalam?


"Maksud lo apa. Anggota gue nggak mungkin ngelakuin hal konyol kayak gitu," kata Kaisar dengan sinis.


Ethrion terkekeh pelan. Dia memicingkan matanya ke arah Kaisar. "Lo yakin?"


Kaisar hendak menerjang Ethrion kalau saja Jauzan tidak menahan dadanya.


"Sialan! Anggota gue nggak mungkin berani cari masalah." Kaisar menatap tajam ke arah Ethrion. "Apalagi sampai bawa-bawa nama Jauzan."


Ethrion menatap Jauzan yang hanya diam tanpa ekspresi namun maniknya penuh sorot keangkuhan.


Sebenarnya siapa Jauzan?


Kenapa anggota Proteus terlihat lebih segan kepada Jauzan daripada Kaisar yang menyandang gelar sebagai ketua mereka?


Ethrion juga ingat bahwa Jasmine juga terlihat akrab pada Jauzan.


Gadis itu sudah dia klaim sebagai gadisnya.


Sebagai miliknya.


Jasmine. Gadis berparas bak dewi yang seperti feromon berjalan itu hanya milik Ethrion seorang, dan bukan milik siapa pun ... kecuali dirinya.


"Kalau gitu gue perlu bukti. Bukti kalau bukan kalian pelakunya." Ethrion menatap tajam anggota inti Proteus. Kemudian dia mengkode teman-temannya untuk pergi.


Jauzan menatap dingin punggung tegap Ethrion yang semakin menghilang di balik pintu.


"Bangsat!" Jauzan memaki dengan pelan.


Jauzan menatap Kaisar yang menelan ludah dengan panik ketika melihat gurat marah tergambar di wajah Jauzan. Raut wajah tenang dan sorot lembut yang selalu diperlihatkan Jauzan pada banyak orang kini sudah hilang tak berbekas, digantikan dengan raut keji penuh amarah yang tertahan.

__ADS_1


Anggota Proteus tidak berani menatap Jauzan secara terang-terangan. Aura lelaki itu sungguh menakutkan. Mereka semua menundukkan kepala ketakutan.


"B-bos." Kaisar mencicit.


Jauzan mencengkram kerah baju Kaisar dengan kasar. "Siapa anggota lo yang berani usik gue, Kai?"


Kaisar dengan yakin menggeleng. "G-gue yakin bukan anggota gue bos. Mereka nggak mungkin berani!"


"Gue nggak mau tau. Cari identitas orang itu secepatnya, Kai, atau Proteus bakal kena akibatnya." Jauzan melepaskan cengkramannya. Lalu mengusap bekas cengkramannya di baju Kaisar dengan pelan. Dia menatap Kaisar tepat di matanya. "Ngerti lo?"


Kaisar mengangguk patuh. Perintah Jauzan harus segera dia laksanakan secepat mungkin. Dia harus mencari tau siapa orang yang sudah berani mengadu domba Proteus dan Oberon.


Jauzan kembali memasang raut tenang kemudian pergi meninggalkan Kaisar dan inti Proteus yang masih menunduk takut.


Jonathan yang sedari tadi diam, kini berjalan menghampiri Kaisar. Begitu juga dengan Baron dan Marsel.


Jonathan menepuk bahu Kaisar dengan pelan. "Gue dan yang lain bakal bantu lo, Sar."


Baron mengangguk. "Lo nggak sendiri. Kita cari bareng-bareng siapa orang yang udah berani usik kita."


Marsel berdecak pelan. "Anggota kita nggak mungkin berani cari masalah sama Jauzan."


Kaisar menyugar rambutnya dengan kasar. Kepala lelaki itu terasa pening. Dia benar-benar bingung dan tidak tau siapa yang berani melakukan hal konyol itu pada Oberon.


"Terus siapa?" Kaisar menatap Marsel dengan tajam. "Siapa yang udah berani ganggu ketenangan Jauzan, Mar? Gue aja nggak punya nyali sebesar itu buat cari masalah sama Jauzan!"


Baron mengangguk membenarkan. "Orang gila."


Jonathan menatap Baron dengan penuh tanya. "Maksud lo?"


"Gak ada orang waras yang berani cari masalah sama Jauzan," kata Baron dengan lugas. "Anggota Oberon, hampir semua anak Gellius bahkan guru aja gak punya kuasa buat lawan dia, Jo."


Kaisar membenarkan ucapan Baron. "Bahkan Jasmine. Orang kayak Jasmine aja nurut sama Jauzan. Padahal, kalian tau sendiri seberapa berkuasanya cewek itu, kan?"

__ADS_1


Jauzan Jeremy Mercier.


"Jadi, orang gila mana yang berani ganggu manusia macam Jauzan?"


__ADS_2