
Mata Jasmine melotot di balik kaca bening helm bogo berwarna hitam yang belum dia lepas sedari tadi. Kok ucapan Cello terdengar seperti cowok yang lagi modus? Ini modus baru para fakboi jahanam nyepik cewek apa bagaimana, sih?
"Nggak! Gue aja yang boncengin elo. Cepetan naik!" kata Jasmine yang membuat Cello memasang senyum tiga jari.
Tentu saja Jasmine mengiakan karena dia tidak ingin membuang waktu.
Cello segera memakai helm miliknya dan menduduki jok yang agak sempit itu. Masih terasa nyaman, kok. Dan dia berharap gadis asing yang tak dikenalinya ini kuat mengendarai motor yang menopang tubuhnya di jok belakang.
Dan Cello pikir dia akan diantar setidaknya sampai di gedung parkir.
Tapi nyatanya?
Gadis asing itu dengan cuek menurunkannya di pertigaan dekat sekolah yang jaraknya hampir 40 meter dari gerbang SMA Duaja Wijaya. Tentu saja Jasmine melakukan itu untuk meminimalisir hal yang bisa menarik perhatian para murid di SMA Duaja Wijaya.
Bahkan, Cello belum sempat berucap terima kasih, tapi Jasmine langsung menancap gas tidak peduli seakan-akan Cello adalah hama yang harus dihindari.
Cello hanya bisa mematung dengan wajah konyol saking speechless-nya.
Kasihan Cello. Mau tidak mau dia harus berjalan kaki. Tapi baru beberapa meter Cello berjalan, seseorang memanggilnya dengan lantang. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Fabian yang mengendarai motornya ke arah tempat dia berdiri.
"Hoi, Cell. Ngapain lo jalan kaki pake helm kayak orang bego?" Fabian memberhentikan motornya tepat di samping Cello.
Cello terpaku. Apa kata Fabian barusan? Dia meraba kepalanya.
Ah, ternyata Cello belum melepas helmnya. Jadi sedari tadi dia berjalan kaki, dia belum melepas helm motor itu dari kepalanya?
Pantas saja orang-orang meliriknya dengan pandangan geli sedari tadi.
Sungguh sial sekali nasib cogan kesayangan bersama ini.
Cello melepas helm dari kepalanya dan memandang Fabian dengan kesal. "Berisik lo!"
"Lagian lo ada-ada aja. Emang motor lo kemana? Napa kayak orang abis dibegal gini, dah?" Fabian terbahak.
"Motor gue mogok! Untung tadi ada cewek lewat."
Fabian celingukan menandang sekitar. "Lah, terus, mana ceweknya sekarang?"
Cello mendekus. "Udah pergi. Lo nggak liat gue diturunin di pinggir jalan kayak orang bego gini."
__ADS_1
Fabian melongo. Sedetik kemudian dia terbahak dengan keras. "Anjir, nggak nyangka gue. Bisa-bisanya, ya, itu cewek?"
"Cuma cewek aneh. Nggak usah dipikirin."
"Cewek aneh? Lo kenal cewek itu?" Fabian bertanya.
Cello menggeleng acuh. "Anak Duaja Wijaya, tapi gue nggak liat jelas mukanya. Dia pake masker. Adek kelas kayaknya."
Fabian mangut-mangut. "Oh, adek kelas."
"Vespa warna merah, helm bogo warna item."
"Anak Duaja Wijaya yang cowok banyak kali yang punya vespa warna merah, Cell," kata Fabian dengan gelengan kepala.
Cello menggelengkan kepalanya.
"Beda. Gue tau vespa yang dipakai cewek itu hasil modifikasi. Vespa dia beda dari yang lain dan gue yakin harganya juga gak main-main. Gue juga udah hafal bentukan vespa cewek itu kayak gimana."
"Terus kalo udah ketemu, lo mau apa sama dia?"
Cello mengulas seringaian kecil. "Pokoknya, cewek itu udah gue tandain. Liat aja nanti sewaktu pulang sekolah."
"Udah. Untung aja Bu Grahita bisa maklum. Jadi, gue gak akan kena detensi. Aman."
"Gila lo. Untung ada orang yang mau buat jadi pengganti lo kemarin. Kalo nggak ada, gue nggak tahu lagi, deh, nasib kelas kita bakal kayak gimana."
"Orangnya yang mana?"
"Orangnya cewek. Nanti gue kasih liat. Dia anak baru kelas sebelas. Cantik anaknya," kata Fabian sambil berdecak kagum.
Anak baru? Cello sedikit merasa kagum dengan cewek pengganti dirinya iru.
Cello mengangguk. "Kalo gitu, gue harus berterima kasih sama dia."
Fabian mencebikan bibir. "Bakal nggak tahu diri banget kalo lo nggak bilang makasih ke cewek itu."
"Sialan lo emang!" Cello melotot sinis. Sedetik kemudian dia melirik jam di tangannya. Kemudian mengumpat pelan. Dia segera naik tanpa permisi ke atas motor Fabian. "Buruan gas! Semenit lagi gerbang ditutup!"
"Anjir! Gue nggak mau tahu, kalo sampe kita kena hukuman, lo harus tanggung jawab! Titik!" kata Fabian sembari menggerutu sebal.
__ADS_1
"Bacot! Buruan, nggak usah banyak omong!"
Cello menahan untuk tidak menabok mulut Fabian. Kenapa juga mereka malah ngobrol santai di pinggir jalan padahal sebentar lagi gerbang sekolah ditutup?
Dasar cokeber! [Re : Cogan kesayangan bersamaš]
...(a n o t h e rĀ Ā s i d e)...
Jasmine berjalan keluar dari gedung parkir. Dia berjalan menuju kamar mandi di sebelah gedung parkir untuk mengganti celana jin hitamnya dengan rok seragam.
Rupanya dia tidak menyadari dua orang telah mengamatinya sedari dia memarkirkan motornya di gedung parkir.
"Jadi dia beneran ninggalin Cello sendirian di pinggir jalan, Nga?"
"Iya, Zar. Tadi gue nggak sengaja liat. Gue yakin banget kalo itu Cello, soalnya dia pake helm merah hadiah dari lo waktu itu. Kan ada inisial nama Cello di belakang helm pemberian lo."
"Dasar cewek sialan. Nggak pernah, ya, gue liat anak baru sebelagu dia!" Iszara berbicara dengan ketus. Maniknya berkilat tajam dan penuh amarah.
Inga mendekus. "Sedari awal dia masuk sini, kan, emang caper banget anaknya."
"Demi apa pun gue nggak suka dia pindah ke sekolah ini," kata Iszara.
"Tenang aja, Ra. Dia gak akan betah di sekolah ini karena gue yakin, dia bakal jadi sasaran gangguan anak-anak lain." Inga mengukir seringaian samar di bibirnya.
"Lihat aja nanti, kalau dia berani deket sama Kak Cello lagi, gue nggak akan tinggal diam!"
Iszara menyugar rambut panjangnya dengan frustasi. Dia memaki-maki Jasmine dalam hati. Bisa-bisanya anak baru itu mencuri perhatian satu sekolah dengan mudahnya.
Apalagi pada pujaan hatinya yang notabene sebagai salah satu cowok paling populer di sekolah. Si mantan ketua OSIS, cowok yang sudah dia labeli sebagai miliknya. Pujaan hatinya.
Satu sekolah juga sudah tahu bagaimana hubungan antara Cello dengan Iszara.
Iszara sudah tidak tahan lagi. Dia berjalan menghampiri Jasmine yang baru keluar kamar mandi. Tapi sebelum itu, Inga menahan lengannya ketika mendengar bel sudah berbunyi.
"Masalah dia urus nanti aja. Udah bel. Ayo buruan ke kelas!" Inga mencoba membujuk. Dia menarik lengan kanan Iszara.
Iszara berdecak kasar. Mau tak mau dia menuruti langkah Inga yang menyeretnya menuju kelas.
'Dasar attention seekers! Awas aja, lain kali nggak bakal gue biarin lolos!'Ā Iszara membatin penuh emosi terpendam.
__ADS_1