Owned By The Devil

Owned By The Devil
[OBTD] BAB 7 : Incognito [2]


__ADS_3

"APA! JAUZAN?" teriak Shana seraya mengeluarkan ekspresi kaget, tidak percaya.


Jasmine mengangguk sambil menatap Shana dengan cemas. Kepalanya tiba-tiba terasa pening gara-gara memikirkan masalah itu.


"Ada apa? Juzan Kenapa?" tanya Camelia yang baru saja datang. Gadis itu membawa semangkuk besar popcorn dan membawanya ke kamar Jasmine yang luas.


Di sana sudah ada Jasmine dan Shana yang sudah menunggu sambil duduk di atas karpet. Sepertinya, ketika dia pergi mengambil popcorn di dapur tadi, Jasmine dan Shana sedang membicarakan sesuatu.


Jasmine berdesis. "Intinya, Jauzan jadi inceran anak Oberon."


"T-Tapi kan, dia b-bukan...."


"Kalian ngomongin apa, sih? Coba jelasin ke gue!"  sentak Camelia. Gadis itu menyela ucapan Shana sambil meletakan semangkuk popcorn yang dia bawa di atas meja.


Shana mengeluh. "Duh, Lia. Geng motor di sekolah lo itu bikin Jauzan jadi target balas dendam mereka!"


"Geng motor apa? Balas dendam apa? Jangan setengah-setengah kalo jelasin!" sungut Camelia dengan sebal.


"Beberapa waktu lalu, sebelum gue pindah ke Duaja Wijaya, ada seseorang yang sengaja lempar sesuatu ke markas anggota Oberon."


Dahi Camelia mengkerut mendengar penjelasan Jasmine. "Apa?"


"Kotak. Isinya beling sama kalajengking."


"Gila! Kenapa harus kalajengking sama pecahan beling?"


"Black scorpion. Gue tau kalau itu lambang eksistensi Proteus." Jasmine tahu betul alasan adanya binatang artropoda itu.


"Ada korban dari kejadian itu, Jel?" tanya Camelia.


Jasmine mengangguk.


"Siapa?"


"Namanya Isa." Jasmine menyebut sebuah nama yang entah kenapa tidak bisa hilang dari pikirannya. "Jangan tanya dia siapa, karena gue juga nggak tau."


Ekspresi Camelia jadi bertambah bingung. "Y-Ya, tapi, siapa yang berani ngelakuin hal norak kayak gitu?"


"Mereka bilang, pelakunya leader baru Proteus." terang Jasmine.


"T-tapi, tadi kalian bilang ... J-Jauzan?"

__ADS_1


Jasmine berdecak. "Maka dari itu gue nggak percaya, Lia. Mereka bahkan nggak tau siapa leader baru Proteus!"


"Bener juga! Bisa-bisanya mereka bilang kalo pelakunya Jauzan!" kesal Shana.


"Jauzan bukan leader baru Proteus, kan?"


"Bukan, Lia!" Shana menjawab dengan menahan kesal. "Leader baru Proteus itu kembaran gue!"


"Maksud lo, Kaisar?" Camelia melongo. Dia tidak menyangka jika kembaran gadis berpipi gembil itu merupakan leader baru Proteus. "Terus kenapa jadi Jauzan yang kena?"


"Gue rasa mereka punya sesuatu. Mungkin bukti yang mengarah ke pelaku. In this case, Jauzan yang mereka tuduh sebagai pelaku," pungkas Jasmine.


"Tapi, Jel, Jauzan bahkan bukan anggota klub Basket. Kenapa mereka nggak nyoba biat cari tahu lebih dalam soal itu?" Kini Shana mencoba menerka-nerka siapa si pelaku pembuat onar tersebut.


Jaamine mengendikkan bahu, sedetik kemudian dia teringat akan satu hal. "Oh, satu lagi. Ada surat ancaman juga di dalam kotak itu, ditulis pake sesuatu warna merah."


"Maksud lo, darah?" tebak Camelia yang membuat Shana bergidik ngeri ditempatnya.


"Gue nggak tau, mereka nggak bilang apa pun soal itu. Cuma, gue rasa nggak mungkin kalau ditulis pakai darah." Jasmine mencoba untuk tidak berpikir macam-macam. "Bukannya itu terlalu, ehm, ekstrim, ya?"


"Kalaupun pakai darah, gue yakin itu darah palsu, atau darah hewan, nggak mungkin juga pake darah manuisa! Aduh, kepala gue pusing, Jel. Gimana kalau kembaran gue kenapa-napa?" Shana menggerutu.


Gadis itu memakan berondong jagung di depannya dengan raut kesal. Dia berharap jika Kaisar tidak terlibat dalam masalah ini.


Jasmine menggeleng. "Mereka gak kasih tau detail isi suratnya ke gue."


"Terus, sekarang apa yang mau lo lakuin?" tanya Camelia.


Jasmine menggendikkan bahu. "Gue nggak mau ikut campur urusan mereka."


Shana mendesis khawatir. "Terus, kalo Kaisar kenapa-napa gimana?!"


"Kayaknya, lo harus meluruskan sesuatu deh, Jel." Camelia menatap Jasmine yang terdiam.


"Iya, Jel. Bilang ke mereka kalau bukan Jauzan atau pun Kaisar pelakunya," ucap Shana dengan tatapan penuh permohonan.


Jasmine menatap Camelia dan Shana dengan datar.


Apa mereka menyuruhnya untuk berdekatan lagi dengan makhluk bejat nan mesum bernama Ethrion ... lagi?


Hanya helaan napas kasar yang keluar dari hidung bangir Jasmine.

__ADS_1


Damn!


...(a n o t h e r s i d e)...


Seseorang pemuda yang mengenakan kaus hitam serta topi berwarna senada terlihat memasuki sebuah ruangan bercat abu-abu. Hidung bangirnya bisa mencium dengan jelas bau asap yang berasal dari gulungan tembakau yang dibakar.


Dia tidak sendiri di ruangan ini. Ada tiga temannya yang sedang sibuk memainkan game di sebuah ponsel sembari menghisap gulungan penuh nikotin yang terselip di antara jari. Sesekali sebuah umpatan kasar keluar dari mulut mereka.


Pemuda dengan outfit serba hitam namun terlihat fashionable itu berjalan menuju sebuah lemari pendingin dan mengambil sekaleng beer. Kemudian dia meminum sekaleng beer tersebut sembari berjalan ke tengah ruangan, bergabung dengan temannya yang lain.


"Bro, rencana udah berjalan sesuai rencana." Terlihat pemuda berambut sedikit gondrong berbicara dengan si Outfit Hitam.


Si Outfit Hitam menyeringai puas. "Kerja bagus. Gue gak sabar lihat mereka hancur."


Mereka semua ikut mengulas seringaian yang sama.


"Sebentar lagi lo juga bakal dapetin cewek itu lagi," ucap Tommy. Pemuda dengan rambut sedikit gondrong tadi.


David, pemuda berambut cepak itu juga ikut menimpali. "Dia emang terlalu cantik. Pantes lo rela sampe sejauh ini."


Nando menatap temannya itu dengan gelengan kepala. "Lo beneran gak waras. Lo udah terobsesi sama---"


"Gue gak peduli!" Si Outif Hitam memotong perkataan Nando dengan tajam. "Dia harus ingat siapa pemiliknya, sejauh apa pun dia pergi dari gue."


Si Outfit Hitam meletakkan kaleng beer yang sudah kosong ke atas meja. Dia menatap beberapa  foto seorang gadis yang terbingkai dengan indah di salah satu dinding ruangan ini.


Foto seorang gadis cantik yang dipotret dari berbagai sudut pandang yang berbeda.


Si Outfit Hitam mengeluarkan beberapa cetakan foto sang gadis yang baru saja di kirimkan oleh seseorang.


Foto pertama memperlihatkan gadisnya mengendarai sebuah motor berwarna merah. Foto kedua memperlihatkan si gadis berseragam sedang berada di sebuah kantin sekolah. Ada beberapa foto lagi yang mengabadikan kegiatan sang gadis dua hari terakhir ini.


Lalu si Outfit Hitam melihat lembar foto terakhir di tangannya. Dia menatap foto itu dengan tajam penuh raut benci.


Foto yang memperlihatkan sang gadis berada di sebuah parkiran bersama seorang lelaki.


Tentu saja dia tahu siapa lelaki itu.


Si Outfit Hitam meremas foto tersebut menjadi gumpalan. Dia meremas dengan kuat seperti ingin menghancurkan foto itu menjadi debu.


Rahang tegasnya mengetat. Sejurus kemudian dia menyeringai tajam membuat ketiga temannya tadi menatap ngeri ke arahnya.

__ADS_1


"Sayangnya, apa yang udah jadi milik gue, akan selamanya menjadi milik gue, b***t!"


__ADS_2