Owned By The Devil

Owned By The Devil
[OBTD] BAB 8 : Rats in Action


__ADS_3

"Jel, ikut gue ke mading belakang sekolah sekarang juga!" seru Camelia panik.


Jasmine mendongak menatap Camelia yang baru saja berlari ke dalam kelas dengan wajah panik. Dia meletakkan bolpoin serta menutup buku yang baru saja dia pahami materinya.


"Apa sih, Lia? Katanya lo mau beli makanan ke kantin? Kenapa malah balik lagi?" heran Jasmine.


Camelia berdecak. "Ini lebih penting dari itu!"


Jasmine mengernyit penasaran. "Apa?"


Tadi setelah bel istirahat berbunyi, Camelia mengajak Jasmine ke kantin, namun gadis itu terlalu malas beranjak dari kursi. Akhirnya, mau tidak mau, Camelia pergi sendiri menuju kantin dan membeli makanan untuk mereka berdua.


Namun, ketika hendak memasuki kantin, Camelia dibuat heran ketika melihat mading sekolah tengah dikerumuni segerombolan murid perempuan.


Karena terlalu penasaran, dia ikut melihat isi mading yang entah kenapa juga menarik rasa penasarannya.


Camelia terkejut begitu melihat topik yang diberitakan di mading. Tanpa ba-bi-bu, dia berbalik menuju kelas dan langsung melupakan niat awalnya yang ingin pergi ke kantin.


"Anggota ekskul Jurnalistik bikin sesuatu tentang lo di mading!" seruan Camelia memenuhi ruang kelas yang sedang sepi itu.


Teman-temannya yang lain sudah pergi entah kemana, menyisakan mereka berdua beserta tiga anak lain yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.


Jasmine hanya sebelah alisnya. Sedetik kemudian dia kembali membuka bukunya, hendak melanjutkan apa yang dilakukannya tadi.


"Biarin aja. Gue nggak peduli." Jasmine berkata dengan cuek.


"Lo lihat dulu, Jel. Gue jamin lo bakal kaget!"


"Gue nggak mau, Lia." jawab Jasmine dengan kekeh.


"Jasmine! Asal lo tau, ya, alih-alih tempel papan mading di sekitar kelas, sekolah ini justru bangun tembok gede di taman belakang sekolah khusus buat karya anak Jurnalistik!"


Jasmine berdecak pelan. "Gue tau itu, Lia. Gue udah hafal seluk-beluk sekolah ini, bahkan, gue juga udah hafal sejarah Duaja Wijaya!"


Semua orang di sekolah ini juga sudah tau mengenai keberadaan tembok besar berukuran 4x4 meter berlukis mural yang dibangun di taman belakang sekolah hanya untuk anggota ekskul Jurnalistik itu.


"Dih, niat banget lo! Tapi, lo belum lihat apa yang mereka bikin tentang lo, Jel. Gue jamin lo bakal kaget setelah tau apa isi mading yang anak Jurnalistik buat. Pokoknya lo harus ikut gue sekarang!" Karena tidak ingin membuang waktu, dia segera menarik Jasmine ke luar kelas dan mengabaikan seruan protes gadis itu.


Mereka berjalan ke luar kelas menuju ke taman belakang sekolah, tempat dimana tembok mading anak Jurnalistik berada.

__ADS_1


Mereka melewati koridor yang ramai dengan murid yang berlalu lalang. Banyak dari mereka yang melirik sekilas ke arah Jasmine dan Camelia.


Jasmine meyakini bahwa sebagian dari mereka telah melihat sesuatu yang tertempel di mading mengenai dirinya.


"Minggir woy! Minggir!" teriak Camelia begitu sampai di depan segerombolan murid perempuan yang berdiri di depan mading. Dia dan Jasmine menerobos menuju paling depan.


Jasmine mematung ditempatnya.


Anggota ekskul Jurnalistik itu mengisi sebuah papan mading berbahan kaca transparan berukuran 1,5x2 meter yang tertempel di satu sisi tembok ini berisi tentang Jasmine seorang.


Sementara papan mading di sisi tembok yang satunya masih berisikan karya-karya lain anggota ekskul Jurnalistik.


Gila!


Jasmine memijat keningnya pelan. Dia benar-benar merasa muak sekarang. Belum lagi, saat ini dia harus mendengarkan celotehan sampah beberapa orang di sekelilingnya.


"Itu dia si anak baru!"


"Kemarin gue liat tuh anak pulang bareng sama Rion."


"Numpang tenar kali!"


"Ngapain coba anak Gellius pindah ke sini! Dasar tolol!"


"Sok eksis banget! Apa coba istimewanya dia sampe-sampe anak Jurnalistik bikin isi mading segede ini cuma full tentang dia aja? Gak guna!"


"Tau tuh! Kayak gak ada berita yang lebih faedah aja!"


"Gue nggak terima!"


"Abis Cello, sekarang Ethrion. Cewek maruk! Caper sana-sini, dasar sasimo!"


Jasmine mengabaikan ucapan-ucapan mereka yang terdengar tidak penting di telinganya dan kembali menatap mading tersebut dengan pandangan dingin.


Dia mengakui bahwa mading berjudul Jasmine Lavatera, Welcome to SMA Duaja Wijaya yang tercetak tebal ini benar-benar dibuat dengan epic. Banyak tercetak foto dirinya yang disertai deskripsi yang lumayan detail.


Seperti contoh, mereka memasang fotonya yang sedang menggunakan seragam Paskibra dan di bawahnya tertulis penjelasan bahwa dirinya pernah menjabat sebagai ketua ekskul Paskibra sewaktu dia masih menjadi murid Gellius.


Tapi, apa maksud anggota Jurnalistik itu membuat sesuatu mengenai dirinya tanpa meminta izin terlebih dahulu? Bahkan semua foto yang mereka ambil itu berasal dari akun sosial media miliknya.

__ADS_1


Jasmine memaki dalam hati.


Maniknya menatap mading di depannya dengan tajam. Dalam hati dia mengutuk siapapun yang berani mengusik privasinya seperti ini.


"Bilang sama gue, mereka udah izin sama lo? Siapa yang ajak lo buat wawancara? Kapan lo diajak wawancara sama mereka?"


Jasmine menoleh ke arah Camelia. Dia langsung teringat ketika dirinya dihampiri ketua Jurnalistik sewaktu menunggu Ethrion berlatih Basket. "Ketua mereka samperin gue sewaktu di GOR Basket. Melodi? Ah ya, Elodie."


"Astaga, Je. Gue lupa bilang sama lo!" pekik Camelia tiba-tiba.


"Bilang apa?"


"Elodie itu salah satu orang yang harus lo hindarin di sekolah ini!"


Jasmine mengernyit. "Kenapa?"


"Dia itu termasuk bucinnya Rion! Alasan dia jadi ketua Jurnalistik ya itu. Biar dia bisa bebas deket sama Rion pakai dalih cari bahan buat majalah atau mading sekolah!"


"Oh."


"Dan lo nggak curiga gitu? Mereka buat mading full tentang lo kayak gini pasti ada maksud tertentu, Je!" sentak Camelia.


"Gue tau itu, Lia," jawab Jasmine masih dengan raut tenang.


Jasmine berpikir bahwa ada kemungkinan mereka membuat mading tersebut agar dia semakin dibenci. Membuat sesuatu berlebihan tentang dirinya seperti ini tentu saja akan memicu ujaran kebencian yang dilontarkan padanya semakin memuncak.


Namun, wajah cantik Jasmine kini mengeluarkan ekspresi penuh ketertarikan. Dia jadi sedikit penasaran, kira-kira sejauh mana mereka berani mengusik dirinya?


"Lagi pula, kemarin lo kesambet apa sampe mau diajak pulang bareng sama dia?" tanya Camelia dengan raut kesal. Tapi sedetik kemudian dia terdiam. Dia tersadar akan sesuatu. "Eh, tunggu dulu. Bukannya kemarin lo bawa motor punya abang lo, ya?"


Ya, benar.


Jasmine mengembuskan napasnya pelan. Dia lupa menceritakan insiden motor kemarin ke sepupunya ini. Jasmine menatap sekelilingnya. Karena masih banyak murid yang berkeliaran di sekitarnya jadi dia menarik lengan Camelia menuju tempat yang lebih sepi.


"Kenapa? Did something happen?" tanya Camelia setelah mereka berada di sudut taman yang lumayan sepi, jauh dari kerumunan tadi.


Jasmine sebenarnya masih sedikit ragu ingin menceritakan kejadian kemarin atau tidak. Tapi, sepertinya dia harus menceritakannya ke Camelia, toh, gadis itu adalah sepupunya. Jadi, dia percaya bahwa Camelia pasti tidak akan menyebarkan apa yang akan dia ceritakan pada orang lain.


"Jadi kemarin ...."

__ADS_1


__ADS_2