Owned By The Devil

Owned By The Devil
[OBTD] BAB 12 : You Can't


__ADS_3

ini terasa sangat menyebalkan bagi Jasmine. Gadis itu datang terlambat ke sekolah. Sekarang sudah pukul tujuh lebih dua puluh menit dan saat ini Jasmine tengah berdiri di depan ruang BK bersama sosok lelaki yang beberapa detik lalu berhasil mencegat dirinya. Dengan seenaknya, lelaki itu menggiringnya menuju ruang bimbingan konseling.


Jasmine menatap tajam ke arah Kares, murid yang bergelar sebagai Ketua OSIS SMA Duaja Wijaya itu kini berdiri dengan bersidekap dada sambil menatap Jasmine dengan alis sedikit berkerut.


"Gue pikir lo ada di sekte murid yang gak pernah telat datang ke sekolah," kata Kares dengan senyum mengejek yang terlihat jelas.


Jasmine memutar bola matanya. Dasar cowok freak.


"Tunggu apa lagi? Masuk!" Kares memerintah dengan tegas.


Jasmine mengembuskan napas kasar dan hanya bisa menuruti perintah Kares.


Jasmine membuka pintu dengan sedikit keras, membuat beberapa orang yang berada di dalam ruangan menoleh ke arah Jasmine.


Manik Jasmine terkunci pada Ethrion yang menatapnya sambil tersenyum jahil. Sepertinya lelaki itu juga terlambat datang ke sekolah. Tapi, Jasmine hanya memasang tampang tidak peduli dan memasuki ruangan dengan santai, mengabaikan berbagai tatapan mata yang tertuju padanya.


Kares berjalan ke arah Bu Kinar sambil menyerahkan catatan absensi paginya. Lalu, lelaki itu berjalan keluar untuk menuju kelas. Tugasnya selesai sampai di sini.


Sedangkan Bu Kinar menatap beberapa orang murid yang terlambat dengan sorot tajam.


"Heksa, Amel, Satya, Elodie, Rion, Damar, Disa dan Jasmine." Bu Kinar menggabsen satu persatu dengan melihat tanda nama di seragam mereka. "Kalian tahu, kan, jenis hukuman untuk murid yang datang terlambat ke sekolah menurut Buku Peraturan Tata-Tertib SMA Duaja Wijaya?"


"Menulis esai, Bu!"

__ADS_1


"Bagus kalau masih ingat." Bu Kinar tersenyum puas. "Tugas kalian adalah membuat empat jenis esai dengan masing-masing dua topik yang menurut kalian menarik. Kalian buat minimal dua halaman dan harus lebih dari 1500 kata. Kumpulkan satu minggu dari sekarang. Sampai sini paham?"


"Paham!"


"Heksa dengan Disa, Satya dengan Elodie, Damar dengan Amel lalu Jasmine dengan Rion." Bu Kinar mengelompokkan tugas sesuai yang dia inginkan. "Kalau sudah paham, kalian boleh kembali ke kelas masing-masing."


"Bu." Jasmine dengan cepat sedikit mengangkat tangan kanannya, membuat Bu Kinar menoleh ke arahnya.


"Ya, Jasmine?"


"Boleh nggak kalau saya sendiri aja?"


Ethrion menoleh ke arah Jasmine dengan alis terangkat sebelah. Dia tau maksud gadis yang berdiri di sampingnya itu. Dia melayangkan tatapan protes ke arah Jasmine namun gadis itu tidak mau menatapnya sama sekali.


"Saya lebih suka kerja individual," kata Jasmine dengan penuh penekanan.


"Bu, kalau dia nggak mau, biar saya aja yang sama Rion." Elodie memasang senyum manis. Gadis itu menyambung pembicaraan dengan cepat. Mumpung ada kesempatan, dia tidak ingin menyia-nyiakannya begitu saja.


"Sayang sekali tidak bisa seperti itu, Jasmine. Dan kamu Elodie, kamu mengerjakan tugas esai tetap dengan Satya. Saya tidak menerima protes untuk yang ini. Jadi, silakan kembali ke kelas masing-masing." Bu Kinar tersenyum tipis lalu kembali duduk di kursinya.


Jasmine dan Elodie sama-sama menggerutu dalam hati. Elodie berjalan melewati Jasmine sambil menatap sinis gadis itu kemudian dia pergi berlalu begitu saja.


Jasmine berdecih pelan lalu ikut berjalan keluar untuk menuju kelas, begitu juga murid yang lain.

__ADS_1


Sedangkan Ethrion hanya tersenyum simpul sambil menatap Jasmine dari belakang.


'Lo selalu berhasil bikin gue makin gemes sama lo, Flower," batin Ethrion sambil mengukir seringaian gemas.


Ethrion menyusul Jasmine dengan langkah pelan. Lelaki itu berjalan di belakang gadis itu sembari memperhatikan setiap langkah yang gadis itu ambil. Secarik senyuman terbit dibibirnya.


Jasmine tentu saja menyadari jika sedari tadi Ethrion tengah mengamatinya dari belakang. Namun, Jasmine tidak memedulikannya dan tetap melangkah menuju kelas dengan langkah lebih cepat.


Mereka berdua sampai di depan pintu kelas yang sudah tertutup rapat.


Jasmine menarik nafasnya lalu menghembuskannya secara perlahan. Tangan kanannya mengetuk pintu tiga kali lalu membukanya. Jasmine masuk ke dalam kelas diikuti Ethrion di belakang.


Sedangkan di dalam kelas, Bu Ervina, Guru Matematika yang hari ini sedang mengajar, tengah menatap Jasmine dan Ethrion dengan pandangan menyelidik. Semua murid di dalam kelas ini juga mengalihkan atensi pada Jasmine dan juga Ethrion.


"Kalian terlambat," kata Bu Ervina.


Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.


Jasmine mengangguk dengan tenang sedangkan Ethrion masih saja menatap Jasmine dari samping dengan senyum kecil.


Diam-diam, Ethrion memuji ketenangan Jasmine karena sama sekali tidak menunjukkan gelagat gugup atau takut sama sekali di hadapan Bu Ervina yang termasuk ke dalam jajaran guru paling killer se-SMA Duaja Wijaya.


"That's my girl," lirih Ethrion disertai senyum samar.

__ADS_1


__ADS_2