Owned By The Devil

Owned By The Devil
[OBTD] BAB 3 : Trash Talker [2]


__ADS_3

Anggota Oberon terlihat sedang berkumpul sambil membahas mengenai turnamen Basket yang akan mereka laksanakan dengan SMA Gellius sebagai rival dan tuan rumahnya.


"Bulan depan kita jadi tanding sama Proteus?" tanya Abrisam.


Cakra tersenyum remeh. "Jadi, lah! Udah kesekian kalinya mereka sok-sokan nantang Oberon."


"Mereka masih nggak terima sama hasil tanding 3 bulan lalu," ujar Gasten.


Kares mengernyitkan alis. "Tapi, denger-denger mereka punya leader baru."


"Gue nggak peduli. Sekali nantang, itu namanya nyari mati." Ethrion mengeluarkan seringaiannya.


"Setuju apa kata lo, Yon!" Seru Cakra. "Gue jadi penasaran sama skill leader baru Protheus."


Gasten berdecak. "Halah! Paling nggak jauh beda sama si Cupu Aldio."


Ethrion menatap tajam Gasten. "Oberon pantang pandang remeh musuh. Firasat gue, leader baru Protheus nggak secupu Aldio."


"Kita latihan intensif aja kayak biasa," kata Abrisam.


Cakra berdecak pelan. "Itu wajib banget, Sam! Gue nggak sabar buat lihat sejauh mana mereka berkembang. Iya nggak, Yon?"


Ethrion mengangguk mendengar ucapan Cakra. "Akan lebih menarik kalo kita punya lawan yang seimbang. Nggak berat sebelah."


"Tapi, lo gimana, Res? Yakin bisa bagi waktu sama kegiatan OSIS lo?" Tanya Cakra pada Kares.


"Kalo gue nggak ikut latihan, gue bisa latihan sendiri. Kedepannya kita bahas strategi aja," kata Kares.


"Lagian, lo ngapain, deh, jadi ketua OSIS? Ribet." Cakra berdecak sambil menatap Kares.


"Udah, tenang aja. Lo kan tahu sendiri kalo selain Ethrion, yang paling sering cetak three point itu gue!" Kares tersenyum bangga.


Cakra mendelik. "Sombong amat!"


Kares tergelak. "Iri bilang, Boss! Lagian kalo mepet nggak bisa ngikut, kan, kita masih punya anggota cadangan."


"Heh! Gue juga pa---"


"Eh, diem! Itu bukannya Jasmine, ya? si anak baru?" seru Gasten.


Abrisam mendongakkan kepala, mencari objek yang di maksud. "Mana, di mana?"


"Dimana-mana hatiku senang."


"Gue serius, dugong!"


Gasten bgerdecak. "Itu yang lagi duduk di meja deket resepsionis! Ada si Onta Arab juga, noh."


"Camelia? Ajib bener ngikut sirkel anak Gellius! Mana sama cowok lagi!" Abrisam memekik heboh.


"Mereka anak Gellius?" Tanya Cakra yang di angguki Abrisam.


"Gue masih inget muka 2 cowok yang di sebelah Camelia. Mereka anggota Protheus. Cowok yang duduk di samping kiri Jasmine, gue belum pernah lihat," jelas Abrisam.


Ethrion ikut menolehkan kepalanya ke arah yang Gasten tuju. Dia mengulas senyum miring khas dirinya ketika matanya mendapati Jasmine sedang berbincang dengan Camelia dan tiga orang cowok lainnya. Dia menatap Jasmine layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan barunya.


I found you again ... Flower. Ethrion menyeringai tajam.


"Heh, Yon! Mau kemana, woi!"


Ethrion bangkit dari duduknya. Dia mengabaikan seruan Kares dan berjalan menuju ke tempat Jasmine berada.


Sesampainya di sana, geraka Ethrion yang menyeret kursi tiba-tiba, lalu duduk di space yang ada itu kontan membuat lima orang yang duduk mengitari meja menjadi kaget.


Bahkan, Camelia sampai memelototkan matanya ketika melihat lelaki berparas tampan tersebut tiba-tiba muncul lalu duduk santai dengan senyuman lebar.


Berbeda dengan Jasmine, gadis itu mati-matian mencoba mempertahankan raut datarnya walau dalam hati dia memaki lelaki itu dengan keras, apalagi saat tahu bahwa makhluk menyebalkan itu duduk tepat di samping kanannya yang memang kosong.


Sedangkan ketiga cowok itu; Jauzan, Kaisar, Jonathan, hanya mengernyitkan alis mereka ketika mendapati Ethrion yang menurut mereka orang asing yang entah dari mana asalnya, tiba-tiba ikut mendudukan diri bersama mereka.


Camelia menyeru. "Rion?!"


"Hai, Flower," ucap Ethrion. Dia mengabaikan pekikan Camelia. Maniknya justru menatap intens ke arah Jasmine. Tak lupa bibirnya mengulas senyum manis.


Jaamine memegang. Dia memandang Ethrion dengan kaku.

__ADS_1


Apa-apaan lelaki gila ini!


Jauzan mengetatkan rahangnya. Dia merasa terusik melihat apa yang dilakukan Ethrion pada Jasmine. Netra kebiruan nan tajamnya itu menghunus tepat ke arah lelaki berbaju serba gelap tersebut dan Ethrion jelas menyadari tatapan tajam lelaki tersebut yang diarahkan kepadanya.


Bukan Ethrion jika dia merasa ketakutan.


Justru dengan santainya Ethrion duduk menghadap Jasmine sembari menopang dagu, menatap gadis cantik di hadapannya dengan satu sudut bibir yang terangkat ke atas.


Jonathan berbisik ke arah Camelia. "Dia siapa? Lo kenal?" Dia memandang tajam Ethrion yang justru mengeluarkan seringaian saat menatap Jasmine lekat.


Camelia tergagap. "Dia temen sekelas gue."


"Lo ngapain, sih?" Jasmine bertanya dengan suara tertahan. Dia memandang tajam Ethrion.


Ethrion menyeringai ketika bunga kecilnya bertanya. Dia menjawab dengan santai tanpa merasa terusik dengan lelaki di samping kiri Jasmine yang terus menatapnya dengan sinis.


"Nyamperin calon pacar."


Badebah! Netra biru milik Jauzan makin menajam ketika mendengar jawaban Ethrion yang terlalu nyeleneh. Dia mengulas senyum sinis. Kaisar hanya menggaruk pelipisnya pelan saat menyadari suasana makin tidak nyaman.


Jasmine mendelik. "Sejak kapan gue sama lo jadi seakrab ini?"


Ethrion menyeringai. Dia mendekatkan kepalanya ke arah gadis itu. Menghirup wangi vanila yang entah sejak kapan menjadi favoritnya.


"Since my reddish soft lips meet your reddish soft ... cheek," bisik Ethrion tepat di telinga Jasmine.


Reddish soft ... apa?!


Menggelikan!


Ethrion kembali tertawa kecil ketika melihat muka Jasmine yang mulai memerah. Sepertinya, dia berhasil mengoda gadis itu.


Jasmine mengumpat pelan sambil menatap sengit ke arah lelaki beriris hitam kelam tersebut. Kenapa lelaki itu suka sekali berbisik hal menjijikkan di telinganya?!


Sedetik kemudian, Jasmine berdiri dan menyeret Ethrion bersamanya. Mengabaikan Jauzan yang sempat menahan lengannya serta seruan dari Camelia.


Jasmine menyeret Ethrion menuju parkiran, tepat di belakang mobilnya terparkir. Dia melepaskan cekalannya pada lengan Ethrion dan menatapnya tajam.


"Mau lo apa sih?" Tanya Jasmine tanpa berasa-basi.


"Hah?"


Ethrion mengangkat dagu Jasmine dengan jari telunjuknya lalu menatap intens tepat di manik gadis tersebut.


"Gue mau elo."


Jasmine menepis tangan Ethrion. "Nggak usah ngaco!"


Ethrion menggeleng polos. "Nggak, Flower. Gue nggak ngaco."


"Lo ganggu gue karena masalah kemarin?!"


"Masalah yang mana? Hidup gue udah banyak masalah. Jangan dipaksa buat inget."


"Kamar mandi. Trendy's." Jasmine menatap sebal ke arah Ethrion. "Lo cium anak orang sembarangan!"


"Oh..., yang itu." Ethrion mengangguk paham "Kenapa emang? Lo mau gue cium lagi?"


"F your mouth, Rion. Not me but another girl! Remember?"


"Not another girl, Flower. It was you. Yang gue inget cuma sewaktu gue cium pipi lo aja. Dan itu bukan masalah." Ethrion tersenyum simpul. "Itu namanya anugerah."


"Anugerah? Anugerah your head!"


"Bukan anugerah kepala gue, Flower." Ethrion kian tersenyum jahil. "Tapi anugerah ... bibir gue."


"Rion, lo itu udah nggak waras!"


"Bercanda. Eh, tapi, anggap aja itu kompensasi buat gue karena udah memberi lo tontonan gratis waktu itu, Darling." Ethrion menyeringai. "Padahal kalo mau gabung, kan tinggal bilang."


Tinggal bilang katanya?!


"Such a little brat," umpat Jasmine. Sepertinya stok braincells lelaki di depannya ini kian menipis seiring dengan segala pikiran kotor yang bersarang di kepalanya. Jasmine memijat pelan kepalanya yang mulai terasa pening.


Menghadapi Ethrion dengan segala tingkah yang sulit ditebak memang membutuhkan tenaga ekstra. Benar-benar menguras emosi dalam dirinya.

__ADS_1


Ethrion tertawa dalam hati melihat raut marah Jasmine yang terlihat menggemaskan di matanya.


"Jadi gimana?"


"Gimana..., Gimana apanya?!"


Ethrion menatap gemas ke arah Jasmine. "Ya ... gimana. Do you want me to kiss your cheek again?"


Jasmine tersenyum remeh. "Lo gila? Disgusting! Gue nggak akan pernah mau, bahkan dalam mimpi lo sekalipun!"


"Bercanda, Flower. Jangan marah." Erhrion hanya terkekeh geli.


Oke kalau begitu, jurus rayuan level satu.


SRET!


Ethrion lagi-lagi mengunci tubuh Jasmine dalam kungkungan lengan kokohnya. Menyadarkan tubuh ramping gadis di depannya pada pintu bagasi belakang mobil.


"Sssshhh, Flower. Lo bikin gue makin gemes." Ethrion mendesis sembari menatap paras cantik Jasmine.


Jaamine berdecak frustrasi. "Minggir!"


"Nggak mau." Ethrion tersenyum jahil. Dia justru semakin merapatkan tubuhnya ke arah Jasmine. Dia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Jasmine, mengendus aroma memabukkan yang menguar memenuhi indra penciumannya. Aroma menyenangkan yang selalu membuatnya hampir kehilangan kendali tubuhnya.


"Kayaknya lo beneran kurang belaian, ya?!"


Ethrion mengeluarkan seringaiannya. Gadis ini benar-benar berbeda dari gadis yang biasanya dia temui. Benar-benar menarik. Dia mengamati wajah Jasmine lamat-lamat. Entah sejak kapan gadis ini begitu menarik perhatiannya.


Jemari Ethrion membelai halus pipi tirus Jasmine. Kini seringaiannya makin menjadi. "Sialan, kenapa lo se-cute ini?"


Ethrion tersenyum tipis ketika melihat pipi gadis dalam kungkungan tangannya semakin merona. Benar-benar cantik.


Jasmine mencoba menahan gejolak aneh di dadanya lalu dengan berani dia tersenyum miring sambil menatap lekat Ethrion yang masih menyeringai di depannya.


Tangannya mengelus rahang, lalu dada bidang Ethrion, mengusap semakin kebawah hingga terhenti di perut dan membuat Ethrion menggeram tertahan.


Jasmine bisa merasakan otot perut Ethrion yang terbentuk dengan sempurna membentuk roti sobek kesukaan para wanita. Oh, demi apa pun, Jasmine. Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan hal tidak penting tersebut!


"Stay away from me or I'll kick yours!" Jasmine mengancam penuh penekanan.


Sudut bibir Ethrion terangkat ke atas. Gadis ini selalu berhasil membuat dirinya merasa gemas dengan tingkahnya.


"Oke, tapi ada syaratnya."


"Syarat apa lagi?!"


"Mulai sekarang lo jadi milik gue." Lagi-lagi Ethrion mengeluarkan senyum manis andalannya.


"Otak lo kayaknya makin malem makin geser, ya?"


Ethrion menggeleng lucu. "Nggak, Flower."


Jasmine menyugar rambutnya ke belakang. "Gini. Gue janji nggak akan ngebocorin rumor apa pun tentang kemaren! Jadi berhenti ganggu gue."


Perkataan Jasmine membuat Ethrion terkekeh geli. "Sayangnya gue udah nggak peduli lagi tentang hal itu, Flower."


"Ya udah! Kalo gitu berhenti ganggu gue dan jangan pernah panggil gue dengan sebutan menjijikkan kayak gitu lagi!"


Ethrion berdecak pelan. Gadis ini benar-benar tidak termakan rayuan level terendahnya. Berbeda dari banyaknya gadis yang sudah pernah Ethrion temui. Jika mereka akan langsung termakan rayuan sampahnya dalam sekali lontaran, maka gadis cantik di depannya ini tidak.


Rayuan level satu miliknya benar-benar gagal!


Ethrion menyisipkan helaian rambut Jasmine ke belakang telinga gadis tersebut. "Kayaknya, gue nemu sesuatu buat Mama gue."


Alis Jasmine menukik tajam. Tangannya menampis jemari Ethrion yang tengah memainkan surainya. "Maksud lo?"


Netra gelap Ethrion menatap tepat pada netra Jasmine. Dia mendekatkan bibirnya ke arah kepala Jasmine kemudian mengecup pelan kening gadis cantik tersebut. Membuat Jasmine lagi-lagi hanya bisa mematung kaku di tempatnya berdiri tanpa diberi kesempatan untuk mengelak.


"Gue nemu elo, definisi tipe calon mantu idaman mama gue. Hehe."


Jurus rayuan level dua.


Jasmine menipiskan bibir, menahan agar amarahnya tidak menguar.


Pervert!

__ADS_1


Such a trash talker!


__ADS_2