Owned By The Devil

Owned By The Devil
[OBTD] BAB 6 : HARI YANG BURUK


__ADS_3

Ethrion menaruh ponsel dan kunci motor Jasmine ke dalam tempat di mana gadis itu kemungkinan tidak berani menggeledah sembarangan, yaitu di dalam tas milliknya.


Cowok bernomor punggung 12 itu juga mengambil sekantung plastik penuh makanan ringan dan minuman kaleng dari dalam tasnya lalu menaruhnya dipangkuan Jasmine.


"Itu jatah anak-anak. Makan aja kalo lo laper. Gue ke bawah dulu." Bahkan tangan kekar cowok tampan itu sempat mengacak pelan rambut Jasmine hingga membuat gadis itu mematung walau hanya beberapa detik.


Jasmine kehabisan kata-kata.


Dia menatap Ethrion yang menuruni tangga yang berada di samping tribune untuk menuju ke lapangan Basket yang berada di bawah. Dia menaruh seplastik makanan ringan dan minuman kaleng itu ke sisi paha kirinya tanpa ada minat mengkonsumsi.


Matanya beralih melirik ke arah sekumpulan gadis yang duduk di tribune sambil menonton tim Basket sedang berlatih. Sesekali mereka berteriak nyaring saat salah satu dari anggota Oberon berhasil memasukkan bola ke dalam ring.


"Woo! Rion! SEMANGAT!"


"Abrisam! Cakra! Kares! Gasten! SEMANGAT!"


"Semangat keluarin keringetnya! Nanti biar Dedek yang elap, Kak!"


"Hebat pacarnya aku! Three point lagi!"


"OBERON ... GO! GO! GO! Woo!"


'Dasar polusi suara.' Jasmine membatin sembari memutar bola matanya.


Jasmine heran kenapa mereka mau-maunya mengeluarkan suara sebising itu hanya untuk menyemangati tim Basket yang diketuai oleh si Cowok Mesum itu?


Apakah gadis-gadis itu tidak menyadari jika teriakan cempreng mereka termasuk polusi suara? Bahkan telinga Jasmine sampai terasa pengang mendengar seruan penuh semangat segerombolan gadis itu.


"Hai, Jasmine!" Tiba-tiba seorang gadis asing menghampiri Jasmine. Gadis asing itu memakai hairpin berwarna silver yang kian mempermanis tampilan gadis asing bersurai hitam lurus dengan ujung sedikit keriting tersebut.


Gadis asing itu ikut duduk di sisi sebelah kiri yang kosong. Gadis tersebut menatap Jasmine dengan sorot penuh ketertarikan entah dalam hal apa.


Namun, dalam sekali lihat, Jasmine bisa menyimpulkan bahwa gadis tersebut termasuk salah-satu murid populer di sekolah ini. Dari tubuh gadis cantik itu, dia bisa mencium aroma salah satu parfum merk ternama yang sangat dikenalinya.


Perpaduan antara fruity floral dan white musk.


Sekilas, Jasmine menutup lubang hidung bangirnya dengan punggung jari telunjuknya. Baiklah, dia mengakui selera parfum milik gadis asing itu, tapi, that's too much! [itu kebanyakan!]


Gadis asing itu menyemprotkan terlalu banyak parfum di setiap jengkal tubuhnya. Berdoa saja semoga kekasih gadis itu memiliki indera penciuman yang buruk.


Gadis tersebut mengulurkan tangan ke arah Jasmine, bermaksud untuk memperkenalkan diri. "Nama gue Elodie. Ketua klub Jurnalistik dari sebelas IPS 2."


Tentu saja Jasmine menyambut uluran tangan tersebut walau dengan sedikit senyuman kikuk. "Jasmine."


"Gue tau, kok. Anak baru, pindahan dari Gellius." Elodie tersenyum manis memperlihatkan gigi gingsulnya. "Nama lo lagi jadi trending topik di sekolah."


Jasmine hanya menanggapi dengan senyum tipis.


"Lo suka nonton pertandingan Basket, ya?"


"Lumayan." Jasmine bersumpah bahwa pandangan gadis yang terlihat modis itu terus menatap ke arah pahanya yang tertutup oleh jaket denim milik Ethrion.


"Sama, gue juga." Elodie tersenyum antusias. "Oh, iya. Lo udah ikut ekskul belum?"


Jasmine menggeleng. "Belum. Buat sekarang, gue lagi nggak minat ikut ekskul apa pun."


"Tapi, kemarin gue lihat lo jadi pemimpin upacaranya anak dua belas, kan? Gak mungkin wali kelas mereka kasih izin gitu aja tanpa tau kemampuan lo? Kok bisa?"


Jasmine nyaris saja berdecak. Gadis di sampingnya ini terlalu banyak bertanya. "Soal itu, lo bisa tanya ke wali kelas mereka."


Elodie mengangguk-anggukan kepalanya.


"Omong-omong, kalo gue boleh tau, alasan lo pindah ke sini itu apa?" Elodie berbicara dengan hati-hati.


Jasmine menatap gadis di sampingnya dengan alis tertaut samar.


"M-maksud gue, sekolah lama lo, kan, ehm, sedikit lebih elite dari sekolah ini." Elodie buru-buru memperbaiki maksud pertanyaannya walau dengan sedikit ekspresi tidak ikhlas. Takut kalau dia tidak sengaja menyinggung perasaan Jasmine. "L-lo pasti paham, kan, maksud gue?"


"Paham, kok."

__ADS_1


"Jadi, apa alasannya?"


Pertanyaan itu membuat Jasmine sedikit tercekat. 'Kenapa mereka sebegitu pengen tau?'


Jasmine tidak bodoh untuk mengetahui gelagat gadis yang duduk di sampingnya ini. Tentu saja, karena gadis itu adalah anggota eskul Jurnalistik! Gadis itu pasti menginginkan sesuatu dari dirinya.


"Nggak ada alasan spesifik. Kalo gue pengen, kenapa nggak?"


Kalau begitu, sebagai timbal balik, Jasmine akan main aman di sini.


"Lo tau tentang rumor yang katanya SMA ini nggak akan pernah akur sama Gellius?"


"Tau."


"Udah gue duga. Lo nggak mungkin nggak tau. Kira-kira alasannya apa?"


"Selalu jadi saingan di dua bidang. Akademik-nonakademik. Gue rasa itu yang paling kentara jelas."


Elodie mengeluarkan mimik aneh. "Ternyata lo polos banget, ya?"


Jasmine mengeryit. "Maksudnya?"


"Ah, nggak, kok. Kalo gitu gue duluan, deh." Elodie kembali memasang senyum cerah. Gadis itu berdiri dari duduknya, saat gadis itu ingin beranjak pergi, dia menoleh lagi ke arah Jasmine. "Satu lagi, kalo lo mau daftar ekskul Jurnalistik, lo bisa cari gue. Bye, Jasmine!"


Jasmine menatap punggung Elodie yang kian menghilang dari pandangannya. Dia kembali memikirkan ucapan si ketua ekskul Jurnalistik tadi.


Dirinya terlalu polos?


Hanya seulas senyum samar yang tercetak di wajah Jasmine.


Tidak terasa hampir sejam Jasmine menunggu. Ketika dia mendongak, maniknya mendapati beberapa anggota Oberon yang melangkahkan kaki ke arahnya. Latihan hari ini sudah selesai. Sekarang hampir pukul empat sore.


Banyak yang harus didiskusikan, termasuk strategi dan persiapan untuk melawan SMA Gellius di sebuah turnamen yang diadakan kurang lebih dua bulan lagi.


"Eh, ada Jasmine." Abrisam menyapa terlebih dulu sebelum mengambil sekantung plastik penuh minuman tadi. Dia mengeluarkan semua minuman di kantung plastik dan menaruhnya di kursi tribune agar lebih mudah di ambil oleh anggota yang lain.


Jasmine tersenyum menanggapi.


"Nggak." Jasmine menyahut singkat.


"Udah, nggak usah pake malu gitu. Mau nonton tiap hari juga nggak masalah, yoi nggak?" Kejahilan Cakra makin menjadi-jadi.


Beberapa anggota Oberon menyahuti dan ikut melontarkan ledekan.


Sedangkan wajah segerombolan gadis tadi terlihat kian memerah, tanda tidak terima karena sekumpulan cowok tampan itu lebih memperhatikan Jasmine ketimbang mereka yang sedari tadi bersorak penuh semangat. Sedetik kemudian mereka memilih pergi meninggalkan GOR Basket demgan memendam kesal.


"Gue anter dia pulang dulu," kata Ethrion setelah menandaskan sekaleng minuman.


"Eh, bentar dulu, Bos! Mumpung dia ada di sini, kenapa nggak langsung di tanya aja?" celetuk Gasten.


"Bener banget!" kata anggota Oberon yang lain.


Jasmine mengernyitkan alis pertanda bingung.


Menyadari raut wajah Jasmine yang kebingungan, Gasten buru-buru mengatakan, "Jas, lo pasti tau Proteus, kan? Nama klub Basket mantan sekolah lo?"


Jasmine menatap Gasten dan anggota Oberon yang kini terlihat serius. Kenapa cowok itu tiba-tiba membahas Proteus?


Omong-omong soal Proteus, dia sudah lama tidak bertemu dengan Jauzan dan si Kembar Tidak Identik; Kaisar dan Shana, semenjak Ethrion memergoki mereka di Trendy's beberapa waktu lalu.


Jasmine mengangguk. "Kenapa emang?"


"Mereka baru aja ganti leader." Kini giliran Abrisam yang bertanya. "Kira-kira lo kenal nggak leader baru mereka?"


"Kenapa kalian mau tau?"


"Soalnya ini orang psiko banget, Jas!" seru Cakra yang diangguki anggota Oberon lain.


Dahi Jasmine mengkerut. Dia menatap Ethrion untuk meminta penjelasan mengenai perkataan Cakra. Cowok beralis tebal itu juga tengah menatap ke arahnya, tapi sedetik kemudian Ethrion mengalihkan pandangannya seakan malas menjelaskan maksud perkataan Cakra tadi.

__ADS_1


"Psiko gimana maksud lo?" Akhirnya Jasmine kembali memfokuskan pandangannya ke arah Cakra. Dalam hati dia menolak percaya dengan ucapan cowok berkulit sawo matang itu.


"Beberapa bulan lalu, si leader brengsek itu ngelempar kotak ancaman ke markas Oberon. Mau tau isinya apa?" Kares yang sedari tadi diam ikut bersuara.


Jasmine menganggukkan kepala. Jujur, dia merasa penasaran.


"Pecahan beling, satu kalajengking yang masih hidup sama surat tantangan yang ditulis pake sesuatu berwarna merah." Kares mencoba menjelaskan dengan tenang walau dia sedang menahan emosi ketika mengingat kejadian itu. "Dan lo mau tau apa yang bikin kita-kita ilang respek sama itu orang?"


Seisi ruangan tiba-tiba terasa hening.


Jasmine kian penasaran. "Apa?"


Kares justru terdiam dengan wajah yang sulit diartikan. Anggota lainnya juga sama. Ada gurat emosi yang tergambar di wajah mereka. Dan yang membuat Jasmine kian tidak mengerti, arah mata cowok yang notabene ketua OSIS itu justru tertuju ke arah Ethrion yang kini sudah mengeraskan rahang.


Kenapa?


Kares mengepalkan tangan. "Gara-gara si brengsek ituㅡ"


"Isa hampir sekarat."


Jasmine memaku di tempatnya ketika mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Ethrion.


Siapa Isa?


"Siapa leader baru mereka? Kasih tau gue ...," Ethrion mengunci tatapan Jasmine dengan mata Elangnya. "Jasmine."


"Tunggu dulu!" Jasmine sedikit merasa panik. Dia masih sanksi kalau yang mencelakai seseorang bernama Isa itu adalah orang yang sangat dikenalinya. Gadis itu menatap Ethrion dan anggota Oberon yang lain dengan mata memicing. "Emang kalian punya bukti kalo leader baru Proteus yang ngelakuin itu?"


Kares berucap penuh penekanan. "Dia emang nggak nulis nama. Tapi, di surat itu dia ngaku sebagai leader baru Proteus!"


Jasmine tercenung mendengar fakta itu. Dia tau siapa leader baru Proteus, bahkan dia juga akrab dengan mantan leader Proteus sebelumya; Aldio Pranatadiraja. Rasanya hanya tidak mungkin jika leader baru Proteus lah yang melakukan perbuatan membahayakan itu.


Terlalu nggak mungkin, batin Jasmine. Entah mengapa dirinya merasa gamang.


Tapi ... Kalajengking hidup?


Ya, Jasmine tau itu adalah lambang Proteus. Anggota Proteus bahkan memiliki jaket dengan lambang kalajengking hitam di bagian dada. Seolah-olah itu menandakan identitas dan eksistensi mereka.


"Kita sebenernya cuma mau memastikan aja. Kalo lo nggak mau bilang juga gak masalah," pungkas Abrisam dengan nada bicara yang lebih santai. "Kita udah tau nama leader baru mereka. Tinggal nunggu waktu buat eksekusi aja."


Eksekusi?


"Siapa?" Jasmine buru-buru menyela. "Siapa yang kalian maksud?"


Sebuah nama terlontar dari mulut Abrisam.


Wajah Jasmine kian pias. Belum sempat Jasmine bertanya lebih lanjut tapi dia sudah ditarik pelan oleh Ethrion hingga bangkit dari duduknya.


"Ayo pulang." Ethrion mengambil tas dan jaket miliknya. Dia juga sudah mengembalikan ponsel Jasmine. Dia melempar kunci motor milik Jasmine ke arah Abrisam dan langsung ditangkap oleh cowok berambut cepak itu. "Tolong anter motor dia ke bengkel mang Ade."


Abrisam mengangguk mantap. Di dekat sekolah ini memang terdapat sebuah bengkel, tempat di mana anggota Oberon biasa menyerviskan motor.


"Tunggu dulu, tapiㅡ"


"Bengkel di sana aman. Lo gak perlu khawatir." Ethrion kembali menggandeng Jasmine pergi meninggalkan GOR Basket SMA Duaja Wijaya.


Jasmine menggeleng berharap Ethrion akan mengerti. Bukan! Bukan tentang itu yang ingin dia katakan. Tapi mengenai topik sebelumnya.


Tentang siapa orang di balik gelarnya sebagai leader baru Proteus.


Jasmine ingin menjelaskan sesuatu pada anggota Oberon tapi Ethrion terus saja membawanya menjauh. Lelaki itu juga terlihat masih menahan emosi di dalam dadanya dan tidak bicara apa pun sepanjang perjalanan pulang.


Bahkan lelaki itu langsung pergi tanpa sepatah kata pun setelah mengantarkannya pulang sampai depan gerbang rumahnya.


Jasmine berdecak frustrasi. Rasanya dia ingin menyumpah sekeras mungkin.


Dia ingin sekali tidak ikut campur akan masalah antara Oberon dan Proteus tapi dia tidak bisa karena yang menjadi masalah adalah sebuah nama yang anggota Oberon anggap sebagai leader baru Proteus!


Jasmine menyugar surai hitamnya ke belakang.

__ADS_1


Anggota Oberon.


Mereka ... salah target!


__ADS_2