PACARKU TERNYATA SAHABAT KECILKU

PACARKU TERNYATA SAHABAT KECILKU
EPISODE 03


__ADS_3

"Alvaro sayaaaaang" ucap wanita itu.


"Apaan si lo" balas Varo.


"Ih udah ayo kita masuk" ucap wanita itu lagi.


(Itu bukannya kak Bianca yang paling populer di sekolah ini ya) batin Kiara.


"Lepasin nggak" ucap Varo sambil berusaha melepas tangan Bianca dari tangannya.


"Nggak mau, udah ayo" balas Bianca seraya menarik Alvaro untuk masuk.


Terpaksa Alvaro mengikuti Bianca karena dia juga malas berdebat dengan Bianca.


_di kelas Alvaro_


"Udah Lo masuk ke kelas Lo sana ini udah mau bel masuk" ucap Varo.


"Kamu ngusir aku sayang" tanya Bianca dengan memanyunkan bibirnya.


"Iya kenapa?, Udaaaah sana lagi pula lo ngapain si manggil gue sayang jijik gue" balas Varo.


"Yaudah deh aku balik dulu ya baaay" ucap Bianca dengan melambaikan tangannya.


_Sementara di kelas Kiara_


"Sa kak Bianca sama kak Varo tuh pacaran ya" ucap Kiara.


"Nggak tuh kak Bianca nya aja yang suka nempelin kak Varo padahal kak Varo nya nggak suka" balas Trisa.


"Oooh"


"Lagi pula lo ngapain nanyain mereka berdua, jangan jangan Lo suka ya sama kak Varo" ucap Trisa.


"Enggak kok, kamu ini aneh aneh aja" balas Kiara.


"Ya siapa tau"


"Enggak dah ah"


"Affah iyaaa"


"Iya Sa"


"Yaudah deh kasian anak orang di Ceng cengin"


"Yaudah balik ke tempat duduk kamu sana gurunya juga pasti bentar lagi dateng" ucap Kiara.


"Yaudah deh"


Semua murid mengikuti pelajaran sesuai mata pelajaran yang sudah di tentukan hingga akhirnya bel istirahat pun berbunyi.


KRIIIIIIING


Kiara dan Trisa keluar dari kelas menuju kantin, sebelum mereka keluar kelas ada seorang pria yang sudah menunggu Kiara di depan.

__ADS_1


"Ra ikut gue" ucap pria itu.


"Kemana" tanya Kiara.


"Udah deh nggak usah banyak tanya" balas pria itu.


Disisi lain Trisa yang melihat kedatangan Alvaro menghampiri Kiara syok bukan kepalang. Ya pria itu adalah Alvaro.


(Hah ini serius kak Varo nyamperin Kiara. ada apa ini dan kayaknya mereka akrab tuh) batin Trisa.


"I-iya kak" ucap Kiara.


Alvaro menarik tangan Kiara pergi ke taman belakang sekolah.


Setelah sampai di sana mereka duduk di kursi khusus untuk dua orang saja.


Tak ada pembicaraan antara mereka berdua hingga Kiara mulai bertanya kepada Alvaro.


"Kenapa kita harus ke taman belakang sekolah kak" tanya Kiara.


Sebelum menjawab pertanyaan Kiara, Alvaro menatapnya dengan tajam sampai yang melihat nya pasti bergedik ngeri.


"Gue nggak mau lo di omongin nggak nggak sama yang lain karena gue" jawab Varo.


"Oh gitu" ucap Kiara sambil mengangguk anggukkan kepala nya.


"Lo kan disini karena pinter ya, jadi elo harus ngerjain tugas tugas gue" perintah Varo. Varo bukan lah anak yang malas dia adalah anak pintar, tetapi dia hanya ingin mengetes kepintaran Kiara saja.


"Oke kalok begitu, ada yang lain yang bisa saya bantu kak" tanya Kiara.


"Nggak udah itu aja, tapi kalok gue butuh elo harus selalu ada ok" balas Varo.


Setelah mengobrol mereka masuk ke kelas masing masing hingga pulang sekolah pun tiba.


Kiara yang selalu menunggu bus angkutan langsung menuju ke halte setelah berpisah dengan Trisa.


"Aduuuh tumben tumbenan nih si Abang busnya lama" ucap Kiara.


Tiba tiba saja ada sebuah motor yang berhenti di depan Kiara. Pria itu membuka helmnya dan turun dari motor melangkah ke arah Kiara.


"Mau aku anter pulang nggak" ucap pria itu.


"Eh nggak usah kak trimakasih" balas Kiara.


"Udah ayo, lagian bus yang kamu tumpangi bermasalah" ucap pria itu lagi.


"iya kah kak Rey" tanya Kiara.


"Iya"


Ya pria itu adalah Rey sahabat dari Alvaro yang menyukai Kiara.


"Ayo cepat dari pada kamu nunggu disini udah sore tau" ucap Rey.


"Eh iya kak" balas Kiara.

__ADS_1


Akhirnya Kiara pulang bersama Rey. Mereka berdua tidak tau jika ada yang mengawasi mereka dari kejauhan.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup lama karena rumah Kiara jauh dari sekolah, mereka berdua pun sampai.


"Udah Sampek ni" ucap Rey.


"Eh iya kak trimakasih yaaa, yaudah aku masuk dulu kedalem kak Rey hati hati ya" ucap Kiara.


"Iyaa, eh tunggu dulu aku boleh minta nomer kamu nggak" tanya Rey.


"Emmm buat apa kak" Kiara balik bertanya.


"Ya buat chatingan aja" jawab Rey.


"Yaudah deh 08************"


"Thanks, yaudah aku pulang dulu ya bay"


"Iya"


Setelah kepergian Rey Kiara masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya nampak sepi, Kiara mencari neneknya kesana kemari tak kunjung ketemu. Hingga tersisa satu ruangan yaitu kamar neneknya Kiara membuka pintu dan alangkah terkejutnya dia melihat neneknya terbujur di lantai.


"Ya ampun nenek" ucap Kiara dengan panik.


"Nek bangun nek" ucap Kiara berusaha membangun kan neneknya yang tak kunjung bangun.


Akhirnya Kiara keluar rumah mencari taksi dengan air mata yang terus mengalir di matanya, belum menemukan taksi tiba tiba ada mobil yang datang menghampiri nya.


"Kak Varo" ucap Kiara dengan wajah terkejut dan saat itu juga dia menghapus air matanya.


"Kak tolongin nenek saya ya saya mohon" ucap Kiara.


"Bukan urusan gue" ucap Varo acuh tak acuh.


"Kak tega sekali Anda membiarkan orang yang kesusahan dan membutuhkan pertolongan" ucap Kiara dengan pelan.


"Ya udah, inget gue nolong nenek lo bukan lo" ucap Varo sambil menunjuk Kiara.


"Ya tidak papa toh yang butuh pertolongan nenek saya, oh ya tolong ang-" belum selesai Kiara berbicara, Alvaro sudah masuk ke dalam rumah Kiara dan menggotong nek Mirna masuk ke dalam mobil.


"Masuk cepet" printah Varo pada Kiara.


"I-iya kak"


Beberapa menit di perjalanan akhirnya mereka sampai. Nek Mirna langsung di bawa ke ruang UGD.


"Nek, nenek kenapa si nek" ucap Kiara di luar ruangan UGD sambil menyeka air matanya "semoga saja nenek tidak apa apa" lanjut nya.


Alvaro yang ada di sana acuh tak acuh kepada Kiara. Dia tidak peduli sama sekali kepada Kiara.


Setelah berdiam diri Alvaro melangkah ke arah Kiara "Ra" panggil Varo.


Bukan menjawab pertanyaan Alvaro, Kiara malah memeluk Alvaro sangat erat sambil menangis. Hingga tidak menyadari mereka berdua saling terlelap.


Tanpa ada yang mengetahui, seseorang telah meng foto mereka berdua.

__ADS_1


"Gue bakal ngehancurin elo Alvaro Alexander" ucap seorang pria berhoodie dengan senyum yang tak bisa di artikan.


_bersambung_


__ADS_2