Pandora Yupiter

Pandora Yupiter
Cabang Takdir


__ADS_3

Menara waktu, Tower jam raksasa, tiada yang tahu kapan ia dibangun maupun apa yang ada didalamnya, kabarnya tiada satupun yang pernah masuk kedalamnya. Namun sekarang sudah ada sedikit gambaran tentangnya setelah membongkar jam saku peninggalan kakakku, Cihaya Gordi.


Seaindainya aku tahu cara untuk membuka gerbang menara, mungkin disana aku bisa menemukan lubang hitam yang sama dengan yang ada pada jam saku ini, karena mereka mungkin mengarah pada tempat yang sama, dunia khusus yang menggerakan waktu atau lebih dari itu, sesuatu yang diluar nalar.


Alasan untuk melarang mendekati pandora adalah sebuah ketabuan yang turun menurun, malapetaka akan melanda begitulah katanya yang entah dari siapa muasalnya.segala hal buruk dan fenomena aneh selalu dikaitkan dengannya.


“Penurut ya?” mengingat kembali pesan dari sahabat karib ayahku, pemilik toko jam, Alberdo Grinza. Jujur saja aku tidak suka mengikuti perintah orang lain, terutama larangan untuk mengejar pandora. Seperti ayahku, aku juga gila akan misteri serta haus akan rasa penasaran dan hasrat untuk mengungkapnya, tentu saja merupakan tantangan yang malah memicu adrenalin.


Kenapa mereka hanya diam saja tanpa mau mencari tahunya?, tidakkah mereka penasaran, atau karena mereka tahu apa yang terjadi bila pandora ditemukan. Lagipula pandora jupiter, apa sebenarnya itu? Meski mencarinya, aku tidak tahu apapun tentang wujud maupun berbagai hal akan keberadaannya, tidak terbayang sedikitpun dalam imajinasiku. Aku yakin paman Al masih menyembunyikan sesuatu, namun aku tidak bisa memikirkan cara untuk membuka mulutnya.


“Ha- padahal ketika melihatnya mabuk, kufikir kesempatan yang bagus- lucky, tapi gila saja resistansi tubuhnya terhadap alkohol sangat kuat hingga mampu mempertahankan kesadaran. Yah, tentu saja kuharap abstinensinya juga tetap bekerja meski tak sadarkan diri”.


Kali ini aku menyerah padanya, orang kedua yang tahu akan peristiwa yang terjadi 11 tahun yang lalu adalah Diane Astard, pewaris tunggal perpustakaan di desa ini. Perempuan yang di percayakan ibu untuk merawatku di masa kecil, ia harapan terakhirku.


[.…]


“Ah, aku laper”. berada di depan rumah seseorang yang kutemui pagi tadi, bibi Margareth. Aku janji untuk mampir mencicipi kue bikinannya. “Bi, permisi”. berjalan cepat dengan wajah riang ia menyambutku dengan hangat memelukku. “Oh Yupi, ayo masuk”. kemudian mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya, langsung terlihat ruang tamu, terdapat sofa, kabinet dan meja dengan pot berisi bunga, terpajang juga beberapa lukisan, pula foto keluarga. Ia memiliki seorang putra tunggal berumur 5 tahun.


Tanpa basa-basi langsung kuikuti ia dari belakang menuju dapur. Aroma kuat coklat kental dari wadah mangkok dengan whish- alat pengaduk, sepertinya masih baru mempersiapkan adonan kuenya. Tampak saja beberapa bahan lainnya tersusun rapi, seperti gula, tepung, blueberry, susu dll terpisah dalam berbagai wadah. Aroma manis mengganyirkan air ludah, hampir menetes ilerku karenanya.


“Maaf ya, bibi baru mau bikin, bisa kamu tunggu”.


“Hehehe,..Ah,.. eh.. iya!”. aku yang gugup tentu saja bikin panik, langsung membersihkan tampilanku yang mungkin menjijikan.


“Oh!, aku juga ingin coba bikin bi! Boleh…?”. setelah kufikir ini kesempatan baik, ingin juga belajar mencoba membuatnya, ah aku jadi menyadari berbagai hal tentang diriku yang tidak memiliki nilai positif sebagai perempuan, sifatku agak tomboy, kamarku juga berantakan, dan juga gak bisa masak, gak berguna. Hah-- menghela nafas berat.

__ADS_1


“Tentu saja boleh”.


“Makasih bi”.


Aku mulai mengaduk adonanku tersendiri, setidaknya beberapa kue ingin kubuat dari awal dengan tanganku sendiri, tentu saja dengan arahan bibi, ia dengan tepat memberitahukan langkah-langkahnya kepadaku, bahkan memberikan beberapa tips yang membuatku berfikir “oh, jadi begitu, akan kucoba”. “Wah, iya bener”. terkagum apa yang ia sarankan selalu saja benar adanya, menambah wawasan baru seperti melihat dunia yang baru, sepertinya ini cukup menyenangkan melihat proses dari adonan yang kubuat, rasa original hanya campuran dari telur, susu, gula dan tepung terpisah dengan adonan dengan rasa coklat. Kemudian dituang kedalam cetakan berbentuk love misalnya, maupun lingkaran yang terpotong empat bagian, juga ada bentuk hewan lucu dan sebagainya. Tinggal memberikan kreasi tersendiri seperti potongan apel dan berry langsung kuletakkan juga hingga memanggangnya di oven. Selama itu aku mengobrol berbagai hal dengan bibi, bercanda gurau dan mendengarkan cerita-ceritanya.


Begitu misterius, meski tidak pernah kualami sebelumnya, rasanya seperti pernah terjadi- De Javu. Mungkin saja ada saat-saat seperti ini sebelum ibuku meninggal? Aku tetap tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Menghangatkan hati, bertambah momen yang membawakan kebahagiaan kecil dalam kesehariaan yang sederhana seperti ini. Setiap detiknya terasa berarti, memiliki makna yang dalam, tidak ingin kulupakan. Apa yang dikatakan oleh paman Al terngiang di dalam benakku, agak terlambat aku menyadari apa yang ia maksud. Apa yang aku lakukan bisa saja seperti yang ia katakan, membuang anugerah yang kumiliki sekarang, yang mana semua orang di desa begitu baiknya kepadaku, seperti keluarga besar meski tanpa terikat darah, kami bisa saja terus begitu.


Namun diriku terus menggali masa lalu yang mungkin saja akan menyakitiku, penyesalan yang tidak akan bisa diperbaiki, demi apa aku melakukannya? Rasa penasaran akan keberadaan Pandora Jupiter. Tapi itu cuma alasan saja, apa yang sebenarnya sedang kucari dan ingin kutemukan, aku tidak tahu tepatnya. Hanya berlari dan terus berlari berharap sesuatu itu akan muncul dengan sendirinya.


Tiba-tiba saja rasa sakit kepala yang kuat beresonansi dengan beberapa ingatan. Aku mendorong kepalaku mencoba meredakan sakitnya, tapi resonansinya semakin kuat, hingga aku merasa mendengar dan melihat sesuatu seperti halusinasi.


“Selamatkanlah dia. Yupi”.


“Aku bersumpah, akan menebus dosaku” Aku menyaksikan seseorang menarik lengan seorang anak kecil yang tampak mirip sepertiku, tepatnya kuyakin itu diriku di masa lalu, terseret karena lebih lambat berjalan menuju kedalam kegelapan, wanita itu menoleh kepada anak kecil itu.


“Gadis bungsu dari Eleyna, kupastikan kamu akan menyaksikan kematianku dengan kedua matamu sendiri, dengan tanganmu sendiri, kamu akan menyelamatkanku dari penderitaan yang kualami, hanya olehmu saja, aku bersumpah akan menebus dosaku”. Mendongak melihat sesuatu yang mengerikan, tangisan darah segar yang menutupi wajahnya menetes di setiap langkah dalam kegelapan malam yang disaksikan rembulan biru.


“Siapa.. kamu?”. “Menjauh”. “Lepaskan tangannya!!”. “Kenapa aku yang ada disana tidak memberontak, diriku ketika berumur 4 tahun”. “Ia mengatakan berbagai hal yang mengerikan, menjauhlah darinya!!”. Aku berteriak bagaikan orang bodoh yang merasa bisa memberitahu seseorang didalamnya untuk menjauh hanya karena menonton film yang diputar dalam kepalaku, tersendat-sendat ia mulai rusak. Ingatan tersebut terputus, entah apa yang terjadi setelahnya.


Seluruhnya menjadi gelap, muncul kehadiran seseorang yang persis sempurna dengan diriku berada tepat dihadapanku layaknya hologram hingga tubuhnya menjadi nyata.


“Pilihlah jalanmu”.


“A-apa maksudmu?”. aku bingung tidak mengerti sama sekali apa yang telah terjadi, apa aku benar-benar berhalusinasi?

__ADS_1


“Akhir dari jalur hidupmu akan ditentukan dari sini, takdir yang kamu gapai dari keputusanmu”.


“Takdir?”.


“Aku bersumpah…”. “Penderitaanku…”. “Dosa yang telah kulakukan”. “Akan kupastikan kamu akan menyaksikan kematianku”. “Selamatkanlah dia…”. “Aku akan terus bersamamu, selalu…”.  “Karena salahku, karena salahku..”.


Satu persatu kalimat dari berbagai orang menggema terngiang-ngiang dalam kepalaku. Aku tidak tahu, aku tidak mengingat apapun. Tiada yang kumengerti satupun, menghantuiku terus tanpa henti, Aku tidak ingin ini, ini terlalu menakutkan, mengerikan.


“Haaaa…..”


“HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!”. teriakan terperangkap di dalam ruangan.


“Yupi!, Yupi! Ada apa?! kamu kenapa?!”.


“Haaah.. haaah”. aku menangis menarik nafas berat berkali-kali,gemetaran melihat kearah bibi, dengan raut wajah yang seakan juga bisa merasakan kesakitan yang kualami, ia mengkhawatirkanku. Aku memeluknya.


Apa ini kutukan Pandora?! Apa peringatan karena aku mendekatinya?! bila memang begitu apa yang harus kulakukan. Bila aku menjauhinya apa semua itu tidak akan pernah terjadi lagi? Tidak, kenapa aku malah mengaitkannya dengan pandora sebagai kambing hitam. Ingatan itu, aku tahu adalah ingatan yang kutenggelamkan secara paksa agar terhapus selamanya. Kenangan di hari orang tuaku meninggal.


Jalan yang harus kuambil?


Pandora Jupiter, haruskah aku meninggalkannya? Menutup mata dan telinga berharap tidak tahu apapun, berharap untuk terus melupakan segalanya, untuk tidak pernah mengingatnya kembali yang pernah terjadi di masa lalu, dan kemudian menjalani hidup seperti gadis normal diantara kehangatan semua orang di desa ini, hidup bahagia hari demi hari.


“Menutupi kekosonganku dalam kebohongan,


… kebahagiaan yang kupaksakan”.

__ADS_1


__ADS_2