Pandora Yupiter

Pandora Yupiter
Kesehariaan Penuh Kesenangan


__ADS_3

Tanah ketabuan Jupi, di depan menara megah, debu kabut dibawa angin menghantam tubuh dari berbagai penjuru yang berubah-ubah arahnya beberapa kali. Mengenakan kacamata goggle untuk melindungi mata dari itu, samar kulihat apa yang ada dihadapan. Begitu sepi dan hening kecuali suara desikan angin yang kencang.


Tanpa memperdulikan sekitar, aku menggali tanah dengan tangan kosong, mengotori hingga terselip kedalam kuku. Beberapa bongkahan tanah di samping membentuk gunung kecil. Lubang yang tergali pendek hanya sejangka tingginya cukup untuk dimasukkan sebuah jam saku yang kukeluarkan dari kantong kemeja putih.


Disana sebentar aku melihatnya, satu-satunya peninggalan kakak kandungku. Ia yang telah meninggalkanku, kenapa aku harus membuang waktuku mencarinya?, bila bertemu dengannya sekalipun ia pasti akan mencampakkan diriku. Lagipula sudah bertahun-tahun lamanya, ikatan itu pastinya telah terputus sejak lama. Darah yang sama tidak cukup untuk menghubungkan kami berdua. Aku harus melupakannya, sebab aku sudah tidak membutuhkan ini untuk melanjutkan hidup. Aku memilikinya orang-orang yang menyayangiku dengan tulus, memenuhi hatiku dengan perasaan yang hangat.


“Maafkan aku Kak Cihaya, maafkan aku Ayah, maafkan aku Bunda. karena selama ini tidak pernah merelakan kepergian kalian. Maafkan aku”. tangisan membasah wajahku, dada yang sesak.


“Bagiku harusnya kalian sudah meninggal, kenangan yang menyakitkan, aku melupakan segalanya, dan akan terus seperti itu karena aku tidak sekuat itu. Aku ingin terlahir kembali sebagai Yupikha Siona yang baru”.


Aku meletakkan jam saku kedalam lubang, sedikit demi sedikit tanah menutupi wujudnya, jarum jam disana terus bergerak tidak perduli apa yang terjadi kepadanya. Terbentuk gundukan, agak berbeda dari tanah lainnya. Namun semua itu akan tersapu bersih tak berselang waktu.


Aku berdiri menghadap menara.


“Aku melepaskanmu, aku tidak ingin mencarimu lagi, sudah cukup. Tiada alasan bagiku untuk melakukannya”.


“Pandora Jupiter. Selamat tinggal”.


Tiba-tiba saja terjadi lagi penglihatan buram dan goyah tubuhku, pandangan seperti miring kekanan, disana sosok seorang perempuan muncul berbayang-bayang. Kepalaku sakit sekali rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh puluhan jarum yang tajam, namun kupaksa untuk terus tetap sadar.


Doppelgaenger diriku, ia menemuiku lagi dan berkata


“Begitu, itukah jalur takdir yang kamu ambil. Melarikan diri dari masa lalu, melupakan segala yang dianggap menyakitkan, menghindari ketakutan, hanya menerima kebahagiaan, pada akhirnya kamu sama saja, keberadaan yang tidak mau memahami, dikuasai ketakutan untuk mencoba mengerti, kehilangan keberanian karena cemas akan adanya sebuah perubahan. apatis menutup mata dan telinga tanpa ingin tahu yang sebenarnya”.


“A-aku melarikan diri, memangnya apa yang salah dari itu?!, omong kosong apa yang kamu katakan, kamu tidak tahu apapun dengan yang kurasakan selama ini”.


“Dengan begini apakah kamu benar-benar mencapai kebahagiaanmu?”.


“Itu… t-tentu saja aku bahagia!”. mengejutkanku seperti pertanyaan yang tepat sasaran, memalingkan pandangan darinya, kenapa? Aku mulai meragukan segala yang telah kualami dan rasakan selama ini. Tidak, sudah jelas aku bahagia dengan begini. Aku tidak perlu memikirkan hal yang menyakitkan, menakutkan. Hidup dalam kegelisahan dan kecemasan. Kesepian juga kesendirianku telah terobati tanpa kusadari. Semua itu bukan kebohongan, begitulah fikirku. Kenapa aku harus merasakan penderitaan dan kemalangan, apa salahku, aku juga ingin hidup bahagia tanpa rasa sakit.


“Biarkan aku begini, menjauhlah dariku!!”. aku berteriak kepadanya.


“Begitu ya”.


Perlahan ia menghilang, hembusan angin berkabut tebal menghalangi pandangan, memperhatikan sekelilingku sudah tiada siapapun disini.Apakah dia benar-benar tidak akan menemuiku lagi? Entah kenapa rasanya membuatku merasa sedikit sedih.


“Sungguh...Aku tidak paham dengan perasaanku sendiri”. mencengkram baju didadaku,tetesan air mata jatuh ketanah tempat jam saku yang telah kukubur.


Aku sendirian dalam padang yang luas dipenuhi reruntuhan. jam sudah menunjukkan pukul 10 menit ke-42 detik ke-31, tanggal 12 Desember 3032, usiaku yang ke 15 tahun terpampang jelas pada menara jam raksasa yang misterius.

__ADS_1


Seminggu berlalu sejak hari dimana aku membuat kue biskuit bersama dengan bibi Margareth, hari demi hari begitu damai dan menyenangkan. Aku memiliki kak Mika, kakak angkat yang selalu bersamaku sejak kecil. Diane, wanita yang kukagumi. Temanku Rio.Orang-orang desa yang selalu menerima keberadaanku. menghabiskan waktu dalam keseharian penuh kehangatan. Inilah yang membuatku bisa bahagia, kufikir begitu, karena itu aku berada disini mengubur jam saku milik kakakku dan memutuskan untuk berhenti mempertahankannya, melupakan segala ikatanku dengan mereka yang hanya membawa rasa sakit dan penderitaan.


Aku pulang mengendarai otoped yang kupinjam milik paman Alberdo. Melayang beberapa jarak dari tanah, tanpa roda menyisiri padang tanah bebatuan menuju desa. sekitar setengah jam perjalanan akhirnya tampak perumahan di desaku yang hening. Aku turun dan membawanya ketempat paman Al, tiada seorangpun disini.


Mengendap-endap aku meletakkan otopednya dan pergi dari toko jam ini tanpa ketahuan, karena kupinjam sebelumnya tanpa bilang-bilang dulu juga kepadanya.


“Mungkin ia pergi ke suatu tempat”. Aku berjalan keluar menuju pancuran yang warnannya terlihat agak aneh, yaitu merah gelap. Karena itu aku penasaran mendekat.


“Ini… tercampur darah”. sedikit terkejut, aku merasakan firasat buruk, kemudian menganalisis apa yang ada disekitarnya, benar saja sebuah tangan berlumuran darah tampak dari belakang pancuran, aku berjalan perlahan langkah demi langkah mengelilinginya agar bisa melihat jelas apa yang ada dibalik pancuran tersebut.


Menutup mulut, kakiku gemetar, seorang pria tua tersandar pada pancuran, membasahi bagian bawah tubuhnya yang terendam. Mata putih yang tertutup setengah dan juga mulut terbuka, berlumur darah dari lubang di dahi mengalir kebawah. Kakek pemilik toko manisan yang sering memberikanku permen. seminggu yang lalu bahkan ia menyemangatiku yang murung. Sekarang tergeletak tak bernyawa membuatku terduduk sebab kaki yang lemas dan raut wajah tidak percaya akan apa yang kulihat ini. Apa yang terjadi disini? Kufikir hanya satu setengah jam aku berada di menara, dan semuanya tidak ada yang aneh.


“Haa.. haa…”. menghela nafas berat, suaraku yang ingin berteriak tidak mampu keluar, begitu mengagetkan psikologisku dibuatnya. Ia dibunuh menggunakan senjata pistol tepat menembus otaknya. Selongsong peluru penyok tertancap pancuran dari semen dibalik tubuhnya. Kepalaku seketika pusing hampir kehilangan kesadaran, namun kucoba untuk menahannya.


Aku berdiri, berjalan sempoyongan menuju rumah dibelakangku, toko roti milik paman Sam. Aku harus memberitahunya apa yang telah terjadi pada kakek Yoda. Pintu yang setengah terbuka, ruangan gelap dengan roti di lemari kaca tersusun rapi, namun bau darah mendominasi ruangan.


Di ujung pojokan, paman Sammy dan istrinya Dahlia terduduk kaku berdampingan saling memeluk dalam ekspresi ketakutan. Sama seperti yang terjadi pada kakek Yoda. Hanya dengan satu peluru saja melubangi kepalanya hingga tidak lagi bernafas.


“Blurp…ukkh..”. aku menahan mulutku yang ingin muntah, menelannya kembali. Air mata keluar begitu saja bahkan sebelum rasa ingin menangis itu ada. Aku ingin keluar dari sini.


Berada di depan rumah Bibi Marga, aku terdiam di depan pintu. Aku tidak ingin melihat hal mengerikan ini lebih jauh lagi, tapi setidaknya aku ingin melihat seseorang selamat. Daripada menyelamatkan, dari lubuk hatiku terdalam, aku berharap diselamatkan oleh seseorang dari keadaan ini, diriku yang pengecut dan lemah tidak berdaya, aku tidak mampu melindungi siapapun.


Aku membuka pintu. Masuk kedalam rumahnya, begitu hening. Aku tidak suka dengan suasana seperti ini, membuatku muak dengan perasaan gelisah dan cemas dipenuhi ketakutan tiada hentinya. Tanganku gemetaran aku melihatnya ketika sampai didapur, tempat seperti biasa dimana bibi margareth membikin kue karena hobinya memasak. Kini menjadi tempat kematiannya tergeletak dalam posisi tiarap, belakang kepalanya berlubang dan darah membanjiri sekitar bawah kepala. Aku berbalik tanpa punya keberanian mendekat.


“Rumahku.. Kak Mika”. aku berlari terengah-engah menuju kesana. Mikayla Shirla, Kakak tiri perempuanku. Ibu mengadopsinya sebagai putri angkatnya. Ia yang tinggal bersama menemaniku dari kesendirian, memasak untukku, membersihkan kamarku, agak cerewet namun selalu baik kepadaku. Setidaknya kuharap ia baik-baik saja.


“Kumohon…”. berdoa dalam hati, berlari tanpa henti, terjatuh kupaksa untuk bangun lagi meski terluka lututku karenanya. Aku sudah tidak bisa memperdulikan rasa sakit secara fisik. Tekanan psikologis yang kualami saat ini pastinya akan hancur bila harapanku tidak sesuai dengan apa yang ada dalam kenyataan.


“Kak Mika”. ialah yang sekarang menempati kamar kakak kandungku, Cihaya. Karena itu disanalah aku mencarinya pertama kali, perlahan pintu terbuka, namun kosong tiada siapapun, kamar yang rapi dan bersih. Kemudian berbalik memeriksa setiap ruangan dengan pelan. Kamarku, bahkan kamar kedua orang tuaku yang terkuncipun kubuka hanya sekedar memastikan, sudah lama tidak pernah kumasuki masih sama tanpa perubahan sejak mereka meninggal.


Setelah seluruh tempat tidak ada yang terjadi, memberikan perasaan yang agak lega, namun dirundu kecemasan karena tidak melihat sosoknya. Setidaknya kuharap aku tidak menemukannya sebagai mayat yang mengalami hal yang sama dengan orang-orang desa.


“Apa kak Mika kembali ke panti asuhan lagi?”. aku bertanya-tanya didalam fikiranku dimana keberadaannya.


Ibuku memiliki panti asuhan dimana banyak anak-anak yatim piatu yang berada disana, Tempatnya bukan berada disini, namun di desa lain. Makanya terkadang kak Mika menginap disana untuk membantu merawat mereka seperti seminggu yang lalu, hari dimana aku menemukan petunjuk pertama tentang menara waktu ketika membongkar jam saku. Saat itu ia masih berada disana dan baru pulang dikeesokan harinya.


“Nggak mungkin Kak Mika kembali ke panti tanpa memberitahuku. Tapi ku tidak ingin ia disini dan mati mengenaskan seperti orang-orang di desa. Semoga saja Kak Mika baik-baik saja”.


Terakhir aku menuju ke tempat perpustakaan yang arahnya lebih dekat jaraknya dari rumahku daripada didesa. Aku mengkhawatirkan Diane. ia juga sosok yang berharga bagiku.

__ADS_1


Sesampainya, dari pintu perpustakaan, terlihat seseorang berjubah keluar dari sana. Seluruh tubuhnya tertutupi oleh jubah hitam polos sampai wajah yang terlindungi kerudung. Ia menunduk ketika menyadari keberadaanku, menyampingkan sedikit tubuhnya.


Dari pergerakan tangan kanannya mengenakan sarung tangan berwarna hitam dibalik jubah menyembul mengeluarkan sebuah senjata. Namun sebelum itu aku telah menodongkan pistol lebih dulu kearahnya. Tidak kusangka Revolver milik paman Al yang berada dalam tas pinggangku sejak seminggu yang lalu akan kugunakan untuk mengancam seorang pembunuh. Kalau tidak salah peluru didalamnya cuma ada satu.


“Kamu…. yang telah membunuh semua orang di desa, kan?!”. dia hanya diam.


“Seorang perempuan berambut panjang didalam perpustakaan ini. Apa kamu membunuhnya juga?!”. ia tetap saja tidak menjawabku.


“JAWAB AKU!!”. habis kesabaranku, aku berteriak padanya.


“.…”. Sikapnya yang tenang membuatku merasa kesal. Apa dia tidak mengerti dengan keadaannya saat ini. Aku disini penuh kemurkaan, menahan diri, tanganku gelisah ingin menembaknya. Apa dia fikir seorang gadis kecil yang ia lihat ini tidak punya keberanian untuk menarik pelatuk. Setelah segala yang ia renggut dariku, aku sudah tidak memiliki apapun lagi yang tersisa. Dalam hatiku hanya tinggal berisi kebencian, keinginan untuk membalaskan dendam.


Namun situasi yang tidak terduga terjadi, dia melempar jauh pistol miliknya membuat mataku reflek mengikuti lemparannya, persis dengan milikku. Berjenis revolver yang sama persis. Seketika aku kembali memandang tajam dirinya. Setelah kufikir ia akan berlari kearahku dan menjatuhkanku dengan seni beladiri, namun tidak terjadi yang seperti itu.


Lalu kenapa dia langsung membuang pistolnya sendiri meski aku belum memerintahkan itu. Apa ia memiliki senjata yang lain?, kemudian ia mengangkat kedua tangannya, akhirnya begitu saja membuka kerudung, menunjukkan wajah aslinya tanpa sungkan.


“.… Bohong,… ini tidak mungkin… kenapa?..”. tidak percaya apa yang kulihat merupakan seseorang yang sangat kukenal, dia adalah pelaku dari semua ini?. Yang benar saja? aku begitu shock sampai pistol terjatuh terhempas ke tanah dari tanganku yang gemetaran. Ia tahu ini akan terjadi ketika memperlihatkan identitasnya, seharusnya aku tidak boleh melepas genggamanku. Aku langsung terduduk lemas mencoba mengambil kembali pistolku namun kenapa tidak bisa kulakukan, terus saja terjatuh berkali-kali, menyaksikan kedua tanganku yang bergoyang-goyang tak tertahankan. membuat pandanganku ini kabur.


Aku beralih mendongak melihat kearahnya, ia hanya menatapku dengan tatapan tanpa ekspresi kepadaku yang tampak begitu menyedihkan. Tidak pernah menduganya, Dia akan melakukan hal seperti ini, apa motifnya, tujuan dibalik semua ini aku tidak bisa menebaknya. Dia benar-benar tidak mungkin melakukan ini fikirku, mungkin hanya kesalahpahaman saja.


Namun, dia melangkah dengan pelan kearahku. Aku melihatnya ketakutan tanpa bisa bergerak maupun berkata apa-apa. Ia mengambil pistol dihadapanku, memeriksa isi pelurunya kemudian menodongkannya hanya beberapa jarak saja dari dahiku.


“Maaf, Yupi”.


***BANG!!!**


Diiringi dengan permintaan maaf, suara dentuman ledakan menggelegar tanpa penyadap, laju selongsong peluru menembus tepat di tengah kepalaku. Tanpa ragu-ragu dia menarik pelatuknya begitu saja. Tubuhku terjatuh terhempas ditanah, momen itu yang kurasakan merupakan dunia yang melambat seolah waktu berjalan lebih lama dibandingkan orang lain. beberapa milidetik saja otakku mulai berhenti bekerja, melihat wajahnya beralih ke bayang-bayang langit. Kemudian kegelapan menyelimutiku. Tubuhku dingin sekali hingga akhirnya kehilangkan kepekaannya. Kematian akan menjemputku, aku akan mati, akhir dari hidupku, sampai penghujung ajal pun aku begitu lemah hati, tidak mampu menyelamatkan siapapun. Harga yang pantas untuk apa yang terjadi dalam hidupku selama ini, aku sudah cukup, begini pun tidak masalah bagiku, aku sudah lelah. Penghujung dari kesehariaan hidup bahagia yang kupilih.


Sebenarnya sudah lama aku menunggu hari ini, hari dimana hukuman yang setimpal diberikan untukku karena lebih memilih melupakan segalanya. Rasa dari kebenaran pahit yang tidak ingin kuketahui.


Dibohongi dan membohongi diri sendiri.


Dikhinati oleh Perasaan--


bentuk karunia paling jujur, pula rawan terkelabui.


“.…”.


”….”.

__ADS_1


“.…”.


Bad End - Happy Everyday Life


__ADS_2