Pandora Yupiter

Pandora Yupiter
Pencarian Eksistensi


__ADS_3

Tahukah kamu tentang bintang gagal? bintang yang tidak bisa berfusi tidak bisa disebut sebagai bintang. Mereka mungkin berbeda dari yang lain yang mampu bersinar dengan sendirinya, namun semua itu juga tidak sepenuhnya benar, sebab mereka pun masih memiliki cahaya meski tidak seterang yang lain.


Cahaya yang misterius bersinar redup dari dalam. Apa yang ada dibalik itu merupakan bentuk keajaiban, sebuah keinginan kuat yang tiada tandingannya dikarenakan kesadaran penuh akan betapa lemah dirinya sendiri, menimbulkan perasaan untuk mengharapkan sesuatu yang ia idam-idamkan, sesuatu yang tidak dipunyai, ketika tidak memiliki apapun, disitulah muncul kehendak hati untuk berusaha mendapatkannya. Harapan yang ingin ia perjuangkan sekuat tenaga demi menjadikan diri lebih kuat, mencapai puncak kebahagiaan. Mencari cara untuk bersinar dengan caranya sendiri, itulah tugas dari makhluk yang dikenal sebagai ras Jupi.


Di sebuah negeri, wilayah benua barat, Europa, terdapat desa kecil bernama Watcher Bell. Desa yang letaknya berdekatan dengan menara jam raksasa. Wilayah tabu yang dijauhi orang sebab salah satu aturan dari tanah Jupi untuk tidak pernah mendekati Pandora Jupiter sebab malapetaka akan melanda. Menara itu sendiri dipercaya memiliki hubungan erat dengannya, karena tiada yang tahu akan sejarahnya bermula. Tentu saja bukan berarti tempat itu tidak boleh dikunjungi, malah ia memiliki fungsi ajaib yang mampu menunjukkan waktu secara detail dan akurat bahkan sampai usia dari setiap insan. Setiap pukul 10 lonceng akan berbunyi dengan kencangnya dalam radius yang luas, meski hanya bergema diwaktu tertentu, tetap saja belakangan ini mulai dianggap cukup berisik mengganggu warga yang tinggal di desa. Sebab itu salah satu alasan desa ini sudah dianggap hampir mati karena penduduk yang pindah menuju ibukota maupun tempat lain di luar sana. Kehidupan disini menyisakan tidak sampai 34 orang yang memang ingin tinggal menetap karena alasan masing-masing.


Salah satunya adalah keluarga Gordi, menyisakan seorang anak gadis bernama Yupikha Siona. Adik perempuan dari Cihaya Gordi, kakak laki-lakinya. Kedua anak yang dikaruniakan kepada Edale Gordi dan Eleyna Siona. Alasan ia tinggal disana adalah karena Edale yang menggilai misteri dan teka-teki, ia pengembara yang sering mengililingi dunia, sekaligus pekerjaan utamanya sebagai seorang penulis buku.


Di Watcher Bell lah ia membangun rumah sebagai tempat tinggal keluarganya setelah kelahiran Yupi. Rumah kayu di dekat tebing, agak menjauh dari permukiman warga. Pemandangan menara jam dapat dilihat keseluruhan dengan jelas dari sana. Di dalam rumah itu memiliki aroma manis yang khas namun juga agak hangus seperti sesuatu yang terbakar tercium menyebar dilorong ruangan. Asap tipis diudara pagi melayang-layang membentuk aliran yang tiada putusnya menuntun kearah sumber asal ia berada melalui kamar tertutup yang pintunya sedikit terbuka, menempel disana sebuah papan nama yang letaknya agak miring kekanan bergambar langit malam dipenuhi dengan titik putih pada seluruh bagian namun tertindih ditengahnya oleh beberapa huruf alfabet yang fontnya timbul dan agak tidak rapi posisinya, bertuliskan “Yupi” dihiasi aksesoris bulan sabit biru diatas dan dua buah bintang yang sama besarnya berwarna kuning disebelah kanan. Sungguh dari luar tampak seperti penampilan pintu kamar anak kecil. Namun didalamnya menyala sebuah lampu pijar berbahan bakar gas menerangi sebagian ruangan dalam kegelapan. Pemandangan bagaikan foto zaman dulu, monokrom kusam dan kelam diwarnai oleh jingga yang penuh kehangatan.


Dibawah sana terdapat lantai keramik persegi empat terpasang sambung-menyambung membentuk persegi empat yang lebih besar bagaikan papan catur namun hanya berwarna putih. Tergeletak dimana-mana berbagai jenis pakaian untuk perempuan termasuk syal maupun kaos yang mayoritas darinya berwarna ungu muda atau putih meski juga ada warna lain yang berwarna gelap seperti rok merah marun dan semacamnya. Sungguh berantakan sekali untuk kamar seorang perempuan. Meskipun bersih namun tetap saja agak kumal berbagai kain jadi yang ada disana termasuk sprei putih pada kasur yang diatasnya tertidur pulas seorang gadis remaja mengenakan piyama polos putih keunguan palet pucat dengan renda di tiap tepi baju, ujung lengan juga kerah leher yang melingkar, celana selututnya pun serasi dengan atasan.


Jam weker tepat di hadapan kanan berada diatas lemari yang tingginya sedikit melebihi daripada kasur. Hanya sepersekian milidetik saja tanpa membiarkan ia berdering sebuah tangan langsung memukul kearah loncengnya dari atas.

__ADS_1


“Dri-…”.


Bukan sebuah kebetulan atau seolah-olah mampu memprediksi tepatnya ia akan berbunyi, hanya saja sudah menjadi sebuah kebiasaan unik yang menurun dari ayahnya agar bangun lebih awal dibanding alarm. Gadis itu selalu lebih dulu membangunkan dirinya lebih awal namun untuk kali ini agak terlambat.


“…”.


Kemudian duduk bersandar pada dinding berlapis wallpaper berwarna putih bermotif bintik-bintik serta garis-garis silang disebelah kiri kasur. Mata sayu setengah terbuka masih membuat kepalanya terangguk-angguk miring kesebelah kiri. Pemandangan buram sebuah pintu kayu dari dalam ruangan, tergantung juga beberapa kemeja putih.


Mengangkat tangan kanan, reflek menutupi mulut. “Fwuaaaah….-” namun langsung berpindah memegang kepala. “Adu-duh, kepalaku tiba-tiba sakit”. Menutup kedua mata sekuatnya karena pandangan yang goyah juga menahan rasa sakit yang hanya terjadi sebentar saja. Menundukkan kepala hingga wajahnya terbenam dalam empuknya kasur.


“... Pandora Jupiter”. Melamun menatap kearah langit-langit yang kosong. Dinding atap polos dengan motif di tepi.


“.….” Tanpa sadar memeluk sebuah buku sejak kemarin tertidur yang membuat buku tersebut terlipat-lipat kumal pada beberapa lembaran. Didepannya bertuliskan sebuah judul dan nama penulisnya.

__ADS_1


“.. Birth of Jupi… ditulis oleh Hoshi”. nama pena dari ayah, buku yang ditulisnya dulu.


“Uwaah! gawat sampai kumal begini”. panik menyadari buku yang kupeluk dalam keadaan yang tidak baik.


“Haa-ah~” Aku menghela nafas berat sembari merapikannya sebisa mungkin. Buku ini pinjaman dari perpustakaan milik keluarga Astard. "Nggak sengaja soalnya ketiduran", merupakan alasan klasik yang telah kukatakan berkali-kali. “Gak boleh sampai ketahuan Diane”. Diane orangnya teratur dan pasti menyadari hal-hal kecil sekalipun.


Pada kasurku masih tergeletak beberapa buku lain. 23 buku yang kupinjam semakin menumpuk. Lagipula semuanya tidak memiliki petunjuk akan hal yang ingin kucari. Meski kutahu pasti tidak akan mudah, tapi masa sih nggak ada satupun buku yang berkaitan dengan Pandora Jupiter.


Sementara sisanya masih tertumpuk rapih. Beberapa membuat permukaan kasur menjadi tidak rata penuh, 5 buku diantaranya tergeletak di berbagai tempat bahkan salah satunya tengah kududuki.


“Gila! a.. ha.. ha..” aku tertawa kering dengan ekspresi datar yang konyol.


“Bisa-bisanya aku tidur pulas dalam keadaan begini, badanku sakit, Uh!” Turun dari kasur meregangkan badan hingga terlentang kedua tangan di kedua sisi, beberapa sendi menimbulkan bunyi “Tak..”.

__ADS_1


“Hah, yaudahlah, Lagipula sudah terbiasa”. Keseharianku agak berubah ketika menyadari sesuatu yang janggal. Melihat kearah bingkai gambar bermotif bunga perak yang didalamnya terpotret hangatnya senyuman dari keempat orang yang saling terikat satu sama lain pada darah yang sama. Sebuah foto keluarga. mereka yang telah lenyap dari kehidupanku akan terus memudar.


__ADS_2