Pandora Yupiter

Pandora Yupiter
Kepingan Pertama


__ADS_3

Jam merupakan benda antik yang misterius, menunjukkan perhitungan waktu. Bunyinya menghipnotis hingga terpaku untuk mendengarkan serta memperhatikan pergerakan jarum penunjuk yang bergerak detak demi detak. Di depanku berdiri pada sebuah toko jam. Papan diatas bertuliskan “Clock Shop”. Tik tak tik tok, kebiasaanku, seringkali aku menirukan bunyi detak detik jam yang kudengar ketika melewati tempat ini sembari melaraskannya dengan langkah kaki. "Apa yang kulakukan, seperti anak kecil saja". Sedikit tertawa geli aku berhenti, kemudian menatap kearah bawah, tepatnya kakiku, sebuah langkah pertama setelah sekian lama, kuharap satu-satunya petunjuk peninggalan kakakku bisa membawakan informasi yang berguna. Membuka pintunya yang terbuat dari kaca sama seperti dinding depan, dari luarpun terlihat berbagai jenis jam didalamnya.


"Paman Al. aku masuk".


Sebuah lonceng diatas berbunyi tertabrak pintu sebagai pertanda ada orang yang masuk, beberapa toko kecil di desa ini semua memasangnya agar langsung bisa mengetahui datangnya pelanggan. Memperhatikan ruangan yang agak gelap karena kurangnya cahaya, diatas meja dilapisi kaca tebal diatasnya, terdapat asbak beserta sejumlah puntung rokok berdampingan dengan sebotol minuman keras berjenis bourbon.


Gelas kecil tanpa gagang hanya tersisa batu es disana dipegang oleh tangan besar dari seorang pria paruh baya berbadan kekar bahkan tiga kali lipat dari ukuran tubuhku memiliki tampang dan penampilan yang urak-urakan. Rambut gondrong sepanjang bahu, kumis serta jenggot yang tidak terawat. Mata merah menatap kosong seolah-olah jiwanya tidak ada disana, namun tak terduga ia menyadari kedatanganku. Bersandar pada sofa untuk tiga orang berwarna merah gelap ia memperhatikan gerak-gerikku.


“Kamu mabuk paman Al? tidak baik bagi tubuhmu”. namanya Alberdo Grinza.


“Berisik kau gadis kecil. Mau apa kau kesini!”. Suaranya juga berat seperti paman Sammy, malah terdengar agak serak sekarang ini. berteriak kesal dengan nasihatku menjatuhkan gelas ditangannya hingga pecah berkeping-keping dikakinya yang tidak ia perdulikan membuatku agak mundur ketakutan dan mengelabuinya membalas dengan sedikit candaan.


“Uwa, permintaanku seminggu yang lalu, jangan bilang paman lupa?”. melirik kearah meja, aku mengambil sebuah revolver yang tergeletak disana, senjata api di mana peluru dimasukkan ke tabung berputar dengan peluru berkaliber .44 yang bisa diisi sebanyak 6 peluru. Agak berat ditanganku, kuperkirakan dengan genggaman tangan


‘bahaya sekali paman al', menyimpan senjata seperti ini. lagipula apa yang begini diperlukan? tidak ada kejahatan di desa, pintu pun sebagian besar orang tidak menguncinya seperti tempat ini dimana aku bisa masuk dengan mudahnya, meski berbahaya namun juga sekaligus bukti kepercayaan orang-orang didesa ini yang begitu kuatnya, kufikir juga tidak perlu sampai membawa-bawa ini segala. agak naif sih bila tidak memperkirakan orang luar sebagai ancaman, aku tahu tidak ada salahnya juga.


“Ah, ini kusita dulu”. Revolver ini ketika kuperiksa, cuma satu peluru saja yang ada didalamnya. meski begitu, bukannya aku tidak percaya, tapi dia sedang mabuk jadi kusimpan dulu untuk menghilangkan resiko agar tidak terjadi hal yang diinginkan apalagi setelah melihatnya dalam keadaan yang tidak stabil begini.


Memasukkan senjatanya kedalam tas pinggangku kemudian menutup rapat resleting. Dengan ini aku bisa berdiskusi dengan tenang.


“Jadi paman Al, aku kesini untuk melihatnya”.


“Kotak itu”. Memahami apa yang kumaksud, ia menunjuk kearah belakangku, lemari jam berdiri tinggi, menunjukkan waktu pukul 6 lewat 20, didalamnya terdapat pendulum berayun-ayun. Diatasnya lah terletak sebuah kotak kayu dengan penutup yang hanya bagai pajangan diatasnya tanpa terpasang. Aku melihat keatas dengan ekspresi kesal.


“Tingginya!! kenapa harus diletakkan disitu sih”. tinggi badanku cuma 154cm, jinjitpun tanganku nggak bisa sampai, tanpa bisa nyentuh. Tiba-tiba saja bayangan gelap muncul akibat terhalang oleh tubuh seseorang dibelakangku mengambilkan kotak dengan mudahnya, kemudian mencoba meletakkannya kearahku yang masih belum siap mengangkatnya tanpa memperdulikan perkataanku. “Uwaa, t-tunggu dulu”. Aku spontan menadahkan kedua tangan. Permukaan kasar balok kayu terasa pada indera peraba, melihat kearah meja yang kosong, kuletakkan kotak ini ke kasana, kemudian membuka dengan cara menggeser penutupnya, mengintip apa yang ada didalamnya membuatku sedikit terkesima.


“Paman… ini…”.

__ADS_1


“Seperti yang kau lihat, itu black hole-- lubang hitam”.


Lubang hitam berbentuk bulat kecil jinak terdiam dalam jam saku yang tidak memiliki gir dan semacamnya. Jam ini milik kakakku yang kutemukan dikamarnya. Sebuah jam kuno yang bisa menunjukkan usia jupi merupakan satu-satunya yang kulihat selain menara jam, karena itu kuyakin benda ini berhubungan dengan menara. Permintaan untuk membongkar komponen, mencari tahu mekanisme didalamnya kupercayakan kepada paman alberd, namun lubang hitam, siapa yang menyangka ini menjadi penggeraknya. Tidak, bukan begitu, tapi apa yang ada didalamnya.


“Paman Al, menurutmu black hole ini terhubung ketempat lain”.


“Kemungkinan besar itu worm hole, mekanisme tersembunyi didalam sana, disuatu tempat terdapat ruangan utama penggerak menara jam juga”.


“Begitu ya. Mekanismenya diteleportasi ditempat lain”. bagaikan tenaga listrik yang dibangun untuk mengaliri seluruh kota, namun disini ia menggunakan lubang cacing memisahkan dua tempat yang berbeda.


“Sudah puas?!” ia menanyakan itu karena tiada yang bisa kugali dari sini.


“.…”. provokasi yang ditujukan kepadaku, membuatku terdiam. Ini satu-satunya petunjuk yang tersisa, bagaimana aku bisa memanfaatkannya. Lagi-lagi jalan buntu?. mengetahui mekanisme pergerakan jam sebenarnya tidak bisa terbayang dalam kepalaku mampu membantuku menemukan pandora. Namun semua kepingan merupakan bagian penting, bila tidak ada salah satunya, puzzle tidak akan pernah terselesaikan.


“Lubang hitam merupakan materi angkasa yang menelan segala hal disekitarnya termasuk cahaya sekalipun, tapi disini ia hanya bagaikan lingkaran kecil yang memiliki energi misterius”.


“Tidak, hanya saja aku membayangkan apa yang akan terjadi bila aku memberi makannya bagaikan hewan peliharaan, beberapa benda mati yang kumiliki mungkin akan menjadi makanan favoritnya, hingga tumbuh cukup besar dengan cepatnya agar dengan senang hati kubiarkan dirinya menelanku hidup-hidup”.


“Apa kau gila!, fikirkan resikonya. Alasan ia tidak menelan yang ada disekitarnya karena belenggu dari logam misterius yang menyelimuti jam saku ini”.


“Rencana untuk membuatnya sebagai portal tentu saja juga gagal total ya?”.


“Aku tidak tahu apa yang kau fikirkan, tapi jangan macam-macam dengan ini”.


“Kamu terlalu mencurigaiku paman Al”.


“Lubang hitam akan menelan apapun yang ada disekitarnya, tidak hanya dirimu, perlahan tapi pasti seluruh jupiter akan tertelan juga kedalamnya”.

__ADS_1


“Aku tahu itu!”. Apakah yang terjadi bila aku masuk dalam kesana sekalipun juga pastinya kufikirkan, apakah mungkin aku mati, atau terkirim ke dimensi lain, maupun mengalami perjalanan waktu jauh ke masa lampau. Ketidaktahuan adalah sesuatu yang benar-benar mengerikan namun juga memberikan rasa penasaran.


“Huft-- Aku menyerah!”. mengangkat kedua tangan, melepas nafas berat karena kecewa.


“Paman Al, bisakah kamu memasang jam saku ini seperti semula, setidaknya aku ingin menyimpannya sebagai kenang-kenangan dari kakakku”.


“...” ia terdiam melihatku, baru beberapa waktu kemudian menjawab permintaanku.


“Sebentar”.


Dari sini aku hanya duduk manis melihatnya memasang kembali jam saku yang terbongkar tanpa komponen didalamnya namun terus bergerak jarum disana tanpa pernah berhenti.


“Pusat dari seluruh jam di dunia ya…?”. aku bergumam membayangkan.


“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?”. ia bertanya tanpa pernah menoleh kearahku, terfokus pada pekerjaan didepannya.


“Yah, aku tidak bisa menggunakan lubang hitam pada jam saku karena terlalu kecil dan resiko yang besar juga tidak kuketahui, tapi….”. aku tersenyum...


“Satu langkah mendekat telah pasti”.


mendengar perkataan positifku paman Al bereaksi tiba-tiba berhenti kemudian menatapku dengan ekspresi yang menakutkan.


Seperti yang kukatakan sebelumnya, misteri merupakan puzzle yang saling terhubung, dan mengetahui mekanisme dari jam saku ini merupakan kemajuan besar.


“Bila seaindainya mekanisme dalam jam saku ini merupakan penggerak utama dalam jam misterius yang sudah ada pada jupiter sejak bertahun-tahun lamanya, bahkan sebelum peradaban terbentuk. Maka ada portal yang lebih besar disekitar sini yaitu menara jam. Bila aku menemukan cara untuk masuk kedalamnya, hasilnya akan berbeda dengan ini, karena lubang hitam disana pastinya berukuran lebih besar, meski kecil sekalipun, aku tetap bisa masuk dengan mudahnya karena belenggu menara raksasa setinggi 10 kaki akan menahannya bagaikan gajah kecil dalam kandang seukuran dewasa”.


“Harusnya kau menyerah saja!!”. memotong perkataanku ia benar-benar menatapku penuh kemurkaaan dengan tangan mengepal dengan kuat hingga tampak urat nadi bahkan juga pada wajahnya. Tekanan ini tentu saja membuatku merasa agak ketakutan, kupegang tangan kiriku yang gemetar sekuat mungkin, kuberusaha untuk tetap tenang. ‘sialan, karena memikirkan langkah selanjutnya, tanpa sadar aku terlalu banyak bicara ketika ia bertanya tadi’. orang ini tidak akan pernah membiarkan untuk mencari tahu pandora. Aku meminta bantuannya karena terpaksa, ia pun dengan senang hati membantuku membongkar jam ini pastinya karena yakin tidak akan ada yang bisa didapatkan dari sini, juga untuk membuktikan bahwa apa yang kulakukan sampai saat ini merupakan sesuatu yang sia-sia.

__ADS_1


‘Merepotkan sekali.’


__ADS_2