Pandora Yupiter

Pandora Yupiter
Kehidupan Waktu


__ADS_3

“Tik.. tak.. tik.. tok..”. “Tik.. tak.. tik.. tok..”. “Tik.. tak.. tik.. tok..”.


Tersadarkan dari kebingungan tentang diriku sendiri, suara mulut menirukan bunyi jam terdengar terus-menerus sedari tadi yang kuabaikan saja sebelumnya sebab banyak hal yang ingin kupahami dulu satu persatu pada awalnya, namun waktu tidak terasa telah lama terlewat. ia sekarang sudah berada sangat dekat padaku.


“Tik.. tak.. tik- ………………………………”.


[....]


Tiba-tiba saja berhenti terpotong, memberikan sensasi merinding yang ekstrem, bulu kuduk berdiri menegang pada setiap bagian tubuh. Seakan-akan waktu juga berhenti, tidak ada apapun yang bergerak selain diriku sendiri. Bahkan perempuan tadi mematung tanpa pergerakan sedikitpun. Mulutnya melebar tertutup terhalang gigi yang tersusun rapi tampak manis seperti sedang tersenyum atau lebih tepatnya bibir ketika melafalkan huruf vokal (i) dari kata ‘tik’ yang terakhir ia ucapkan. Berpose dalam keadaan tangan kanan dan kaki kirinya kedepan. Langkah yang terhenti setengah jalan.


[...]


1 detik. 2 detik. 3 detik. 4 detik. 5 detik. 6 detik… Entah kenapa spontan detik demi detik kudengungkan dalam kepala. Berselang waktu tidak ada perubahan membuatku semakin gelisah. kenapa tidak ada pergerakan sedikitpun.


99 detik.. 100 detik.. 101 detik.. Mau sampai kapan keadaan ini terus berlangsung. Hanya membayangkan bilamana cuma diriku yang ada di dunia ini saja membuatku ketakutan.


600 detik.. 601 detik.. sepuluh menit berlalu aku mulai kehilangan hitunganku.

__ADS_1


Aku hanya bisa duduk tanpa berani melakukan apapun terus memandang kebawah. cerminan wajahku dari permukaan air begitu pucat. ekspresi yang tampak merupakan ketakutan penuh kekhawatiran.


[.…]


“... Tok”. “Tik.. tak.. tik.. tok..”. ~ Terdengar apa yang kuharapkan membuatku lega seolah-olah dirundung rindu, akhirnya setelah sekiranya 11 menit lebih lama menunggu, dunia tergoncang beberapa waktu, entah apa yang terjadi. akhirnya pun mulut dia bersuara lagi melanjutkan yang sebelumnya. Langkah yang tadinya terhenti setengah akhirnya bergerak selangkah kemudian berhenti dalam keadaan berdiri tegap sudah sangat dekat pada posisi dimana aku terduduk dengan kedua kaki kebelakang. Namun yang mengejutkan adalah semua jam di sekelilingku juga tiba-tiba saja ikut berbunyi serentak teratur dengan volume yang begitu nyaringnya terpicu dalam satu perintah. “Ding dong..~”. “Tring-ring-ring..~”. “Rang-rang!…~” Membuatku spontan berpaling kesana-kesini menyaksikan fenomena aneh yang terus terjadi secara beruntun ini. Jarum menunjukkan angka sepuluh dalam aksara romawi. Jam weker yang tadinya bisu bergetar-getar dengan berbagai jenis alarm memercikan genangan air disekitarnya. Lonceng pada menara dan lemari jam berayun-ayun bagaikan pendulum. Burung dari jam dinding meledek keluar masuk. Jam pasir pun otomatis terputar balik tepat setelah semua pasirnya jatuh kebawah. Bunyi-bunyian yang dihasilkan saling terpadu dalam melodi menciptakan keselarasan harmoni yang luar biasa nyaman terdengar telinga hingga membuatku terpaku kagum namun dalam kegelisahan dari mimpi buruk yang mengerikan. Justru karena kesempurnaan itu yang membuatnya semakin tidak masuk diakal. Merinding gemetar ketakutan menutup mata dan juga telinga serapat mungkin menggunakan kedua tangan sekuat-kuatnya.


“Kumohon Berhentilah…”. aku meminta entah kepada siapa yang ada dihadapan. Tanpa memperdulikan apa yang kukatakan, masih terus menggema tanpa hentinya menghantuiku. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa dengan semua ini? Tolong hentikan! “Hei. Kumohon hentikan”. Kegilaan mentertawakan ketidakberdayaan, aku merasa akan bisa kehilangan kewarasanku kapan saja bila ini terus berlangsung. “Kumohon…” putus asa aku memelas.


“BERHENTI!!”. Tanpa kusadari berteriak mengeraskan suara. Sekali lagi dalam sekejap saja semuanya langsung hampa. Seluruh bunyinya berhenti bertepatan dengan akhir dari teriakanku.


Membuka mata dan telinga, terlihat pantulan seseorang selain diriku pada genangan air. mendongakkan kepala, dari bawah aku melihat sosok seorang gadis yang tampak seumuran denganku. Perempuan tadi yang berhenti tepat dihadapanku setelah berjalan dari kejauhan. Satu-satunya yang ada disini selain diriku sendiri sedikit membuatku khawatir namun juga memberikan ketenangan batin menghela nafas lega sebab ku juga pastinya tidak ingin berada disini sendirian.


“Apa maksudnya ini?”. kuulangi memperhatikannya dari bawah keatas berkali-kali. tidak kuperhatikan sebelumnya, bagaimana mungkin bisa semirip ini denganku, seperti saudari kembar identik yang terlahir sempurna. ‘Tidak mungkin ‘kan aku memiliki adik kembar?’.


“Aku bukan adik juga bukan seorang kakak bagimu, akan tetapi memiliki darah yang sama denganmu. Namun derajatku  bisa lebih rendah sekaligus juga lebih tinggi darimu. Aku mengetahui segala hal yang belum kamu ketahui. Aku masa depan. Bayanganmu.”


Seakan bisa membaca dengan tepat apa yang saat ini kufikirkan ia menjawab langsung apa yang kupertanyakan meski hanya terlintas di dalam kepala tanpa kuucapkan secara lisan.

__ADS_1


“Apa kamu tahu kah…


Sesuatu yang disebutkan dengan waktu?”.


Hanya bisa mengerutkan dahi, aku kebingungan dengan apa yang ia tanyakan. Waktu? Bukankah itu. Um.. itu.. rasanya aku tahu tapi aku tidak tahu cara menjelaskannya. Kalimat yang ingin kuucapkan tertahan di tenggorokkan. Fikiranku agak sedikit dikacaukan oleh pertanyaan itu. Apa sebenarnya itu waktu juga fikirku terus mempertanyakan hal yang sama dalam benakku. Sesuatu yang terus berdetak, perhitungan lama berlangsungnya hal yang terjadi, siklus yang terus berulang tanpa akhir. Tiada jawaban yang salah namun mengapa aku tidak mampu mengatakannya. tidak bisa kujawab apa tepatnya definisi dari waktu yang ia maksudkan.


“Seaindainya tidak ada kehidupan. Apakah waktu itu akan tetap terus berjalan?”. lanjutnya


“…..”. lagi pertanyaan filosofis yang susah tercerna kedalam otakku. Mana mungkin aku tahu pasti akan hal itu. Tapi aku bisa memikirkan hipotesa berdasarkan logika tanpa bukti. Menurutku tentu saja tetap akan berjalan, Bulan yang mengililing orbit misalnya. Asteroid yang melayang diangkasa. Matahari yang terus terbakar. Mereka pun juga bisa bergerak dan membutuhkan waktu tidak mencakup bentuk kehidupan saja. Sebab itu kali ini aku akan menjawabnya dengan sedikit keyakinan.


“Bukannya memang begitu, terus berjalan, iya.. kan?”.


“Kalau begitu bagaimana dengan waktu yang telah terlewat, bagaimana nasibnya. Tahukah kamu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dirimu 1 detik yang lalu. Dirimu 10 detik yang lalu. Dirimu 1 menit yang lalu. Dirimu 10 Menit yang lalu. Dirimu 1 Jam yang lalu. Dirimu 10 Jam yang lalu. Dirimu 10 Hari yang lalu. Dirimu 1 Bulan yang lalu. Dirimu 10 Bulan yang lalu. Dirimu 1 tahun yang lalu. Dirimu 10 tahun yang lalu. Dirimu di masa lalu”.


“A-apa maksudnya itu?! Bukankah itu bagian dariku, ada dalam diriku, dan buktinya aku disini”. meski aku mengatakan itu tapi nyatanya aku meneguk ludahku sendiri. Aku tidak yakin memiliki masa lalu. Tidak, tunggu, diriku ketika menyaksikan pemandangan maupun ketakutan ketika fenomena jam berdering itu sudah menjadi bagian dari masa laluku bukan.


“Oleh sebab itu waktu adalah perwujudan yang mati namun juga bentuk kehidupan fana. Ketika kamu meninggal waktumu telah berakhir. Tidak, tepatnya apa itu waktu dan segala perhitungannya sudah tidak diperlukan lagi, karena kita semua pasti akan melupakannya”.

__ADS_1


“Meninggal…”.


Apa diriku sudah mati?


__ADS_2