Pandora Yupiter

Pandora Yupiter
Nilai Perasaan


__ADS_3

Hitam merupakan warna netral yang terperangkap, gelap gulita terhalau kelopak, perlahan mata seorang gadis terbuka-- aku. Cahaya yang menyilaukan penglihatan menuntut adaptasi kepada lingkungan yang baru kuterima. Seketika itu juga memberikan efek pusing serta buram berbayang-bayang ganda, dimana kedua tangan ini terpaksa harus menutupi setengah paras, rupa wajah, mendesak-desak dahi menahan rasa sakit di dalam kepala. Momen itu aku rasakan bagaikan putri salju yang telah mengalami tidur yang sangat panjang, beribu-ribu tahun lamanya. Ataukah mungkin saja, untuk yang ke-pertama kalinya indera penglihatan bereaksi menyaksikan rancangan dunia.


“Dingin…” terucap sambil mengelus-elus lengan, memeluk tubuh sendiri, “Hangat…” pun juga dirasakan agak kontradiksi tapi benar adanya. Menyengat tajam aroma sang mentari, namun tidak tersaksikan keberadaan dia meski kucari-cari, kecuali rembulan purnama biru sebagai penggantinya, dari ataslah ia memandang angkuh tiada pergerakkan. Namun tidak hanya ada satu, ada puluhan jumlahnya berwarna kuning, coklat dan putih pula merah gelap, diantaranya ada yang paling besar bersinar terang benderang mengimitasi anggunnya kristal safir.


“Cantiknya…”. bibir terpisah sebab mulut yang sedikit membuka, terpikat akan pesona bulan-bulan purnama yang memaksa ingin terus memandang, berandai-andai layaknya kupu-kupu hinggap pada taman bunga yang tengah bermekaran, aku membayangkan bagaimana rasanya bila berpijak pada salah satu bulan nan jauh disana, pastinya memuaskan hasrat impi.


Tubuh yang dingin bagai es batu mulai menghangat seiring waktu sejak seluruh organ bekerja optimal. Kehangatan yang dirasakan menetes bagaikan embun pada dedaunan hijau membentuk gumpalan air kecil dimana-mana, tapi juga mengesankan gerimis rintikan hujan yang perlahan semakin menderas menghalau langit dibalik kemendungan awan abu-abu jingga dibalik bokeh kaca jendela yang berkabut. Kesan yang menyejukkan dan nyaman untuk melamunkan berbagai hal. Misalkan saja bermacam-macam kepingan kenangan di masa lampau yang hanya merekam jelas bagian yang mencolok atau cuman terkesan seumur hidup apabila sangatlah kuat perasaan yang terkandung di dalamnya. Momen-momen dimana kebahagiaan pernah terjadi, bisa juga kesedihan karena suatu peristiwa yang menggerogoti hati.


Tragisnya bagi diriku ini, malah cuman mampu melamunkan sebuah ketiadaan. Sama halnya seperti seorang pasien amnesia yang terbangun di ruangan serba putih higienis-- rumah sakit. Aku juga tidak memiliki ingatan tentang diriku sendiri meski tubuh sepenuhnya dalam keadaan sehat sempurna tanpa cacat maupun luka sedikitpun.


“Yang disebut dengan masa lalu itu, apakah aku juga memilikinya?."


Aku menatap kedua tangan yang kubuka dan kepal berulang-ulang kali sampai-sampai lelah hati. Begitu misterius dalam fikirku bila membayangkan bagian tubuh ini bisa digerakkan semaunya. Rasanya masih aneh bagaikan bayi yang barusan saja terlahir kedunia, pula, merasa telah hidup lama namun disaat yang sama pun, seperti ini baru permulaan dari garis awal kehidupan. Tiada yang diingat meski rasa-rasanya memiliki berbagai memori yang tersimpan di dalam otak, seperti halnya konsep reinkarnasi, bagaikan terlahir kembali secara misterius, tetap saja tidak menutup kemungkinan bila sejak awal memang tidak pernah ada yang terjadi sebelumnya. Sebab tiada cara untuk memastikan, maka, tiada cara lain selain menjalani segala yang telah ditetapkan.


Kekosongan- segalanya beranjak dari sana, sesuatu yang berdetak di dalam tubuh menimbulkan rasa penasaran, aku tempelkan telapak tangan di sekitar dada mencari tepatnya berada. ‘Interval kehidupan’. bilamana ia berhenti maka hidup ini akan berakhir, hancurpun akan membuat tubuh mati seluruhnya. Organ vital yang sering disebut dengan kristal jantung- batu indah yang bersinar redup dalam tubuh, bentuk keindahan penuh keajaiban dan misteri yang abadi meski kematian menjemput.


“Tik.. tak.. tik.. tok-…”

__ADS_1


Suara lembut seorang perempuan lain terdengar selaras dengan detak jantung yang sedang aku rasakan. Perempuan itu memimikkan detak-detik jam, tampaklah siluet hitam berwujud manusia. Wajahnya tidak dapat dikenali sebab jauh pada jarak pandang yang mana dari posisi kami berdua membuat masing-masing tubuh terlihat lebih kecil daripada normalnya. Berjalan maju terus kedepan, bayangan selangkah demi selangkah meregang kaki dan lengan berirama sejauh yang ia bisa langkahkan secara bergantian. Langkah kaki sesosok gadis remaja memantulkan suara dari berbagai arah, menyebar luas sampai kelangit namun kedengarannya cuma bagaikan berada dalam goa atau ruangan tertutup.


Dari frekuensi terbesar kemudian mengecil setelah menggema hingga tiga sampai keempat kalinya disambung dengan suara asli mulutnya lagi yang terus  ia dengungkan  menirukan bunyi-bunyian detak jam. Menghipnotis kesadaran terpaku diriku dibuatnya, menimbulkan rasa penasaran yang aneh, ingin terus mendengarkannya dengan seksama, tapi kusadar juga tidak akan ada artinya.


Mendongak keatas. Langit biru gelap hampir hitam dipenuhi milyaran bintang kecil terhubung satu sama lain dengan garis khayal membentuk berbagai simbol rasi. Aurora biru keungu-unguan bergonta-ganti warna tiada hentinya, berkilauan dengan megah, pemandangan yang luar biasa indahnya memikat indera penglihatan hingga berbinar terkagum-kagum dibuatnya.


Cerminan itu terproyeksikan melalui bayangan dari kedua bola mataku yang terlihat menyala-nyala seperti kembang api, menggelegar dalam kekosongan langit yang jauh tak terbatas. Apa saja yang sedang terfikirkan lenyap begitu saja berselang waktu sekian menit pada momen yang menakjubkan ini. Tertegun dengan mulut sedikit terbuka terucaplah pujian yang tulus.


“Uwaaah, luar biasa indahnya… gawat, ini keren banget!!”.


Berpaling inginnya kucari jalan pulang. di momen itu juga aku menghentikan tabiatku menyisakan kesepian, kesendirian sebab tidak memiliki siapapun, keluarga, teman, kekasih. Menyesakkan dada kepada rasa sakit nan dalam. Bukan berarti ada sosok yang hilang meninggalkan, pada awalnya saja sudah tidak ada yang terikat hubungannya pada diriku, maka seharusnya tidak ada yang perlu disedihkan. Tidak ada yang perlu untuk diperdulikan.


Bisa jadi aku lah yang meninggalkannya? Aku tidak mengingat apapun. Aku melupakan segalanya, mungkin saja membuat seseorang terpuruk dalam tangis karena kehilangan keberadaanku di sisinya, bila ada kemungkinan itu terjadi, aku akan mengutuk diriku sendiri, sebab kupahami benar seperti apa rasanya.


Campur aduk rasa dalam hati, apa yang kurasakan dalam tubuhku saat ini begitu berat. Sekali lagi perlahan menempelkan telapak tangan kedada sembari menutup mata, mengarahkanku ke tempat yang sama dengan jantung yaitu perasaan. Menyelam dalam relung kegelapan seperti pada kedalaman lautan tak terjamah.  Begitu dalamnya... sangat jauh… Ketakutan… Kegelisahan… Kesepian… Kesedihan… Kesenangan… Kebahagiaan… berbagai macam hal yang membuat tubuh ini merasakan apa itu kehidupan.


Tiada dasarnya, tak berujung, tanpa penjelasan pasti, begitulah sejatinya perasaan. Apakah aku menemukan apa yang tersembunyi di dalam sana. Aku pun tidak tahu, anehnya fikirku telah memahami sesuatu yang ingin kupahami. Namun nyatanya tak ada yang kumengerti meskipun kusadar perasaan ini milikku sendiri.

__ADS_1


“Hah..” Terhembus nafas ringan karena kenyataannya juga tidak kuketahui benar apa yang ingin kucari tadi. Apa yang ingin kutemukan? Mungkinkah kenangan lain yang sama nilainya dengan perasaanku yang terkagum pada pemandangan megah ini atau keberadaan seseorang yang kuharapkan pernah ada di dalam hatiku. kenapa dengan rasa yang begitu ganjilnya ini, hanya membuat gelisah saja.


Untuk saat ini hanya bisa menerima dan membiarkan waktu menjelaskan pada saatnya tiba. Lagipula yang harusnya kufikirkan sejak awal adalah tempat yang kulihat ini sangatlah asing. Terasa begitu kosong tanpa keberadaan orang lain. Dalam kesunyian absolut tanpa tumbuhan juga hewan. Tiada perumahan maupun gedung. Sejauh mata memandang sungguh  tidak ada apapun disini kecuali sejenis benda mati yang berfungsi untuk menunjukkan lamanya waktu. Tepatnya penunjuk waktu buatan berdasarkan jangka waktu yang dibutuhkan planet jupiter dalam berotasi, yaitu sekitar sepuluh jam sebagai satu hari.


Berbagai bentuk perwujudan jam mengililingi diriku sebagai pusatnya. satu buah menara jam raksasa pencakar langit menjulang tinggi bermotif detail dan memiliki lonceng besar yang entah mengapa condong ke kiri seperti ingin berayun namun tak bergerak. Ratusan weker terdiam membisu meski jarum alarm tertindih tepat dibawah jarum pendeknya dengan perbedaan hanya sepersekian detik.


Jam pasir dari kaca tertembus cahaya rembulan biru, didalamnya terlihat butiran pasir biru kehijauan berkilauan dengan indahnya, hampir semua sudah tertumpuk di bagian bawah terhubung dengan sedikit bagian yang masih tidak jatuh melayang di udara tersisa membeku dalam waktu.


Jam dinding berbagai bentuk dari yang terbuat bagai rumah kecil berbahan kayu sampai yang sederhana hanya berbentuk bulat atau persegi bergeletakan dimana-mana.


Lemari jam yang juga memiliki pendulum dibalik kacanya yang pecah separuh tenggelam dalam lantai bergenangan air. Baru tersadar aku juga duduk dengan kaki kebelakang membentuk huruf W, sedikit menenggelamkan bagian bawah tubuhku dalam genangan air yang tidak kuketahui darimana muasalnya juga tidak tampak ujungnya, tanpa merasakan apapun pada indera perabaku.


Mengenakan setelan piyama tidur berwarna muda palet ungu pucat serasi dengan celananya yang selutut memiliki renda memutar diujungnya. Pakaian yang kukenakan tidak basah sedikitpun. Seolah-olah apa yang kulihat hanyalah ilusi optik semata ataukah mungkin saja keberadaan diriku lah yang sebatas khayalan. Menunduk melamun sembari menatap wajah seorang perempuan remaja tampak jelas terpantul dari air jernih yang tenang namun sesekali menimbulkan gelombang kecil sebab pergerakan serta diafragma tubuhku. Menimbulkan pertanyaan dalam benak. ‘Ini aku?’ Rambut hitam keunguan gelap lurus terpotong pendek rata sepanjang bahu namun di kedua sisi menyisakan bagian yang panjang sampai ke dada.


“Kenapa aku tidak mengenali diriku sendiri?”.


"Apakah ini benar-benar diriku?.

__ADS_1


__ADS_2