
Jam saku yang selesai terpasang kembali seperti keadaannya semula sebelum terbongkar, tergeletak di meja. Ketika kuingin mengambilnya, disaat itu juga seorang pria bernama Alberdo Grinza tiba-tiba saja menarik tanganku hingga seluruh tubuhku juga ikut terbawa melayang, ia hempaskan tanpa belas kasihan, memojokkan diriku kedinding tanpa bisa berkutik.
“Urgh...” Aku menahan rasa sakit dibagian belakang punggungku juga cengkeraman tangan yang kuat sekali, mengangkat wajahku menatapnya dengan ekspresi kesakitan.
“Ha..ha.. Ada apa paman Al?, tidak kusangka kamu akan memperlakukan seorang gadis dengan kasar dan memojokannya seperti ini, ah, apa ini efek karena kamu mabuk,padahal sudah kubilang berkali-kali untuk tidak membuang hidupmu dengan minum-minum saja. Jangan bilang fikiranmu juga dikuasai nafsu untuk memperkosaku, aku lebih memilih mati daripada memberikan tubuhku, tapi tentu saja aku tidak ingin mati. Karena itu aku akan melakukan sesuatu yang tidak pernah paman bayangkan, namun hanya akan kulakukan bila memang sudah tidak ada jalan lagi. Sebenarnya aku bisa saja berteriak cukup nyaring, lagipula pada desa kecil, tempat ini masih berdekatan dengan toko dan perumahan lainnya. namun ini juga tidak akan kulakukan. Aku hanya ingin kita berdiskusi dengan kepala dingin. Urgh.. Oh iya, tanganku sakit sekali, bisakah kamu lepaskan. Juga wajahmu terlalu dekat, mulutmu bau alkohol paman, aku tidak tahan dengan ini, jangan salahkan aku, bila kuludahi wajahmu itu”. terus mengoceh untuk memprovokasinya ia tak bergeming sedikitpun menatapku dengan tajamnya tepat kearah mataku.
“Kuh…argh.”. malah semakin kuat ia menyakiti tangan kiriku, tidak bisakah ia sadar, besarnya 3 kali lipat, tanganku bisa remuk kalau begini. Ia semakin mendekatkan wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter, raut mukanya jelas begitu murka dengan mata melotot,dan urat nadi yang tampak dari kulitnya. ia mengatakan sebuah peringatan.
“Jangan pernah! Mendekati! Pandora!… Camkan Itu!”.
Seketika kakiku menapak lantai, akhirnya ia melepaskanku setelah itu, pergelangan tangan kiriku gemetaran tanpa henti-hentinya tidak bisa kukontrol, membekas merah dan kaku, mati rasa. Kesakitan memeganginya aku menatap ia yang membalikkan badan sambil memegangi kepalanya seperti sedang sakit kepala memikirkan berbagai hal.
Aku tahu ia bukan orang jahat, namun tidak ada yang tahu, segala hal memiliki kemungkinan tidak terduga, meragukan merupakan bentuk cara untuk menemukan kepercayaan, aku tidak sebodoh itu untuk tidak mempersiapkan resiko yang akan terjadi. Sebab itu sedari tadi ketika ia mencengkram tangan kiriku dan menabrakannya kedinding, aku berusaha terus menenangkan diri, membuatnya mengalihkan perhatian kepadaku dengan mengoceh berbagai hal. Di saat yang sama sebenarnya tangan kananku telah sejak lama merogoh berada didalam tas pinggang dengan keadaan memegang revolver miliknya yang telah kusimpan sejak awal, Tentu saja tidak ada niatan untuk membunuh. Meski tidak punya pengalaman dalam menggunakannya, setidaknya kuyakin bisa melukainya di daerah yang bukan vital dan melarikan dari sini bila terjadi kemungkinan terburuk.
Namun tentu saja, dari seluruh skema yang kubayangkan, aku memilih untuk percaya kepadanya. Kepada ia yang dianggap ayah sebagai sahabat karibnya.
“Paman Al. Apa kamu tahu kenapa aku terlahir kedunia ini?”.
“Terserah, aku tidak perduli itu”. ia berteriak, benar-benar tidak perduli dengan apapun.
__ADS_1
“Iya. Siapa yang perduli, seaindainya aku tidak ada sekalipun tidak akan mengubah apapun, namun tetap saja membuatku ketakutan sepanjang waktu, aku tidak memiliki siapapun. Karena ada sebuah dosa tidak termaafkan yang telah kulakukan sebagai anak gadis dari Edale dan Eleyna”.
“Apa yang kau maksud dengan dosa itu?”. ia duduk perlahan dalam keadaan tangan yang terus memegangi kepala, menghalangi wajahnya tertutup, mendongak menatap langit-langit. Rasanya aku lega, setidaknya ia mau mendengarkan apa yang akan kusampaikan.
“Aku melupakannya, segala hal tentang kedua orangtua yang pernah merawatku dimasa kecil, tentang saudara sekandungku juga, kak Cihaya. Semakin hari, detik demi detik berlalu, wajah mereka buram dalam kepalaku, kenyataannya tidak ada yang bisa kuingat dari mereka, perlahan dan pasti lenyap dari kehidupanku. Yang kumiliki hanya sisa foto keluarga yang terpotret dalam gambar, kamu tahu apa yang ada difikiranku ketika melihatnya. Apakah mereka benar-benar orang tuaku? Aku kehilangan ikatan dengan orang yang memiliki darah yang sama denganku, keluarga. saat ini hampa. Boneka kosong yang memerankan tokoh sebagai seorang gadis yang bernama Yupikha Siona, begitulah selama ini aku menjalani hidup”.
“…” diam tanpa mengatakan kata sepatahpun ia berpaling melihat kearahku, mulai menyimak dengan raut wajah serius.
“Aku ketakutan, gelisah, khawatir, bila ini terus berlangsung aku hanyalah boneka mainan yang menganggap diri sebagai makhluk berakal, mana diriku yang asli dan palsu. Ketidaktahuan selalu membuatku merasa tertekan, akan kehilangan jati diriku yang sebenarnya, terus merasa sendirian dalam kesepian tak berujung”.
“Aku ingin menjaganya ikatan yang kumiliki, aku ingin tahu segala yang terjadi dibalik kematian kedua orangtuaku, alasan kakakku pergi meninggalkanku sendirian disini, kenapa dia tidak membawaku, menjemputku bersamanya. Sekecil apapun itu, aku selalu ingin mencari sesuatu yang bisa kupercayai, kenangan bersama mereka yang memudar, bahwa dengan itu aku telah terhubung dengan mereka, memiliki ikatan”.
“Tapi kenapa aku tidak tahu apapun tentang mereka, meski orang lain menceritakannya padaku, semua yang mereka katakan itu hanya bagaikan dongeng, membuat isi kepalaku kosong tanpa bisa menyimak. Aku ingin melihatnya sendiri, aku ingin memahaminya sendiri dengan perasaanku sendiri, akulah yang menilainya karena aku bagian dari mereka, aku keluarga mereka. Sebab itu aku menjadikan ini satu-satunya alasanku untuk terus hidup,mengaitkan kematian mereka dengan pandora, agar ada yang bisa kulakukan untuk menanti hari esok, demi mencari ikatan itu dan memaksanya untuk terus terikat denganku, sebagai milikku”.
“…”. Keheningan setelah akhir dari semua unek-unek yang kuutarakan, membuat suasana terasa canggung dan kelam, ia hanya mendengarkan tanpa membantah ataupun memotong segala yang kukatakan.
“Bawa ini dan pulanglah!”. ia menunjuk jam saku di meja dihadapannya.
“Tanpa memikirkan hal yang tidak perlu, hiduplah untuk masa depan daripada terbelenggu dalam masa lalu, tidak memiliki ingatan tentang apa yang terjadi dulu tidak mengubah dirimu adalah seorang gadis bernama Yupi yang tinggal di desa ini, Putri dari Edale dan Eleyna, Adik Cihaya, terikat dengan Diane dan Mika. bagi orang desa sekalipun selalu merasakan apa itu bahagia karena kehadiranmu diantara mereka, menjadikan desa yang mati ini masih layak untuk tetap tinggal disini. Kau terlalu merendahkan dirimu sendiri, aku juga melihatnya tadi pagi suasana hangat karena kamu disana orang-orang desa berkumpul, aku memperhatikanmu”.
__ADS_1
“Itu… tidak mungkin”.
“Yah, aku tidak sudah perduli apa yang ingin kamu lakukan, hanya saja fikirkanlah resikonya. Kau hanya akan membuang anugerah yang terjadi saat ini, kamu akan meninggalkan semua orang di desa yang membutuhkan kehadiranmu, bukankah kamu paham sendiri seperti apa rasanya kehilangan”.
“…”. aku terdiam tanpa bisa membalas, tapi aku masih meragukannya bila semua orang menginginkan keberadaanku diantara mereka, karena aku hanya menjadi benalu sepanjang waktu, sebuah parasit yang selalu sendiri namun memaksa untuk tidak ingin sendirian. Bagaimana mungkin diriku mampu membawa kebahagiaan bagi orang lain dalam keadaanku yang kosong ini.
“Dengarkanlah, ini peringatan terakhirku. Yupi. Kembalilah kerumahmu, dan Jadilah anak gadis yang baik juga penurut, kuyakin itulah yang diharapkan Edale dan Eleyna”.
“Anak gadis yang baik ya”. aku agak tersenyum mendengarnya, tertawa kecil, hanya saja sedikit lucu entah kenapa “Menjadi baik tentu saja akan kuusahakan…”,
“Tapi, apabila menjadi penurut. Sepertinya aku nggak bisa janji, maafkan aku”. aku meninggalkan senyuman tawar sebelum keluar dari ruangan. Meskipun itu harapan kedua orang tuaku sekalipun, apakah aku benar-benar akan meninggalkan pandora dengan alasan itu.
Di sisi lain Alberdo juga tertawa hambar mengingat sahabat karibnya.
“Lihatlah, didikan apa yang kau tanamkan kepadanya, sekarang putrimu tumbuh menjadi gadis bermasalah yang tidak bisa diatur sama sekali dengan pemikiran-pemikiran gilanya”.
“Boneka tanpa tali penggerak, memiliki keinginan sendiri namun menganggap dirinya hampa justru karena tali yang mengikatnya terlepas, yang ia butuhkan ialah bertemu dengan seseorang yang mampu mengajarinya, menyadarkannya ia bukan sekedar marionette tanpa benang, ia adalah dirinya sendiri dengan perasaan dan akal yang akan menuntun dalam pencarian makna hidupnya”.
“Sama sebelum pertemuanmu dengan Eleyna …”.
__ADS_1
“Bukankah ia mirip sekali sepertimu...".
... Edale”