Pandora Yupiter

Pandora Yupiter
Alasan Kuat


__ADS_3

5 Desember 3032, pukul 01:12, Disebuah rumah kecil yang nyaman aku berbaring menenangkan diri. Doppel memiliki arti ganda, mulai sekarang aku menyebutnya begitu karena perawakannya persis denganku juga kufikir ia sedang menyampaikan pesan kepadaku. aku bertemu dengannya lagi setelah menyaksikan potongan-potongan ingatan yang kabur.


“Selamatkanlah dia…”. entah siapa yang mengucapkannya dan siapa yang dimaksud aku tidak bisa menebaknya, namun kuyakin itu memang pernah terjadi di masa lalu yang tidak bisa kuingat sama sekali. Menyelamatkan seseorang ya? Menyelamatkannya dari apa?


Sebelumnya Doppel memberitahuku tentang jalan yang kupilih disini akan menentukan masa depanku. Apa itu merupakan peringatan untuk menjauhi pandora?, sebenarnya aku merasakan kebimbangan dalam diriku dimana aku tidak bisa melangkah maju lebih dari ini. Aku ingin menyerah saja dan menikmati kehidupan bahagia yang dikaruniai kepadaku di saat ini. Sebagian dariku berfikir begitu. Namun hidup hanya dengan bergantung kepada orang lain, tanpa bisa melakukan apapun, setiap harinya hanya bernafas menjalani semua ini juga membuatku ketakutan. Oleh sebab itu aku mengejar pandora karena tidak mau begitu.


Aku membangunkan diri setelah merasa baikan, dari arah dapur bibi margareth membawakan sepiring kue yang sebelumnya kami masak bersama dan segelas teh hangat yang masih mengepul asap diatasnya.


“Ah, yupi, kamu sudah baikan?”.


“Iya, sudah”. aku tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa agar tidak membuatnya khawatir. Ia mendekat duduk disampingku dan membalas “Syukurlah, kalau gitu kuenya dimakan ya”.


“Ah bi, bisakah aku minta plastik kue, aku ingin membungkus agar bisa memberikan beberapa bikinanku kepada seseorang”.


“Tunggu sebentar, bibi ambil dulu”.


Mengambil kue berbentuk hati, aku memilih untuk mencicipi bikinanku sendiri.


“Uwaaa, manis banget!! dan disini ada bagian yang terasa pahit”. aku jadi kehilangan kepercayaan diri dan memunculkan keraguan untuk memberikannya ke orang lain. Tapi ini kue pertamaku, rasanya sebenarnya tidak terlalu buruk. Namun bila disandingkan jelas saja mana yang lebih baik meski tercampur dipiring sekalipun terlihat jelas yang mana bikinan bibi dan punyaku yang amatiran. Dari bentuknya saja milik bibi sangat rapi terbentuk sempurna.


Bibi kembali membawa plastik bening dan pita merah yang cantik.


“Makasih bi”. aku mulai memasukkan masing-masing 4 kue yang bentuknya berbeda-beda, dipisah menjadi dua plastik.


“Kepada siapa kamu berikan itu?”.


“Ah, ini. Kepada Diane dan Kak Mika, kayaknya Kak Mika besok bakal pulang”.


“Mika ke panti asuhan?”.


“Iya, sejak tiga hari yang lalu”.


Kak Mika merupakan kakak perempuanku yang besar di panti asuhan milik ibuku, kami tidak sedarah tapi ibu mengangkatnya sebagai anaknya agar aku tidak sendirian dirumah. Ia seorang sosok kakak yang sangat bisa diandalkan, mampu melakukan berbagai hal dengan baik berbanding terbalik denganku.


“Aku ingin melihat ekspresi Kak Mika ketika tahu aku juga bikin kue pertamaku, apa dia bakal kaget ya? Ehehe jadi nggak sabar”.


“Iya. Mika pasti kaget karena rasanya seenak ini lebih dari punya bibi”.


Bibi mencoba kue milikku yang tersisa dipiring.


“Enggak mungkin, punya bibi nggak ada tandingannya. Terbaik!!”. aku membalas pujiannya dengan memakan miliknya. Terkadang seseorang memuji karena merasa tidak enak hati, namun kebohongan seperti itu entah kenapa tidak terlalu membuatku marah, maksudku karena kita menyadari ia berniat baik agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Apa yang benar dan apa yang salah sulit sekali untuk dipisahkan karena sifatnya yang abstrak. Mungkin itu adalah hal yang benar atau mungkin salah adalah hal yang tepat untuk itu. Meski begitu masih ada cara untuk menghindari kebohongan kecil seperti itu, misalnya diam saja tanpa perlu mengatakan apapun daripada harus memaksakan diri untuk menyemangati orang lain dengan kebohongan, karena rasanya sedikit menyedihkan kurasakan, sebab jelas dusta itu sudah ketahuan sejak aku memakan kue ku sendiri. Yah sebenarnya relatif juga sih, kueku masih bisa makan, rasanya memang cukup enak karena aku masih mengikuti arahan dengan cukup tepat.

__ADS_1


“Ah, Aku mau keperpustakaan bi, memberikan kue ini kepada Diane”.


“Begitukah, sudah mau pergi”.


“Iya”.


“Hati-hati ya”.


Bibi Marga mengikutiku sampai ke pintu, Aku memasang sepatu boot milikku kemudian berdiri berbalik badan, tampak ia lalu melambaikan tangannya, dan kubalas lambaian itu ditambah senyuman. Menyenangkan, aku ingin selalu seperti ini tanpa ada yang berubah terfikir olehku.


“Haah- keraguan ini menghalangiku”. dari sini aku menatap menara jam. Seaindainya memang bila aku bisa seperti jarum jam, terus berjalan ke masa depan namun masa depan yang selalu sama setiap harinya, benar-benar membosankan namun tanpa rasa sakit, tanpa ketakutan, cemas dan kegelisahan pastinya akan membuat diri merasakan lega tanpa rasa bersalah. Bukankah itu tidak buruk juga, karena bila setiap harinya bisa menyenangkan. Tidakkah itu cara terbaik untuk mencapai kebahagiaan. Dibalik kesehariaan yang sederhana, tidak perlu serakah.


“Apa yang harus kulakukan? Bila bisa aku ingin terus menikmati kebahagiaan kecil ini, namun disaat yang sama aku ingin mengungkapkan keberadaan Pandora Jupiter”.


Tanah jupiter merupakan bebatuan padat yang ajaibnya memiliki kesuburan yang tinggi bahkan tempat yang sedang kulangkahi ini sekalipun bisa ditanami apa saja, itu karena siklus jupiter yang tergantung banyaknya populasi jupi yang berhasil memenuhi puncak keinginan mereka, selama itu pula sumur, pohon, segala yang ada di jupiter akan terus abadi. Termasuk ladang gandum yang kulewati ini, mereka pastinya dalam kualitas tertinggi dahulunya. Namun kenyataannya akhir-akhir ini keajaiban itu lambat laun mengalami penurunan dan naif bila hanya mengandalkan itu, semua orang masih butuh kerja keras.


Karena pada dasarnya kita semua akan memilih untuk terus berada di zona nyaman karena takut akan perubahan. Seperti halnya diriku, aku takut bukan karena diriku sendiri, namun setelah melihat semua orang di desa ini. Apa yang kulakukan pastinya sebuah kesalahan. Seaindainya saja bila sebuah malapetaka terjadi dan mereka semua juga harus menanggung akibat dari perbuatanku. Pastinya aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Aku hanya berharap semua itu dilimpahkan padaku sendiri. Aku ingin terus menjaganya kebahagiaan mereka.


“Jalan mana ya, yang harus kuambil dari sini?”.


“Lurus kan tentu saja, atau kamu lebih memilih berbalik kembali”.


“Rio dungu, asal sahut aja sih, padahal nggak tahu apa-apa”.


“Hah?! Aku tidak sudi dibilang dungu dari orang yang kebingungan milih jalan, padahal dia berdiri di jalan satu arah”.


“Tuh kan. dibilangin bukan karena itu!! dungu! dungu! dungu!”. karena ia bilang tidak sudi, malah kuucapkan lebih banyak untuk menebalkan maknanya. Namun sebenarnya salahku juga, tidak perlu mengucapkan kata umpatan yang bisa menyakiti hati, aku sadar diriku juga dungu. Tepatnya umpatan itu inginnya ditujukan untuk diriku sendiri.


“Tapi um… yah, kuakui literalnya sebenarnya sama aja, meski jalannya cuma satu arah, tiada yang tahu apa yang ada didepan, ketakutan untuk melangkah akan muncul karena kecemasan akan beberapa hal yang muncul satu-persatu, pada akhirnya ada saat seseorang akan menyerah dan memutuskan untuk berbalik arah”. aku menyampaikan sesuatu tanpa menjelaskan yang kualami.


“Kalau begitu tinggal fikirkan saja alasan kuat untuk terus berjalan ke depan, begitu saja mudah bukan, misalnya ada pohon yggdrasil yang memiliki keajaiban menumbuhkan berbagai buah-buahan disana yang rasanya tidak bisa ditandingi, batang pohon yang raksasa, dedaunan yang kemerlap indah. Bukankah alasan yang cukup bisa diterima sebagai impian untuk melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, meski harus menginjak negara asing yang belum pernah kamu tinggali sebelumnya, pertama mungkin bisa pergi bersama orang lain, tapi bila nekat sendiri pun juga tidak mengapa, asalkan saja juga harus mempersiapkan segala yang diperlukan seperti uang yang cukup, rencana awal, peta dan mental diri pastinya”.


“.…”. aku agak tertegun mendengar pendapat Rio. Apa yang kuresahkan rasanya agak terlalu berlebihan kufikirkan. Mendengar opini orang lain menyadarkanku akan hal itu. Layaknya berada dalam kegelapan tanpa cahaya sedikitpun, tidak bisa melihat dan kehilangan arah. Namun semua terlihat jelas ketika ada seseorang yang membukakan pintu dari luar. Mencari sendiri dalam kegelapan memang bisa dilakukan namun tidak ada salahnya juga mendapatkan bantuan dari yang lain, bukti memiliki orang lain untuk mencapai sesuatu akan membuat diri ini merasa lebih kuat.


“Maaf rio, sudah menyebutmu dungu …”.


“Oho. Benarkan? Sebenarnya aku orang paling jenius di desa ini, hanya saja kusembunyikan karena alasan yang top secret sebagai propaganda terselubung”.


“Apa-apaan dengan setting yang klise gitu, kalau rahasia kenapa di banggain coba”. aku tertawa geli mendengarnya


“Kalau itu. yah, karena aku mau merekrutmu, bagaimana? Mau menguasai dunia ini berdua denganku? Tawaran yang menarik bukan? Ah. bila berani menolak aku akan menembakmu, misalnya”.

__ADS_1


“Misalnya? Kok gak yakin. Tapi udah jelas, aku nggak mau *bweeeh” lebih baik mati aja hahaha”. aku meledeknya menjulurkan lidah sembari menarik kantung mata kiriku dengan jari telunjuk.


“Berisik. Jangan langsung menolaknya begitu”.


“.….”. Obrolan yang kuakhiri dengan diam saja setelah melihatnya mengoceh dengan kesal tanpa membalasnya lebih jauh membuat suasana agak canggung.


“Rio…” aku memanggil namanya dengan nada serius nan pelan. Menyadari itu ia membalas hanya dengan suara mulut “Ou…”. dan tatapan kearahku yang menandakan bahwa dia akan mendengarkanku dengan seksama.


“Makasih ya”.


“Hah.. um… i-iya sama-sama?”. ekspresinya berubah dari kaget menjadi sedikit malu kemudian agak kebingungan karena tidak tahu harus membalas apa.


“Kenapa jawabnya malah nada tanya begitu”.


“H-habisnya kenapa kamu mengatakan itu?! hah?!”.


“Yang sebelumnya, menemukan sebuah alasan kuat untuk melangkah maju dan mempersiapkan berbagai hal yang diperlukan, kufikir itu sangat membantuku. Karena itu... makasih”.


“Kenapa tiba-tiba, mengatakan terima kasih dengan serius begitu. Malah membuatku berfikir disebut dungu lebih enak rasanya daripada- Ah!!!- jangan-jangan aku ini masokis. Mustahil, Itu tidak mungkin ya kan!”.


“Pppfft hahahaha. iya jelas maso hahaha”.


“Jangan tertawa!”.


“Maaf-maaf, habisnya kamu lucu banget haha perutku sampai sakit”.


Dia hanya diam memalingkan wajahnya ke tanah.


“kalau gitu aku pergi ya, dah. bye bye”.


“Ou..”. hanya dengan mengangkat setengah tangan, caranya membalas lambaian kedua tanganku yang dengan semangat kugerakkan kekanan dan kekiri.


Mungkin hanya perasaanku saja, ketika iya mendongak menatap kearahku yang pergi menjauh, sepertinya wajah Rio sedikit memerah. Aku jadi merasa sedikit bersalah bila tanpa sengaja membuatnya merasa dipermalukan. Maksudku rasa terimakasih ku memang tulus kukatakan, sifatnya yang seperti itu cukup manis kurasa dan terkadang ia menunjukkan sisi kerennya yang bisa diandalkan sebagai seorang laki-laki, sedikit sih. Mungkin dari luar dia terlihat seperti orang pemalas yang mengeluhkan berbagai hal. Namun nyatanya bisa dilihat dari gandum yang ia rawat disini, begitu tinggi dan indahnya akan memasuki musim panen, semua itu adalah bukti kerja kerasnya.


Sebab ia sudah membantu menunjukkan jalanku. Sudah pastinya kini kusadar ada didepan sana, lurus tanpa belokan. Pandora Jupiter aku akan memutuskannya untuk terus mengejarmu, hanya butuh sebuah dorongan dan alasan kuat yang pantas untuk segala resiko untuk menutupi kelemahanku.


"Sudah sejak lama aku memilikinya alasan kuat itu...".


"Sisanya adalah menyiapkan apa yang kubutuhkan agar tidak lagi bimbang, yaitu pelarianku bila sesuatu yang tidak sesuai dengan rencanaku terjadi".


"Aku tahu dimana bisa mendapatkan itu... Diane Astard".

__ADS_1


__ADS_2