Pandora Yupiter

Pandora Yupiter
Puncak Harapan Sang Bintang Gagal


__ADS_3

Jauh disana, menara jam raksasa tampak kerdil dari sini namun tentu saja masih jauh lebih besar bila dibandingkan tubuhku. Menatapnya dengan teropong tangan-- melingkarkan telunjuk dan ibu jari menyatu, memusatkan pandangan kepada wajah jam, jarum pendeknya berada di arah bawah kiri, pukul lima pagi sekiranya.


Tujuan akhirku nanti setelah mengunjungi beberapa tempat. Kepingan puzzle yang ingin kukumpulkan tersembunyi dalam masa lalu yang terhubung dengan masa sekarang. Demi mengetahui masa lampau tentu saja tiada cara lain selain membuka mulut seseorang yang tahu akan hal itu namun terbungkam karena berbagai alasan, ada dua orang di desa ini yang bisa kucurigai, terkecuali kakakku sendiri yang telah pergi jauh dari sini.


Kuterus berjalan sambil menikmati pemandangan beberapa perumahan yang fondasinya dari bata. terdapat beberapa tong dan juga kotak kayu disamping. Di depan setiap rumah melingkar mengelilingi pancuran sebagai pusat. kebanyakan dari rumah itu merambat sebagai toko yang setengah buka karena sepi pengunjung, tepatnya sudah tidak ada sama sekali. Cukup menyedihkan kurasakan hingga memalingkan diri kearah langit.


“Sungguh, betapa damainya disini”.


Duduk pada pinggiran pancuran, airnya berwarna keorenan. Sedikit kuminum karena iseng, tentu saja bukan rasa jeruk, meski terlihat begitu sebab cahaya dari langit yang kelam sepanjang hari dihiasi awan dalam bentuk putaran-putaran seperti halnya krim caffucino. Tiba-tiba saja terdengar sebuah derik pintu terbuka yang sedikit membikin ngilu arahnya dari depanku, muncul pria tua dengan tubuh yang kurus dan bungkuk tengah menyipitkan matanya menatapku sambil mengatur kacamata.


“Oh. Yupi ternyata, ada apa duduk sendirian disana”. menyadari keberadaanku ia mendekat memulai obrolan.


“Ehehe, enggak ada apa-apa, cuma menikmati suasana pagi hari”.


“Begitu ya. Awannya elok ya”.


“Iya, saking eloknya ku terperangkap dalam indahnya”.


“Haha…” dia tertawa lepas seperti dibuat-dibuat, membuatku sadar perkataan yang kuucapkan tadi kayaknya agak memalukan.


“Oh iya, tunggu sebentar ya”. seperti telah mengingat sesuatu, kemudian ia kembali kedalam rumahnya sepertinya ingin mencari sesuatu. Setelah beberapa saat muncul ia tersenyum mendekat kepadaku dengan kedua tangan kebelakang. Bakal ada apa ini. Jangan bilang beliau mau merayuku dengan memberikan bunga, becanda deh. Namun tetap saja aku kaget setelah melihat apa yang ia berikan kepadaku. Aku menatapnya kebingungan.


“Permen?”.


“Iya. Permen”.


“Ma-kasih…”. lolipop-- permen gula berwarna ungu merah biru berbentuk lingkaran dengan tongkat sebagai pegangannya. Maksudku aku tidak selera makan yang manis-manis sepagi ini, kenapa dia tiba-tiba memberikan ini kepadaku.Yah, tampak jawabannya mungkin sederhana saja, karena dia pemilik toko manisan.


“Makan yang manis-manis bagi anak muda, bukankah bisa meredakan stress, makanlah dan kembali berfikir dengan tenang”.


“...” aku tertegun.


Ketahuan ya, apa dari pandangan orang lain aku memang terlihat seperti orang yang kelelahan karena banyak fikiran, aku tidak akan menyangkal bila akhir-akhir ini memang kuhabiskan waktuku dalam kamar membaca buku-buku yang kufikir mungkin dapat membantuku dalam mencari wawasan tentang pandora, namun semuanya buntu tanpa ada petunjuk yang bisa mengarahkanku kepada sesuatu, karena itu hari ini ada janji dengan seseorang yang bisa kuharap akan kabar baik darinya. Ah, lagi-lagi aku terbawa pada pemikiran-pemikiran ini. Tanpa kusadari, dari arah permukaan air, wajah yang tercermin disana memang terlihat suram. lingkaran hitam berada dibawah mata mengurangi keindahan paras.


“Hah, mataku kayak panda”.


“Haha! Panda ya. Bukankah lucu kalo begitu”. ia tertawa keras merasa lucu dengan mendengar keluhanku.

__ADS_1


“Kiasan kek, cuma kiasan. Lucunya di panda doang bukan di akunya”.


“Begitu kah. Di mata kakek Yupi tetap manis”.


“Uwawawa. Digombalin kakek-kakek”. rasanya aneh aja bila tersipu malu dipuji begini, namun tentu saja senang juga. lagipula aku tidak secantik Diane dan kak Mika. tidak ada yang lebih dariku dari berbagai sisi hanya seorang perempuan desa yang biasa saja.


“Ohoho… merasa jatuh cinta?”.


“Mustahil, mustahil, mustahil!!”. aku berdiri menyilangkan kedua tangan.


“Sayang sekali…”. berekspresi sedih seperti benar-benar ditolak cintanya.


“Oy kakek tua. Berhenti merayu gadis-gadis”. Seseorang muncul dari rumah tetangganya. Pemilik toko roti, paman Sammy.


"Ohoho pesonaku yang membuat semua gadis dimabuk cinta".


"Jangan kepedean tua bangka!".


Suara berat dari teriakan paman Sammy benar-benar agak menakutkan, soalnya ia selalu ngomong dengan volume yang keras tapi itu tidak mengubah bahwa sebenarnya dia orang yang baik meski tampak tidak terlalu cocok dari sikap dan perawakannya. Seperti mereka yang bilang jangan lihat dari luarnya saja.


“Pppft.. hehehe”. melihat perseteruan mereka membuatku menunduk menahan tawa, layaknya rutinitas komedi, mereka yang menyadari gelak tawaku, melihat kearahku dari sana hanya dengan tersenyum hangat tanpa berkata apa-apa, memperhatikanku yang kembali riang. sungguh, baik sekali fikirku.


“Ah, makasih paman, tapi satu aja, ini kebanyakan”.


“Tidak! Harus dihabiskan! Lagipula kamu masih masa pertumbuhan! Ayo makan yang banyak! Tidak perlu sungkan!”.


“Nggwak mwungkin bisa habwis”. aku memakan roti dalam keadaan tertekan karena ia menepuk-nepuk tangan, menyemangatiku dengan mata yang berbinar-binar seolah-olah sedang terjadi lomba makan disini.


“Ayo! Ayo! Ayo!”.


“twunggu bwentar.. Uhuk, uhuk…”. sampai tersedak batuk, kugugup dibuatnya. memukul-mukul diatas dada.


“Apa yang kamu lakukan sayang, Yupi makannya jadi terburu-buru jadinya”. seorang perempuan yang memakai apron serasi dengan paman sammy


“Oh maafkan aku! aku terlalu bersemangat ahaha. tapi tetap harus dihabiskan!”.


“.…”. Ngeliatnya aja udah kenyang. Mana mungkin bisa makan sebanyak itu sepagi ini. Tapi rasanya memang enak banget, toko ini dulunya selalu habis tak tersisa. Pada masa kecilku penduduk disini, masih banyak bila kuingat. Apa karena kematian misterius empat orang dalam dua hari merupakan penyebab banyak yang meninggalkan desa ini hingga berangsur-angsur sepi. pasti banyak yang mengaitkannya dengan pandora, termasuk diriku yang mencurigai hal yang sama.

__ADS_1


“Ini susu coklat, tiup dulu, masih hangat”. istri paman sam membawakan secangkir minuman kepadaku. “Mwakwasih kak”.


“Pyuh.. pyuh..”. meniup-niup minuman hangat dengan asap yang menguap keudara. Begitu saja memberikan perasaan misterius yang menenangkan memenuhi dada. Disampingku istri paman sam bernama Dahlia, tak bisa diam kakinya mengelus-elus satu sama lain begitu pula dengan tangannya.


“Ada apa? menghentikan keinginanku untuk minum karena terus dilihatin tanpa pergerakan membuatku agak tidak nyaman, karena itu kutanyakan kepadanya yang tidak mau mengatakannya secara langsung. Ia melihat tepat kearah mataku dengan wajah merah kemudian menggenggam tanganku yang sedang memegang cangkir putih bergambar bunga mawar pink berdaun hijau muda.


“Um… Yupi, yang tadi bisa kamu ulangi”.


“Yang tadi?…”. aku tidak terlalu paham apa maksudnya.


“Ucapanmu tadi setelah kukasih susu coklat itu”. ia menunjuk kearah gelasku dan membuatku mulai mengingat kembali apa yang kukatakan sebelumnya, menurutku tidak ada kata-kata aneh yang kuucapkan. hingga aku menyadari ada yang mungkin sedikit janggal dari yang kukatakan.


“Makasih… Kak..?”. memastikan dengan nada bertanya.


“Ah itu! Hehe, senangnya dipanggil kakak”. memegangi kedua pipinya dengan raut wajah yang bahagia.


“B-begitu ya. Kakak memang masih sih terlihat muda, kufikir lebih cocok dipanggil begitu”. benar sih, aku tidak berbohong, tante Dahlia masih sangat muda dari penampilannya.


“Duh. Kamu ini bisa aja mujinya! Ayo lanjutkan makannya, kalau mau lagi nanti kakak ambilin, kyaaa aku jadi manggil diri sendiri kakak”.


"Ahaha...". tertawa canggung, aku bingung harus apa dalam keadaan seperti ini, ekspresinya terlihat bahagia sekali. Suaminya pun juga tertawa sambil memuji.


“Istriku memang yang paling cantik di dunia, tentu saja ia awet muda”. membanggakan diri


"Kakek setuju kalau itu, aneh Dahlia mau menikah dengan pria botak ini".


"Apa katamu!!".


"Duh. kalian ini jangan memperebutkan ku. kyaaaa!!".


"Ppfftt..". menyaksikannya benar-benar membawakan kehangatan pada perasaan. Dikelilingi dengan suasana seperti ini benar-benar menenangkan. Dalam larutan coklat cerminan diriku juga masih terlihat, aku bertanya kepada dirinya yang ada disana di dalam hatiku.


‘kamu juga apa bisa merasakannya?’ momen indah ini akan terperangkap dalam kenangan.


“Hangatnya….” kuhirup coklat setengah panas yang meningkatkan sensasi menghangatkan hati kedalam tubuhku ini. Perasaan ini aku ingin terus merasakannya, hanya dengan terikat kepada orang lain, aku bisa tertawa bersama mereka, mengobrol, saling bercanda, diberikan banyak hal yang tak bisa kubalas. Apa tidak mengapa aku bisa merasakan anugerah terindah ini. Padahal aku tidak memiliki apapun, ada maupun tidaknya keberadaanku sekalipun tidak akan berpengaruh pada kehidupan mereka, namun kenapa mereka memperdulikanku. Menganggap jelas keberadaanku ini meski diriku sendiri selalu ingin menyangkalnya. Apa tidak mengapa kalian begitu baik kepadaku? menghabiskan waktu yang berharga dengan diriku didalamnya.


Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku ingin menjadi sosok yang kuat, dimana aku tidak akan merasa dipenuhi dengan rasa bersalah begini, sebab hanya sepihak saja, selalu saja akulah yang mengambil peran sebagai seseorang yang selalu diberi. Suatu hari nanti seaindainya terjadi bila akulah orang yang bisa membawakan kebahagiaan kepada yang lain. Pastinya sangat indah. Apakah itu bisa terjadi?, untuk seorang gadis rapuh sepertiku terus menerus merepotkan banyak orang disekitarku, demi mengharapkan keinginan naif. Sebuah puncak keinginan demi kebahagiaan semua orang di desa, orang tuaku yang telah meninggal, kakakku nan jauh disana, termasuk diriku sendiri. Kehidupan saling mengasihi satu sama lain, demi senyuman untuk semua orang yang tersayang, terikat kuat, terhubung dari hati ke hati. Puncak kebahagiaan abadi.

__ADS_1


Aku ingin juga bersinar, meskipun gagal sebagai bintang. Maka akan kulakukan sebagai Jupi, sebagai katai coklat, tanpa menyangkal diri sendiri. Mengakui segala kelemahan yang ada, bersinar terang dengan hangat melebihi siapapun, melebihi apapun, itulah puncak keinginanku.


__ADS_2