
Mati ya, apa aku sudah mati?, tidak terfikir olehku awalnya. Apa karena itu aku ada disini, tempat apa sebenarnya ini?. Gelap hitam seperti gambaran sedang berada di luar angkasa. Langit indah berbintang. Pantulan keindahan langit itu juga tercermin dari genangan air setinggi mata kaki. Keping pecahan kaca, berbagai jam rusak tergeletak dimana-mana.
“Kamu belum mati. waktumu masih berdetak”.
“Tik.. tak.. tik.. tok..”.
“Lalu, apa yang terjadi padaku?” Berada di tempat asing seperti ini. Kesimpulan apa lagi yang bisa kufikirkan. Mimpi? Iya, ini mungkin saja mimpi. Karena itu aku tidak bisa merasakan apapun. Meski memiliki kesadaran penuh namun mampu mengembara dalam dunia khayal. Bukankah ada sesuatu yang disebut dengan lucid dream, kalau tidak salah bahkan ada kemungkinan berbagai indera berfungsi disana meski tidak pernah kualami sebelumnya, sepertinya.
“Begitu, mimpi ya? Bila menurutmu begitu pun tidak masalah. Ilusi pun juga tidak mengapa. Semua itu tidak terlalu penting”.
Lagi-lagi dia menjawab apa yang sedang kufikirkan. Kemampuan supernatural untuk membaca fikiranku. Bila dia bukan esper, bukankah itu berarti karena kita memang orang yang sama berada dalam mimpi yang sama atau ia proyeksi yang tercipta dari alam bawah sadarku. Meskipun bila seaindainya ini bukan mimpi. Lalu apa yang terjadi saat ini. Fatamorgana? Memang benar tempat ini bagaikan padang yang luas tapi ilusi optik itu hanya menimbulkan yang tidak ada menjadi ada. Namun seseorang yang mirip denganku tepat dihadapan saling bertukar obrolan sedari tadi tidak mungkin bagian ilusi. Kenapa dia malah menjawab seolah-olah tidak ada dari kedua kemungkinan itu yang benar.
“Bukankah menurutmu waktu itu wujud yang membosankan? Tanpa kehidupan ia sangat membosankan. kamu pun seharusnya juga begitu sebelum leluhurmu terlahir dalam wujud makhluk hidup. Bahkan setelah menjadi makhluk pun banyak dari mereka yang membosankan”.
“Apa yang sebenarnya yang ingin kamu katakan?”.
Aku tidak mengerti dari tadi apa tujuannya. Menanyakan sesuatu bagaikan teka-teki. Leluhurku? Seharusnya aku tidak terlahir sebagai makhluk hidup? Lalu apa? Aku ini apa? Aku Jupi kan.
“Iya. Jupi. Makhluk yang terlahir dari katai coklat. Bintang gagal yang bahkan tidak mampu berfusi. Namun meski begitu ia masih memiliki sinar dalam dirinya. Harapan karena sadar akan betapa rapuhnya diri. Mengakui kelemahan yang mendarah daging. Keinginan kuat dari lubuk hati terdalam. Katai coklat meminta keadilan untuk hidup sebagai makhluk, diberikannya wujud humanoid serupa dengan manusia yang tinggal di bumi”.
“Bumi? Manusia?”.
__ADS_1
Aku tidak terlalu mengerti apa yang ia maksud. tapi iya, aku adalah salah satu ras jupi. Kenapa aku baru mengingatnya. Bagian dari memoriku terkuak perlahan. Perwujudan katai coklat yang mendiami planet jupiter dengan sebuah tujuan utama yaitu mempertahankan siklus jupiter.
“Mereka yang mampu memenuhi puncak keinginan. Jiwanya akan hidup abadi dalam kebahagiaan. Tubuhnya akan melebur menjadi bagian dari jupiter memberikan sumbang silihnya sebagai keajaiban. Namun mereka yang tidak mampu akan dibuang kedalam kehampaan tak berujung. Cincin jupiter”.
Ia berkata sembari melihat keatas, dan aku pun mengikutinya. Penasaran dengan apa yang ia lihat. Apa yang kusaksikan tidak bisa kupercaya adanya. Kakiku lemas hingga seluruh tubuhku gemetaran. Jupiter berada tepat dihadapanku, sedekat ini. Terdapat debu yang mengitarinya menyerupai cincin. Namun yang membuatku merinding adalah kehampaan yang semakin menguat kurasakan ketika melihatnya. Seolah mendengar jeritan dari milyaran orang didalam kekosongan. Sebuah penyesalan yang tiada berarti.
“Penuhi puncak keinginanmu. Bersinar teranglah. Bahagiakan dirimu”.
“Bahkan dengan tugas yang sederhana seperti itu. Kenapa mereka tidak bisa menyelesaikannya. Meski itu demi dirinya sendiri, membuang waktu yang diberikan. Hidup tanpa keberanian untuk menggapai puncak keinginan, keseharian yang membosankan”.
Aku tidak bisa membantahnya. Mengginggit lemah bagian bawah bibir sebab perasaan kesal yang membuat sangkal tenggorokanku mengering, seperti menelan air mata dalam bentuk kesedihan batin dan tidak bisa hilang begitu saja. Namun karena ia meremehkan hal itu adalah sesuatu yang tidak bisa kuterima begitu saja. Lagipula tidak semua orang bisa menggapai kebahagiaan semudah itu. Mereka yang menderita. Mereka yang kehilangan hal yang berharga. Meski segala hal buruk yang terjadi kepadanya. Apa kamu tetap berfikir untuk menyuruhnya mencari kebahagiaan, betapa egoisnya dalam bualan perkataan. Bukankah tentu saja semua orang ingin menginginkan kebahagiaan. Tidak bisa memenuhi, karena kita lemah tidak terelakkan segalanya menjadi berat. Tugas yang sederhana? Siapa dirimu berkata tinggi seolah mempunyai kuasa atas dunia. Engkau yang tidak tahu apapun, akan masing-masing perasaan dari setiap insan. Memerintahkan sesuatu yang kamu sepelekan. harusnya bisakah kamu menunjukkannya, dimana untuk meraih kebahagiaan yang sederhana itu. Bagaimana caranya. Beritahukan padaku!!!.
Emosiku meluap dalam benakku sendiri. Tatapan melotot tajam dan kedua tangan mengepal sekuatnya. Mungkin saat ini juga wajahku menampakkan ekspresi kemurkaan yang tak bisa disembunyikan. Hanya memahannya juga tetap akan ia ketahui sebab ia mampu membaca fikiranku membuatku merasa bersalah karena melampiaskan semua itu kepadanya.
Iya. Berfikirlah. Aku tahu pasti akan hal itu. Yang kulakukan tadi hanya sekedar mencari-cari alasan saja sebab keputusasaan, kuakui itu. Bukan berarti tidak ada solusi. Justru sebaliknya aku selalu berharap agar apa yang nanti diperjuangkan tidak akan berakhir sia-sia, rasa sadar akan hal itu adalah sebuah ketakutan yang tiada ujungnya. Karena ingin percaya maka keraguan itu muncul sebab mengharapkan adanya kebenaran yang bisa dipercayai, berapa banyak bukti yang diberikan maupun dorongan bila tidak memiliki keteguhan hatipun percuma. Yang seharusnya dilakukan adalah melakukan apa yang harus dilakukan, terus meresahkan, kemudian berusaha untuk menggapai. Kebahagiaan itu selalu ada.
Kenapa aku tadi marah? Karena simpati? Iba? Atau bentuk pengasihanan terhadap diri sendiri sebab mungkin aku salah satu orang yang hidupnya terus merasakan penderitaan? Apa aku menderita? Apa aku tidak bahagia? Aku tidak tahu.
“Kenapa aku berkata bahwa waktu itu membosankan”. ia mulai bertanya lagi. Mengembalikan topik kepada jalurnya, kemudian ia menjawabnya sendiri.
“Karena tak berbeda dengan ilusi”.
__ADS_1
Ilusi ya? terkadang aku juga berfikir begitu. kenyataan dan mimpi. Apa yang membuat kedua hal itu begitu berbeda. waktu ketika merasakan kesenangan. Momen ketika kita merasakan kesedihan. Kenangan di masa lampau yang tidak tergantikan. Obrolan canda tawa. Keseharian yang damai. Segala hal yang dipelajari. Bisa lenyap di masa yang akan datang. Sama seperti terbangun dari mimpi, hanya saja dalam durasi yang lebih panjang. Dalam kenyataan sekalipun kenangan itu bisa saja hilang tak bisa diingat sama sekali. Bahkan sekarang pun aku merasakan itu. Aku merasa ada sesuatu yang sangat berarti yang telah kulupakan. Kenangan yang menghangatkan hati. Apa ya itu? Tanpa sadar senyum tulus menghiasi wajahku. Kesedihan tanpa sebab membuat air mataku mengalir.
“Selama kamu bisa merasakannya. maka segalanya belum berakhir”. Mengatakan itu ia membalas dengan senyum manisnya. Ekspresi yang mirip sekali denganku. Menunduk malu aku memperhatikannya melalui pantulan dari permukaan air. Sepertinya aku mulai paham siapa dirinya, tujuan dan kebaikannya. Asalkan bisa merasakan. segalanya belum berakhir, ya? kurang lebih kupahami tepatnya.
Penderitaan. Kemalangan. Sepi dalam kesendirian kesedihan karena kehilangan. Dan kebahagiaan yang didambakan. Tujuan untuk terus hidup.
“Kesempatan kedua untuk engkau wahai jupi, demi mengubah jalur takdirmu, engkau tidak perlu mengalami penderitaan lebih jauh lagi …”. dari langit nan tinggi suara tegas perempuan lain terdengar. Seseorang yang awalnya tidak kulihat dari tadi. Seakan telah lama mengawasiku ia melayang diudara duduk dalam singgasana megah terbuat dari emas bermotif simbolik kuno dan bantalan berwarna merah juga pada sandaran kursinya. Mengenakan busana kain tipis berlapis-lapis. Rambut perak terang lurus dan panjang. Kulit seputih mutiara. Perwujudan yang begitu cantik tiada tandingnya menghalangi rembulan raksasa dibelakangnya.
“Lakhesis….”. Namanya. Entah kenapa aku tahu siapa dirinya.
“Yupikha Siona…” Nama lengkapku ia panggil bernada berat dengan pesan peringatan. aku merasa tahu apa yang akan ia katakan saat itu juga. Tapi aku akan terus mengikuti kata hatiku. Tidak akan ada yang berubah. Seberapa sering pun segalanya terulang. Tekadku tidak bisa terpatahkan. Begitulah yang kurasakan.
“…. Jauhi Pandora”. Lanjutnya. “…. karena hanya kemalangan yang menantimu”.
Dunia runtuh seiring ujung kalimat yang terucap. Langit retak bagai cermin yang pecah berkeping-keping. Terjatuh seperti rintikan hujan kemudian terhisap dalam genangan air. Menyisakan pemandangan putih polos dari ujung keujung. Lantai ini pun mengalami yang sama seperti bangunan runtuh. Dan lalu terjatuh kedalam jurang kehampaan tanpa dasar. Kosong. Hampa. Tubuhku terjatuh, menutup mata perlahan.
Mungkin ini mimpi. Mungkin ini nyata. Mungkin ingatan akan terhapus. Namun perasaanku tidak akan berubah. Karena sesuatu yang begitu kuatnya hingga membekas tidak akan bisa lenyap semudah itu. Tidak akan pernah!. Teka-teki yang membuat bergairah. Hasrat yang tidak tertahankan untuk mengungkapnya. Misteri terbesar dari tanah Jupi. Sekali lagi tubuhku merinding gemetar tapi kali ini malah membuatku tersenyum lebar tanpa sadar. Dopamin memenuhi otakku, memompa jantung, mempercepat aliran darah. Perasaan bergejolak ini. Jantungku berdetak dengan kencang. Berdebar-debar. Menyenangkan. Aku merasa hidup. Aku merasa lebih hidup.
Selama terjatuh kuangkat tangan kananku meraih keatas pada sesuatu yang kosong. Sesuatu yang saat ini tidak bisa kugapai. Seluruh jari tangan mekar dalam beberapa waktu kemudian menggenggam erat. Terbentuk kepalan. Sebuah tekad, keteguhan hati.
“Pandora Jupiter… Aku pasti akan menemukanmu…
__ADS_1
… Dan mengungkap seluruh jati dirimu”.
“Pasti!”.