Pandora Yupiter

Pandora Yupiter
Kematian Janggal


__ADS_3

Kepingan ingatan terproyeksi dalam benak, hari dimana kakak dan ayah terlihat saling membentak satu sama lain, dari kejauhan tempatku berdiri, aku terdiam tanpa berani mendekat, suaranya tidak kudengar atau mungkin tidak mampu kuingat, namun ekspresi murka yang ditunjukkan kakak dan ayah begitu menakutkan hingga sering kali teringat bagaikan mimpi buruk sampai saat ini. kala itu bila tidak salah umurku masih 4 tahun. Gerangan apa yang terjadi rasanya ingin kuketahui, karena dihari itulah takdir menjemput ajal ayah. Dimana aku belum mengerti apapun tentang kematian, tubuhnya melebur dihadapanku dan ibu sembari tersenyum tawar, aku yakin pernah melihatnya, sosok pencabut nyawa dengan tatapan dingin menarik jiwanya melalui ubun-ubun. sedangkan kakak sudah pergi meninggalkan desa tanpa menyaksikannya. Apa dia tahu ayah telah meninggal? bila tidak, apakah dia akan terkejut bila mendengarnya, mungkin saja. Kenapa saat itu dia pergi pun tidak kuketahui alasannya.


Melihat kearah kiri foto dimana ia berdiri berdampingan. Tingginya sedikit melebihi bahu ayahku. Paras yang cantik dan anggun, tampak seperti sosok ibu yang lemah lembut menggendong diriku yang masih bayi. Keberadaannya juga sudah tiada di dunia ini. Bila itu takdir maka seperti anak yang berperilaku baik kufikir aku bisa merelakannya. Begitulah yang kufikirkan bertahun-tahun lamanya. Namun kenyataannya membuatku sadar bahwa ada yang janggal dari kematian kedua orang tuaku juga kepergian kakakku dari desa ini. Itulah yang ingin kucari tahu kebenarannya sampai saat ini.


Mengalihkan pandangan dari foto kearah cermin besar yang panjangnya keatas dari kaki sampai melebihi tinggi badanku. Sosok seorang perempuan remaja mengenakan piyama tampak disana.


“... Mirip sekali”. Aku menyentuh cermin yang memberikan sensasi dingin pada jari. Embun memburamkan bagian yang telah kusentuh. Bayangan disana mengikuti pergerakan tangan dari arah sebaliknya. Rambut ungu kemerahan sebahu menyisakan bagian panjang sampai dada di kedua sisi. Iris mata berwarna merah rubi keunguan.


“Kenapa ya?… Meski ia adalah cerminan dariku. Aku masih tetap saja mempertanyakannya, Apakah dia benar-benar diriku?” aku tidak terlalu yakin kepada eksistensi diriku sendiri. Kembali melihat kearah foto, kutersenyum tawar. Seaindainya aku tidak pernah terlahir pun tidak akan mengubah senyuman disana fikirku. Apa yang membuatku ada di dunia ini, bila hanya untuk merasakan penderitaan maka aku tidak membutuhkannya. Seaindainya diriku tidak pernah ada mungkin lebih baik bila tanpa pernah merasakan apapun, sebuah ketiadaan, namun egoisnya aku juga tidak ingin mengelaknya karena ada pula momen bahagia yang tidak ingin kulupakan


Aneh banget. Apa yang tiba-tiba kufikirkan saat ini konyol sekali membuat diriku sendiri ingin tertawa meledek karenanya. Atmosfernya tiba-tiba menjadi melankolis begini, begitu defresif tidak cocok untukku.


Lagipula bayangan cermin ada karena pantulan cahaya pada logam tipis berwarna hitam dibalik kaca. Lain lagi halnya jika ia berada diluar dari sana. Bila itu terjadi, ketika ada orang yang sama persis denganku atau mungkin dia memang diriku, bagian dariku menampakkan dirinya tepat dihadapanku. Apa ya yang akan terjadi?


“Doppel… gaenger, Pantulan diri yang menyampaikan Nubuat”. Salah satu buku yang kubaca memiliki muatan cerita tentangnya, mereka yang mengaku pernah melihat doppelgaenger dinyatakan mati setelah tidak lama dari itu, sedikit membuat diriku merinding, kuelus-elus lengan yang kedinginan setelah melepaskan baju.


“.….”


“Ah!, dingin banget! merepotkan”. mengambil kemeja putih dan rok berwarna merah yang tergeletak di lantai. aku berganti pakaian. Melilitkan syal pada leher kemudian memakai topi yang melingkar disana kacamata goggle. Memasang ikat pinggang yang tersambung tas dari kulit berwarna cokelat disebelah kiri pinggulnya. Kembali melihat kearah cermin menyisir sedikit bagian rambut yang agak bercabang akibat tidur semalam.

__ADS_1


“Semuanya OK!”. Hari ini beberapa kepingan misteri kuyakin akan menyatu. Semoga saja ada petunjuk yang bisa membawaku kepada kepingan yang lainnya. Misteri merupakan sesuatu yang saling terhubung satu sama lain, bagaikan jigsaw puzzle, bila semua kepingannya terkumpul, kamu akan bisa melihatnya apa yang tergambar disana.


“Pertama ketempat paman Al”. Aku berjalan keluar menutup kamar, agak melamun memperhatikan suasana berantakan di dalam kamar yang semakin gelap hingga detik-detik pintu tertutup rapat. Berjalan dilorong melewati kamar kakak, ayah dan ibuku membawakan sensasi yang nostalgia entah kenapa. kamar kakakku saat ini didiami oleh kak Mika, bisa disebut kakak tiriku. ia tinggal bersamaku sejak kecil sejak kematian kedua orang tuaku. Saat ini dia sedang tidak ada dirumah, pergi ke panti asuhan selama tiga hari, mungkin besok pagi ia akan pulang.


Sampai diluar, dibalik pintu rumah, benderang cahaya oranye dipenuhi gumpalan awal tak beraturan. Pemandangan langit selalu begitu, meski berubah-ubah, kesannya tetap sama. Kemegahan yang tak terbatas jauh, memiliki makna filosofis yang dalam.


Aku kemudian mengunci rumah. Melempar kunci keudara dan menangkapnya dengan timing yang tepat ketika jatuh didepan mata. Gravitasi jupiter memiliki kekuatan yang besar karena itu kecepatan benda jatuh susah disandingi dengan pergerakan tangan namun bukan berarti tidak mungkin karena aku sudah terbiasa melakukannya setelah mencobanya ratusan mungkin ribuan kali.


Aku tersenyum dalam senandung merdu suara mulut sembari menari-nari riang ketika melangkah kemudian merubah nadanya menjadi detakan waktu, membuat langkah ini beirama dengannya, begini saja menyenangkan, kekanakkan sekali fikirku, aku ingin kembali ke masa-masa itu.


“Hmm.. hmm. hmm.. Tik.. tak.. tik.. tok”.


*Gulp. *Gulp. *Gulp. Teguk demi seteguk mengalir air kedalam kerongkongan, terasa dingin di perut. Seringnya juga meneteskan sisa yang membasahi dagu langsung tersapu oleh reflek tangan yang menggosoknya.


"Hah... Nikmatnya~" raut wajah kepuasan jelas tanpa dusta sebab begitu menikmatinya.


Menenggelamkan kedua tangan menadah untuk mengambil air, kubasuhkan kewajah hingga berkali-kali. Bercermin aku menunggu air yang masih bergelombang, Perlahan tampak wajah berseri-seri.


"Rasanya segar banget!".

__ADS_1


Kemudian kembali melangkah dengan riang menuju desa yang terpisah perumahan disana dari rumahnya. Menyisiri ladang gandum yang telah kecoklatan. Sudah hampir musim panen, menyaksikan padatnya gandum setinggi anak kecil berumur 4 tahun membuatku merasakan nostalgia. Aku pernah bermain disini dengan ayah, namun entah apa yang kumainkan dengannya, gerangan apa yang terjadi di masa itu tidak bisa kuingat. Hanya saja terasa hangat di dalam hati. Pasti kenangan yang membahagiakan fikirku, harusnya masih membekas hal yang seperti ini untuk seumur hidup.


Seorang wanita berparuh baya datang dari arah berlawanan.


"Ara.. Yupi. Mau kemana? Oh iya, hari ini bibi mau bikin biskuit lagi dirumah. Nanti mampir ya"


"Iya bi!! Pasti! Nggak mungkin ada yang nolak sama kue bikinan bibi.. ehehe membayangkannya saja jadi ngiler".


"Wah.. terimakasih pujiannya. Bibi jadi semangat juga. Melihat kamu yang selalu menantikan dan terlihat sangat bahagia ketika memakannya membuat bibi juga merasakan kebahagiaan yang terpancar dari kamu yupi".


"Ehehe. Habisnya enak banget".


"Hahaha.. Yaudah bibi pulang".


"Iyaa~ hati hati bi".


Sosoknya perlahan berjalan menjauh, langkah kaki yang pelan menginjak tanah, sedangkan aku berdiri terdiam memperhatikannya dalam beberapa saat. Aku tersenyum pahit. Merasakan kebahagiaan ya? Seseorang akan bahagia bila melihat orang lain bahagia, begitu pula sebaliknya. Konsep spiral kebahagiaan, tidak buruk juga, malah itu bukti aku bahagia bila ia bilang begitu, maka benar adanya. meski aku sendiri tidak terlalu tahu akan perasaanku saat itu. Namun pastinya rasa biskuit bibi memang sangat enak. Yang satu itu bukan kebohongan.


"Iyess!!! Pertanda baik!.. ah tapi aku jadi lapeeerr, nggak! Ada yang harus kulakukan dulu".

__ADS_1


'Menuju toko jam paman Al!".


__ADS_2