
Penta Pandewa, seorang remaja berusia 15 tahun yang sedang menyelesaikan sekolah menengah atas, melangkah pulang dari sekolah dengan langkah ringan. Dia baru saja menyelesaikan ujian, dan kepala Penta dipenuhi dengan impian tentang masa depannya sebagai dokter. Dia bergegas pulang, ingin bercerita tentang kegiatan di sekolah pada hari itu kepada kakek yang telah merawatnya sejak kecil.
Sesampainya di rumah, Penta menemukan kakeknya tergeletak di teras, tampak pucat dan lemah. Penta segera berlari mendekatinya, khawatir.
"Kakek! Apa yang terjadi? Kenapa Kakek tergeletak di sini?" Penta bertanya.
Kakek menjawab dengan lemas. "Penta... Aku tidak enak badan. Aku merasa lemah dan kesakitan."
Penta, dengan mata berkaca-kaca, membantu kakeknya bangkit dan membawanya ke dalam rumah. Setelah membantu kakeknya berbaring di tempat tidur, Penta berlari keluar untuk mencari bantuan. Ia menemui warga desa yang sedang berkumpul di sekitar sumur.
"Tolong! Kakekku sakit! Apakah ada yang bisa membantu?" Penta meminta bantuan.
Seorang warga tua yang bijaksana, Pak Surya, mendekati Penta dan menepuk bahunya dengan lembut.
"Tenang, Penta. Mari kita bicarakan ini. Ceritakan apa yang terjadi pada kakekmu." Katanya.
Penta menjelaskan kondisi kakeknya, dan warga desa saling berbicara, mencoba menemukan solusi. Salah satu warga, Mbak Rina, menyarankan untuk membawa kakeknya ke tabib kerajaan. Namun, Penta mengatakan bahwa mereka tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya pengobatan yang mahal.
Tiba-tiba, Penta teringat cerita yang pernah ia dengar di sekolah tentang Getah Pohon Raksasa yang dapat menyembuhkan penyakit apa pun. Dia berbicara kepada warga desa tentang ide ini.
"Bagaimana kalau aku mencoba mendapatkan Getah Pohon Raksasa dari Alas Warihing? Katanya bisa menyembuhkan penyakit apa pun."
Warga desa saling bertukar pandang, ragu-ragu. Namun, melihat tekad di mata Penta, warga desa yang berkumpul itu setuju, dan beberapa dari mereka menawarkan bantuan dengan memberi tumpangan kepada Penta untuk ke kota menggunakan kereta kuda mereka.
Tiba-tiba Pak Surya berbicara lantang.
"Baiklah, Penta. Kalau kamu mau pergi kesana kamu harus meminta izin terlebih dahulu kepada Kepala Desa dan kamu harus berhati-hati, Hutan itu penuh bahaya."
Penta mengangguk, lalu pergi meminta izin kepada Kepala Desa.
Awalnya Kepala Desa tidak setuju dengan permintaan Penta ini, tapi Penta cukup bersikeras ingin menolong kakeknya, sehingga hati Kepala Desa menjadi luluh.
“Aku tidak bisa menghalangimu, jika kamu bersikeras, tapi kamu harus pergi ke kota kerajaan terlebih dahulu untuk menyewa pengawal di sana, kamu tidak mungkin sendirian ke Alas Warihing, terutama disana banyak sekali monster. Dan apakah jika kamu tidak punya uang untuk menyewa pengawal, biar aku minta sumbangan kepada para warga.” Ucap Kepala Desa bijaksana.
Penta mengangguk dan membalas, “Tidak, tidak perlu pak Kades, aku punya tabungan dan kurasa itu cukup untuk menyewa pengawal, mungkin.”
Kepala Desa menghela napas lalu membalas, “Baiklah kalau itu keinginanmu, tapi kalau kamu butuh bantuan bilang saja kepada ku, lalu kamu tidak perlu khawatir soal kakekmu, biar kami warga desa bergantian merawatnya. Untuk pergi ke kota kerajaan sebaiknya kamu pergi bersama pedagang dengan mobil sihir, itu akan jauh lebih cepat dari pada menggunakan kereta kuda, nanti aku akan bicara kepada pedagang kenalan ku”.
Penta pun berterima kasih, dan pulang ke rumah kakeknya.
Setelah Penta mendapat izin dari Kepala Desa dan berpamitan dengan kakeknya, ia pun bersiap untuk pergi ke kota. Ia memasukkan semua perlengkapan yang ia anggap perlu untuk perjalanan, seperti pakaian ganti, bekal makanan, dan sedikit obat-obatan, ke dalam ranselnya yang cukup besar. Penta juga tak lupa menyelipkan foto kakeknya sebagai penyemangat dan pengingat tujuan perjalanannya.
Para pedagang yang bersedia mengantar Penta ke kota adalah Bapak Joko dan Bapak Tono. Mereka adalah pedagang yang sering mengunjungi Desa Ngrupit dan sudah cukup dikenal oleh warga. Keduanya memiliki mobil sihir yang bisa menampung barang dagangan sekaligus penumpang.
Penta, dengan rasa haru, berpamitan kepada warga desa. Mereka berdoa untuk keselamatan Penta dan menyampaikan pesan agar ia berhati-hati di perjalanan. Penta mengangguk, memegang erat ranselnya, lalu bergabung dengan Bapak Joko dan Bapak Tono.
"Ayo Penta, naiklah ke mobil sihir kami. Kami akan segera berangkat." Bapak Joko berteriak memanggil Penta.
Penta dengan hati-hati naik ke mobil sihir, merasa terpesona oleh teknologi yang belum pernah dilihat sebelumnya. Setelah semua barang dagangan dimuat, mereka pun melaju meninggalkan desa.
Dalam perjalanan, Penta banyak bertanya tentang kota kerajaan, ingin tahu segala hal yang mungkin ia temui nanti. Bapak Tono, yang lebih banyak pengalaman dengan kota kerajaan, menjawab pertanyaan Penta dengan sabar dan penuh semangat.
"Di kota kerajaan, kamu akan menemukan banyak bangunan megah dan teknologi yang belum pernah kamu lihat sebelumnya, Penta. Bahkan ada motor sihir yang bisa melayang di udara!"
Penta terkejut mendengar hal ini, matanya berbinar penuh keingintahuan. Bapak Joko menambahkan informasi tentang Guild Petualang.
"Jika kamu ingin menyewa pengawal yang handal, pergilah ke Guild Petualang. Mereka memiliki banyak petualang yang berpengalaman dan siap membantumu."
Mendengar hal ini, Penta merasa semakin bersemangat dan optimis. Perjalanan mereka terasa singkat karena penuh dengan percakapan yang menarik.
Setelah beberapa jam, akhirnya mereka tiba di depan gerbang kota kerajaan. Penta terpana melihat suasana di luar tembok kerajaan yang begitu ramai. Orang-orang berjalan sambil bercakap-cakap, dan mobil-mobil sihir melaju cepat di jalan yang sudah diperlebar. Bangunan-bangunan tinggi menjulang ke langit, bahkan ada yang lebih tinggi dari tembok kerajaan itu sendiri.
"Subhanallah! Ini benar-benar luar biasa! Aku tidak pernah membayangkan bahwa dunia di luar desa kami seperti ini." Ucap Penta terkesima.
Bapak Tono tersenyum melihat kekaguman Penta dan menepuk bahunya. "Kamu akan melihat lebih banyak lagi ketika kita masuk ke kota, Penta. Bersiaplah untuk melihat keajaiban yang belum pernah kamu bayangkan sebelumnya." katanya.
Penta bersama rombongan pedagang sampai di depan gerbang kota kerajaan. Setelah mereka memasuki kota, Penta diantar sampai ke depan Guild Petualang oleh Bapak Joko dan Bapak Tono. Di dalam Guild, Penta tampak bingung karena ramai sekali. Ia melihat meja di mana ada banyak wanita muda yang berdiri di belakangnya secara teratur, dan mendekat untuk meminta bantuan.
"Permisi, namaku Penta Pandewa. Aku baru saja datang dari desa dan ingin mencari party yang bisa membantuku menjelajahi hutan Alas Warihing. Bisakah kalian membantuku?" tanya Penta.
Wanita muda yang berdiri di belakang meja kasir, bernama Welin yang plat namanya tertempel di dada kirinya, terkejut mendengar permintaan Penta. Ia menggelengkan kepalanya, merasa ragu untuk membantunya.
Welin menjawab “Tuan Penta, permintaanmu ini agak mustahil. Alas Warihing sangat berbahaya dan banyak monster kuat di sana. Konon, ada naga bernama Anantaboga yang melindungi hutan tersebut."
Ekspresi Penta berubah menjadi campuran kekecewaan dan ketakutan saat mendengar pernyataan Welin, namun ia masih berusaha tegar.
Welin melanjutkan. “Tapi karena ini adalah sebuah permintaan, maka kami tidak bisa menolaknya, Tuan Penta, berapa uang yang kamu tawarkan untuk misi ini?
Penta menjawab dengan agak ragu. “Aku hanya punya 5 juta Rupiah saat ini.”
Mendengar itu Welin tampak tidak yakin dan berpikir sejenak.
Setelah beberapa detik terdiam Welin membalas "Aku meragukan ada party yang mau menerima permintaanmu, Tuan Penta. Tapi karena ini sudah menjadi tugas kami untuk menerima misi dari para pemohon, maka silahkan isi formulir ini.”
Welin tidak menyampaikan apa-apa terkait nilai yang ditawarkan oleh Penta, mungkin karena dia sadar dengan kondisi Penta jika di lihat dari penampilannya.
“Baik” Penta menjawab dengan lesu.
Penta segera mengisi formulir permintaan misi tersebut dan memberikannya kembali kepada Welin.
“Baiklah, Tuan Penta. bisa tolong berikan uang jaminanya?”
Penta pun mengeluarkan kantung dari tas ransel yang dia bawa, kantung itu adalah kantung kulit yang sudah cukup usang, tapi sepertinya cukup berat, karena dipenuhi dengan koin-koin.
Sambil memberikan koin, Penta menyampaikan “Ini adalah koin 10rb rupiah berjumlah 5 juta, silahkan dihitung lebih dahulu jika tidak percaya.”
Welin tampak terkejut, tapi dia mengambil kantong kulit yang lumayan berat itu sambil tersenyum dan menjawab “Tidak perlu Tuan Penta, aku percaya dengan kamu.”
Welin menerima permintaan Penta dan memintanya menunggu sampai ada party yang mau menerima permintaannya. Ia menyampaikan bahwa permintaan Penta akan ditempatkan di level permintaan Rajendra, yang artinya hanya petualang di tingkat Rajendra atau di atasnya, yaitu Batara dan Sanghyang, yang bisa mengambil permintaannya. Biasanya, petualang di tingkat ini hanya menerima permintaan dari bangsawan atau kerajaan.
Setelah berbicara dengan Welin, Penta pergi mencari penginapan. Sambil berjalan, ia melihat hal-hal menakjubkan seperti patung besar dan taman yang indah dengan air mancur yang menyemburkan air berwarna-warni. Penta merasa kagum dengan keindahan kota kerajaan tersebut.
Tiba-tiba, Penta melihat seorang wanita yang duduk sambil memeluk lututnya di pojokan sebuah gedung. Karena kasihan, Penta menghampiri wanita itu.
Penta bertanya. "Halo, namaku Penta Pandewa. Ada apa denganmu? Mengapa kamu tampak sedih?"
Wanita itu mengangkat wajahnya dan memperkenalkan diri.
"Namaku Dyah Gitarja. Aku lapar karena tidak punya uang untuk makan." Sambil menunjukkan wajah lesunya.
Penta merasa iba dan menawarkan untuk mentraktir Dyah makan
“Apakah kamu mau makan dengan ku? biar aku yang bayar makanannya.”
Dyah tampak berseri-seri. Lalu menjawab.
__ADS_1
“Benarkah, Tentu saja aku mauuu, Terima kasih Mas Penta.”
Merasa malu dengan panggilan tersebut Penta langsung membalas. “Aduh jangan pake Mas, Penta saja cukup.”
“Baiklah kalau begitu kamu juga boleh memanggilku Dyah saja.” Jawab Dyah.
“Oke.” Jawab Penta dengan singkat.
Penta dan Dyah pergi ke sebuah restoran untuk makan siang. Restoran tersebut tidak tampak kecil maupun besar, tapi restoran tersebut cukup ramai, mungkin karena restoran ini menawarkan harga yang cukup terjangkau, pikir Penta.
Saat memasuki restoran, Penta terkejut melihat pelayan yang melayani dengan begitu cepat menggunakan sihir. Dyah tersenyum melihat kekaguman Penta.
Dengan kagum Penta berbicara "Ini sungguh menakjubkan! Aku belum pernah melihat sihir digunakan seperti ini sebelumnya."
Dyah tersenyum dan menjelaskan bagaimana sihir telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di kota kerajaan.
Mereka memesan makanan, dan Penta kembali terkejut saat melihat hidangan yang disajikan begitu lezat dan berlimpah.
Dyah mencoba menenangkan Penta "Aku tahu, ini mungkin terlalu banyak untukmu. Tapi, jangan khawatir, kita bisa membungkus sisa makanan ini untuk dimakan nanti."
Penta mengangguk senang, dengan penjelasan Dyah.
Saat sedang makan Dyah menanyakan dari mana asal Penta. Tampaknya Dyah merasa heran dengan penampilan Penta yang tampat tidak seperti orang kota. Penta-pun menceritakan asal dan tujuannya ke kota kerajaan. Dyah terkejut mendengarnya.
"Alas Warihing? Itu hutan yang sangat berbahaya, Penta. Dan kamu membuat permintaan di Guild? Apakah akan ada yang mau menerimanya? aku tidak yakin.” Dyah merasa ragu.
Penta tampak khawatir, dan menjawab dengan wajah sedih.
“Kasir di Guild juga bilang demikian, apakah memang tidak mungkin untuk pergi ke Alas Warihing?” tanyanya juga.
Dyah menjawab dengan wajah serius dan menghadap ke arah jendela restoran.
“Itu hampir mustahil, ada banyak cerita bilang bahwa siapapun yang masuk kesana tidak pernah kembali lagi atau pun membalas pesan sedikit pun, dan belum lama ini ada pasukan kerajaan yang dikirim oleh raja untuk ekspedisi kesana, tapi tidak ada balasan dari mereka sedikit pun, kejadian itu terjadi saat raja Sri Maharaja Raden Kalingga Prabu IV masih berkuasa, padahal di zaman itu komunikasi juga sudah sangat maju, kamu tinggal memikirkan siapa yang mau kamu hubungi dan apa pesan yang ingin kamu sampaikan, dan pesan itu akan langsung tersampaikan pada orang itu.”
Penta terkejut pada satu hal. ”hah, bisa begitu? jadi aku bisa bicara tanpa telepon genggam?”
Dyah tertawa kecil, mungkin karena tingkah Penta yang tampak polos.
“Yahhh… itu tidak mungkin untuk masyarakat biasa, teknologi itu sampai saat ini hanya diberikan pada para ksatria kerajaan dan bangsawan.”
Penta pun merasa lega, merasa dirinya tidak terlalu tertinggal.
“oh begitu ya.”
Tanpa di sadari makanan yang mereka pesan sudah mau habis, yah lebih tepatnya memang sudah habis, yang tersisa hanyalah kuah-kuah yang sedang di seruput oleh Dyah. Melihat Dyah yang makan dengan lahap Penta pun tersenyum.
Setelah selesai makan, mereka pun meninggalkan restoran, tepat di depan pintu restoran, Dyah menyampaikan sesuatu kepada Penta.
“Mungkin aku akan bicara dengan teman-teman ku, mungkin kami bisa membantumu. tapi kamu jangan berharap banyak padaku ya, aku tidak janji mereka akan setuju.”
mendengar itu Penta jadi bersemangat dan riang.
“benarkah, senang sekali mendengarnya.”
“Iya, tapi aku tidak janji.” Dyah coba menenangkan Penta.
Penta membalas dengan senang. “tidak apa-apa, setidaknya masih ada harapan kecil, hehe.”
Dyah-pun tersenyum ragu.
“Baiklah, sampai jumpa lagi besok disini ya, di jam yang sama.” Dyah membuat janji kepada Penta
Dyah merasa heran dan bertanya “Kenapa? Apa kamu tidak bisa?”
Penta menjawab. “Bukan begitu, aku hanya terkejut, aku kira perlu menunggu lebih lama.”
“Oh, tidak perlu, akan aku tanyakan hari ini juga, jadi tunggu saja besok.” Dyah meyakinkan.
Sambil mengangguk Penta membalas. “Baiklah.”
Penta tersenyum lepas.
Mereka saling berpamitan. Penta kembali mencari penginapan, sementara Dyah kembali ke tempat teman-temannya biasa berkumpul. Tapi saat akan berpisah, Penta melihat sesuatu yang mengejutkan.
Sebelum pergi, Dyah menaruh tongkat yang dia bawa ke dudukannya, atau lebih tepat, di bawah pantatnya. Tiba-tiba, angin cukup kencang berhembus dari sekitar Dyah, dan dengan cepat, wusssss,dia terbang ke udara. Penta tercengang melihat kejadian itu.
Dyah tiba di penginapan tempat dia dan keempat temannya menginap. Penginapan tersebut terletak di bagian yang lebih tenang dari kota, dikelilingi oleh taman-taman kecil yang indah dan rimbun. Bangunan penginapan berdiri megah dengan gaya arsitektur modern, berlantai 20 dengan jendela kaca besar dan dinding berwarna abu-abu terang. Di sekitar penginapan, terdapat beberapa pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman untuk para tamu yang ingin bersantai di luar penginapan.
Di penginapan itu, Dyah ingin menemui keempat temannya yang saat ini sedang pergi keluar. Mereka adalah Prabu Jaya Kusuma, Rani Darmana, Rakryan Sanjaya, dan Karang Wisesa. Keempatnya adalah anggota party petualang di tingkat Rajendra, yang merupakan tingkatan tertinggi ketiga dari tujuh tingkatan yang ada yaitu Murid, Wirawan, Ksatria, Mahapatih, Rajendra, Batara, Sanghyang.
Prabu Jaya Kusuma adalah seorang ksatria pelindung dengan badan besar dan kekar. Meski termuda di kelompok itu, dia memiliki keberanian yang tak tertandingi dan kemampuan bertarung yang luar biasa. Dia selalu siap untuk melindungi teman-temannya dari bahaya dan menghadapi musuh yang datang menghadang.
Rani Darmana adalah seorang penyihir penyembuh yang memiliki paras ayu dan sikap lembut. Rambutnya diikat dalam gaya ponytail kesamping, menambah kecantikannya. Dia ahli dalam menyembuhkan luka dan menguatkan teman-temannya di medan perang dengan kekuatan sihirnya.
Rakryan Sanjaya adalah seorang ksatria berpedang dua yang lincah dan gesit. Dia dikenal sebagai orang yang tidak banyak bicara, seringkali menunjukkan kemarahan, namun dibalik itu semua, dia memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman-temannya.
Karang Wisesa adalah seorang pemburu sekaligus pengintai dalam party itu. Dia memiliki kemampuan untuk melacak musuh dan mengumpulkan informasi penting yang dibutuhkan oleh party. Dia juga piawai dalam memanah dan senjata jarak jauh lainnya, menjadikannya aset berharga dalam pertempuran.
Malam itu, Dyah dan teman-temannya berkumpul di restoran penginapan. Ketika mereka duduk bersama, Dyah mulai menceritakan pertemuannya dengan Penta.
"Teman-teman, aku baru saja bertemu dengan seorang anak laki-laki bernama Penta yang membutuhkan bantuan kita. Dia ingin pergi ke Alas Warihing untuk mencari getah Pohon Raksasa yang diyakini bisa menyembuhkan penyakit kakeknya. Penta meminta kita untuk mengawal dan melindunginya selama perjalanan ke sana."
Rani membalas Dyah. "Alas Warihing? Kita semua tahu betapa berbahayanya tempat itu, selain banyak monster yang kuat juga ada Anantaboga, naga yang sudah hidup menjaga hutan itu berpuluh ribu tahun lamanya. Dyah, kita tidak bisa begitu saja membantu anak itu. Kita punya tanggung jawab pada diri kita sendiri dan party ini."
Rakryan membenarkan perkataan Rani. "Benar, Dyah. Aku tahu kau punya hati yang baik, tapi kita harus realistis. Bahkan petualang Sanghyang sekalipun berpikir dua kali sebelum masuk ke Alas Warihing."
Rani mengikuti perkataan Rakryan. "Aku setuju dengan Rakryan. Dyah, kita harus mempertimbangkan keselamatan kita juga. Apakah benar-benar layak untuk menempatkan diri kita dalam bahaya yang begitu besar hanya untuk membantu anak itu?"
Dyah meyakinkan kedua temannya itu. "Tapi teman-teman, Penta benar-benar membutuhkan kita. Bayangkan jika itu adalah keluarga kita yang sedang menderita. Kita harus membantu!"
"Dyah, aku mengerti perasaanmu, tetapi kita harus memikirkan keselamatan kita juga. Alas Warihing sangat berbahaya, kita tidak bisa mengorbankan hidup kita demi satu orang." Rani mempertegas perkataannya.
Rakryan, dengan nada keras. "Kau tahu Dyah, aku cukup yakin kita semua tahu bahayanya Alas Warihing. Kita sudah membahas ini sebelumnya, dan kita telah memutuskan untuk tidak pernah melangkah ke sana."
Rani melanjutkan. "Rakryan benar, kita sudah pernah membahas ini sebelumnya. Resikonya terlalu besar, Dyah. Kita harus bijaksana dalam mengambil keputusan."
Karang, yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara. "Aku juga setuju dengan teman-teman. Alas Warihing memang terlalu berbahaya, Dyah. Aku tahu kamu ingin membantu, tapi kita harus menyadari batasan kita."
Dyah dengan nada sedih, mencoba meyakinkan teman-temannya itu. "Aku tahu risikonya, teman-teman, tetapi aku merasa terpanggil untuk membantu Penta. Kita tidak bisa membiarkan seorang anak melakukannya sendiri. Aku mohon, pertimbangkan kembali."
"Dyah, aku tahu kau sangat peduli, tetapi kita harus memikirkan keselamatan kita. Memang sulit, tetapi kita harus belajar untuk mengatakan tidak." Rani mencoba meyakinkan.
Dyah semakin putus asa dan memohon sekali lagi. "Teman-teman, aku sangat memohon pada kalian. Aku tidak bisa melihat Penta menderita begitu saja. Aku tahu kita bisa melakukannya jika kita bersama. Aku yakin kita akan berhasil."
Rakryan, dengan nada keras sekali lagi. "Dyah, cukup! Kita semua tahu betapa berbahayanya Alas Warihing. Kita tidak bisa begitu saja mengorbankan hidup kita demi satu orang!" mengatakan hal sama dengan Rani, mungkin ada sesuatu di antara mereka.
__ADS_1
Karang kembali berbicara. "Rani benar. Dyah, kita harus belajar untuk menerima bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa kita bantu, meskipun kita sangat ingin melakukannya."
Dyah, dengan tegas dan penuh tekad, meyakinkan teman-temannya dengan memberi satu syarat. "Baik, jika begitu, aku akan memberikan janji kepada kalian. Aku tidak akan meninggalkan party ini sampai kapanpun, asalkan kalian mau membantu Penta kali ini."
Keempat temannya terdiam, menimbang-nimbang janji yang baru saja diberikan Dyah.
Mereka sadar betapa pentingnya Dyah yang merupakan ketua party demi keberlangsungan party mereka. Dyah bahkan sempat menyampaikan keinginannya kepada mereka untuk pensiun dari kegiatan petualangan. mereka pun berdiskusi terkait hal ini dan pada akhirnya mereka setuju walau terpaksa.
Prabu, yang dari tadi tidak ikut berdialog, pun angkat berbicara. "Baiklah, Dyah. Aku akan ikut, tapi...." Prabu agak ragu. "Aku pikir jika kondisinya berbahaya dan mengancam jiwa kita, kita harus mundur saat itu juga."
Rani setuju dengan Prabu. "Aku setuju dengan Prabu. Aku akan ikut membantu juga, tapi kita harus berjanji untuk menjaga satu sama lain dan selalu mengutamakan keselamatan."
Rakryan, dengan terpaksa. "Baiklah, Dyah. Aku akan ikut, tapi jika situasi menjadi terlalu berbahaya, kita harus bersedia untuk mundur."
Karang juga ikut-ikutan berbicara. "Aku juga akan bergabung, Dyah. Tapi ingat, kita harus bijaksana dan selalu waspada dalam mengambil keputusan."
Mereka adalah party yang sudah cukup berpengalaman. Terutama Dyah, dia merupakan mantan anggota dari Party pahlawan yang mengalahkan raja iblis pada masa itu. Namun Dyah punya sifat baik hati yang selalu membuatnya dalam bahaya. Dengan bantuan teman-temannya saat ini, mereka selalu berhasil mengatasi bahaya itu, sehingga party mereka berada di tingkat yang cukup kuat di negeri itu. Mereka pun sadar betapa bahaya-nya Alas Warihing dan sebagai party mereka sudah membuat keputusan tidak akan pernah pergi kesana meskipun kerajaan yang meminta. Namun kali ini berbeda. Karena yang membuat permintaan adalah Dyah sendiri dan dia pun memberi syarat yang mungkin tidak bisa ditolak oleh anggota lainnya.
Keesokan harinya, di siang hari yang terik, Party yang disebut Samudaya tersebut pergi ke restoran tempat Dyah dan Penta bertemu. Disana Penta sudah menunggu sambil mengamati orang-orang yang sedang beraktifitas menggunakan sihir dengan wajah kagum.
Dari kejauhan Dyah tersenyum kecil melihat tingkah Penta.
Sesampainya disana, Dyah memberi salam kepada Penta dengan senyum halus di wajahnya.
"Halo, Penta."
"Ehh, Dyah, dan... ?" Penta tampak terkejut dan juga bingung karena Dyah bersama empat orang lainnya.
Dyah menyadarinya dan memberi penjelasan
"Ah, Iyah, ini adalah teman-teman party ku, perkenalkan yang agak kasar ini adalah Rakryan Sanjaya, seorang ksatria pedang."
Rakryan sepontan membalas perkataan Dyah, tapi kemudian memberi salam ke Penta, dengan agak sedikit sombong.
"Apa katamu?..., yah salam kenal, kamu terlihat masih sangat muda yak."
Penta hanya membalas dengan senyum. Dyah pun melanjutkan.
"Ini adalah Prabu Jaya Kusuma, dia memang berbadan besar dan menyeramkan tapi dia lembut kok."
“Hehe, Halo." Prabu hanya memberi salam sambil ketawa kecil.
"Halo." Balas Penta.
Dyah melanjutkan. "Dan ini adalah wanita tercantik di party ini, Rani Darmana seorang penyembuh."
Rani sedikit malu, tapi membalas ucapan Dyah.
"Aku tidak secantik kamu lagi, tapi yahh halo, senang bertemu dengan mu." yang kemudian tersenyum riang kepada Penta.
Dyah mengabaikannya dan melanjutkan. "Dan terakhir adalah Karang Wisesa, seorang pemburu handal, tanpanya party kita mungkin tidak akan ada di tingkat ini."
Karang merasa grogi dengan ucapan Dyah barusan.
"Tidak, tidak, tidak, aku tidak sehebat itu, cuma sedikit, ya sedikit saja. hehe" berbicara demikian sambil mengelus-elus punggung kepalanya dengan tangan kanan, dan wajah menghadap ke Penta.
Penta pun membalas sambil tersenyum ceria.
"Halo, salam kenal teman-teman, terima kasih sudah mau membantuku. Eh tapi kalian kesini karena ingin membantuku kan bukan ingin menolaknya, ma, maaf kalau aku salah." dengan tingkah canggungnya.
Rani menjawab. "Tenang saja Penta, kami kesini untuk membantu mu kok, jadi tenang yak." dengan kedua telapak tangannya diarahkan ke Penta untuk menenangkannya.
Dyah menambahkan "Benar sekali Penta, kamu tidak perlu khawatir soal itu, dan ngomong-ngomong aku belum memperkenalkan siapa diriku yak, jadi sekali lagi. Aku adalah Dyah Gitarja seorang penyihir kelas atas dan juga ketua dari Party ini loh." dengan bangga memperkenalkan dirinya.
Penta tampak terkejut.
"ehh jadi kamu adalah ketua Party?"
Dyah dengan yakin "Benar sekali."
"Ketua yang selalu bikin susah." Rakryan Dengan cepat memotong.
"Benar." Prabu dengan ragu menambahkan menggunakan suara yang kecil.
Dyah dengan usil menjawab Prabu "Eh, Prabu kamu sudah berani yak, apa kamu sudah cukup dewasa untuk men-sarkas aku?"
"Ma, maaf tapi aku cuma mengatakan, benar." Prabu menjawab dengan suara lirih.
Semua pun tertawa bahagia di pertemuan di depan restoran itu, mereka pun melanjutkan pembicaraan tentang pergi ke Alas Warihing di dalam restoran sambil makan siang. Setelah membicarakan tujuan dan keperluan apa saja yang perlu disiapkan mereka pun menentukan waktu keberangkatannya.
Penta tiba-tiba teringat dengan permintaannya di Guild. "Eh, aku baru ingat apa aku perlu membatalkan permintaan di Guild?"
Rakryan menjawab. "Tidak perlu kurasa, lagian tidak ada orang yang cukup bodoh yang mau mengambil misi itu." berbicara dengan nada datar, sambil melirik ke arah ketuanya.
Dyah pun merasa terpanggil. "Loh, Kita ini bodoh dong?" membalas dengan iseng.
“Tidak, hanya kamu." Rakryan membalas sambil menaruh kedua siku tangannya di meja dan menyandarkan dagunya di kedua punggung tangannya.
Dyah membalas. "Terima kasih." sambil tersenyum kepada Rakryan.
"Itu bukan pujian" Rakryan berkata dengan singkat.
Karang pun memotong karena pembicaraan mulai melebar. "Kembali ke topik. jadi kapan kita akan berangkat?"
Sebagai ketua Dyah menjelaskan. "Kurasa dengan semua persiapan ini kita butuh satu minggu untuk bersiap-siap, jadi aku rasa kita bisa berangkat hari senin minggu depan."
Semua anggota mengangguk dengan yakin. Lalu Dyah bertanya kepada Penta untuk memastikan.
"Penta kamu tidak masalahkan?"
Penta membalas dengan tergesa-gesa. "Tentu saja tidak, aku ikut kalian saja, aku tidak tahu apa-apa soal petualangan, jadi aku serahkan semua kepada kalian."
"Oke, sudah ditentukan ya, kita berangkat hari senin minggu depan. Mari kita siapkan semua kebutuhan kita dari sekarang, terutama mental kita, karena kita akan menjelajahi Hutan yang tidak berani dimasuki siapapun loh."
Dyah menjulurkan tangan kanannya ketengah-tengah mereka, anggota lainnya pun menyambut tangan itu, tapi hanya Penta yang diam.
Dyah menoleh ke arah Penta. "Penta ayo kamu juga."
Penta sedikit terkejut ternyata dia juga harus mengikuti yang dilakukan party itu.
"eh, ah, baik." Penta pun menjulurkan tangan kanannya.
Mereka saling menindih telapak tangan mereka di tengah, kemudian Dyah berhitung.
"satu, dua, tiga."
__ADS_1
Mereka semua berteriak "Yaaaaa" dengan keras, kecuali Penta yang hanya diam. mendengar suara keras itu pengunjung seisi restoran menoleh ke arah mereka, seketika Dyah pun sadar dan meminta maaf ke sekeliling.
Ini adalah awal cerita yang masih penuh misteri, Hal apa yang akan mereka hadapi? Rintangan seperti apa yang akan menghalangi mereka? Monster seperti apa yang akan mereka lawan? Di dalam hutan yang sudah memakan banyak korban, mampukah mereka menemukan Pohon Raksasa yang belum pernah dilihat oleh siapapun yang hidup di zaman itu? mampukah Penta menyelamatkan sang kakek dengan mendapatkan Getah Pohon Raksasa? nantikan semua jawaban itu di chapter berikutnya.