Pangawasa Warihing (Penguasa Pohon Raksasa)

Pangawasa Warihing (Penguasa Pohon Raksasa)
Chapter 7 - Pengorbanan


__ADS_3

Seorang wanita dan dua orang pria sedang berjalan di dalam Hutan yang penuh dengan pohon besar.


“Yah, yah, aku juga tidak mengira akan terjebak disini, wkwkwkw.” Sang pahlawan mengatakan itu dengan tawa kerasnya.


“Lagian untuk apa sang Pahlawan pergi ke tempat ini? Ngga mungkinkan kamu juga mengincar getah pohon raksasa kan?” Tanya Rani yang masih heran dengan tingkah Wirayuda itu.


“Yah, yah, tentu saja tidak mungkin, wkwkwk.” Jawab sang Pahlawan dengan tawa kerasnya lagi.


Rani menyipitkan matanya sambil memberikan tatapan curiga pada sang Pahlawan dan bertanya. “Lalu untuk apa kamu kesini?”


“Akuh?” Sang pahlawan menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. “Yah, yah, aku hanya ingin melihat hutan ini, hehehe.” kali ini dengan tawanya yang ragu-ragu.


“Memang apa yang bisa di lihat dari hutan ini?” Rani masih melototi sang pahlawan dengan mata yang disipitkan.


“Yah, yah, banyak sekali, contohnya pohon besar ini, bukannya pohon-pohon ini keren, wkwkwk.” Sang Pahlawan kembali tertawa keras sambil menepuk-nepuk batang sebuah pohon dengan telapak tangan kanannya.


“Tuan Wira, anda tidak mungkin mencari Getah Pohon Raksasa kan?” Tanya Prabu, yang sudah bisa berjalan dengan normal.


“Haa.” Sang Pahlawan terdiam sebentar lalu melanjutkan. ”Yah, yah, untuk apa aku mencari hal yang hanya mitos. Wkwkwkwk.”


Apa dia selalu tertawa saat berbicara. Pikir Prabu.


Rani mengerutkan alisnya, sepertinya dia semakin curiga. “Kamu tidak mengincar keabadian kan?”


“Hah” Sang Pahlawan terdiam sesaat lagi, lalu melanjutkan. “Yah, yah, untuk apa? Aku ini sudah sangat kuat. Justru aku ragu ada orang yang bisa membunuh ku.” mengatakan itu dengan sombong, sambil membusungkan dadanya.


Rani mulai sedikit percaya. “Benar juga, untuk apa Tuan Pahlawan ingin mendapatkan keabadian itu pasti sangat menyiksa jika tidak bisa mati. Memangnya kebahagian apa yang bisa dia dapatkan dari kehidupan seperti itu.”


Mendengar itu Sang Pahlawan segera merespon. “Yah, yah, benar, siapa orang bodoh yang mau hidup abadi, memangnya dia pikir dengan hanya bermain dengan wanita dari berbagai zaman akan membuatnya bahagia, bodoh sekali.”


Mata Rani tertuju pada sang Pahlawan dengan rasa penuh jiji, Sementara Prabu hanya tertawa geli.


“Ehh.” Sang Pahlawan tersadar oleh tatapan itu, dia tahu, dia telah mengungkapkan rahasianya.


“Sulit dipercaya kalau orang ini adalah Pahlawan di benua ini.” Kata Rani penuh jijik.


“Tidak, tidak, kamu salah dengar. Itu maksudku, orang lain, yah, yah, orang lain.” Balas sang Pahlawan.


Rani tidak peduli dengan ucapannya, dia justru membuat jarak yang lebih lebar dari Pahlawan yang berpenampilan seperti petualang tingkat Murid dengan pedang pusaka menggantung di pinggang kirinya.


Melihat aksi Rani, sang Pahlawan hanya bisa tertunduk lemas.


Mereka melanjutkan perjalan, untuk mencari anggota party Rani dan Prabu.


Yang memimpin jalan adalah Prabu, sementara Pahlawan Wirayuda mengawasi sisi belakang. Rani berjalan di tengah dari mereka berdua, tapi jaraknya lebih dekat dengan Prabu.


Pahlawan yang melihat sikap Rani kini, hanya bisa pasrah.


“Yah, yah, jadi kenapa kalian kesini, apa juga ingin mengincar Getah itu?” Tanya Pahlawan dengan suara keras, karena jarak mereka yang agak jauh.


“Kami disini mengawal seorang anak yang ingin mendapatkan Getah itu, untuk kakeknya.” Jawab Rani, tanpa menoleh ke sang Pahlawan.


Pahlawan tampak sedikit terkejut, meletakkan jarinya di bibirnya, lalu bergumam. “Yah, yah, Apa sih kakek itu juga ingin bermain dengan wanita dari berbagai zaman?”


“Itu hanya kamu yang berpikir seperti itu.” Jawab Rani, dengan kesal.


“Yah, yah, kok dia bisa dengar?” Pahlawan heran dengan kemampuan pendengaran Rani.


“Kakeknya Penta menderita sebuah penyakit yang langka, jadi dia berniat untuk mendapatkan Getah itu untuk menyembuhkan kakeknya.” Kata Rani lagi dengan sedikit judes,


“yah, yah, begituh rupanya.” Sang pahlawan merasa tercerahkan.


Rani yang saat ini sedikit melirik ke arah pahlawan hanya bisa menghela nafas melihat tingkah nya itu dan menggeleng-geleng kan kepalanya.


—-

__ADS_1


Sebuah gelombang air melingkar di atas kepala Dyah. Dengan sangat cepat sebuah benda keluar dari dalam gelombang itu dan meluncur ke Garuda yang menusuk Karang. Seketika Garuda yang hendak pergi dari hadapan Karang terbelah dua di perutnya.


“Nimbali Pusaka Tombak Samudra.” Itu kata yang diucapkan Dyah saat mengeluarkan tombak yang membelah tubuh kloningan Garuda itu.


Tombak itu adalah sebuah trisula dengan bagian tengah yang lebih panjang sementara sisi-sisi mata tombak melengkung keluar di bagian ujungnya. Di bagian penghubung antara kepala trisula dengan tongkatnya ada sebuah permata berwarna putih menempel. Tongkat pada trisula tersebut berwarna biru laut sampai ke ujung bawah dan terdapat ukiran ular yang melilit tongkat itu. Tongkat itu tampak seperti pusaka yang sangat mahal, atau itu tidak untuk dijual ya.


Tombak itu menancap di tanah setelah membelah makhluk setengah manusia itu. Makhluk itu berubah jadi tanah liat, begitu pula dengan makhluk yang tertusuk di belakang Karang.


Mengetahui itu Garuda yang sedang dilawan Rakryan tiba-tiba menghilang.


Segera Dyah menghampiri Karang sambil membawa sebuah botol yang terbuat dari keramik.


Penta yang melihat kondisi Karang dari jauh, jatuh terduduk karena syok, mukanya sangat pucat.


Rakryan yang sudah lepas dari belenggu Garuda, menggenggam keduanya sangat erat, dia tampak sangat kesal saat ini. “SIALLL, JADI DIA YANG ASLI.” teriaknya penuh amarah.


“Karang minum ini, ayo cepat minum.” Dyah segera mengangkat kepala Karang. “Karang buka mulut mu. Ayolah, walaupun ini tidak bisa menyembuhkan kaki mu, setidaknya ini bisa menghentikan pendarahannya.“ Dyah tampak meneteskan air matanya.


Tapi karang tetap tidak mau membuka mulutnya, Dia justru menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


Karang terbatuk dan memuntahkan darah. Tapi setelah itu di tersenyum lemas. Bibirnya bergerak seperti ingin berbicara.


Dyah yang terus meneteskan air matanya menangkap maksud Karang, dan mendekatkan telinganya ke mulut Karang.


“Te-ri-ma-ka-sih.” Suara lirih dan lemah, tapi terasa begitu lepas, itu adalah kalimat yang di dengar Dyah, dan itu merupakan kalimat terakhir yang Dia dengar dari Karang.


Semakin banyak air mata yang keluar dari mata Dyah. Mengetahui sahabatnya yang sudah tidak bernafas lagi, dia memeluk kepala Karang sambil menangis. “Ahhhhh ,Karangggg, Karangg, ini terlalu .…, kenapa, kenapa, Karanggggg…”


Penta yang melihat Dyah menangis, meneteskan air mata tanpa dia sadari. Ini adalah pertama kalinya Penta melihat Dyah menangis. Yang Penta tahu adalah Dyah yang selalu tertawa, bersenang-senang. tenang, dan tegas. Tapi ini adalah sisi wanita Dyah yang belum pernah Penta lihat.


Namun yang paling membuat Penta syok adalah kematian Karang yang coba melindunginya.


Kenapa, kenapa, kenapa, kamu melindungi aku, apa aku pantas dilindungi? Aku memang menyewa kalian untuk melindungi ku, tapi apa perlu sampai mengorbankan nyawa mu? Untuk apa? Untuk apa aku diselamatkan? Aku hanya menjadi beban, aku tidak bisa melakukan apapun. Aku bahkan bukan petualang.


Rakryan yang masih berdiri di kejauhan menundukan kepalanya, mengepalkan tangannya dengan kuat sambil memegang kedua pedangnya. “Sial, sial, sial.”


Saat mereka bersedih karena kehilangan sahabat mereka, tanpa di sadari sebuah pedang cahaya mencoba menebas Rakryan dari samping. Rakryan yang sadar secepatnya menahan tebasan itu dengan kedua pedangnya, tapi karena dia tidak dalam posisi siaga, Rakryan jadi terlempar cukup jauh dan menghantam pohon dengan sangat keras. Dia memuntahkan darah, mungkin karena hantaman itu.


Garuda itu sepertinya kembali lagi, tapi Garuda yang satu ini berbeda, dia menggunakan baju kulit berbulu hitam. Dan kepalanya tampak sedikit berbeda, tidak sedikit, yang satu ini kepalanya seperti manusia, tapi hanya mulutnya saja yang masih berbentuk paruh. Dan makhluk itu masih tetap bersayap.


Garuda yang lebih seperti manusia itu merubah pedang cahaya yang dia pegang jadi sebuah tombak, lalu melemparnya ke arah Penta yang masih duduk terdiam.


Dyah yang baru saja meletakan kepala Karang dengan hati-hati ke tanah. Sadar jika makhluk itu coba menyerang Penta lagi. Membalikan badannya, saat bersamaan Tombak Samudra yang masih menancap di tanah bergerak ke arah Penta. Menghantam tombak cahaya, kedua mata tombak itu beradu menimbulkan percikan api, kedua benda itu tetap berada pada posisi seperti itu di udara selama beberapa detik. Penta kembali terselamatkan.


Tapi sebenarnya itu adalah rencana Garuda yang berkepala manusia itu, mengalihkan fokus Dyah pada Penta, yang sebenarnya dia incar adalah Dyah. Saat Dyah mengendalikan Tombak Samudra untuk menyelamatkan Penta. Garuda lain terbang dari arah kiri Dyah, mengarahkan pedang cahaya untuk menusuk Dyah dari samping.


Dyah yang merupakan penyihir tidak mungkin untuk menangkis serangan yang cepat itu dengan sihir tanpa persiapan. Terutama saat ini dia tidak dalam posisi siaga.


Dyah menoleh ke arah serangan di kirinya, yakin jika ini adalah akhir dari riwayatnya. Pandangannya jadi gelap seketika.


Sebuah tebasan dari bawah ke atas kanan membelah Garuda yang masih berkepala burung itu.


Sesosok pria yang datang dengan kecepatan kilat menebas Burung setengah manusia itu dengan pedang selebar 10 cm. Tebasannya membuat menghancurkan pohon-pohon di belakang makhluk itu dan membelah tanah sejauh 20 meter.


Melihat sosok itu membuat Dyah membuka matanya lebar-lebar. Sosok yang familiar dengannya kini berada tepat di depannya, menyelamatkannya dari kematian. “Kak Wira!” Dyah berkata dengan mata berkaca-kaca, meski dia habis menangis karena kematian Karang, tapi sepertinya tatapan Dyah kini lebih ke rasa syukur.


“Yah, yah. Kau masih cengeng seperti dulu Gita.” Ucap sang pahlawan.


“Aku, aku …” Dyah kemudian menundukan kepalanya dengan sedih.


“Yah, yah, nanti kita akan bicara. Aku perlu membahas sesuatu dengan sih mulut burung itu.” Sang Pahlawan Wirayuda menoleh ke arah Garuda yang memiliki kepala manusia. Dan dengan kecepatan kilat Wirayuda melesat ke Garuda itu, mengayunkan pedangnya seperti sedang memukul bola baseball.


Saat tebasannya mengenai Garuda itu, sebuah gelombang kejut tercipta, makhluk itu terhempas sejauh, menghatam puluhan pohon di belakangnya. Dan berhenti saat jaraknya sudah sejauh 100 meter dari sang Pahlawan.


Kepulan asap mulai menghilang dari tempat Garuda terhenti. Terlihat sosok yang masih berdiri tegak dengan telapak tangan kanannya mengarah ke depan, menahan serangan dari Wirayuda. Makhluk itu tidak terluka sama sekali meski sudah terhempas sejauh itu.

__ADS_1


Melihat itu Wirayuda menyeringai dengan bibir kanannya, dia terlihat senang, mungkin. “Yah, yah, Mulut burung, kita bertemu lagi. Apa kau ingin melanjutkan permainan ini?”


Sang Garuda terdiam sejenak, lalu dia membuka mulutnya beberapa kali. Seketika dia menghilang. Bersamaan dengan hilangnya Garuda itu, hawa keberadaaan yang ada di sekitar kelompok itu ikut menghilang.


Yah, yah, gileeee, tadi bukannya jumlahnya lebih banyak saat gue sama dia bertarung sebelumnya, gue pikir gue bakal mati, gile, gile. Itu yang digumamkan Wirayuda dalam posisi mengacungkan pedangnya ke arah Garuda yang sudah pergi.


Wirayuda memperhatikan lingkungan sekitar, melihat Rakryan yang terduduk di bawah pohon dengan mata memelototinya, yah, yah, apa salah gue?, lalu melihat Penta yang masih terduduk dengan syok, dan melihat Dyah yang masih menunduk. “Yah, yah, ini cukup merepotkan.” berkata sambil memasukan pedang ke dalam sarung di pinggang kirinya.


Saat Wirayuda berjalan ke arah Dyah, teman-temannya yang lain tiba.


Rani yang langsung melihat kondisi Karang menutup mulutnya dengan kedua tangan, seketika dia meneteskan air mata. “Karang!”


Prabu yang juga melihat kondisi Karang hanya menunduk tanpa bisa berkata apa-apa.


“Yah, yah, cepatlah obati temen-teman mu yang terluka.” Kata Wirayuda kepada Rani yang tidak mempedulikan suasana hatinya.


Meski begitu Rani mengangguk, sepertinya dia mengerti kenapa Sang Pahlawan bersikap seperti itu.


Rani berjalan ke arah Rakryan yang lukanya paling parah di antara yang lainnya.


Prabu menuju ke Penta yang masih terduduk diam. “Penta, kamu baik-baik saja?” tanya Prabu saat sudah di samping Penta dan berjongkok.


Penta hanya terus melihat ke arah Karang dengan tatapan kosong. Dan sepertinya dia tidak sadar kalau ada Prabu di sampingnya yang memanggil.


Prabu juga tidak tahu harus berkata apa dalam kondisi seperti ini. Jadi dia hanya bisa menanyakan kondisi Penta untuk memastikan keadaannya. Sekarang Prabu tahu kondisi Penta sangat buruk, mungkin lebih buruk daripada Dyah yang masih menunduk di dekat tubuh Karang.


Wirayuda mengambil Tombak Samudra yang berada di dekat Penta dan berjalan ke arah Dyah.


“Gita!” Sang Pahlawan menjulurkan tangan kanannya ke arah Dyah sementara tangan kirinya memegang Tombak Samudra. Dan mengatakan. “Kalau kau tidak mengeluarkan tombak ini mungkin sekarang tidak akan bertemu lagi.” itu dengan tatapan yang sangat serius.


Dyah mengangkat kepalanya, memberikan wajah yang penuh duka ke tatapan sang Pahlawan. Air matanya sudah tidak menetes tapi masih membanjiri matanya. Rasa sedihnya yang sangat luar biasa tidak dia sembunyikan dari sosok yang dia kagumi ini. Dia tidak meraihi tangan itu, dan hanya memberikan tatapan sedih kepada Wirayuda.


Wirayuda menghela nafasnya, menaruh tangan kanannya ke atas kepala Dyah dan mengelus-elusnya, Wirayuda berjongkok dan saat mata mereka sejajar, dia berkata dengan senyum yang sangat tulus. “Keluarkan semuanya, lupakan dan bergantunglah padaku.”


Dyah menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis histeris.



Setelah Dyah berhenti menangis, Rani mengobati lukanya. Tidak terjadi percakapan apa-apa di antara mereka. Sepertinya Rani juga tidak berani menanyakan apapun saat ini dan hanya memegangi tangan Dyah.


Sementara itu, Wirayuda sudah selesai membungkus tubuh Karang dengan sihir es.


“Apa yang akan kau lakukan dengan tubuh itu?” Tanya Rakryan yang sudah pulih.


“Yah, yah, Kita akan pergi ke gua.” Jawab Sang Pahlawan.


“Gua?” Tanya Rakryan lagi dengan tatapan serius.


“Yah, yah, Gua, tempat ku bersembunyi, beristirahat disana lebih baik dari pada disini.” Jawab Wirayuda bernada datar.


“Bener juga. Kalau gitu aku akan membawanya.” Balas Rakryan sambil melihat ke arah tubuh Karang yang di balut dengan es.


“Yah, yah, kalau itu maumu baiklah.” Kata Wirayuda enteng.


Yah, yah, padahal gue mau bawa pake sihir, itu kan es, mana mungkin w bawa pake tangan, pasti dingin. Tapi ini orang malah mau repot-repot, terserah dia lah. Gumam sih Pahlawan itu dalam hati.


“Yah, yah, semuanya mari kita jalan ke tempat persembunyian rahasia ku. Gita, Penta kalian bisa jalankan? Kalau tidak akan aku lempar kalian langsung kesana.” Wirayuda Mengumumkan hal itu dan lalu bertanya dengan menjengkelkan.


Dyah mengangguk, Penta masih terdiam, tapi sudah berdiri, meski di bantu Prabu.


Rani mengerutkan alisnya dan memelototi sang Pahlawan.


Wirayuda yang sadar tatapan Rani merespon. “Yah, yah, jangan marah begitu, aku hanya bercanda, bercanda, oke.”


Mereka semua pun berjalan ke arah tempat Rani dan Prabu terjatuh, dengan suasana haru yang terasa seperti kabut.

__ADS_1


__ADS_2