
Dari kejauhan terlihat banyak sekali kapal-kapal nelayan yang pergi menuju tengah laut, kapal-kapal itu tampak kecil dibandingkan dengan kapal penumpang yang di naikin oleh Penta dan kelompoknya, walaupun begitu, kapal itu sudah menggunakan batu sihir sebagai mesinnya, terlihat cahaya warna-warni mendorong kapal-kapal itu, sehingga terlihat seperti kapal yang sedang melakukan pertunjukan atraksi.
Sementara di sisi lain dek kapal terlihat rumah-rumah yang mengapung di atas lautan, dengan batu-batu yang disusun dengan rapi sebagai pijakannya, anak-anak berlari di atasnya tapi tidak terjadi goyangan sedikit pun dari batu-batu itu, sepertinya batu-batu itu sekuat tanah pada umumnya.
“Luar biaasaaa, kenapa rumah-rumah itu bisa mengapung?” tanya Penta dengan mata berbinar-binar.
Dyah yang ada disampingnya, menjawab. “Itu karena batu apung yang berasal dari pertambangan di dekat kota itu.”
“Hebat sekali, apa itu juga menggunakan sihir?” tanya Penta lagi.
“Tidak itu hanya batu apung biasa.” Jawab Dyah singkat.
Tiba-tiba Prabu masuk ke tengah percakapan. “Tapi aneh ya walaupun tidak menggunakan sihir batu itu bisa mengapung di atas air begitu, dan lagi, itu sangat kuat”
Mungkin maksud kuat yang Prabu katakan adalah batu itu tidak tenggelam sedikitpun meski menahan beban yang sangat berat seperti rumah dan lainnya.
“Walaupun begitu, batu itu hanya mengapung di kota itu, jika dibawa pergi jauh dari kota itu, batunya hanya akan jadi batu biasa.” dengan tangan melipat di dada Dyah melanjutkan perkataannya.
Memperhatikan Dyah yang menatap kota itu dengan serius, Penta menjawabnya singkat. “Oh Begitu.”
Saat mereka berbincang-bincang di dek, kapten kapal mengumumkan berita melalui pengeras suara di kapal.
“Kepada semua penumpang, kita akan segera sampai di tujuan, diharapkan bagi para penumpang yang belum merapikan bawaanya segera menyiapkan diri, dan segera setelah kapal berlabuh di dermaga kalian diizinkan turun melalui pintu yang berada di sebelah kanan kapal.”
Terompet kapal pun berbunyi sebanyak tiga kali, menandakan kapal sudah sampai di dermaga, para penumpang turun dengan rapi dari kapal tersebut.
Hari tampak sudah sore saat kelompok party tersebut keluar dari pelabuhan. Walaupun di bilang keluar pelabuhan, sebenarnya tempat mereka berdiri masih tetap di pinggir dan di atas laut.
“Huahh, sudah sore ternyata.” Rakryan menguap sambil mengangkat tangan kanannya keatas dan tangan kirinya memegang siku tanya kanannya.
Dyan sebagai ketua party memutuskan. “Karena sudah mau malam, kita akan mencari penginapan dulu disini dan melanjutkan perjalanan besok, dan sebaiknya malam ini kita juga mencari informasi bagaimana cara pergi ke Alas Warihing dari kota ini.” yang kemudian menatap Karang untuk memberi isyarat.
Karang membalas dengan ngenggan. “Baiklah.”
Karang yang merupakan seorang pemburu memang mempunyai tugas untuk memburu informasi bukannya hanya memburu mangsa di dalam party tersebut.
Anggota party lainnya tertawa kecil saat melihat ekspresi Karang yang terpaksa, mereka tahu Karang paling malas disuruh mencari informasi jika sudah larut seperti ini.
Tiba-tiba. “Tolooong-tolong-tolooong”. Terdengar suara teriakan minta tolong dari arah pemukiman.
Saat Penta menengok ke arah suara itu, wuss, angin berhembus dari sisi kiri badannya. Dan tampak Rakyan sudah berlari beberapa meter di depan.
Rakyan menarik satu pedang yang disilangkan di punggungnya sambil berlari kencang, kemudian melompat, terbang di atas para warga yang berlari, dan turun sambil menebas leher seekor makhluk yang tampak seperti anak kecil, lehernya terpotong begitu saja dalam sekali tebasan.
Melihat hal itu dua ekor makhluk yang tersisa membalikan badan dan kabur dengan luar biasa cepat juga, mungkin secepat Rakyan barusan.
Rakyan berlari mengejar makhluk itu, tapi tampaknya jaraknya terlalu jauh untuk menebas, Rakryan pun melempar pedang yang di pegangnya ke arah salah satu makhluk itu. Seketika makhluk yang berada di belakang makhluk satunya tertusuk di dada oleh pedang itu.
“Geni nesu, paringi kekuwatan marang aku sing ringkih.” tiba-tiba Dyah lafalkan kata-kata, membuat garis cahaya berbentuk pentagon dengan tangan kanannya dan mendorongnya dengan telapak tangan. “Bola Api.” Sekumpulan api berbentuk bola terbentuk di depan garis cahaya itu dan meluncur dengan luar biasa cepat dan mengenai satu makhluk yang tersisa.
Dalam sekejap makhluk itu terbakar habis oleh bola api yang mengenainya dan menjadi hitam.
Semuanya berlalu begitu cepat dan tidak sempat untuk Penta berpikir sebenarnya apa yang terjadi. Baru setelah semuanya selesai Penta berkata. “Apa yang terjadi?”
Karang coba menjelaskan. “Sepertinya ada 3 monster yang masuk ke kota.” dengan menaruh kedua tangannya di pinggang.
Dari kejauhan terdengar suara gemericik dari besi yang saling bergesekan, ternyata itu adalah sekelompok tentara yang berpakain besi, berlari menuju arah 3 monster yang tergeletak.
Salah satu tentara berbicara. “Apakah kalian telah mengalahkan mereka?” sambil terengah-engah.
Rakyan berbicara dengan tegas. “Dimana kapten kalian? Aku ingin berbicara dengannya terkait ini.”
__ADS_1
Tentara itu heran. “Hah? Kapten? Kenapa kau ingin berbicara dengan kapten? Memangnya kau ini siapa?”
Dyah yang berjalan mendekat, kemudian berbicara dari belakang Rakyan dengan suara lantang. “Kami adalah petualang tingkat Rajendra. Aku ingin bertanya apa yang terjadi, kenapa tiga goblin ini bisa sampai masuk kesini. Seharusnya jika memang ada serangan dari para monster aku bisa melihat keributan dimana-mana, tapi sepertinya kalian semua hanya fokus berlari menuju kesini. Jadi aku ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.”
Tentara yang tadinya sombong menjadi gugup. “Ha, Rajendra, ehh, maafkan atas kesombonganku, jika kalian ingin bertemu kapten dia ada di gerbang bersama beberapa tentara lainnya.”
“Oh, begitu, baiklah.” Dyah berbicara singkat kepada tentara itu, lalu membalikan badan menghadap anggota partynya. “Aku akan menemui sang kapten, kalian pergilah ke penginapan terlebih dahulu. Aku akan menyusul setelah melakukan sesuatu kepada kapten itu.” berbicara dengan nada kesal.
“Oh, iya, Karang tolong yaa.” Dyah pergi sambil memberi kiss bye kepada Karang.
Karang pun membuang mukanya. Nampaknya ini cukup sering terjadi, tetapi anggota lainnya tetap tersenyum melihat itu.
Sesampainya Dyah di depan gerbang dan menghampiri pria yang berdiri dengan pakaian tentara yang cukup mewah, dan berbeda dari tentara lainnya.
“Siapa kau, ada perlu apa kesini?”. Tanya Kapten sombong.
Dyah memberikan senyum manis namun tampak agak kesal, lalu menjawab. “Aku Dyah Gitarja petualang tingkat Rajendra.”
Kapten terkejut. “Eh, Rajendra. Maaf, tapi sedang apa petualang Rajendra disini?”
Nampaknya tingkatan Rajendra cukup di hormati di negeri itu.
Merespon itu, Dyah menaruh tangga kanannya di pinggang, seolah ingin mengintimidasi sang Kapten, dan berkata. “Aku ingin bertanya, kenapa tiga goblin tadi bisa masuk ke kota, padahal jika dilihat disini ada banyak tentara, tidak mungkin kan para tentara sengaja membiarkan para goblin masuk?”. Sambil menatap sang kapten serius.
“Ten, tentu. Saja. tidak mungkin, hehe.” jawab kapten gagap.
“Lalu kenapa mereka bisa masuk?” Dyah melototi sang kapten.
Kapten melirik kekanan kiri seolah mencari jawaban yang masuk akal. Setelah beberapa detik kapten menjawab. “Se, se, sebenarnyaaa. Tadi itu. Itu. ada tentara yang tertidur. Sa, saat menjaga gerbang.”
“Oh gitu, ternyata kapten disini sangat baik hati, membiarkan semua tentaranya tertidur saat menjaga gerbang.” Balas Dyah dengan sedikit kesal sambil terus memelototi sang kapten.
Dyah mengetahui hal itu dan yakin pasti ada sesuatu hal yang buruk yang dilakukan sang kapten sampai bisa ada goblin yang bisa masuk.
“MAAF.” Ucap sang kapten sambil membungkuk. “Aku telah lalai menjalankan tugasku.”
“Oh, lalu?” Dyah masih dengan tatapan mengintimidasi kepada sang kapten.
Kapten pun sadar jika dia masih dipelototi oleh penyihir kelas atas itu. “Aku menyuruh semua anak buah ku yang menjaga gerbang, untuk mengambil beberapa karung biji kopi yang baru sampai di pelabuhan, dan karena aku pikir tidak akan ada monster yang datang maka aku meninggal gerbang tanpa penjagaan.” Jawabnya cepat.
Dyah yang menjadi agak sedikit melunak dari nada suaranya, bertanya lagi. “Memang kemana anak buahmu yang lain?”
“Mereka pulang untuk istirahat!” Kata sang kapten.
“Baiklah, aku paham, nanti akan aku laporkan pada ksatria kerajaan.” Dyah menurunkan tangan kanannya dan bergegas untuk pergi.
Sang kapten tiba-tiba menarik tangan kanan Dyah. “Kumohon jangan, aku sangat menyesal, aku berjanji tidak akan mengulanginya kembali.” Ucap kapten memohon.
Dyah menoleh lagi ke arah kapten. “Kalau kau memang menyesal minta maaf lah kepada para warga, bukan aku.”
“Baik akan aku lakukan, jadi aku mohon!” Tegas Kapten, masih membungkuk sambil menarik tangan Dyah.
Dyah menarik kedua tangan kapten dengan tangan kiri untuk melepaskan genggaman tangan-tangan itu dari tangan kanannya. “Baiklah, aku tunggu janji mu.”
Dyah pergi, dengan langkah tegas, seperti atasan habis memarahi bawahannya. Kapten yang masih membungkuk berteriak. “TERIMA KASIH!!”.
Para tentara yang ada disana hanya bisa melihat dalam diam, mungkin ini baru pertama kalinya bagi mereka melihat kapten mereka dimarahi oleh seorang petualang.
Ternyata benar tingkatan Rajendra itu punya posisi yang sama dengan ksatria kerajaan, apa kira-kira aku bisa mencapa itu? Apa aku berganti profesi jadi petualang saja ya? Pikir salah satu tentara yang berdiri disana.
Dyah sampai di restoran penginapan teman-temannya menginap.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?”. Tanya Rakyan.
“Sih kapten itu, membiarkan gerbangnya kosong tanpa penjagaan.” Jawab Dyah dengan cemberut.
Rakyan menggeleng-geleng kepala.
“Sudahlah, lagian semua aman dan tidak ada yang terluka.” Ucap Rani menenangkan.
Dyah tersenyum senang sambil menempelkan kedua telapak tangannya dan menaruh punggung tangan kanannya di pipi kiri, berkata. “Ahh, akhirnya bisa makan daging lagi.”
“Aku rasa setelah perjalan panjang kita perlu mengisi perut kita dengan daging yang lezat.” Ucap Penta sambil tersenyum.
“Berterima kasih-lah, Penta sudah mau mengeluarkan uang simpanannya untuk membeli ini semua. Dan jangan makan terlalu banyak nanti kau sakit perut.” Kata Karang dengan sinis.
“Benar, seharusnya tidak perlu membeli ini semua, cukup makan sayur dan ikan saja.” terdengar suara lembut dari Prabu.
“Terima kasih, Penta, kamu benar-benar anak yang baik. Karang dan Prabu sebaiknya tidak perlu makan huf.” Dyah mengambil satu potong daging bersama tulangnya dari atas meja, dan memakannya dengan lahap.
Saat mulut Dyah penuh makanan, dia berbicara. “Oia ara bamana caria ioasina?”.
“Telen dulu makananmu.” kata Karang lalu mengunyah daging yang tadi ada di garpunya dan melanjutkan. “Yah aku sudah dapat beberapa informasi.” Tampaknya hanya Karang yang paham apa yang diucapkan Dyah.
Penta menatap Karang dengan kagum, Rani dan Prabu tertawa kecil melihat itu.
Setelah meminum seteguk Bir di mejanya, Karang melanjutkan. “Untuk sampai ke Alas Warihing ada dua cara yang bisa di tempuh, satu naik mobil sihir melewati tol lintas kota dan turun di rest area terdekat dengan Alas Warihing, kemudian kita harus jalan kaki sekitar dua hari kesana, atau kita berjalan kaki dari sini dan sampai dalam waktu tiga hari. Kalau kalian tanya aku, aku mengusulkan untuk pergi dengan jalan kaki saja, jika naik mobil sihir selain biayanya lebih mahal, perbedaan waktunya juga tidak banyak.”
Dyah mendengarkan dengan hikmat sambil mengunyah dagingnya dengan asyik.
“Apa kita tidak bisa menyewa mobil sihir langsung kesana saja?” Tanya Rani mengusulkan.
Karang menjawab. “Tidak ada yang mau, aku sudah tanyakan kepada beberapa orang, mereka bilang resikonya terlalu besar untuk berkendara di luar jalan yang telah di buat.”
“Benar juga sih, kalau berjalan di luar jalan yang tidak ada pelindung sihirnya sangat berbahaya, pasti akan di serang oleh monster.” Tambah Rani seperti menjelaskan sesuatu.
“Bukan itu masalahnya, kita yang jarang kesini mungkin tidak tahu, tapi bagi mereka yang sudah lama tinggal disini sudah pada tahu, jika pergi ke Alas Warihing sama saja mengantar nyawa.” Karang coba memperjelas.
Rakyan memotong. “Kalau itu kita semua sudah tahu!”
Karang menghela napas. “Bukan itu yang aku maksud, mereka bilang kalau dari sini tidak akan kelihatan, tapi, jika kamu sudah berjalan setengah hari dari rest area terdekat dengan Alas Warihing, kamu akan merasakan kabut tipis-tipis dan mulai terus berjalan tanpa sadar, seolah-olah kamu tidak sadar bahwa sebenarnya kamu sudah sampai di Alas Warihing, jadi jika tidak hati-hati kamu sudah pasti masuk ke Alas Warihing tanpa disadari walaupun sebenarnya kamu tidak ingin kesana.”
Rani bertanya. “Oh, Jadi mereka sudah pernah kesana? Tapi kok mereka bisa kembali?”
“Tidak. Mereka tidak pernah dan tidak pernah ingin, mereka bilang. Mereka dapat info itu dari beberapa petualang yang melakukan uji coba pergi kesana, dengan mengikatkan tali yang panjang kepada salah satu temannya dan menyuruhnya masuk ke Alas Warihing, dan menariknya kembali setelah beberapa saat. Sebenarnya ada beberapa orang yang menghilang dari percobaan itu, tapi ada juga yang berhasil ditarik kembali. Dan cerita itu berasal dari mereka yang berhasil ditarik kembali.” Jelas Karang panjang lebar.
Prabu dan Rani menggigil. Dyah masih makan dengan lahap, Rakyan terlihat tak acuh, Penta mungkin sedang merenungkan sesuatu.
Dyah menyadari kekhawatiran Penta. “Tenang saja Penta, kita pasti bisa kembali, percaya padaku.”
Penta tersenyum kecil mendengar itu. Sementara Rakyan, tertawa kecil seperti tidak yakin, lalu berdiri dan berjalan keluar restoran.
“Kemana Rakyan pergi?” Tanya Penta.
Karang menjawab. “Biarkan saja, dia selalu punya urusan saat seperti ini.”
Dyah melempar tulang dari daging yang dia makan ke dalam mangkuk yang ada di atas meja, dan “Buk” suara hantaman kedua telapak tangannya ke meja terdengar cukup kuat hingga membuat beberapa orang di restoran menoleh.
Dyah mengabaikannya dan berbicara. “Baiklah, sudah diputuskan, besok subuh kita akan berangkat jalan kaki ke Alas Warihing. Jadi ayo kita lanjut makan.”
Karang tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rani dan Prabu hanya tersenyum cerah.
“Baik.” Hanya Penta yang menjawab dengan tegas.
__ADS_1