
“Aaaahh, sakit, aww punggungku.” Seorang wanita merintih kesakitan.
“AWWWW, sakit, sakit, Rani, bisa kamu turun dari badan ku, AWWWW.” Prabu berteriak kesakitan.
“Wohh Prabu maaf.” Rani yang tadi jatuh tepat di atas tubuh Prabu segera turun.
“AWWWW, hati, hati, AWWW Rani hati, hati, Kaki, kaki, Aw, aw, aw, kaki sakit sekali.” Prabu merintih sangat kesakitan saat Rani tidak sengaja menginjak kaki kanan Prabu.
Rani yang sudah turun dari badan Prabu tapi masih sedikit kesakitan. “M,Maaf Prabu, kamu tidak apa-apa?”
“Iniiii, sakit. Sekaaaali, kaki ku, kaki kanan ku, sepertinya. patah.” Jawab Prabu dengan rintihan yang sangat menyakitkan untuk di pandang.
Suasana tempat itu cukup gelap. Tapi dari pinggiran tempat itu ada semacam cahaya yang cukup untuk menerangi tempat itu walau remang-remang. Jika di lihat secara seksama cahaya itu seperti berasal dari bunga yang tumbuh di pinggir tempat itu.
Bunganya seperti bunga lili, walaupun bunga itu mekar tapi mahkotanya merunduk seperti padi yang sudah matang, ditambah lagi benang sari dari bunga itu cukup panjang sehingga menjulur seperti menggantungkan kepala sarinya. Yang paling aneh dari bunga yang kelopaknya transparan itu adalah kepala sarinya yang bercahaya, seperti kristal yang bercahaya.
Karena jumlah bunga yang banyak membuat tempat itu jadi tidak begitu gelap walaupun tidak ada cahaya dari luar.
Rani yang sudah tidak kesakitan bangun dan mulai memeriksa kaki Prabu. “Maaf, Prabu coba aku lihat kakimu.” Rani mengabaikan dimana dia berada dan fokus pada luka Prabu yang membuat Pria berpakaian besi itu sangat kesakitan.
“AWWWWWW.” Teriak rintihan Prabu saat Rani membuka sepatu yang terbuat dari kulit untuk bagian mata kaki kebawah, sementara bagian yang menuputi betisnya terbuat dari besi yang cukup ringan.
Sepatu itu menutupi lutut sampai ujung kakinya Prabu, di lepas perlahan oleh Rani, tapi tetap membuat Prabu teriak kesakitan.
“Ini buruk, sepertinya pergelangan kaki mu bergeser cukup parah, Prabu.” Rani memberitahu Prabu berita yang tidak menyenangkan.
“Begitukah?” Prabu bertanya sambil menahan rasa sakit yang membuatnya meneteskan air mata. “Bisakah kamu menyembuhkannya?”.
“Bisa, tapi aku harus mengembalikan kaki mu ke posisi semula terlebih dahulu.” Jawab Rani sambil menatap Prabu serius.
“Hehe, apa kamu sudah menguasai sihir penghilang rasa sakit?” Sebelum Rani melakukan tindakan yang mengerikan Prabu ingin memastikan apa dia akan merasakan sakit yang luar biasa atau tidak dalam proses pemulihan kakinya.
Rani tersenyum tidak yakin. “Hehe, Belum.” Jawabnya singkat.
Mendengar itu Prabu menelan ludah yang membuat Rani tersenyum lagi, lagi dan lagi. Mungkin Rani ingin menghibur Prabu tapi tampaknya tidak berhasil sama sekali.
“Baiklah, bisa tolong berikan aku kain atau semacamnya.” Saat seperti ini Prabu meminta sesuatu yang sangat dia butuhkan, yaitu kain atau sesuatu yang empuk untuk menahan giginya ketika Rani melakukan proses Penyembuhan yang menyakitkan.
“Sebentar.” Jawab Rani dengan cepat.
Segera Rani mencari sesuatu di dalam tas yang dia bawa untuk di gigit oleh Prabu. Tangan Rani berhenti ngerogoh-rogoh tasnya. Nampaknya Rani sedang berpikir apa yang bisa dia berikan kepada Prabu.
“Prabu.” Rani menyebut nama itu dengan kondisi masih berpikir.
“Iyah.” Prabu menjawab seketika, dengan suara seperti menahan rasa sakit.
Rani dengan cepat melepaskan pandangannya dari dalam tas ke wajah Prabu. “Barang-barang ku sepertinya ikut terjatuh saat kita jatuh ke dalam sini.”
“Hee, jadi?” Prabu hanya merespon singkat karena masih menahan rasa sakit yang amat sangat.
“Kamu bisa menggunakan tas ini kalau mau.” Jawab Rani sambil mengarahkan tasnya ke wajah Prabu.
Wajah Prabu makin pucat, tapi dia tetap memberikan senyuman walaupun itu adalah senyum kesakitan. “Apa itu bersih?” Tanya Prabu dengan ragu-ragu.
“Tentu saja.” Jawab Rani dengan senyum yang sangat lepas.
Tas yang dibawa Rani adalah tas tangan yang biasa dibawa oleh wanita untuk berkencan atau sekedar jalan-jalan di kota kerajaan. Tasnya berdimensi 30cm x 30cm jika diukur bersama dengan pegangannya. Tas itu berwarna merah dan terbuat dari kulit, jika di perhatikan sepertinya itu tas yang mahal.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu kenapa Rani membawa tas yang begitu mencolok saat berpetualang, tapi sepertinya itu sudah menjadi kebiasaannya.
Rani memberikan tasnya kepada Prabu dan membantu Prabu untuk menggigit tas itu. Jika dilihat tas itu terasa seperti cukup keras, tapi setelah Prabu menggigitnya dia menyadari tas itu cukup empuk untuk digigit, rasanya seperti menggigit karet. Pikir Prabu.
“Baiklah, aku mulai ya.” Rani meminta izin kepada Prabu.
Prabu mengangguk perlahan.
Kedua tangan Rani memegang punggung dan telapak kaki Prabu. Sesaat kemudian Rani memutar kaki Prabu yang bergeser ke posisi semula, terdengar seperti suara tulang bergeser cukup keras. Disaat bersamaan seorang pria menjerit sangat keras, tapi karena mulutnya menggigit sebuah tas, suara teriakannya hanya terdengar ******* saja, seperti orang melahirkan.
Setelahnya, Rani dengan cepat membaca mantra sihir penyembuh dan cahaya penyembuh segera menyelimuti kaki Prabu yang baru saja diperbaiki oleh Rani.
Suasana jadi lebih tenang, Prabu terlihat tidak kesakitan lagi.
Saat Rani sibuk memberikan Prabu sihir penyembuh, tiba-tiba ada seseorang dari belakangnya berbicara.
“Halo. Apa kalian baik-baik saja?” Terdengar suara seorang pria dari belakang.
Sontak Rani terkejut dan segera membalikan badan yang kemudian terduduk, membuat pantatnya terbanting ke tanah.
Walaupun kondisi disana tidak begitu terang, tapi wajah orang itu cukup terlihat. Dia mengenakan celana jeans yang sobek di beberapa bagian terutama lutut kanan sobeknya paling besar, jika dilihat lebih seksama itu bukan sobek karena modelnya, tapi seperti habis jatuh entah beberapa kali. Baju berwarna gelap nya juga sudah tampak usang. Di dadanya menempel sebuah pelindung badan yang terbuat dari kulit yang biasa dipakai oleh petualang kelas murid.
“Si-si-siapa, kamu?” Tanya Rani ketakutan dalam posisi duduk.
Pria yang penuh jenggot dan kumis dengan rambut acak-acakan sepanjang sebahu menjawab dengan suara lembut. “Yah, yah, kalian tidak perlu takut, aku bukan musuh kok. Tenang, tenang.”
Rani hanya diam karena terheran dan menatap ke arah Prabu yang masih duduk dan bersandar dengan lemas. Prabu hanya memberinya senyuman lemah, yang bertanda dia tak mungkin melawan saat ini.
Rani kembali menatap pria itu, kali ini dia menatap penuh curiga dan memelototinya.
Pria yang menyadari tatapan penuh kecurigaan itu langsung bersikap. Dia mengangkat kedua tangannya sedada, mengarahkan telapak tangannya ke arah Rani dan melambai ke arah wanita yang sedang duduk sambil membuat sandaran dengan kedua tangannya. “Yah, yah, tenang, tenang, beneran aku bukan musuh kalian.”
Mungkin maksud pria bernama Wirayuda memuji mereka berdua adalah untuk membuat situasi lebih tenang, tapi justru itu membuat Rani makin curiga dan tatapannya makin tajam.
“Pahlawan, apakah kamu pahlawan?” Tanya Prabu dengan suara lemah. Nampaknya dia menyadari itu setelah mendengar nama sang pria.
Rani sontak terkejut dengan pertanyaan itu, langsung mengalihkan pandangannya ke arah Prabu. Prabu hanya membalas dengan senyum lemah.
“Yah, yah, biasanya orang-orang memanggilku seperti itu, tapi aku sebenarnya lebih suka dipanggil nama saja.” sih Pahlawan kembali tersenyum ragu.
Rani yang kembali terkejut, mengalihkan lagi pandangannya ke arah Pahlawan tapi kali ini dengan mata terbuka lebar. Rani benar-benar terkejut dia bisa bertemu pahlawan di sini dan dalam kondisi seperti ini. Rani sepertinya bingung apakah dia harus meminta maaf atau tidak karena bersikap tidak sopan pada Pahlawan yang sudah mengalahkan Raja Iblis di wilayah Nuswantara.
Tiba-tiba Rani menutup hidungnya dengan tangan.
Hal itu membuat sang Pahlawan terkejut, dan ingat ternyata dia belum mandi selama berminggu-minggu. “Yah, yah, sepertinya itu berasal dari ku, aku benar-benar lupa, haha, haha.” masih dengan senyum penuh keraguannya.
Rani hanya diam dan tetap menutup hidungnya, sementara Prabu ingin juga menutup hidungnya tapi karena masih merasa lemas dia terpaksa membiarkan aroma dari makhluk yang hidup di alam liar tanpa mandi itu meresap kedalam paru-parunya, ingin sekali muntah tapi tidak punya tenaga untuk melakukannya, itu yang dia rasakan saat ini.
“Yah, yah, aku akan mandi dulu, jadi silahkan kalian lanjutkan saja kencannya, maaf mengganggu.” tetap dengan senyum ragu-ragunya.
“Kami tidak kencan.” Jawab Rani dan Prabu cepat, tapi suara Prabu lebih pelan, jadi yang terdengar hanya suara Rani yang lebih keras.
Sang Pahlawan meninggalkan mereka berdua, tepat sebelum dia menghilang sang Pahlawan mengatakan sesuatu. “Yah, yah, Kalian tunggu disana ya, nanti aku akan kembali, aku ingin tanya sesuatu kepada kalian. Aku pergi dulu.”
Rani dan Prabu hanya duduk dalam diam.
“Apa dia benar-benar Pahlawan?” Tanya Rani ragu.
__ADS_1
Prabu hanya tersenyum lemah.
Rani kembali melanjutkan penyembuhan Prabu yang masih sedikit kesakitan tapi tidak sesakit di awal.
—-
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Karang bertanya pada Dyah yang masih duduk bersila.
“Kita istirahat disini, sambil menunggu Rakryan bangun, dan biarkan aku memikirkan langkah selanjutnya.” Jawab Dyah.
Mereka berempat saat ini berada di hutan yang penuh dengan pohon-pohon yang sangat besar. Hutan yang disebut Alas Warihing ini terasa cukup angker. Walau sudah tidak ada kabut seperti saat dikejar para Serigala Alas Warihing, namun jarak pandang tetap terbatas karena pohon-pohon itu menutupi area sekitar. Pohon-pohon itu tumbuh tak beraturan dan mempunyai bentuk yang sama persis, tinggi yang sama persis, lebarnya pun sama persis. Siapapun yang masuk kehutan ini sudah sewajarnya tersesat jika tidak membuat tanda untuk jalan yang sudah mereka lalui.
“Sunyi sekali, aku tidak mendengar suara apapun, burung, angin, atau lainnya. Ini yang membuat ku khawatir.” Gumam Karang.
“Apa tidak apa-apa kita tidak mencari mereka?” Tanya Penta.
“Saat seperti ini. Yang paling baik adalah berpikir. Meski pergi mencari mereka, kita juga tidak tahu harus mencari kemana.” Jawab Karang.
“Sebaiknya kalian juga istirahat sekarang. Ini mungkin satu-satunya kesempatan kita bisa istirahat.” Dyah berkata sambil memejamkan matanya.
“Aku akan tetap berjaga. Penta kamu istirahat lah.” Balas Karang tegas.
Penta mengangguk, sementara Dyah tampak sedang fokus dalam posisi bersila seperti sedang bermeditasi.
Saat Penta ingin duduk dia menyadari Rakryan akan bangung, sontak dia menghampiri Rakryan. “Rakryan, kamu sudah bangun?”
Karang melirik ke arah Rakryan di baringkan, sementara Dyah masih tampak bermeditasi.
“Adu-duh. Kepala ku agak pusing.” Ucap Rakryan yang berubah ke posisi duduk dengan memegang kepalanya dengan tangan kanan.
“Apa kamu ingin minum?” Penta menawarkan minum kepada Rakryan.
“Iya, terima kasih.” Rakryan mengambil minuman dari tangan Penta, dan meneguknya beberapa kali. “Bisa jelaskan situasinya.” Pinta Rakryan yang masih belum terlalu sadar.
“A-anu, sepertinya kita sudah sampai di Alas Warihing. Tapi Rani dan Prabu menghilang.” Jawab Penta dengan suara lemah.
“Ini jadi merepotkan.” Balas Rakryan sambil memberikan botol minum kembali ke Penta lalu dia berdiri.
Rakryan melihat ke sekeliling untuk memahami situasinya. Kemudian menatap Dyah yang sedang bermeditasi. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah Karang.
“Karang kamu boleh istirahat, biar aku yang jaga.” Kata Rakryan yang di belakangi Karang.
“Bukannya kamu baru bangun, istirahat saja dulu.” Jawab Karang, tanpa memandang Rakryan.
“Hahh, aku malu mengakuinya, tapi tadi aku hanya tertidur saja. Dan itu adalah tidur ternyenyak yang pernah aku alami sejak menjadi petualang. Jadi aku sudah cukup mengumpulkan tenaga.” Rakryan membalikan badan, berjalan ke arah yang berlawanan dari arah yang diawasi Karang.
“Oh, begitu, baiklah. Aku akan beristirahat sebentar.” Balas Karang yang kemudian berjalan ke arah sebuah pohon dan menyandarkan badannya kesana.
Penta berjalan ke arah Karang untuk bertanya sesuatu. “Apa memang biasanya, Dyah, berpikir dengan bermeditasi?”
“Tidak juga, dia biasanya tidur kalau bilang mau berpikir.” Jawab Karang santai.
“Ehh.” Penta sedikit terkejut dengan kebiasaan Dyah.
“Saat ini dia mungkin sedang mengumpulkan mana nya kembali. Itu yang biasa dilakukan penyihir saat kehabisan mana.” Terang Karang melanjutkan penjelasannya.
“Ohh, pasti merepotkan juga ya, harus mengisi mana seperti itu. Apa tidak ada ramuan yang bisa digunakan untuk memulihkan mana?” Tanya Penta lagi.
__ADS_1
“Sayangnya, tidak ada. Kalau memang sampai ada, pasti penyihir adalah makhluk terkuat di dunia ini.” Jawab Karang yang mulai menutup matanya.
Penta yang bersandar di pohon yang sama dengan Karang, juga menutup matanya untuk beristirahat. “Iya, ya.” responnya sambil memejamkan mata.