Pangawasa Warihing (Penguasa Pohon Raksasa)

Pangawasa Warihing (Penguasa Pohon Raksasa)
Chapter 9 - Harapan Dan Kepercayaan


__ADS_3

“Kakek! Kakek baik-baik saja?” Tanya seorang anak laki-laki bertanya kepada seorang tua yang berbaring di ranjang.


Sang kakek menjawab. “Aku baik-baik saja Penta, kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja.” memberi senyum yang begitu tenang kepada Penta yang menaruh kepalanya di atas badan sang kakek sambil mengelus-elus kepala anak itu.


Di dalam ruangan itu tampak gelap sekali, tanpa ada cahaya selain tempat ranjang itu berada.


“Kakek, aku pasti akan menyelamatkan kakek, jadi kakek aku mohon bertahanlah, aku pasti akan membawakan Getah Pohon Raksasa kepada kakek.” Tangan kakeknya berhenti mengelus kepala Penta saat dia mengatakan itu, dan tangan tua itu jatuh dengan cepat.


Penta yang merasakan kakeknya sudah tidak bergerak lagi, segera menoleh ke arah wajah kakeknya, tapi yang Penta lihat adalah sosok laki-laki yang tidak tampak tua sama sekali.


“Karang?” Penta begitu terkejut dengan wajah yang dia kenal itu, muncul tiba-tiba menggantikan kakeknya yang tidur di ranjang itu.


“Karang, kamu baik-baik saja? Bagaimana kaki… mu?” Penta menoleh ke arah kaki Karang yang tidak diselimuti itu. Penta syok se-ketika melihat pemandangan kedua kaki Karang yang sudah tidak ada.


Dengan wajah yang begitu pucat Penta kembali menatap wajah Karang, wajah yang tadi terlihat begitu segar, kini mulutnya penuh darah dan mata terpejam, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terlihat.


“KARANG!” Penta terbangun dari tidurnya dan berteriak.


Penta yang baru sadar melihat ke sekeliling, disana ada Dyah, Rani, Prabu dan Rakryan yang sedang tidur beralaskan kain yang tampak usang, ,dia teringat saat ini dia sedang berada di dalam gua tempat sang Pahlawan bersembunyi.


Kenapa aku bermimpi seperti itu? Apa aku sudah selemah ini. Pikir Penta dalam hati. Yang kemudian menatap tubuh Karang yang dibungkus es.


Penta berdiri dari tempatnya tidur dan berjalan keluar gua, sepertinya dia ingin mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya yang masih terngiang-ngiang dengan mimpi-nya barusan.


Dia berjalan lurus dari arah pintu masuk gua, tanpa tujuan. Saat melewati sebuah pohon besar. Penta melihat Wirayuda yang sedang bermeditasi.


Merasa tidak ingin mengganggu Wirayuda, Penta memutuskan berjalan ke arah lain.


“Bocah!” Panggil Wirayuda kepada Penta yang baru saja memutar tubuhnya.


“Hah?” Penta yang sedikit terkejut dengan panggilan itu segera membalikan tubuhnya kembali ke arah Wirayuda bermeditasi.


“Kemarilah.” Wirayuda memberi isyarat dengan menepuk tanah di sebelah kirinya agar Penta duduk di sebelahnya.


“Hee, baik.” Jawab Penta yang masih tampak kosong di matanya. Berjalan dan duduk di samping Wirayuda yang tidak memejamkan mata dan hanya melihat ke depan.


“Kamu melihatnya?” Tanya Wirayuda tanpa menoleh ke arah Penta.


Penta yang bingung, menatap Wirayuda, kemudian menggeser kepalanya untuk melihat ke arah yang Wirayuda lihat.


“Hutan?” Tanya Penta.


“Bukan.” Wirayuda menatap ke bawah sedikit kemudian melihat ke wajah Penta.


Penta yang sangat bingung, hanya bisa menatap wajah yang sangat tenang itu tanpa kata apa-apa.


“Harapan.”


Sebuah kata muncul dari mulut Wirayuda membuat kepala Penta miring kesamping.


“Apa kamu melihatnya, sebuah Harapan?” Wirayuda melihat kedepan lagi lalu menatap sesuatu yang dia pegang di tangan kanannya.


“Kalung?” Penta yang juga melihat benda yang di genggam Wirayuda, bertanya heran.


“Medal, ini sebuah medal.” Jawab Wirayuda.


“Medal?” Penta masih tidak mengerti kenapa Wirayuda berkata seperti itu sambil menatap medal itu dengan wajah berseri-seri.


“Saat melihat party ini, dan membawa kalian kesini. Aku pikir, sudah tidak ada harapan lagi, mereka sudah terpecah, tapi…, saat aku melihat senyum Gita, ahh, syukurlah dia belum berubah. Dan saat itu aku yakin harapan itu masih ada.” Curhat Wirayuda kepada Penta.

__ADS_1


“Harapan? masih ada?” Tanya Penta yang benar-benar tidak mengerti apa yang hendak Wirayuda sampaikan.


“Kejadian hari ini, mengingatkan ku, saat aku mendapatkan medal ini.” Terang Wirayuda sambil mendekatkan medal yang dia pegang kepada Penta.


“Itu milik mu?” Tanya Penta saat melihat medal itu lebih dekat.


Sebuah logam yang dibuat melingkar, mungkin terbuat dari tembaga, bentuknya seperti koin, dan terdapat logo Guild Kerajaan di kedua permukaannya. Di tengah-tengahnya ada lubang yang di bentuk dengan rapi berdiameter 2 milimeter sepertinya untuk memasukan tali atau semacam-nya.


“Bukan ini milik seorang petualang yang sangat aku hormati.” Jawab Wirayuda menarik lagi tangan yang memegang medal itu.


“Dulu, sekitar 20 tahun yang lalu, peringkat petualang tidak ditulis dalam kartu pengenal seperti sekarang. Tapi menggunakan medal ini, jika kamu memiliki 7 medal, berarti kamu adalah petualang tingkat Sanghyang, kalau kamu memiliki 1 medal, berarti kamu tingkat murid, dan saat itu aku memiliki 1 medal saja.” Wirayuda tersenyum kepada Penta saat mengatakan bahwa saat itu dia adalah petualang pemula atau tingkat Murid.


“Murid, Tuan Pahlawan juga lemah awalnya?” Saat mengatakan itu Penta menutup mulutnya dengan tangan, dia takut yang dia katakan akan menyinggung Wirayuda.


Wirayuda justru tersenyum dengan perkataan Penta. “Benar, aku benar-benar lemah. Saat itu nyawaku diselamatkan oleh guruku dalam party yang aku ikuti. Beliau juga pemilik medal ini.” Wajah Wirayuda perlahan berubah jadi sedih.


“Begitu, kah? Jangan-jangan.” Penta menyadari sesuatu dari ucapan Wirayuda barusan.


“Benar, beliau sudah tidak ada, saat dia menyelamatkan ku, itulah pertemuan terakhir ku dengannya.” Wirayuda memandang jauh ke dalam hutan.


—-


“Guru, aku mohon bertahanlah, kumohon” Ucap seorang anak laki-laki sambil mengangkat kepala pria dewasa yang berbaring dan berlumuran darah di dadanya. “Guru, bertahanlah sedikit lagi, sebentar lagi kak Panji pasti datang dan membawa ramuan penyembuh.” Anak laki-laki itu terus menangis sambil memeluk kepala Pria yang dia sebut guru.


“Wira” Sang Guru memegang pipi kanan Anak laki-laki itu. “Jadilah kuat, berlatih dan tegar lah, jadi laki-laki yang lebih kuat dari pada aku, jadilah kuat agar tidak perlu menangis lagi, uhuk” Pria itu memuntahkan cukup banyak darah dari mulutnya.


“Guru, sudah, tidak perlu bicara lagi, bertahanlah. Bertahanlah, hiks, hiks.” Tangis anak bernama Wira itu semakin kuat.


Dengan suara lemah sih Pria berkata lagi. “Petualang seharusnya tidak boleh menangis,….” Pria itu berhenti untuk menarik napas yang mulai habis dan melanjutkan perkataannya. ”Kalau petualang menangis, kamu akan membuat mereka yang memberi misi pengawalan kepadamu ketakutan.”


Pria itu menutup matanya dan menjatuhkan tangan yang tadi berada di pipi Anak laki-laki yang masih menangis, sekali lagi dalam kondisi itu, pria tersebut menarik napas dalam-dalam. “Aku percaya, kamu akan jadi lebih kuat, kamu akan melindungi lebih banyak orang daripada aku.” Dengan sekuat tenaga Pria itu memberi motivasi, lalu tersenyum bahagia dan kemudian.


“Guruuuuuuu, tidak, tidak, Guru, tidakkkk. Haaaaaaaa” Sih Anak laki-laki semakin kuat memeluk kepala gurunya.


—-


Dia tidak memperlihatkan wajah sedih, tapi wajah yang tampak bahagia, air mata itu, bukan air mata kesedihan, terasa kuat, terasa sosok yang memiliki keyakinan tak tergoyahkan, sosok itu, itu adalah sosok pahlawan yang di cintai banyak orang. Pikir Penta yang menatap Wirayuda dengan kagum.


“Tapi aku tidak ingin, menyebut apa yang beliau lakukan sebagai pengorbanan.” Wirayuda terdiam sejenak lalu melanjutkan. “Aku tidak ingin itu sampai disebut seperti itu, aku ingin agar itu menjadi harapan dan kepercayaan, apa yang beliau lakukan, menyelamatkan ku, merelakan hidupnya yang berharga, aku ingin itu disebut harapan dan kepercayaan.”


“Harapan dan Kepercayaan?” Penta bingung dengan dua kata itu, yang beberapa kali diucapkan sang Pahlawan.


“Kamu tahu dari mana Harapan itu muncul?” Tanya Wirayuda sembari menoleh ke arah Penta.


Penta menggelengkan kepalanya beberapa kali.


“Dari Kepercayaan, dari Kepercayaan timbul Harapan dan dari Harapan timbul Kepercayaan.” Kata Wirayuda dengan lembut.


“Lalu apa maksudnya? Kenapa Tuan Wira ingin menyebutnya sebagai Harapan dan Kepercayaan, memangnya apa lagi kalau itu bukan disebut sebagai pengorbanan.” Balas Penta yang tidak setuju dengan Wirayuda.


Wirayuda tersenyum kecil. “Kamu benar, memang apa bedanya itu dengan pengorbanan, pada akhirnya yang beliau lakukan adalah mengorbankan dirinya untuk melindungi ku, tidak ada bedanya, benar-benar tidak ada bedanya.” Suara Wirayuda semakin kecil di ujung perkataannya.


Sesaat kemudian suara Wirayuda kembali normal. “Saat aku berpikir seperti itu, ucapan beliau selalu muncul di kepala ku, dan itu menyadarkan ku. Tidak ada satu pun kata-kata terakhirnya bermakna pengorbanan, bahkan senyuman terakhir beliau tidak bisa disebut pengorbanan.”


Wirayuda menghentikan kalimatnya sejenak untuk menarik napas yang cukup panjang. “Oleh karena itu.” Suaranya agak meninggi sekarang. “Aku berlatih, berlatih, berlatih, dan berlatih hingga jadi seperti sekarang. kenapa? Karena biar tidak ada orang yang bisa menyebut itu sebagai pengorbanan, kalau sampai ada yang bilang seperti itu, akan aku balas, itu adalah harapan dan kepercayaannya padaku.”


Penta meneteskan air mata tanpa dia sadari, air mata yang dia keluarkan tidak sedikit, sampai bisa di bilang dia sedang menangis, dengan wajah tanpa ekspresi.


Wirayuda hanya memperhatikan Penta yang seperti itu dengan wajah penuh keyakinan.

__ADS_1


Ketika sadar jika dia mengeluarkan air mata, Penta segera mengusap air matanya dengan tangan kanan sambil berkata. “Memangnya yang dilakukan Karang bisa disebut Harapan dan Kepercayaannya kepadaku?” Penta tidak melepaskan tangannya dari mata yang masih mengeluarkan air itu.


Wirayuda kini menyilangkan kedua tangannya di dada dan melihat ke arah hutan lagi. “Aku tidak tahu, itu bukan aku yang putuskan. Itu kamu yang putuskan, Penta.”


Untuk pertama kalinya sang Pahlawan menyebut nama Penta, mendengar itu Penta menaikan lututnya, melipat kedua tangannya di atas lutut, meletakkan kepala di atas lipatan tangannya untuk menutupi wajahnya.


“Ahhhhhhhhhhhh, Ahhhhhh, Ahhhhhh” Anak laki-laki itu menangis dan berteriak dengan sangat keras.


—-


Penta yang beberapa saat lalu menangis dengan keras kini sudah tenang dan kembali seperti semula. Saat suasana menjadi hening Penta bertanya sesuatu kepada Wirayuda.


“Tuan Wira.” Panggil Penta yang sedang memeluk lututnya.


“Yah.” Jawab Wirayuda yang sedang bermeditasi dengan mata tertutup.


“Bukankah jika harapan itu tidak terwujud, pasti akan menyakitkan?” Tanya Penta.


“Semua tergantung pada dirimu sendiri.” Wirayuda membuka matanya dan melanjutkan kalimatnya. “Kalau harapan itu berasal dari ego mu, pastinya akan menyakitkan, kalau harapan itu berasal dari kepercayaan, kurasa itu tidak akan terlalu menyakitkan saat harapan itu tidak terwujud.” Ucap Wirayuda yang masih dalam posisi meditasi.


“Begitukah?” Penta terdiam sejenak karena ragu-ragu dengan kalimat selanjutnya yang hendak dia ucapkan. “Apa jika aku berharap Karang bisa hidup lagi…., dengan Getah Pohon Raksasa misalnya. Apa harapan seperti itu bodoh?”


Wirayuda yang sedikit terkejut dengan ucapan Penta, menoleh ke arah anak laki-laki tersebut, dengan tatapan seriusnya Wirayuda menjawab. “Itu bodoh. Kalau berpikir bisa menghidupkan orang yang sudah mati, itu bodoh.”


Penta yang terkejut dengan jawaban Wirayuda, matanya melebar melihat tatapan Wirayuda.


Sambil terus menatap Penta, Wirayuda melanjutkan. “Tapi kalau itu adalah harapan, apa itu masalah jika disebut bodoh?” Wirayuda berbalik bertanya kepada Penta.


Penta yang mendengar ucapan yang Wirayuda, mendapat kembali sinar di matanya. Penta menggelengkan kepalanya. “Kurasa aku memang bodoh!” dengan senyum penuh kelegaan anak itu berkata demikian.


Wirayuda yang menyaksikan senyum itu, terbawa suasana dan ikut tersenyum lepas.


“Kurasa aku akan bilang ke Dyah dan lainnya tentang harapan ku ini.” Saat mengatakan itu Penta berdiri.


Penta membalikan badan dan hendak berlari kembali ke gua. Tiba-tiba Wirayuda memanggil.


“Hei, Bocah.” Wirayuda melempar sesuatu yang seperti kalung kepada Penta.


Penta yang terkejut menangkap benda itu dengan kedua tangannya. “Ini?”


“Aku sudah tidak butuh medal itu. Aku berikan itu kepada mu.” Kata Wirayuda.


“Eh. Ah. Baik, Terima kasih.” Penta berlari kembali ke dalam gua seperti seorang anak yang habis mendapat uang jajan dari orang tuanya.


Beberapa saat setelah Penta berlari kembali ke dalam gua, se-sosok pria muncul dari balik pohon. “Yang benar saja, menghidupkan kembali orang yang mati disebut harapan. Kau hanya akan membuat anak itu makin menderita.”


Wirayuda yang sudah menyadari keberadaan pria itu sejak tadi, membalas tanpa memandang pria tersebut. “Mungkin saja.”


Mendengar jawaban singkat itu, pria tersebut menyindir. “Huf, Harapan dari Kepercayaan, konyol sekali.”


Wirayuda yang mendengar sindiran itu, berdiri, menepuk-menepuk celananya untuk membersihkan dari kotoran yang menempel sambil menanyakan sesuatu kepada pria itu. “Apa kau tahu kenapa orang-orang yang berdoa, walaupun doa mereka banyak yang tidak terwujud, tapi mereka tetap melakukannya?”


“Hah, mana aku tahu, kurasa mereka hanya bodoh.” Jawab Pria dengan dua pedang menempel di punggungnya.


“Yah, yah, bodoh, haha, jawaban yang mencerminkan dirimu.” kembali lagi awalan kalimat aneh dari Wirayuda, sepertinya dia sudah kembali ke mode santainya.


Pria itu mendecakkan lidahnya saat mendengar sindiran dari Wirayuda. “Memangnya kau tahu?” berkata dengan nada sedikit keras.


Wirayuda berjalan kembali ke dalam gua, mengangkat tangan kirinya seperti memberi isyarat perpisahan kepada pria tersebut. “Kurasa itu yang namanya harapan dari kepercayaan.”

__ADS_1


Sih Pria yang mendengar itu mengepalkan kedua tangannya dengan kuat dan memukul batang pohon dengan tangan kanannya. Sehingga tercipta kawah berdiameter 30 cm di batang pohon tersebut.


“Sial. Aku pasti akan jadi lebih kuat.” Ucap Pria tersebut.


__ADS_2