
Sebuah Pohon Raksasa berdiri kokoh menjulang ke atas hingga ke langit, ujung dari pohon itu tertutup awan tidak diketahui seberapa tinggi pohon itu, di sekeliling pohon itu hanya ada tanah kosong tanpa pepohonan lain.
Berjarak sekitar 100 meter dari Pohon Raksasa ada barisan pohon-pohon besar berbaris rapi melingkari Pohon Raksasa tersebut.
“Pohon itu seperti Raja di hutan ini.” Ungkap Prabu dengan kagum sambil menoleh ke atas.
Penta yang merasa sangat berdebar-debar melangkahkan kakinya untuk memasuki area dari tanah kosong, sebelum Penta sempat keluar dari barisan pohon-pohon besar, tangan Wirayuda memegang pundak kiri Penta untuk menghentikannya.
“Tunggu.” Wirayuda menahan Penta sambil menatap Pohon Raksasa itu.
Dyah menyipitkan matanya, sepertinya dia sedang coba mempertajam penglihatannya. “Ada sesuatu yang bergerak di belakang pohon itu.”
Wirayuda menyeringai. “Ekor!”.
“Ekor? Ekor apa?” Tanya Dyah kepada Wirayuda.
“Anantaboga!” Jawab Wirayuda dengan senyum yang terlihat sangat puas.
Prabu, Rani, dan Dyah yang mendengar itu langsung menunjukan wajah pucat.
Sementara Rakryan hanya mengepalkan kedua tangannya dengan sekuat tenaga.
Dan Penta, dia terlihat diam dan hanya terus menatap pohon itu.
“Jadi gimana selanjutnya?” Tanya Rani dengan suara seperti berbisik.
“Aku juga tidak tahu, kalau harus melawan makhluk itu, sepertinya kita tidak akan menang.” Dyah yang menjawab itu jadi ikut berbisik.
“Sudah jelas, kalian akan mati dalam waktu singkat jika melawannya.” Wirayuda menimpali dengan wajah yang tampak semakin tidak sabar untuk menyerang makhluk itu. “Kita buat rencana. Sekarang kita mundur dulu.” kata sang Pahlawan yang masih memegang pundak Penta.
—-
Mereka semua berkumpul kembali di dalam hutan, berjarak 200 meter lebih dari area tanah kosong itu. Mereka duduk, membuat lingkaran yang tidak beraturan agar bisa saling melihat wajah satu sama lain.
“Ini gawat, kenapa makhluk itu ada disana.” Ucap Rani sedikit ketakutan.
“Bagaimana kita akan mengambil getahnya?” Prabu bertanya, kepada siapa saja yang bisa menjawab.
“Kak Wira?” Dyah menatap wajah Wirayuda, berharap ada jawaban yang bisa dia berikan.
“Yah, yah, Baiklah. Jadi ini rencananya.” Wirayuda menarik nafas sejenak, sebelum melanjutkan. “Aku akan memancing naga itu, dan saat aku berhasil membawanya menjauh, kalian bergerak ke pohon itu dan ambil getahnya. Setelah itu juga kalian langsung saja, lari ke tempat gua kita bersembunyi.”
“Haa, terus kak Wira gimana?” Tanya Dyah yang mengkhawatirkan Wirayuda jika membiarkan sang Pahlawan bertarung dengan naga itu sendirian.
Meski Wirayuda sangat kuat, dan merupakan pahlawan yang sudah mengalahkan salah satu raja iblis, tapi yang dia akan lawan saat ini adalah naga yang katanya sekuat dewa. Itu yang saat ini Dyah pikirkan.
“Yah, yah, Gitaaa, sejak kapan kamu perlu khawatir padaku!” Jawab Wirayuda dengan yakin.
“Benar juga ya, hehe.” balas Dyah sambil menempel tongkat sihir yang dia pegang ke pipinya dan tertawa kecil.
“Yah, yah, intinya, kalian, khawatirkan saja diri kalian, aku yang akan mengurus naga itu, kalian fokus dengan misi kalian. Mengerti.” Wirayuda berbicara seperti sedang memberi tugas pada murid-muridnya.
Semua anggota mengangguk kecuali Penta dan Rakryan.
Penta sepertinya sedang memikirkan sesuatu, di panggil oleh Dyah namun tidak merespon. Terpaksa Wirayuda berteriak. “Bocahhhh”.
“Ehh.” Penta seketika mengangkat kepalanya dan secara otomatis menatap Dyah yang duduk berhadapan dengannya.
Dyah coba memberi semangat pada Penta dengan mengepalkan kedua tangan dan menariknya ke dada, dan mengucapkan “Ayo.”
Penta yang mendapat dorongan itu mengangguk pelan.
Di sisi lain, Rakryan berdiri tanpa berkata atau memberi isyarat apapun.
Membuat Dyah heran dengan sikapnya. “Rakryan, mau kemana kamu?”
“Kalian lakukan yang di suruh Pahlawan, aku akan berjaga di belakang kalian.” Jawab Rakryan sembari membalikan badan dan berjalan pergi.
“Dia itu kenapa sih.” Dyah menggembungkan pipinya, tidak mengerti dengan sikap Rakryan belakangan ini.
—
Rencana dimulai.
Sang Pahlawan menarik pedang di pinggang kirinya, berjalan sambil mengarahkan ujung pedang ke tanah.
Wirayuda berjalan sangat tenang meski yang akan dia hadapi adalah naga legendaris se-tingkat dewa.
__ADS_1
Saat keluar dari barisan pepohonan, Wirayuda bisa melihat jelas seekor naga yang sangat besar, mungkin 10 kali lebih besar dari badan Wirayuda sendiri.
Naga itu memakai mahkota di kepalanya, memiliki sayap, dan badannya seperti ular yang sangat panjang, tapi memiliki 4 buah kaki. Sedang tidur dengan sangat nyenyak, tapi ekor masih tetap bergerak.
“Cih, lo ini naga atau anjing, tidur masih sambil mengibaskan ekor gituh.” Wirayuda yang berjalan perlahan mempercepat langkah kakinya dan mulai berlari.
Wirayuda melompat saat jaraknya sekitar 20 meter dari kepala naga itu.
“Pembela Lautan.”
Saat Wirayuda mengucapkan nama jurusnya, pedangnya tiba-tiba muncul kabut dan mulai menyelimuti pedang itu dengan es.
Tapi belum sempat tebasan sang pahlawan mendarat ke kepala naga itu, Wirayuda tiba-tiba terlempar ke belakang, dengan kecepatan yang luar biasa dan menghancurkan pepohonan di belakangnya karena hantaman Wirayuda yang terlempar.
Jika yang melihat itu hanya orang biasa, tentu mereka akan mengira Wirayuda, terlempar ke belakang tanpa sebab, atau mereka akan mengira Wirayuda sendiri yang membuat dirinya terlempar seperti itu, mungkin sedang berakting, mereka pasti akan mengatakan itu.
“Kecepatan yang luar biasa. Aku saja yang sudah memperkuat mataku dengan sihir masih tidak bisa melihat gerakan ekornya.” Gumam Dyah yang sedang menyaksikan dari kejauhan, bersama anggota lainnya, kecuali Rakryan.
“Hehe, ekor yang merepotkan. Pasti gue potong ekor itu.” Wirayuda yang baru saja terlempar sejauh 1 km tidak terluka sama sekali, justru dia tampak sangat senang dengan senyum yang lebar.
Wirayuda melayang dari tempat dia berhenti. Menghempaskan kakinya di udara, menciptakan gelombang kejut, terdengar suara tembakan yang sangat keras, sebagai efeknya.
Sang naga membuka matanya, dan berdiri dengan ke empat kakinya. Menahan serangan Wirayuda yang meluncur dengan kecepatan udara menggunakan ekornya, hantaman itu menciptakan ledakan udara yang luar biasa.
Pohon-pohon besar di sana seperti di terjang badai. Membuat anggota party yang menyaksikan dari kejauhan, terpaksa berlindung di balik pohon.
Saat melihat sang Naga berdiri, Wirayuda dengan kecepatan kilat mundur sejauh 500 meter.
Namun hasilnya tidak sesuai yang di harapan Wirayuda, makhluk itu masih belum bergerak dari tempatnya. Awalnya dia berniat memancing Naga itu namun tidak berhasil.
“Hah, kalau memang itu, mau lo” Wirayuda yang sedang melayang di udara sedikit kesal dengan Sang Naga.
“Pembelah Bumi.” Wirayuda mengangkat pedang dengan kedua tangannya ke atas, cahaya berwarna keemasan menyelimuti pedang itu dan terus memanjang hingga ke atas langit, ujung dari pedang cahaya itu tidak terlihat sama sekali, seperti Pohon Raksasa.
Dyah yang sudah memperkuat matanya dengan sihir bisa melihat jarak yang cukup jauh, menyaksikan apa yang dilakukan Wirayuda, mau tidak mau berkomentar. “Sih gila itu, apa dia mau membela bumi ini.”
Semua anggota party yang sedang bersama Dyah, kecuali Penta, terkejut hingga membuka mulut mereka mendengar ucapan itu. Mereka memang tidak bisa melihat secara jelas apa yang dilakukan Wirayuda seperti Dyah, tapi mereka bisa melihat kalau ada garis cahaya yang menjulang sampai ke langit.
Sang Naga yang sadar dengan niatan Wirayuda, dalam sekejap menghilang dari tanah kosong itu dan muncul di hadapan Wirayuda. Dengan cepat mengibaskan ekornya ke arah wajah Wirayuda.
Sesuai rencana yang diharapkan Wirayuda. Makhluk itu sudah meninggalkan Warihing.
Dengan cepat Wirayuda mengucapkan jurus lainnya. “Tele..” Tapi belum selesai Wirayuda mengucapkan nama jurus itu, dia sudah terhempas ke tanah.
Sang Naga dalam sekejap sudah berada di tanah kosong tempat Warihing berdiri.
“Menarik juga kau anak manusia, hahaha.”
“Di-di-dia berbicara.” Rani berkata dengan ekspresi sangat terkejut, melihat sang Naga mengatakan sesuatu.
“Sial, naga busuk itu, bisa menggunakan sihir waktu. Ini jadi lebih merepotkan” Meski berkata seperti itu, wajah sang Pahlawan tidak terlihat seperti merasa kerepotan. Justru dia terlihat tersenyum sangat puas.
Dengan kecepatan kilat Wirayuda melompat ke depan sang Naga. Naga itu merespon dengan tusukan dari ekornya.
Ke kiri,
Ke kanan.
Ke kiri.
Ke kanan.
Berkali-kali naga itu menyerang Wirayuda sampai tidak bisa hitung serangannya, tapi Wirayuda berhasil menangkis semua serangan itu.
“Gimana ini Dyah, Naga itu tidak bergerak sedikitpun dari sana?” Tanya Rani yang khawatir. Berpikir bahkan pahlawan saja kesulitan menghadapinya.
“Iya, naga itu sangat kuat, kalau kita masuk sekarang, itu hanya akan mengganggu pertarungan kak Wira, jadi kita tunggu sampai kesempatan itu datang, aku percaya kak Wira pasti bisa mengelabuinya” Dyah menjawab dengan mata yang terfokus pada pertarungan kedua makhluk super kuat itu.
Ini bener-bener sulit, naga busuk ini bener-bener kuat, harusnya aku yang menyerang, justru aku yang di serang sekarang. Pikir Wirayuda yang hanya bisa menangkis semua serangan sang Naga.
Wirayuda mundur setelah hanya bisa menahan serangan dari Anantaboga.
“Kalau sihir cahaya tidak bisa, bagaimana kalau dengan yang ini.” Gumam sang Pahlawan.
Menggunakan sihir Wirayuda melapisi pedangnya dengan energi hitam, saking gelapnya pedang itu mungkin bisa menyerap cahaya di sekitarnya.
Wirayuda kembali terbang dengan kecepatan kilat ke arah sang Naga.
__ADS_1
Saat Wirayuda ingin menebas Naga itu dengan pedang hitamnya, Sang Naga justru tidak menyerang, melainkan menghindari serangan itu dengan berteleportasi ke samping kanan Wirayuda, lalu mengibaskan ekornya untuk menyerang punggung sang Pahlawan.
Wirayuda yang sadar dengan apa yang akan dilakukan sang Naga, menyeringai dan membalikan badannya dengan cepat untuk menangkis serangan Naga itu.
Belum sempat ekor sang Naga mengenai pedang Wirayuda, naga itu sudah berpindah lagi ke sisi lain dari pohon raksasa.
“Kenapa lo menghindari naga busuk.” Wirayuda kembali maju menyerang sang Naga dengan kecepatan kilat.
“Aku tahu apa yang kau rencanakan, anak manusia.” Jawab sang Naga yang kali ini terus menghindar.
Pertarungan yang saat ini terjadi, bukanlah pertarungan bertukar pukulan, tapi lebih seperti permainan kucing-kucingan dengan kecepatan tinggi, dan mereka hanya mengitari pohon raksasa.
Wirayuda dengan kecepatan kilat mengejar Naga itu untuk menebasnya.
Anantaboga dengan teleportasi menghindari semua serangan sang Pahlawan.
Mereka berdua terus melakukan itu, sampai tidak tahu kapan akan berakhir.
Dyah yang bisa menyaksikan itu dengan jelas, terpaksa berkomentar dengan wajah masam. “Apa sih yang sedang mereka lakukan.”
“Apa lo tidak bisa berhenti menghindar naga busuk.” Wirayuda meminta sambil terus mengejar naga itu.
“Kalau kau berhenti menggunakan pedang hitam itu, aku akan melawanmu dengan jantan.” Jawab sang Naga yang berteleportasi.
Penta yang tidak bisa melihat kecepatan kedua makhluk super cepat itu merasa jika sang Pahlawan sudah berhasil menjauhkan sang Naga dari Pohon Raksasa.
“Naganya sudah tidak ada, ini kesempatan.” Penta melompat keluar dari persembunyian party tersebut dan berlari ke arah Warihing berdiri.
“Haa, Penta, Naganya masih ada di sana, BERHENTI!.” Dyah yang coba menghentikan Penta, tapi sudah terlambat, karena Penta sudah keluar dari barisan pepohonan yang melingkari Warihing.
Sang Naga menyadari ada manusia lain yang berlari menuju Warihing. “Hah, perasaan ini, jangan-jangan anak manusia itu.” Sang Naga bergumam.
Wirayuda bisa mendengar itu, tapi mengabaikannya, coba memberikan lagi tebasan kepada sang Naga dengan pedang hitamnya.
Tapi dengan sekejap sang Naga sudah berada di depan Penta, dan mencoba menusuk Penta dengan ekornya.
Penta yang tidak menyadari itu hanya terus berlari.
“Hah, tidak Penta.” Dyah yang coba mengejar Penta tapi jaraknya tidak memungkinkan untuk menjangkaunya, hanya bisa menjulurkan tangan kanannya berharap bisa menarik anak itu.
Tidak! Penta! Tidak mungkin. Dyah berpikir ini adalah akhir bagi Penta. Dia tidak akan mampu menjangkaunya apa lagi menyelamatkan anak itu.
Disaat momen seperti waktu sedang melambat itu, Wirayuda mengatakan sesuatu. “Kecepatan ilusi dan teleportasi.”
Secara instan Wirayuda sudah berada tepat di depan Penta, menahan serangan sang Naga dengan pedang hitamnya.
“Ah, tidak.” Kata sang Naga yang sudah terlanjur menyentuh pedang hitam Wirayuda, hanya bisa berkata pasrah.
Dengan senyum lebar, Wirayuda menyebutkan nama sebuah jurus. “Lapisan Ruang Kosong”.
Naga itu terserap kedalam pedang hitam itu.
Wirayuda yang merasa sudah menang jadi kurang waspada. Tanpa dia sadari, sebelum Naga itu terserap sepenuhnya, sang Naga menyentuh tangan Wirayuda dengan sayapnya. Mau tidak mau sang Pahlawan ikut terserap bersama pedang miliknya.
Penta yang tidak tahu apa-apa dengan kejadian yang begitu cepat itu hanya bisa berkata. “Ehh, apa yang terjadi?”
“Penta apa yang kamu lakukan, bodoh.” Dyah memeluk Penta dengan sangat erat, rasa khawatirnya membuat Dyah melakukan hal diluar dugaan Penta.
Penta yang tidak paham dengan apa yang terjadi, terkejut dan berkata. “Eh, kenapa? Eh Dyah.” dan wajah Penta menjadi memerah.
“Aku kan sudah bilang tunggu. Kenapa kamu tidak dengar sih, tadi itu nyaris saja tau, kalau kamu kenapa-kenapa gimana?” ucap Dyah yang terdengar seperti sedang menangis sambil memeluk Penta.
Penta mendengar suara Dyah menangis, tersadar, dia telah melakukan kesalahan sangat fatal yang mungkin saja mengancam nyawanya. “Maaf” ucap Penta dengan penuh penyesalan.
“Kalau kamu melakukannya lagi, aku pasti akan menghukum mu, paham?” Dyah melepaskan pelukannya dari Penta dan mengusap air matanya.
“Baik.” Jawab Penta singkat.
“Oke, yang penting sekarang kamu tidak apa-apa.” Dyah dalam sekejap kembali ceria, memanggil ksatria pelindung dan penyihir penyembuh yang dari juga tampak bingung dengan yang terjadi. ”Ayo kita lakukan teman-teman.”
Awalnya Prabu dan Rani juga berfikir jika naga itu sudah pergi bersama sang Pahlawan dan berniat bergerak seperti Penta. Tapi ternyata Penta sudah berlari lebih dulu dan Dyah mencoba menghentikannya, mereka pun langsung mengurungkan niatnya.
Jadi mereka memutuskan, atau lebih tepatnya, tidak tahu apa yang harus dilakukan selain mematung disana.
“Baiklah ayo kita ambil getahnya” Kata Dyah dengan semangat, dan membalikan badan untuk berjalan ke pohon raksasa itu.
Baru saja membalikan badan Dyah sudah dikejutkan dengan hal yang dia lihat berdiri di dekat Warihing dan menyebutkan nama dari sosok tersebut.
__ADS_1
“Raja Garuda.”