Pangawasa Warihing (Penguasa Pohon Raksasa)

Pangawasa Warihing (Penguasa Pohon Raksasa)
Chapter 10 - Keputusan Dari Harapan


__ADS_3

Penta tiba di dalam gua persembunyian mereka, terlihat Rani dan Prabu sedang makan, sementara Dyah sedang bermeditasi. Tapi tidak terlihat ada kehadiran Rakryan.


Rani yang sadar akan kedatangan Penta segera menyambutnya. “Penta, dari mana kamu? Ayo, makan, sini.” sambil menyodorkan semangkuk sup berisi daging.


“Iya.” Jawab Penta tersenyum.


Melihat Penta tersenyum kembali, Rani menyadari bahwa anak itu sudah kembali seperti semula. Dia pun ikut tersenyum.


Sementara Prabu sibuk dengan makanannya dan dengan lahap menikmatinya.


Saat sedang makan, Penta menceritakan harapannya yang dia bicarakan dengan Wirayuda, namun Rani tidak yakin dengan usulan itu.


“Aku tidak yakin itu bisa, aku pikir sebaiknya kita membiarkan Karang istirahat dengan tenang.” yang menghentikan makannya lalu menatap tubuh Karang.


“Begitu ya, aku cuma berharap itu bisa.” kata Penta dengan wajah sedih.


Seorang pria masuk ke dalam gua sambil ikut dalam pembicaraan mereka berdua. “Yah, yah, Tidak ada salahnya kalau kita coba dulu, lagian memang kalian ada tujuan lain saat ini?” Tanya Wirayuda yang berjalan menunduk melewati pintu gua.


“Aku cuma ingin pulang dan menguburkan tubuh karang.” Rani menatap panci cahaya yang melayang di atas sebuah tongkat berapi.


“Yah, yah, memangnya kau tahu jalan pulang?” Tanya Wirayuda dengan tegas.


“Tidak.” Rani menundukan kepalanya menjawab dengan suara pelan.


Suasana di dalam gua itu jadi hening.


Di sisi lain, saat teman-temannya sedang bicara serius Prabu sibuk melahap makanannya.


Apa yang harus aku lakukan, memang benar pilihan yang terbaik adalah mundur, tapi aku juga sangat butuh getah pohon raksasa, lagian memang ada jalan kembali? Kurasa sebaiknya aku sedikit memaksa. Pikir Penta yang kemudian membuka mulutnya kembali,


“A-Anu, i-itu, aku.” Penta tergagap.


Saat Penta berusaha mengatakan sesuatu, Wirayuda memotong dengan suara lantang “Yah, yah, kenapa kita tidak coba usulan bocah itu, meski itu cuma sekedar harapan kosong, kurasa tidak ada salahnya dicoba, sambil kalian mencari jalan keluar tentunya, aku juga akan membantu, lagian juga kita punya tujuan yang sama.”


Rani menatap Wirayuda dengan sinis saat dia mendengar akhir kalimat itu dan berkata “Tujuan yang sama yaaa….”


Wirayuda mencoba mengabaikan tatapan itu dan lanjut berbicara. “Dan, dan,” dengan sedikit tergagap dan awalan yah-yah berubah jadi dan-dan ”ka-kalau soal tubuh pemburu itu kalian tidak perlu khawatir kalian bisa menyimpannya disini, aku jamin tubuhnya akan baik-baik saja disini.”


Rani masih tetap ragu dengan usulan sang Pahlawan, dia merasa semua tidak akan baik-baik saja jika mereka melanjutkan misinya.


“A-a-a-aku, percaya dengan harapan itu, aku-aku percaya kalau Karang bisa hidup kembali.” tiba-tiba Penta berteriak.


Namun itu tidak membuat perubahan di wajah Rani.


“Aku juga ingin percaya dengan harapan itu.” Terdengar suara wanita dari belakang Penta dan Rani. Sontak membuat mereka berdua membalikan badan.


“Tapi Dyah.” Rani masih tetap tidak yakin dengan pilihan itu.


“Aku juga takut, Aku juga ingin pulang, tapi apakah kita tahu jalan pulang, apa pilihan mundur bisa kita ambil sekarang, Kak Wira aja yang sudah bertahun-tahun disini tidak bisa kembali, apa kita bisa?” Dyah mengatakannya dengan yakin.


Ehh, ngga, sebenarnya gue belum nyari jalan pulang dari sini, orang tujuan gue juga belum tercapai, setidaknya gue bisa dapet getah itu kalau ngga bisa memperkuat segel raja apalah itu. Guman Wirayuda dalam hati merespon perkataan Dyah.


“Tapi…” Rani masih ragu dengan ide tersebut.


“A-aku, aku pasti akan mendapatkan Getah Pohon Raksasa dan menyelamatkan karang, dan, dan, juga aku pasti akan melindungi Rani.” Teriak Penta dengan muka sedikit memerah tapi penuh keyakinan ke Rani yang sedikit murung.


“Ehh, me-melindungi ku?” Rani yang sedikit terkejut dengan ucapan Penta sedikit terdorong kebelakang.


Penta yang sedang sangat bersemangat, memajukan lagi kepalanya ke wajah Rani dan me-angguk dua kali.


Rani yang merasa wajah mereka berdua sudah terlalu dekat, memalingkan wajahnya ke kiri, berkata. “Baiklah!” dengan wajah sedikit memerah.


Penta yang baru sadar setelah melihat gerakan Rani, segera mundur dan menunduk kepala dengan wajah yang sangat merah sampai ke leher.


“Heee…” Dyah yang memperhatikan, tersenyum licik.


“Ehem” Wirayuda coba memotong suasana yang sedang memanas itu untuk memastikan sesuatu. “Jadi sudah diputuskan?”

__ADS_1


“Yup, kita akan lanjut mencari Getah Pohon Raksasa.” Jawab Dyah lantang.


Setelah mereka semua selesai makan, mereka bersiap dan membawa barang yang di perlukan termasuk daging yang disimpan Wirayuda di dalem kulkas sihirnya.


Sementara itu, Wirayuda membuat satu lagi kulkas sihir di dinding gua, tapi kali ini bukan untuk menyimpan daging buruan, melainkan untuk mengawetkan tubuh Karang.


—-


Mereka berenam berjalan menyusuri hutan, menandai setiap 10 meter batang pohon yang mereka lalui.


Yang memimpin jalan adalah Rakryan dan yang menjaga di belakang adalah Prabu.


Di tengah mereka berdua ada 2 wanita anggota party Samudaya, seorang Pahlawan, dan seorang anak laki-laki pemberi misi untuk mencari Getah Pohon Raksasa.


Rani yang berjalan di samping Dyah, berusaha menjaga jarak dari Sang Pahlawan.


Wirayuda hanya bisa pasrah melihat tingkah wanita paling muda di kelompok itu. Dan mau tidak mau dia harus berjalan berdampingan dengan Penta saja.


“Tuan Wira, apa kamu bertemu serigala saat masuk ke hutan ini?” Tanya Penta.


“Yah, yah, serigala? Kurasa tidak.” Jawab Wirayuda.


“Ohh, jadi Tuan tidak menghadapi serigala yang muncul di tanah gersang menuju kesini ya.” Ucap Penta memastikan.


“Ohh, yah, yah, aku tidak lewat sana saat kemari.” Wirayuda paham maksud Penta.


“Ehh lalu, lewat mana?” Penta ingin tahu, apa mungkin ada jalan lain kesini.


Wirayuda menunjuk ke atas dengan jari telunjuk kanannya. “Yah, yah, Dari atas.”


Penta mendongak ke atas, merasa heran. Memangnya ada jalan masuk dari atas? Pikir Penta.


“Yah, yah. Aku melompat dari Pesawat Pesiar.” Jelas Wirayuda dengan yakin.


“Oh Pesawat Pesiar ya, ehh?” Penta memperlihatkan wajah terkejut kepada Wirayuda.


Dyah yang melirik mereka berdua, berkata. “Penta tidak tahu banyak soal teknologi saat ini kak Wira.” dengan tawa kecilnya.


Penta mengangguk dengan kuat, mungkin dia merasa sangat senang dengan tawaran itu.


Karena penasaran Penta menanyakan tentang seperti apa Pesawat Pesiar itu.


Wirayuda menjelaskan bahwa itu bukan saja se-jenis pesawat transportasi biasa, pesawat jenis ini dibuat untuk bisa menikmati perjalan udara yang menakjubkan sehingga kecepatannya lebih lambat dari pada pesawat komersil, di semua sisi pesawat dibuat dengan kaca agar penumpang bisa secara langsung melihat pemandangan di sekitar saat pesawat itu terbang. Tentunya pesawat ini menggunakan Kristal sihir agar bisa melayang, dan semua kristal ini di taruh di banyak bagian pada pesawat. Tapi sayangnya biaya untuk naik pesawat jenis ini sangat mahal, jadi tidak sembarangan orang bisa menaiki-nya, bahkan bangsawan pun tidak bisa sering menaiki pesawat ini.



Mereka semua terus berjalan tapi tidak menemukan tanda-tanda melihat pohon raksasa, mungkin karena namanya raksasa, mereka berpikir ini adalah pohon yang lebih besar dari pohon-pohon yang sudah mereka lihat di hutan itu selama ini.


Jam di tangan Dyah sudah menunjukkan pukul 7, itu bukan pukul 7 pagi, karena Dyah yakin sebelum bermeditasi yang dia lihat di jamnya adalah 7 pagi, jadi yang sekarang dia lihat adalah pukul 7 malam.


Namun sulit untuk Dyah memastikan mana yang benar, karena mau malam atau pagi, suasana di hutan itu tidak berubah, cahaya di hutan itu tidak menjadi gelap maupun lebih terang.


Jadi Dyah lebih sering melihat ke jam tangannya untuk memastikan waktu yang sudah berlalu, agar bisa memastikan waktu istirahat yang tepat.


Dyah memutuskan sekarang adalah waktu yang tepat untuk istirahat dan tidur.


Saat sedang makan Dyah bertanya sesuatu, kepada Wirayuda. “Sebenarnya makhluk apa itu, garuda yang berkepala manusia? Aku belum pernah dengar sebelumnya.”


“Yah, yah, mungkin ini cuma pendapat ku saja, sejak pertama bertemu dengannya sampai sekarang, kami sudah beberapa kali bertarung, dan aku tidak melihat ada sosok lain yang memiliki penampilan yang seperti itu, jadi bisa dibilang mulut burung itu cuma ada satu, selain itu semua kepala burung, sangat takut dan menghormati mulut burung itu. Jadi aku rasa dia adalah Raja dari para kepala burung.” Terang Wirayuda sambil menikmati makanannya.


“Raja Garuda, yaaa.” Dyah merenung. “Apa yang harus kita lakukan kalau bertemu dengannya lagi.”


“Yah, yah, tidak perlu khawatir, aku akan melindungi kalian.” respon Wirayuda dengan tenang sambil tetap menikmati makan malamnya.


“Kak Wira memang bisa diandalkan!.” Dyah tersenyum mendengar ucapan Sang Pahlawan itu.


—-

__ADS_1


Saat jam di tangan Dyah menunjukan pukul 5, seorang anak laki-laki di kelompok itu bangun dan pergi arah hutan yang sulit untuk disebutkan arahnya.


Rakryan yang berjaga pada saat itu, menyadari bahwa Penta sudah bangun, dia berpikir Penta mungkin ingin membuang air kecil atau semacamnya, tapi karena khawatir dia memutuskan untuk mengikuti Penta.


Setelah berjalan beberapa lama, Rakryan merasa aneh, kenapa untuk buang air kecil saja harus berjalan sejauh ini. Mungkin jaraknya dengan yang lain saat ini ada sekitar 100 meter, pikir Rakryan.


Saat Penta berhenti di sebuah pohon, Rakryan bersembunyi di salah satu batang pohon. Seharusnya dia tidak perlu melakukan itu, karena dari awal tujuannya hanya untuk menjaga Penta, tapi mungkin karena instingnya,dia merasakan ada kejanggalan, dia secara reflek bersembunyi.


Yang Rakryan lihat saat itu bukan lah Penta yang sedang membuat air kecil, tapi justru anak itu sedang mengerok batang pohon itu dengan sesuatu di tangannya.


Karena penasaran Rakryan mendekati Penta, dan langsung bertanya. “Sedang apa kau disini?”


Penta yang tidak sadar akan kehadiran Rakryan terkejut, sehingga membuatnya sedikit melompat di tempat. “Hah” membalikan badan dengan cepat.


“Ah, hehe, a, a-aku sedang membuat tanda.” Jawab Penta tergagap.


Rakryan menatap serius wajah Penta yang ketakutan. “Lalu, apa maksud mu, apa-nya yang sudah dekat?” dengan tatapan penuh intimidasi itu memberikan kesan seolah, apakah kamu seorang pencuri yang sedang menyamar.


Ahh, dia dengar itu, sial, gimana ini, apa yang harus aku katakan. Penta yang sedang ketakutan memikirkan jawaban yang tepat.


Tiba-tiba sesosok Pria berteriak dari belakang Rakryan. “Yah, yah, Ksatria berpedang dua, sedang apa kau disini, kenapa kau tidak berjaga di sana?”


Penta yang merasa terselamatkan, segera menjawab panggilan Wirayuda. “Ahh, Tuan Wira, bukan, Rakryan tidak salah, aku yang memintanya untuk menemaniku untuk buang air kecil.” sambil berlari ke arah Wirayuda.


Rakryan yang masih berdiri di batang pohon yang di kerok Penta, menatap bagian yang dikerok itu, jelas terlihat itu bukan tanda yang biasa mereka gunakan untuk menandai pohon yang sudah mereka lalui, itu lebih seperti dia menggali cukup dalam ke dalam batang itu untuk mencari sesuatu. Dan Rakryan melihat ada cairan yang keluar dari batang tersebut.


Getah? Pikir Rakryan, tapi dia cukup yakin itu bukan Getah Pohon Raksasa yang mereka cari. Itu cuma getah pohon biasa pikirnya.


Rakryan yang masih tidak mengerti tujuan Penta melakukan itu, coba untuk mengabaikannya saat ini, dan berjalan ke arah teman-temannya tidur.


Saat Rakryan berbalik terlihat Wirayuda masih menunggunya, Rakryan cuma melirik pria tersebut dan coba untuk tidak mengindahkannya.


—-


Setelah makan dan merapikan barang-barang yang mereka bawa, kelompok itu berjalan kembali menyusuri hutan tersebut.


Tidak ada tanda-tanda akan bahaya di sekitar, entah harus merasa tenang atau tidak, Rani merasa gelisah, entah kenapa dia merasa khawatir, atau sepertinya dia ketakutan. Berjalan sambil menyentuh dadanya dengan kedua tangan.


Di sisi lain, Penta yang berjalan di belakang Wirayuda, menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan, seperti sedang mencari sesuatu.


Prabu yang berjalan di belakang semua anggota kelompok itu, menyadari gerak-gerik Penta lalu bertanya. “Penta apa kamu ingin buang air kecil?”


“Ahh, oh, tidak, aku belum ingin melakukannya.” Jawab Penta dengan sedikit terkejut.


“Oh, begituh.” Prabu membalas.


Wirayuda yang berjalan sedikit di depan Penta, melirik ke belakang, ke arah Penta saat mendengar percakapan itu.


“Eh, Getah?” Tiba-tiba Rani berteriak cukup keras. Membuat semua mata tertuju padanya. Yang sedang menunjuk ke sebuah pohon.


Lalu semua mata tertuju pada pohon tersebut. Tampak ada cairan yang keluar pada pohon itu, tapi yang membuat mereka semua terkejut bukan lah pohon itu, melainkan semua pohon yang berada di arah yang ditunjuk Rani, semuanya mengeluarkan getah.


Meski itu semua ada pohon besar yang mungkin bisa dikatakan raksasa, entah kenapa semua anggota kelompok itu yakin bahwa itu bukan Getah Pohon Raksasa yang mereka cari.


Haa, ini perasaan yang sama dengan yang tadi. Gumam Rakryan dalam hati, yang merasakan hal yang sama dengan getah yang dia lihat pada pohon yang di kerok oleh Penta.


Saat semua orang kebingungan, Penta berlari ke arah yang ditunjuk Rani. Kearah kumpulan pohon yang mengeluarkan getah.


Dyah yang begitu sadar Penta sudah di depan, berteriak. “Penta, kamu mau kemana, kenapa kamu berlari kesana?” Dia pun ikutan berlari untuk mengejar Penta. “Tunggu, Penta.”


Anggota yang lain baru sadar ketika Dyah berlari mengejar Penta, otomatis semua orang berlari ke arah pepohonan yang mengeluarkan getah.


“Ah, merepotkan.” Gumam Rakryan yang terpaksa ikut mengejar.


Setelah berlari beberapa meter, mungkin sejauh 200 meter Penta berhenti dan memegang sebuah pohon.


Dyah berhasil mengejar Penta, sedikit terengah-engah, bertanya. “Penta apa yang kamu lakukan?” Menatap Penta yang sedang terpukau dengan pemandang yang dia lihat.

__ADS_1


Dyah ikut menoleh ke arah Penta menatap. Sebuah tanah luas, kosong, tidak ada pohon sama sekali, kecuali sebuah pohon besar yang menjulang ke langit di tengah tanah kosong itu.


“Warihing!” Kata Wirayuda yang baru sampai di samping Dyah dengan wajah menyeringai.


__ADS_2