
Di sebuah gua yang remang-remang, dari arah jalan masuk yang terbuat dari akar pohon tanpa pintu. Beberapa orang memasuki gua dengan jalan membungkuk.
“Aku tidak percaya kita kembali kesini.” Rani yang masuk paling pertama, sambil membungkukan badannya.
“Yah, yah, aku jamin ini adalah tempat terbaik untuk bersembunyi dan beristirahat, aku jamin.” Wirayuda merespon keluhan Rani, yang masih menunggu Dyah masuk.
Sementara Dyah yang membungkuk setelah Prabu masih menunjukkan wajah dukanya.
Setelah mereka semua masuk ke dalam gua Rakyan meletakan tubuh Karang yang terbungkus es di pojokan gua itu, dan berkata. “Aku akan berjaga di luar.” Tanpa menatap teman-temanya yang lain.
“Yah, yah, itu tidak perlu. Tempat ini sangat aman, aku jamin. Aku sudah bersembunyi disini sangat lama, dan tidak seekor monster yang masuk kesini, hmm, sepertinya aku juga tidak merasakan ada serangga sini.” Wirayuda memandang Rakryan sambil memegang ujung gagang pedangnya dengan tangan kiri.
“Oh.” Rakryan terdiam beberapa detik. ” Kalau begitu aku akan berlatih di luar.” Lalu dia berjalan keluar gua tanpa sedikitpun melihat ke arah teman-temannya.
“Hahh, Yah, yah, terserah kau saja.” Wirayuda menghela nafas melihat tingkah Rakryan.
Walau pun tidak menunjukkan ekspresi sedih, sepertinya Rakryan sangat terpukul dengan kematian Karang. Dia merasa bahwa dirinya saat ini masih sangatlah lemah, walaupun dia sebenarnya adalah ksatria tingkat Wiryawan, tingkat tiga teratas dari tujuh tingkatan ksatria.
Suasana haru masih sangat terasa di kelompok itu, setelah tiba di gua, tidak ada yang berbicara kecuali percakapan Rakryan dan Wirayuda, itu pun hanya pembicaraan karena Rakryan ingin menyendiri di luar.
Wirayuda memandang setiap anggota kelompok itu saat tangan kirinya masih di atas ujung gagang pedangnya. Dia melihat Rani dan Prabu duduk bersebelahan, Dyah di samping kiri Rani dengan memeluk kedua kakinya namun jarak antara mereka duduk cukup jauh. Sementara Penta duduk di pojokan kanan gua dengan mata tanpa tanda-tanda kehidupan.
Ahh ini buruk. Gumam Wirayuda dalam batinnya.
Wirayuda menatap Rani dengan mata sedikit menyipit, memberi isyarat.
Rani yang menyadari tatapan Wirayuda hanya meliriknya sedikit lalu mengabaikannya lagi.
Aku tidak bisa, memang apa yang harus aku lakukan dalam kondisi sepertinya ini. Curhat Rani dalam hati.
“Ahh, Prabu.” Rani memanggil Prabu yang tampak melamun di sampingnya dan berharap Prabu bisa melakukan sesuatu.
Prabu terkejut dengan panggilan tersebut. “He, iyah, kenapa?” Menoleh ke arah Rani.
“Lakukan sesuatu.” Rani berbisik sambil memberi isyarat dengan matanya ke arah Wirayuda beberapa kali.
Prabu yang sadar dengan isyarat itu, menoleh ke arah Wirayuda. Lalu menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk. “Aku?” bertanya dengan suara pelan dan wajah ragu.
Wirayuda mengangguk tiga kali dengan cepat.
Prabu tampak pucat, dengan tugas yang diberikan kepadanya. Tapi dia tetap berusaha melakukan yang terbaik.
“Itu, teman-teman, anu, bagaimana kalau kita makan dulu.” Prabu akhirnya berbicara dengan kaki bersila dan matanya melirik ke semua orang yang berada di dalam gua itu.
Rani menepuk jidatnya tampak kecewa dengan kata-kata yang diucapkan Prabu di saat seperti ini. Sementara Wirayuda menundukan kepalanya dengan cepat, penuh penyesalan.
Grrrrr!. Suara gemuruh perut bergema di dalam gua tersebut.
Secara bersamaan Rani dan Wirayuda menatap ke arah suara itu berasal. Kedua orang itu hanya bisa terdiam dan terpukau karena suara yang begitu lepas tanpa beban dalam kondisi yang sulit untuk diatasi ini.
“Ma-maaf, sepertinya aku benar-benar lapar.” Sambil menundukan kepala Prabu berbicara dengan wajah yang sangat merah.
“Ckckckc.” Tawa kecil tiba-tiba terdengar, berasal dari wanita yang sedang memeluk kedua kakinya. “Maaf, maaf, aku benar-benar tidak tahan melihat tingkah Prabu.” Sambil tersenyum dengan lembut namun masih tampak kesedihannya di wajahnya, wanita itu melanjutkan ucapannya. “Terima kasih, teman-teman, sebagai ketua aku benar-benar tidak berguna di saat seperti ini, terima kasih sudah selalu mendukungku.” Dyah tersenyum lepas walau pinggiran matanya terlihat agak bengkak.
Melihat Dyah yang sudah tersenyum kembali Rani cepat bangun dan melompat ke arah Dyah untuk memeluknya. “Dyahhhhh, Hiks, Hiks, Dyahhh, syukurlahh.”
“Aduh, duh, jangan melompat seperti itu Rani, aku kaget tau.” Dyah sedikit terkejut dengan aksi Rani tapi tetap menyambut pelukan Rani. “Terima kasih Rani, untung ada kamu di party kita.” Dyah kembali meneteskan air mata saat mereka berpelukan.
__ADS_1
“Hiks, Hiks, Hiks, kamu membuat aku khawatir tahu, Hiks, Hiks.” Rani menangis terharu dalam pelukan Dyah.
Wirayuda yang dari tadi masih berdiri, melihat Dyah yang sudah kembali dari kesedihannya, tersenyum lega.
“Anu, tapi apa yang akan kita makan sekarang?.” Tanya Prabu yang lebih mementingkan perutnya dari pada suasana yang sedang berubah jadi positif ini.
“Hiks, Hiks, Hiks, Prabu bodoh, kamu nggak lihat apa, padahal suasananya lagi bagus gini, kamu malah nanya makanan.” Rani yang masih menangis dalam pelukan Dyah.
“Hahaha, tidak apa-apa, benar kata Prabu, apa yang bisa kita makan sekarang?” Dyah yang sudah berhenti meneteskan air mata menoleh ke arah Wirayuda.
“Yah, yah, tenang saja soal itu. Aku punya banyak persediaan makan, aku jamin.” Jawab Wirayuda dengan memposisikan kedua tangannya di pinggang. “Tapi sebelum itu!” Wirayuda berjalan mendekati kedua wanita yang masih berpelukan itu, dan mengambil Tombak yang dari tadi dia gantung di punggungnya. “Yah, yah, ini milikmu bukan.” Menjulurkan Tombak Samudra kepada Dyah.
Rani yang menyadari sang Pahlawan di belakangnya melepas pelukan dari Dayh dan mengusap air matanya.
Dyah yang terlepas dari belenggu Rani, mengambil Tombak itu. “Terima kasih kak Wira!” sambil tersenyum sangat lepas.
“Yah, yah, aku sangat merindukan senyum itu.” Wirayuda berjalan ke pojokan gua setelah memberikan Tombak milik Dyah.
Saat Wirayuda pergi menjauh, Dyah membaca mantra, dan tombak yang dia pegang menghilang seperti debu dan bercahaya. “Aku sangat bersyukur kak Wira ada disini. Kalau tidak. Mungkin aku sudah.”
Suara Dyah mengecil di ujung perkataannya, namun Wirayuda tetap bisa mendengarnya. Dia tahu apa yang hendak diucapkan Dyah, tapi mengabaikannya, lalu membuka tembok gua yang terbuat dari akar pohon itu dengan sihir.
Tembok yang dari tadi tidak terlihat ada cela, tiba-tiba terbelah secara vertikal dan bergeser ke samping seperti pintu otomatis, hawa yang sangat dingin keluar dari dalam tembok gua yang terbuka tersebut.
“Kulkas.” Ucap Prabu yang memperhatikan apa yang dilakukan Wirayuda. “Tapi itu, KEPALA BURUNG?” Suara lantang yang terkejut bergema di dalam gua.
Dyah dan Rani yang sedang saling menghibur ikut terkejut dengan ucapan Prabu.
“Ehh, jangan-jangan, itu?” Rani yang juga melihat ke dalam kulkas yang terbuat dari dinding gua berisikan potongan-potongan daging, dan juga kepala Burung yang cukup besar.
“Yah, yah, Kamu benar, ini adalah kepada Garuda, dan ini adalah daging mereka.” dengan bangga menunjukkan potongan daging di dalam kulkas.
“Yah, yah, tenang saja aku jamin rasanya enak, aku setiap hari makan ini, hahaha.” Wirayuda coba meyakinkan yang lainnya dengan tawa kerasnya.
Mendengar itu Prabu menelan ludah dengan kuat dan mulutnya terbuka beberapa kali, seperti ingin mencoba daging itu.
Dyah dan Rani yang mendengar suara tegukan itu menoleh ke arah Prabu. “Ehhh.” dan menatapnya dengan jijik.
Sementara Prabu yang sangat fokus ke daging di dalam kulkas itu tidak menyadarinya dan terus menggerakan mulutnya seperti orang yang sedang mengunyah.
—-
Saat Rani memasak daging-daging itu, semua orang dalam gua kecuali Penta duduk melingkari api yang dibuat dari Tongkat Dyah.
Dyah bertanya kenapa Sang Pahlawan berada di tempat seperti ini, tapi sebelum Wirayuda sempat menjawab, Rani sudah lebih dulu menceritakan tujuan bejat Pahlawan itu.
“Hahaha, kak Wira tidak berubah sama sekali. Emang kak Wira ngga takut sama kak Arum?” Dyah tertawa karena cerita Rani sambil bertanya kepada Wirayuda.
“Yah, yah, tentu saja takut.” Sang Pahlawan berkata dengan bangganya. “Eh. bukan, itu, bukan itu, tujuanku ke sini. Mendapat getah itu hanya bonus, benar, hanya bonus.”
“Kalau gitu tidak apa-apa kan aku cerita ke kak Arum.” Ucap Dyah dengan senyum.
“Yah, yah, ehhhhh, jangan, kumohon jangan, nanti aku bisa mati.” Wirayuda memohon kepada Dyah dengan bersujud.
“Emang siapa kak Arum itu?” Rani bertanya kepada Dyah karena bingung dengan sikap ketakutan Wirayuda.
“Ahh, iyah, aku belum cerita, jadi Kak Wira ini, sang Pahlawan yang mengalahkan raja iblis di benua ini sudah menikah dengan Kak Arum, penyembuh sekaligus ketua Party pahlawan.” Dyah menjelaskan.
__ADS_1
“Ohhh, ternyata seperti itu.” Rani yang sedang fokus menyiapkan makanan kini menatap Wirayuda dengan sangat jijik yang masih bersujud ke arah Dyah.
Sedangkan Prabu fokus menatap makanan yang disiapkan Rani dan mengabaikan percakapan itu.
“Baik, baik, aku bercanda. Tapi sebenarnya kenapa kakak kesini?” Tanya Dyah penasaran.
Wirayuda yang merasa legah, mengangkat kepalanya, mengusap keringat di jidatnya, lalu duduk dengan tenang. “Ceritanya cukup panjang!.”
—-
Rani sudah selesai memasak lalu menghidangkan sup daging Garuda kepada semua anggota kelompok itu, termasuk Penta yang masih duduk di pojokan dan Rakryan yang sedang berlatih di luar dengan mangkok yang terbuat dari kayu.
Wirayuda yang sedang makan, menatap dengan serius mangkuk yang dia pegang, melanjutkan ceritanya. “Yah, yah, Jadi setelah berpisah dengan party ku sebelumnya, aku mendengar ramalan, mungkin lebih cocok kalau aku bilang aku mendapat ramalan dari peramal kenalanku.” Menyuap satu sendok daging ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.
Setelah menelan makanannya, Wirayuda melanjutkan kisahnya.
“Tidak lama lagi akan terjadi bencana di seluruh dunia, seorang raja dunia akan bangkit dari penjara abadi, hutan tak terjamah adalah penyebabnya.” Seorang pria dengan setelan jas berbicara kepada pria yang duduk di depannya dengan pakaian kasual.
“Apa maksud lo? Siapa Raja itu? Sekuat apa dia?” Tanya pria berbaju kasual.
“Ahh, pertanyaan lo terlalu banyak Wir, kalau gue tau juga gue ngga bakal pake bahasa dewa gitu.” Jawab Pria dengan setelan jas kepada Pahlawan bernama Wirayuda.
“Tapi ini aneh, rasanya gue tau dimana hutan tak terjamah itu.” Wirayuda mengelus dagunya.
Pria berjas menaruh kedua siku tangannya ke lututnya masing-masing dan memajukan badan atasnya kedepan, menatap serius. “Gue yakin itu adalah Alas Warihing.”
“Ahh iya, kata tidak terjamah mirip sama hutan itu.” Wirayuda menyandarkan badannya ke sofa. “Jadi gimana cara menghadapi Raja itu?”
“Di ramalan gue, Raja itu tidak bisa dikalahkan.” Jawab sih Pria berjas.
“Jadi, harus dicegah?” Tanya Wirayuda lagi,
“Yah gue rasa itu satu-satunya cara sekarang.” Pria berjas, mengembalikan posisi duduknya menjadi tegak.
“Tapi lo tau kan hutan itu bahayanya kayak gimana, terus bagaimana juga caranya mencegah raja apalah itu bangkit.” Ucap Wirayuda sedikit jengkel.
“Raja dunia.” Pria berjas coba memperbaiki kata Wirayuda. “Menurut ramalan yang gue dapet, di hutan itu ada sebuah pohon, dan dengan menancapkan pohon itu dengan pedang suci yang menyerap energi dari naga tak terkendali, pohon itu akan layu untuk sementara waktu, dan butuh waktu berjuta-juta tahun untuk pohon itu tumbuh lagi.” Jelas Pria berjas menatap pedang Pahlawan yang berada di pinggir sofa.
“Hah, jadi memang harus masuk ke hutan itu?” Kata Wirayuda tampak khawatir.
“Kalau lo takut kesana sendiri, nanti gue minta sama ketua Guild buat nyiapin pasukan petualang buat nemenin lo kesana.” Kata Pria berjas dengan senyum sinisnya kepada pahlawan.
Wirayuda mendecakkan lidahnya. “Lo pikir gue selemah itu, lagian bakal repot kalau pergi dengan banyak orang kesana, kalau sendiri gue bakal lebih leluasa.”
“Oh, baguslah, itu baru namanya pahlawan, oh iya selain itu, katanya di hutan itu ada getah yang bisa ngasih keabadian, lo nggak tertarik?” Kata Pria berjas diakhiri pertanyaan.
Wirayuda menyeringai. “Justru itu yang gue incer, wkwkwkwkwkwk.” Sang Pahlawan tertawa keras di dalam ruangan itu.
Pria berjas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena sikap menjijikan Pahlawan yang dihormati banyak orang ini, dia lalu menyeruput kopinya yang dari tadi berada di atas meja.
——
Setelah mendengar cerita itu, Dyah hanya bisa memberi tatapan jijik kepada Wirayuda.
Ehh, napa tadi gue cerita bagian itu juga, sial. Wirayuda yang baru sadar setelah melihat tatapan mengerikan Dyah, kembali bersujud di hadapan mantan murid kesayangannya itu. “Kumohon ampuni aku, kamu tahu kan tujuanku yang sebenarnya itu sangat mulia, kumohon.”
“Yah, yah, sangat mulia, kayaknya bakal bagus jika aku ceritakan ke kak Arum, dia pasti terharu.” Dengan senyum sinisnya kepada pahlawan yang sedang bersujud itu Dyah merespon ucapan Wirayuda sambil meniru awalan yang biasa digunakan sang Pahlawan.
__ADS_1
“Boro, boro, terharu, yang ada gue bisa mati, kumohon.” Sepertinya sang Pahlawan sangat ketakutan dengan istrinya. Apa kebanyakan pria kuat seperti itu ya?