Pangawasa Warihing (Penguasa Pohon Raksasa)

Pangawasa Warihing (Penguasa Pohon Raksasa)
Chapter 3 - Serigala


__ADS_3

Kota Kerajaan, di pagi hari yang cerah, seorang pria yang duduk menghadap jendela dan membelakangi meja kerjanya di dalam ruangan yang terletak di lantai 43, di sebuah gedung setinggi 79 lantai.


Pria yang berambut pirang tersebut mengangkat telepon dari seseorang.


“Halo” Kata sih Pria sambil menaruh kakinya di atas kaki lainnya.


Pria lain dari seberang telepon membalas. “Lapor Tuan. Tadi pagi saya melihat party Samudaya pergi ke Alas Warihing bersama dengan seorang anak berumur sekitar 15 tahun.”


“Oh, jadi mereka yang pergi. Bagus, lanjutkan pengintaian, jika mereka berhasil keluar dari sana, Segera laporkan padaku.” Jawab Pria dengan setelan jas biru itu.


“Baik Tuan.” Jawab singkat Pria di seberang telepon.


Telepon ditutup oleh Pria bergaya CEO perusahaan tersebut, yang kemudian berdiri dan memasukan tangan kirinya ke kantong di saku celananya, sambil tetap menghadap ke jendela dia berkata. “Mungkin aku bisa menjadi wadah untuk Tuan ku jika mereka bisa mendapatkan Getah dari Warihing.” Sambil tersenyum.


—-


Di tanah yang lumayan gersang dan dengan matahari tepat di atas kepala, menandakan waktu sudah memasuki pertengahan hari.


Sekelompok petualang yang berjumlah 6 orang, sedang berjalan dengan semangat di tanah yang kekeringan. Namun angin berhembus cukup kuat dari arah utara saat mereka berjalan ke arah barat, sehingga panasnya matahari tidak begitu terasa.


“Penta, apa kamu mau minum?” tanya Prabu yang berjalan di paling belakang dari semua anggota kelompok itu.


“Tidak, tidak apa-apa, aku belum haus.” Sambil terus berjalan membawa tas yang lumayan besar.


Walaupun di minta oleh Dyah untuk membawa barang secukupnya tapi Penta bersikeras untuk tetap membawa semua barang yang dia bawa dari desa. Dia khawatir jika tidak dibawa barang-barangnya akan hilang di penginapan, meski pihak penginapan sudah menjamin barang yang mereka titipkan tidak akan hilang.


“Penta, kamu tidak perlu khawatir kita akan kehabisan air, karena Dyah bisa menggunakan sihir air, jika dibutuhkan.” Kata Rani.


“Tidak, aku benar-benar belum haus kok.” Jawab Penta memberi senyum halus kepada Rani.


“Baiklah kalau memang seperti itu.” Rani berbicara dengan agak cemberut. “Tapi, Penta, Omong-omong kamu bisa sihir apa? Elemen apa saja yang kamu kuasai?” Tanya Rani dengan cepat.


Penta yang agak sedikit terkejut, menjawab dengan pelan. “Eh aku, Anu, Sebenarnya aku tidak bisa sihir.”


“Ohh, jadi kamu tidak bisa sihir, padahal aku pikir, aku bisa mengajari kamu sihir di perjalanan ini.” Balas Rani dengan kecewa.


“Oh, Maaf.” Kata Penta sambil menundukan kepala.


“Eh, bukan, aku tidak menyalahkanmu Penta, sama sekali tidak.” Balas Rani dengan cepat.


Dyah yang tadinya berjalan di depan mereka berdua, menurunkan kecepatan langkah kakinya, yang kini berada di tengah mereka berdua, berkata. “Penta, kamu tidak perlu khawatir kalau tidak bisa sihir. Banyak orang di negeri ini yang tidak bisa sihir, banyak kok profesi yang tidak memerlukan sihir. Bahkan ada juga petualang yang tidak bisa sihir, dan jumlahnya lumayan banyak juga di Kota Kerajaan.”


“Iya aku tahu, itu. Makanya aku memutuskan untuk jadi dokter.” Penta kembali bersemangat dan membalas Dyah dengan cepat.


“Oh. Jadi kamu mau jadi dokter, itu luar biasa loh.” Rani membungkukkan badannya sedikit untuk menatap wajah Penta yang berjalan di samping kiri Dyah..


Penta memalingkan wajah kekiri untuk menutupi wajahnya yang memerah. “Iya” Balasnya pelan.


Dyah menggerakan matanya dari kanan ke kiri lalu ke kanan lagi, dia melakukannya untuk melirik Penta dan Rani yang tadi sempat bertukar pandang. Lalu Dyah tertawa kecil.


Sepertinya Dyah tahu apa yang sedang terjadi disini. Tapi dia tidak mengatakan apapun dan memilih menyimpannya yang mungkin suatu saat nanti bisa jadi cerita yang menarik, pikirnya licik.


Rani yang heran dengan tingkah Dyah, bertanya. “Kenapa kamu tertawa?”


“Tidak, aku pikir ini menarik saja.” Dyah tersenyum.


“Apanya yang menarik? Karena Penta ingin jadi dokter?” Rani masih penasaran.


Dyah memalingkan wajahnya dari Rani dan menjawab. “Bukan itu. Kamu mau tahu aja.”


Penta yang juga merasa heran kembali membalikan wajahnya ke Dyah, namun saat itu matanya dengan mata Rani bertemu. Penta pun dengan cepat memalingkan wajahnya kembali dan wajahnya semakin merah.


Dyah yang memperhatikan tertawa semakin kencang.


Rani yang tidak mengerti apa yang terjadi, kembali melihat ke depan dan berkata. “Ya sudah lah.”


“Apa yang sedang mereka lakukan.” Rakyan yang memimpin jalan berkata dengan ketus.


Karang yang beberapa langkah di belakangnya, berbicara sambil melihat ke sekeliling dengan teropongnya. “Biarkan mereka bersenang-senang sekarang! Hmm, aneh aku tidak melihat apa-apa disini selain tanah datar yang gersang di depan sana.”


“Yah kita baru jalan setengah hari, jadi wajar jika hutannya belum terlihat.” Rakryan coba menjawab.


“Mungkin, tapi menurut informan yang aku tanya, mereka bilang disini itu akan berkabut jika sudah berjalan setengah hari dari kota.” Karang coba menjelaskan informasi yang dia dapat.


Rakryan melirik sedikit kekanan. “Bukan kah bagus jika tidak ada kabut saat kita berjalan kesana.”


Sambil menurunkan teropong dari matanya, Karang membalas. “Itu benar, tapi kalau kita…, yah mungkin ini lebih.” Karang yang ingin menjelaskan sesuatu, namun kemudian menghentikan kata-katanya dan terus berjalan.


__ADS_1


Malam tiba, udara yang tadinya terasa hangat, mulai terasa dingin. Jalan yang mereka lalui masih saja tanah gersang datar dan tidak menunjukkan akan ada perubahan.


Sambil berjalan Dyah melihat jam di tangan kirinya. “Sudah jam 8, kurasa kita sebaiknya istirahat disini sekarang.”


Sebagai ketua party Dyah yang memutuskan kapan party itu akan bergerak ataupun istirahat.


Dyah sendiri merupakan petualang yang sudah tidak diragukan lagi pengalamannya, perjalanannya bersama pahlawan memberinya banyak keberanian dan kemampuan untuk memimpin sebuah party, jadi rekan-rekannya saat ini sangat mempercayai Dyah.


Dyah kemudian memberikan tugas pada masing-masing anggota perjalanan, termasuk Penta. Awalnya Dyah tidak meminta Penta melakukan sesuatu, tapi Penta bersikeras untuk membantu, jadi Dyah dengan terpaksa memberinya tugas yang ringan.


Yang bertugas untuk membangun tenda adalah Prabu dan Karang, sementara Rakryan berjaga mengawasi sekitar, dia akan siap jika sesuatu mendekat.


Rani dan Penta menyiapkan makanan. Mereka hanya membawa makanan kaleng yang rata-rata berisi daging dan beberapa berisi kacang, untuk yang berisi kacang bisa langsung dimakan, tapi untuk yang berisi daging harus dimasak terlebih dahulu.


Penta bertanya karena bingung. “Bagaimana kita akan memasak ini, kitakan tidak bawa kompor. Selain itu kita juga tidak punya panci atau penggorengan.”


“Kamu tidak perlu khawatir, itu semua ada solusinya.” Jawab Rani dengan senyum.


Wajah Penta kembali memerah sehingga dia memalingkan wajahnya lagi dari gadis yang rambutnya di kepang ke samping itu. Rani hanya memperhatikan dan tidak mengatakan apa-apa.


Sepertinya mereka tidak bawa kompor maupun peralatan memasak lain. Dyah memutuskan untuk tidak membawanya karena itu akan merepotkan jika membawa terlalu banyak peralatan. Terutama saat harus melarikan diri dari monster yang tidak bisa dikalahkan oleh mereka.


Dyah berjalan mendekat ke arah Rani dan Penta yang sedang bersiap-siap, lalu bertanya. “Apakah semuanya sudah siap?”


“Sudah.” Jawab Rani singkat sambil mengaduk-aduk isi dari salah satu kaleng.


“Baiklah.” Dyah kemudian jongkok dan menaruh tongkat yang selama ini dia pegang ke tanah dalam posisi tidur.


Tongkatnya itu tidak seperti tongkat penyihir kelas atas pada umumnya, justrus hanya seperti tongkat penyihir pemula yang terbuat dari kayu dari ujung keujung, untuk ujung yang di sebut atas tongkat itu dibuat lebih tebal dan melingkar seperti setengah lingkaran pada ujung permukaannya, sementara sisi yang disebut bawahnya dibuat lancip seperti jarum tapi tidak tajam seperti jarum jahit.


Lalu dia mengarahkan salah satu telapak tangannya ke arah ujung atas tongkat. Dan api kecil mulai menyala, apinya tampak tidak besar maupun kecil, atau lebih tepatnya seperti api unggun kecil.


Sementara itu Rani, membaca mantra “oh cahya. mugi karsaa paring pangayoman saking tiyang ingkang awon.” dengan memposisikan tangan di depan dadanya dan kedua telapak tangan menghadap keatas, seperti orang yang sedang berdoa.


Tiba-tiba sebuah cahaya muncul di atas kedua telapak tangannya dan mulai membuat bentuk seperti panci.


Penta yang memperhatikan, mengeluarkan suara. “Haaaa, sihir bisa digunakan seperti itu?”


Dyah hanya tertawa melihat tingkat Penta.


Rani berjalan membawa panci cahaya itu ke arah api unggun yang berasal dari tongkat Dyah. “Tentu saja, itu hal mudah.” terangnya.


Penta yang heran dengan apa yang terjadi langsung bertanya. “Ahh, kok pancinya bisa melayang?” Dengan terkejut.


Dyah pun tertawa terbahak-bahak.


Rani ikut tertawa tapi tidak sekeras Dyah. Karang dan Prabu yang baru saja selesai membangun tenda hanya tertawa kecil.


Penta yang tadi berwajah terkejut kini berubah jadi merah merona.


Dyah yang sadar dengan perubahan warna wajah Penta yang tiba-tiba, langsung meminta maaf, berkata.“Maaf” sambil tertawa kecil dan mengusap-usap matanya. “Maaf” perlahan menghentikan tawannya, namun masih tampak ada air mata di di pinggir kelopak matanya. “Aku tidak bermaksud mengejek, tapi, huf. Itu sudah sudah biasa di sini. Lagian kamu juga lihatkan di Kota Kerajaan, disana ada mobil sihir yang bisa melayang dan motor sihir yang bisa terbang di udara. Itu semua berkat bantuan Kristal Sihir. Nah, aku tadi meletakan kristal sihir di samping tongkat ku, jadi wajar panci dari sihir itu bisa melayang.” Kemudian tawanya benar-benar berhenti.


“Oh ternyata begitu.” Penta yang mukanya masih memerah terpuaskan dengan penjelasan Dyah.


Setelah kejadian yang menyenangkan itu mereka semua mulai makan, kecuali Rakryan yang masih berjaga.


Penta yang sadar akan hal itu bertanya sambil mengunyah daging yang berasal dari kaleng yang dia pegang. “Rakryan ngga ikut makan?”


Karang yang duduk di sebelah kanannya menjawab. “Dia akan makan setelah aku selesai, kami biasa berjaga secara bergantian, dan yang berjaga tidak boleh makan sampai digantikan dengan orang lain, takutnya ada monster yang menyerang saat kita semua makan.”


“Apa memang perlu sampai seperti itu? Padahal jika dilihat-lihat tidak ada monster sama sekali di sekitar sini.” Tanya Penta lagi.


“Tentu saja, karena walaupun terlihat aman sebenarnya alam bebas itu sangat berbahaya. Kamu tidak akan tahu kapan akan di serang oleh monster meski lingkungan disini terlihat sepi. Tapi tetap saja mungkin ada monster yang sedang mengintai dari kejauhan atau monster yang berkamuflase sehingga tidak bisa dilihat oleh mata, dan tiba-tiba dia akan menyerang mu dari belakang. Oleh karena itu yang bertugas tidak boleh lengah sedikit pun.” Terang Karang dengan lumayan panjang.


Dyah yang menyadari sesuatu berkata. “Dari ucapan Penta barusan aku baru sadar. Kenapa tidak ada monster yang kita lihat sejak berjalan dari Watu Samudra, ini benar-benar aneh.”


Penta merespon perkataan Dyah dengan pertanyaan. “Bukankah lebih baik seperti itu?”


“Mungkin saja lebih baik, mungkin saja tidak.” Karang yang sudah selesai makan dan sekarang sedang mengaduk-aduk kaleng kosongnya yang dia taruh di tanah seperti sedang memikirkan sesuatu.


Suasana yang beberapa saat lalu ramai dengan tawa kini menjadi lumayan sunyi, mungkin ucapan Karang tadi membuat semuanya khawatir.


Kekhawatiran Karang bukanlah tanpa dasar, setelah dia selesai makan dan gantian berjaga dengan Rakryan, dia menceritakan kisah petualangannya di sebuah lembah yang disebut Bada, itu merupakan lembah yang terletak di sebuah pulau di Timur laut dari pulau Java tempat kota kerajaan Kalingga berada.


Pada saat itu Karang belum bersama dengan party Samudaya dan tidak sekuat saat ini. Partynya dulu berada di tingkat Ksatria dan mereka mendapat misi untuk memburu monster bernama Celeng di lembah Bada itu adalah misi yang mudah untuk tingkatan party Ksatria. Tapi tak di sangka hal buruk menimpa mereka. Karang bercerita bahwa tempat dia teman-temannya bermalam saat itu juga sepi seperti saat ini. Dari kejauhan tidak terlihat monster sama sekali, hanya ada rerumputan sejauh mata memandang dan tanpa mengetahui akan ada bahaya yang datang mereka tidur tanpa ada yang berjaga. Kejadiannya begitu cepat dan yang dia ingat hanya ada sosok monster tak terlihat mencabit-cabit salah satu temannya, dia dan lainnya hanya bisa melarikan diri.


Karang mengisahkan masalah lalunya sambil memainkan belati di tangan kanannya dan menghadap ke tanah. Penta hanya bisa diam mendengar cerita Karang dan terus menatap belati yang dimainkan oleh Karang.


—-

__ADS_1


Mereka mulai tidur dan gantian berjaga, yang jaga pertama adalah Karang dan Prabu, kemudian Rakryan dan Penta. Awalnya Rakryan ingin berjaga sendirian saja tapi karena Penta memaksa jadi dia membiarkannya, dan suasana canggung terjadi saat mereka berdua berjaga.


Udara pagi sudah mulai terasa, udara yang tadi malam sudah cukup dingin kini menjadi lebih dingin. Penta yang tidak kuat dengan dingin jadi menggigil. Rakryan yang menyadari hal itu memberikan sebuah jubah yang biasa dia pake kepada Penta. Tapi suasana tetap canggung di antara mereka berdua.


Kabut mulai menyelimuti perkemahan party tersebut. Rakryan dan Penta yang sedang berjaga entah mengapa mereka saling menyandarkan bahu mereka satu sama lain. Oh, Ternyata mereka tertidur. Ini mungkin cukup berbahaya karena jika mereka tertidur berarti saat ini tidak ada yang menjaga lingkungan sekitar perkemahan party itu.


Karang yang sedang tertidur pulas, merasakan suatu bahaya dan segera membangunkan Prabu yang tidur di sebelahnya kemudian dia keluar dari tendanya, lalu meneriaki tenda tempat Rani & Dyah tidur.


Dyah yang baru saja terbangun oleh teriakan Karang mendengar ada suara raungan hewan, segera dia menggoncang-goncangkan badan Rani yang masih setengah sadar.


“Rani, Rani, Rani, cepat bangun, ada monster, ayo buruan.” Ucap Dyah sambil menggoyang-goyangkannya.


“Iya, iya, iya.” Rani menjawab dengan perlahan, mengangkat tubuhnya dan mengusap-usap matanya.


Dyah yang sudah mengenakan jubahnya segera keluar dari tenda. Saat Dyah keluar, dia sedikit terkejut karena daerah tempat kelompoknya berkemah sudah di penuhi kabut tebal. Pandangan saat itu sangat gelap, yang bisa Dyah lihat hanyalah kabut.


Segera Dyah mengangkat tongkatnya ke langit dan membaca mantra. “Geni nesu, menehi nyawa iki dalan kanggo gamblang” saat bersamaan lingkaran api keluar dari kehampaan lalu mengelilingi ujung tongkat tersebut. “Api Iluminasi” saat kata itu keluar dari mulut Dyah, 3 bola cahaya, bukan tapi 3 bola api memancarkan cahaya sangat terang menyebar ke tiga arah berbeda.


Kondisi yang tadi begitu gelap menjadi agak terang namun masih dipenuhi dengan kabut tebal. Jarak pandang mungkin hanya satu meter walaupun bola api cahaya itu bisa terlihat cukup jelas dari bawah dengan jarak yang cukup jauh.


Dyah menoleh ke kanan dan ke kiri beberapa kali, dia sedang mencari teman-temannya yang lain. Dyah ingin bergerak untuk memastikan Penta baik-baik saja, tapi dia tidak bisa meninggalkan tenda yang dia gunakan untuk tidur karena masih ada Rani yang sedang bersiap di dalamnya.


Dyah lebih mengkhawatirkan Penta dari pada teman-temannya yang lain karena dia percaya dengan kemampuan teman-temannya dan terutama karena Penta bukan petualang. Akan sangat bahaya jika Penta sampai berpisah dengan yang lain terutama dalam kondisi seperti ini, pikir Dyah.


“Ayo.” Teriak Rani keluar dari tenda.


“Iya.” Respon Dyah dan menjulurkan tangan kanannya untuk menarik Rani.


Mereka berdua berlari, ke arah yang sulit untuk dijelaskan. Karena kabut yang sangat tebal arah pun menjadi tidak jelas. Dyah berlari sambil menarik Rani dan berteriak memanggil nama Penta. Tapi tidak ada jawaban sama sekali.


Dyah berhenti ketika dia melihat sosok bayangan yang seperti anjing sedang dalam posisi siaga menyerang.


“Aku harap aku salah lihat.” ucap Dyah terengah-engah.


“Apa katamu?” Tanya Rani yang masih berpegangan dengannya.


Greeaugggg, terdengar geram dari makhluk itu yang tiba-tiba melompat dengan cepat ke arah mereka berdua.


Siaaaal tidak akan sempat menggunakan sihir. Dyah bergumam dalam hati.


Bukk! Suara hantaman yang sangat keras terdengar. Tiba-tiba pandangan kedua wanita itu jadi gelap tertutup oleh sosok pria berbaju ksatria.


“Kalian baik-baik saja?” Tanya Prabu yang menghembuskan nafas dengan lega.


“Ahh, Prabu itu kamu? Syukurlah. Aku pikir kami akan binasa tadi. hehe.” jawab Rani yang masih gemetaran.


“Dimana yang lain? Terutama Penta?” Dyah justru bertanya tanpa menjawab pertanyaan Prabu.


“Dia bersama Rakryan, aku melihat mereka tertidur. Karena kabut semakin tebal jadi aku memutuskan kembali ke arah tenda tempat Prabu yang masih tidur. Berdua lebih baik daripada sendiri. Jadi aku melemparkan sesuatu ke arah Rakryan, dia pasti akan marah.” Gumam Karang di ujung kalimatnya yang berjalan mundur sambil menyilangkan kedua tangannya yang memegang belati, bersiaga.


Karang memutuskan untuk kembali ke tempat Prabu daripada menghampiri dan membangunkan Rakryan atau Penta, karena dia khawatir jika Prabu sendirian dalam keadaan seperti ini.


“Dia pasti akan marah. Jeh, bukan itu. Bagaimana jika lemparanmu meleset?” Dyah yang sangat khawatir pada Penta jadi bersikap sedikit kesal.


“Kapan aku pernah meleset.” Karang membalas dengan teriakan sambil menengok sedikit kebelakang. “Ah, sial, itu tidak penting sekarang. Tenang, tenang-lah Dyah Gitarja.” Dia melanjutkan perkataannya untuk menenangkan Dyah. Sepertinya Karang sadar apa yang di khawatirkan Dyah.


Dyah yang kemudian tersadar menjadi sedikit tenang. “Kamu benar, maaf. Tapi tidak biasanya Rakryan tertidur. Ini aneh”. Dyah yang sudah tenang coba memahami dan menganalisa situasi saat ini.


“Bagaimana dengan makhluk yang menyerang tadi?” Dyah menepuk pundak kiri Prabu.


Prabu yang tetap bersiaga, berkata. “Dia. Makhluk itu tadi bangun lagi, tapi saat dia bangun di membelah diri jadi dua. Terus mereka melarikan diri ke arah kabut.”


“Ehh, membelah diri?” Rani terkejut.


“Jadi benar makhluk itu, ini lebih berbahaya dari dugaan ku.” Dyah bergumam.


“Makhluk itu? Apa itu sebenarnya, bentuknya seperti serigala, tapi tidak mungkin serigala bisa hidup di pulau ini, bukan.” Karang bertanya sambil merincikan wujud dari makhluk itu.


“Tidak ada waktu menjelaskannya sekarang, akan aku jelaskan sambil jalan. Kita harus utamakan mencari mereka berdua.” Jawab Dyah tegas.


Mereka berempat melangkah dengan hati-hati sambil bersiaga untuk menghadapi serangan yang mungkin tiba-tiba datang.


Dalam perjalanan mencari Rakryan dan Penta, Dyah menjelaskan makhluk apa itu sebenarnya. Dyah berkata, makhluk itu hanya mitos dari info yang dia dengar.


Monster itu bernama Serigala Alas Warihing. Itu adalah monster yang tidak akan kamu temukan di tempat lain selain di Alas Warihing. Makhluk itu punya wujud seperti serigala dan memiliki taring yang seperti Smilodon. Yang mengerikan dari monster itu adalah dia akan membela diri jadi dua dan hidup kembali jika kamu membunuhnya, tapi kehidupan nya setelah itu hanya akan bertahan 12 jam saja, kemudian dia akan lenyap tanpa sisa. Meski demikian, kalau kamu lebih memilih melawannya, itu tidak akan ada habisnya selama 12 jam, apa kamu sanggup bertahan selama itu tanpa istirahat, ditambah lagi jumlah yang akan terus bertambah jika dibunuh. Itu hanya akan membuatmu semakin kewalahan. Dan juga kemampuan khusus dari monster itu adalah membuat kabut di sekitarnya yang akan membuatmu tertidur jika lengah.


“Huf, ku pikir selama ini monster itu cuma mitos, tapi malah benar-benar bertemu di malam pertama perjalanan kita. Ini benar-benar merepotkan.” Dyah mengakhiri ceritanya dengan kalimat mengeluh.


Sepertinya dibandingkan dengan takut, monster berjulukan Serigala Alas Warihing itu lebih membuat Dyah merasa kerepotan.

__ADS_1


__ADS_2