Pangawasa Warihing (Penguasa Pohon Raksasa)

Pangawasa Warihing (Penguasa Pohon Raksasa)
Chapter 4 - Tiba Di Tujuan


__ADS_3

Di dalam kabut yang tebal, terlihat 2 laki-laki sedang saling membelakangi satu sama lain.


Ada satu laki-laki yang tampak lebih dewasa dibandingkan dengan satunya lagi. Laki-laki yang lebih dewasa menghadap ke depan dengan lutut sedikit ditekuk dan memegang pedang yang lebarnya kira-kira 10 cm di masing-masing tangannya, bersiaga.


Sementara yang lebih muda berdiri tenang dengan lutut lurus tanpa ditekuk, hmm, maaf, mungkin lebih tepatnya, bisa dibilang dia tidak tahu harus bergaya seperti apa di saat seperti ini. Dan laki-laki lebih muda itu memegang…, yah dia tidak memegang apapun, tangan kosong, benar, di benar-benar ingin menghadapi situasi genting ini dengan tangan kosong, sungguh laki-laki yang luar biasa, meskipun dia tidak membawa senjata apapun karena bukan seorang petualang, tapi itu sungguh keberanian yang luar biasa.


Mereka berdua, Rakryan dan Penta sedang di kepung oleh bayangan makhluk yang disebut Serigala Alas Warihing. Pertarungan yang sengit di sana membuat serigala yang awalnya hanya berjumlah 5 kini mencapai 30 ekor lebih.


Rakryan yang sedikit panik tidak mengetahui bawah jika membunuh makhluk itu dia hanya akan menambah jumlahnya, kini mereka terjebak dalam situasi yang tidak di untungkan sama sekali. Terutama Rakryan harus melindung Penta sambil bertarung. Mungkin ini juga alasan Rakryan lebih memilih berjaga sendiri.


Terlihat oleh Rakryan dan Penta, 3 ekor serigala yang ada di depan masing-masing dari mereka bersiaga menyerang.


Sial apa aku harus menggunakan teknik itu disini, padahal aku belum begitu menguasainya. Gumam Rakryan dalam hati.


“Penta tenanglah, jangan bergerak dari situ. Aku pasti akan melindungimu.” Terang Rakryan kepada Penta yang berdiri ketakutan.


“Ma, Maaf merepotkan mu.” Balas Penta dengan menyesal. Sepertinya Penta sadar keinginannya menemani Rakryan membuatnya jatuh dalam kondisi yang merepotkan untuk Rakryan.


“Jangan pikirkan hal itu sekarang, fokus saja menghindari serangan dan mencari cela untuk kabur.” Sahut Rakryan yang mungkin bisa sedikit menenangkan Penta.


Secara bersamaan 6 ekor serigala melompat dari 2 arah yang berlawanan. Kecepatan yang luar biasa, lompatan serigala-serigala itu tidak seperti lompatan hewan pada umumnya, dalam waktu satu setengah detik para serigala yang tadi berjarak 70 meter dari mereka kini ada tepat di depan mata mereka berdua.


Seakan waktu berhenti, dalam gerakan lambat Rakryan melompat dan memukul ketiga serigala yang datang ke arahnya dengan punggung pedangnya. Ketiga serigala tersebut terpental jauh ke arah kiri Rakryan. Saat bersamaan dia kemudian memutar badannya ke arah kiri, yang membuatnya seperti memperagakan gerakan akrobatik membalikan badan di udara. Lalu dia menghentakan kaki nya di udara, membuat dentuman keras pada udara yang menciptakan gelombang kejut tepat di telapak kaki kanannya.


Seketika Rakryan berada di atas serigala yang mencoba menyerang Penta. Secara cepat dia membelah udara di hadapan ketiga serigala itu yang seperti melayang di udara karena waktu yang melambat. Ketika kedua mata pedangnya mencapai tanah dia mengucapkan sebuah kalimat dengan suara kecil. “Kecepatan Ilusi dan Sayatan Hampa.”


Seakan terjadi tiba-tiba, Penta melihat Rakryan sudah berjongkok di depannya dengan kedua mata pedangnya menyentuh tanah dan ketiga serigala itu terbelah menjadi dua. Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari 2 detik kurang sejak keenam serigala itu melompat.


Membuat Penta bertanya. “Kok bisa.” Dengan suara pelan.


“Apa kau baik-baik saja Penta?” Tanya Rakryan dengan kepala sedikit di putar kekiri seperti untuk melirik Penta, dengan keren.


“Ahh, iya aku baik-baik saja.” Jawab Penta cepat.


“Baguslah, barusan aku menambah 3 lagi jumlah mereka.” Rakryan berkata dan berdiri dengan gagah seperti ksatria yang habis menyelamatkan sang Putri, ingat tapi ini bukan putri yang dia selamatkan.


“Heeee.” Respon Penta dengan pucat.


Ketiga serigala beserta kloningannya yang dibunuh Rakryan sudah hidup kembali dan berlari ke arah kerumunan serigala yang mengepung mereka.


“Nampaknya serigala-serigala ini cukup pandai, mereka tidak menyerang setelah hidup lagi tapi kembali kelompoknya untuk membuat rencana.” Rakryan menyimpulkan.


Namun Rakryan salah, yang sebenarnya terjadi adalah para serigala itu tidak langsung menyerang ketika hidup kembali adalah, mereka masih merasakan rasa sakit yang dirasakan saat kematian mereka terjadi dan yang merasakan itu adalah serigala awal mula dan kloning-kloningannya. Dan kenapa mereka mundur setelah hidup kembali dikarenakan mereka ingin menunggu rasa sakitnya menghilang terlebih dahulu, begitah insting hewani mereka bekerja.


Setelah beberapa saat para serigala yang lain mulai bersiap untuk melompat, kali ini jumlahnya bukan enam, tapi mungkin sepuluh, tidak sepertinya tiga per empat dari total serigala yang mengepung kedua orang itu sedang bersiap menyerang.


“Ini benar-benar gawat. Nampaknya kita akan mati disini.” Rakryan berkata sambil membuka bibir sebelah kanannya tampak tersenyum khawatir.


Meski Rakryan adalah ksatria tingkat Wiryawan, yang mampu melawan 100 prajurit secara bersamaan. Tapi yang kali ini dia lawan adalah makhluk yang tidak bisa mati dalam 12 jam, walaupun Rakryan tidak mengetahui hal itu. Ditambah lagi setiap dibunuh jumlahnya akan bertambah. Melihat hal ini saja sudah membuat ksatria manapun putus asa.


Rakryan yang sejak tadi sudah melawan para serigala dengan sekuat tenaga sambil melindungi Penta, mulai kelelahan. Pikirannya mulai tidak fokus, efek yang ditimbulkan kabut dari para serigala secara bertahap mempengaruhinya. Membuat Rakryan merasakan kantuk yang luar biasa.


“Ha, kenapa ini, kenapa aku mengantuk.” Mata Rakryan perlahan mulai menutup dan dia menjatuhkan kedua pedang yang dia pegang, bunyi logam jatuh terdengar jelas. Dan Rakryan benar-benar tertidur sekarang, tapi dalam posisi berdiri.


Para serigala yang mengira Rakryan masih sadar tetap bersiaga menyerang.


Buk, BUK, terdengar suara benda jatuh dua kali, suara kedua lebih keras dari pada suara pertama. Rakryan pun tumbang dimulai dari lutut yang menahan tubuh atasnya, dilanjutkan dengan tubuh atas lututnya yang kini terbaring. Dia tertidur nyenyak.


“R-Ra, Rakryan, bangun, bangun, Rakryan, eh, gimana ini, Rakryan.” Penta langsung berjongkok untuk membanguntkan Rakryan. Namun itu hanya membuang-buang waktu karena Rakryan sekarang tertidur nyenyak karena efek dari kabut yang diciptakan para serigala.


Para serigala yang tadi bersiaga menyerang, menyadari Rakryan tertidur dan langsung berlari, meski tidak melompat seperti enam serigala sebelumnya, lari para serigala ini sangat cepat, mungkin berkecepatan 70 km/jam.


Apa yang harus aku lakukan? Kalau begini kami berdua pasti akan mati. Apa aku harus melarikan diri, tapi bagaimana dengan Rakryan. Tapi…, bagaimana juga aku akan melarikan diri, kemana? Pikir Penta dengan panik.


Saat Penta berbicara dalam hatinya, para serigala sudah semakin dekat. Seekor serigala yang sudah berjarak sekitar 3 meter dari Penta melompat tepat di depannya. Sehingga membuat Penta melompat ke belakang dalam posisi jongkok, sangat ketakutan.

__ADS_1


Penta yang sudah dalam posisi terduduk dan ketakukan berpikir akan mati. Pada saat itu juga, sebuah panah melesat dari sisi kanan serigala yang melompat, lalu menusuk leher serigala itu, membuat serigala yang sudah membuka mulutnya lebar-lebar terdorong ke kiri dan jatuh ke tanah.


Penta yang tambah terkejut menengok ke arah datangnya panah. Yang dia lihat justru dua pilar api yang menjalar datang ke arahnya, sekejap menutupi depan dan belakangnya.


Apa ini? Apa yang terjadi? Apa ada serigala yang menembakkan panah dan mengeluarkan sihir api? Penta terheran-heran tapi pertanyaannya cukup aneh.


Saat Penta menengok ke kanan, 2 ekor serigala dari kiri siap menghantamnya dengan keras dalam jarak satu meter. Tanpa Penta menyadari bahaya yang datang dari sisi kirinya. Sebuah perisai cahaya berbentuk setengah lingkaran menyelimutinya.


Pera serigala yang sudah begitu dekat dengan Penta menghantam perisai cahaya itu dengan sangat keras. Membuat kedua serigala itu terkapar seketika.


Semua kejadian yang begitu cepat itu hanya untuk diabaikan oleh Penta yang berfokus pada 4 sosok bayangan orang yang berlari di tengah-tengah dua tembok api yang menyala.


“Pentaaaaa, Pentaaaaa, kau baik-baik saja?” Terdengar suara teriakan wanita yang familiar.


Penta meneteskan air mata, setelah menyadari 4 sosok orang yang datang itu. “Aku pikir ini akhir dari kehidupan ku.” berlinang air mata.


Keempat orang itu sudah sampai di hadapan Penta, mereka adalah, Prabu, Karang, Dyah dan Rani.


“Penta sudah jangan menangis, sini biar aku sembuhkan luka-luka mu.” Segera Rani berjongkok dan mengelus-elus kepala Penta.


“Aku tidak menangis, aku cuma terharu. Huhuhuhu.” Jawab Penta tersedu-sedu.


“Syukurlah kita masih sempat, syukurlah.” Dyah menghembuskan napas lega.


Karang yang kali ini memegang busur di tangan kanannya berjalan mendekati Rakryan. “Wahh, dia benar-benar nyenyak.” menggoncang-goncangkan tubuh yang tergeletak di tanah itu dengan tangan kirinya.


“Ternyata serigala-serigala itu benar-benar mampu mengalahkan Rakryan.” Ucap Prabu yang nafasnya masih agak berat sambil menyangga tubuhnya dengan tameng yang besar.


“Penyembuh total.” Setelah membaca mantra, Rani menyebutkan nama jurusnya.


Apa semua sihir perlu menyebutkan nama jurusnya seperti itu? Pikir Penta.


Seluruh tubuh Penta diselimuti cahaya yang hangat, luka-luka terbuka yang tadi ada di sekujur tubuhnya mulai menutup.


“Wahh luar biasa.” Penta terkagum-kagum.


Rani yang terlihat sangat manis saat tertawa seperti itu dan berjarak sangat dekat dengan Penta, membuat muka Penta memerah saat diselimuti cahaya penyembuhan dan membuatnya menundukan kepala.


“Eh kamu tidak apa-apa, Penta?” Tanya Rani heran karena Penta tiba-tiba menundukan kepala.


“Aku tidak apa-apa kok, tenang saja, aku hanya agak lelah.” Jawab Penta sambil menunduk.


“Oh, sayangnya sihirku tidak bisa menyembuhkan stamina yang hilang.” Rani menjawab kebohongan Penta.


“Tidak, tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah.” Balas Penta.


Dyah yang berdiri dan memperhatikan mereka berdua menyadari apa yang terjadi dan hanya tersenyum licik. Tapi dia tetap diam karena tidak ingin merusak suasana yang sudah tenang ini.


“Baiklah, aku akan menyembuhkan Rakryan dulu.” Rani berdiri dan menghampiri Rakryan.


“Hmm, terima kasih.” Ucap Penta saat Rani sudah berjalan meninggalkannya.


Saat Rani memberikan penyembuhan yang sama pada Rakryan yang masih tertidur pulas. Dyah mulai berbicara.


“Tembok Api ini tidak akan bertahan lama. Jadi sebaiknya kita melarikan diri.”


“Kemana kita akan lari?” Tanya Karang yang sejak tadi berdiri mengawasi kondisi sekitar.


Walaupun para serigala sudah di hadang dengan tembok Api sehingga tidak bisa masuk menyerang party tersebut. Sepertinya mereka tetap waspada dan bersiaga untuk segala kemungkinan.


“Kesana, kita akan kesana?” Jawab Dyah sambil menatap ke arah berlawanan dari arah mereka datang yang tidak tertutupi oleh tembok api.


“Bagaimana Rakryan?” Tanya Prabu yang berjaga menghadap arah mereka berlari tadi.


“Aku akan gunakan sihir ku untuk membawanya.” Jawab Dyah tegas.

__ADS_1


Karang yang menengok sedikit lalu mengangguk.


—-


Setelah Rakryan di sembuhkan, Dyah menggunakan sihir angin untuk membuatnya melayang.


Segera mereka berlari ke arah kabut yang masih tebal dan tidak tertutupi oleh tembok api.


Saat mereka berlari, tembok api perlahan mulai menghilang secara menjalar dari arah mereka berasal.


Para serigala yang mulai terlihat, jumlahnya semakin banyak, mungkin kali ini ada 50-an lebih. Mungkin serigala yang tadi mengikuti kelompok Dyah sekarang bergabung dengan para serigala yang menyerang Penta dan Rakryan.


Menyadari sekelompok orang itu melarikan diri, para serigala mengejarnya dengan kecepatan yang luar biasa.


Rani sambil berlari membaca mantra “oh cahya, Maringi nglingserake beban sing lagi kita gendhak saiki, banjur awak dhewe sing sehat lan kuwat. Penambah kecepatan dan ketahanan”.


Sebuah cahaya melingkari tubuh semua anggota Party kecuali Rakryan lalu menghilang dalam sekejap.


“Eh tubuhku jadi sangat ringan.” Ucap Penta kagum.


“Jangan bicara dulu, lari saja, atur nafas mu baik-baik.” Respon Dyah tegas.


“Hemm.” Jawab Penta singkat.


Mereka terus berlari tanpa tahu arah yang mereka tuju. Walaupun kecepatan lari mereka kini sudah bertambah, tapi itu tidak lebih cepat dari para Serigala, sehingga jarak para serigala yang tadi lumayan jauh sekarang terus berkurang secara bertahap.


Jangan dipikirkan, jangan dipikirkan, jangan dipikirkan, terus berlari saja. Gumam Dyah dalam hati. Kemungkinan dia menyadari jarak dengan para serigala terus berkurang.


Mereka berlima terus berlari tanpa peduli dengan yang terjadi di belakang, tak menghiraukan para serigala yang mengejar, itu yang mereka berusaha lakukan saat ini di dalam pikiran mereka masing-masing.


Mereka sudah berlari lebih dari 30 menit, tapi mereka tidak merasa lelah atau kesakitan sama sekali. Sihir peningkatan fisik yang Rani berikan ternyata bekerja dengan baik pada semua anggota Party. Walaupun mereka tetap terengah-engah, mungkin karena mereka tahu jika berhenti disini mereka akan binasa, jadi mereka tidak mau mempedulikan rasa sesak yang mereka rasakan.


Kabut perlahan mulai menepis. Dyah yang menyadari nya menengok kebelakang dan seperti dugaannya para serigala sudah tidak terlihat lagi.


Dyah segera memalingkan wajahnya dan ingin berteriak. “Tema…” Buk.


Suara orang jatuh terdengar cukup keras dan membuat Karang yang berlari di depan menyadarinya segera berhenti, Penta yang melihat Karang berhenti, juga ikut menghentikan larinya.


“Ada apa?” Tanya Penta.


“Aku mendengar orang jatuh. Ahh Dyah kamu tidak apa-apa?” Karang menghampiri Dyah dengan cepat setelah tahu Dyah jatuh tengkurap.


“Aku tidak apa-apa, tapi para serigala sudah tidak mengejar, kurasa.” Suara Dyah tidak begitu jelas seperti terhalang sesuatu dikarenakan wajahnya menghadap tanah.


“Oh, kamu benar, kabutnya mulai menipis.” Respon Karang.


Penta yang menenggok ke kanan dan ke kiri beberapa kali. Heran dengan sesuatu. “Dimana Prabu dan Rani?”


“Ha, bukannya mereka ada di…” Karang menjawab dengan membalikan badan namun dengan cepat menghentikan ucapannya dan menggantinya dengan kalimat lain. “Dimana mereka?” Terkejut.


Dyah segara bangkit menggunakan kedua tangannya dan melihat apa yang membuatnya terjatuh. Sebuah akar? Gumamnya dalam hati. Kemudian memperhatikan akar pohon itu dan mencari asal dari akar itu. Membuatnya cukup terkejut dengan sebuah pohon yang besar menjulang ke atas.


Kabut mulai menghilang, pemandangan yang seharusnya masih tanah gersang kini sudah menjadi hutan dengan pohon-pohon yang besar. Menyadari lingkungan yang sudah berubah membuat ketiganya hanya terpaku.


Dyah yang sudah berada dalam posisi duduk berkata. “Jadi kita sudah di Alas Warihing.”


Karang memandang Dyah yang duduk dengan tenang. “Sepertinya kamu tenang sekali, padahal mereka berdua menghilang.”


“Bukannya kita harus tenang dalam kondisi seperti ini. Padahal kamu juga memarahi ku tadi saat aku tidak tenang.” Balas Dyah dengan posisi duduk bersila yang menongak ke arah Karang.


“Yah.” Jawab Karang lalu memalingkan wajahnya untuk melihat ke sekeliling.


“I-Ituh, aku rasa kita sebaiknya tidak bertengkar sekarang.” Penta coba menengahi.


Dyah tersenyum kearah Penta. “Tenang Penta kami sedang tidak bertengkar kok. Hanya saling mengingatkan.”

__ADS_1


“Yah.” Karang menambahkan dengan kata yang sama sebelumnya, sambil tetap melihat ke sekeliling.


Penta tertawa melihat tingkah keduanya.


__ADS_2