Pangawasa Warihing (Penguasa Pohon Raksasa)

Pangawasa Warihing (Penguasa Pohon Raksasa)
Chapter 6 - Sosok Legenda


__ADS_3

Rakryan mengeluarkan salah satu pedangnya yang dia gantung di punggungnya. Segera dia berada dalam posisi siaga. Dia merasakan ada hawa kehadiran selain mereka berempat.


Penta dan Karang tampak sedang tidur bersandar di pohon yang sama.


Dyah masih melakukan meditasi, walau waktu sudah berlalu kemungkinan lebih dari satu jam sejak dia mulai melakukan itu.


Jika di lihat sepertinya tidak ada siapa-siapa selain mereka berempat. Tapi Rakryan yang merupakan petualang berpengalaman merasakan ada sesuatu selain mereka berempat, segera bersiaga tanpa perlu memikirkannya terlebih dahulu.


Rakryan terus memperhatikan sekitar tapi tidak melihat apapun.


Ini aneh, aku jelas merasakan ada hawa keberadaan lain, dan itu sangat dekat. Tapi aku tidak melihat apapun. Gumam Rakryan dalam hatinya.


Rakryan dengan cepat menoleh ke arah Dyah bermeditasi. Tapi lagi-lagi dia tidak melihat apa-apa. Dengan cepat dia membalikan badan dan menebas sesuatu yang dia rasakan ada di belakangnya. Tapi lagi-lagi tidak ada apa-apa selain udara yang dia tebas.


“Siapa kau? Aku jelas merasakan kehadiran mu. Tidak diragukan, aku tidak mungkin salah. Tunjukan dirimu dan katakan apa mau mu?” Rakryan yang seperti berbicara sendiri, cukup yakin dengan kemampuan intuisinya.


Tapi tetap tidak ada tanda-tanda makhluk lain selain mereka berempat disana.


Rakryan yang merasa kesal mengatupkan giginya dan melempar pedangnya ke arah Dyah yang sedang duduk bersila. Pedangnya menancap di batang pohon yang berada di belakang Dyah, tepat di atas kepalanya. Tapi Dyah tetap tidak bergeming.


Apa Rakryan punya masalah dengan Dyah? Sepertinya bukan, tadi Rakryan jelas merasakan ada sesuatu di atas kepala Dyah. Tiba-tiba sesosok makhluk bersayap menampak diri di belakang Rakryan yang sedang menghadap ke arah Dyah.


Makhluk itu sedang menarik busurnya yang tampak bercahaya, ke arah Rakryan.


Dyah membuka matanya dan mengucapkan. Wahai dewi air, owahkan cairan sing lembut iki dadi jarum sing bisa ngalahake musuh ing ngarep kita. “Hujan Jarum Es.” Sekumpulan kristal es yang sudah berbentuk jarum melayang di sekitar Dyah, jumlahnya sangat banyak, mungkin ada 30-an lebih disana. Saat Dyah selesai mengucapkan nama jurusnya, jarum-jarum meluncur dengan kecepatan yang sama dengan peluru dari senjata api, mengarah ke arah makhluk yang mengincar Rakryan.


Jarum es yang di tembakan Dyah tepat mengenai makhluk itu. Setelah kepulan es yang tercipta dari hantaman es menghilang. Tampaknya sosok itu tidak terluka sama sekali. Tapi makhluk itu sudah tidak dalam posisi memanah lagi, dan kemudian makhluk itu menghilang.


Rakryan yang matanya terbuka lebar sangat terkejut, berkata.”Ini tidak mungkin kan. Bukannya makhluk itu sudah punah berjuta-juta tahun yang lalu?”


“Seperti itu lah yang kamu lihat. Aku juga sempat tidak percaya. Tapi kamu lihat kan kemampuannya. Makhluk apa lagi yang berwujud manusia, berkepala burung dan memiliki sayap serta tidak mempan terhadap sihir. Apa lagi kalau bukan makhluk itu.” Jawab Dyah dengan keras.


“Sialll, bagaimana kita bisa menghadapi makhluk itu?” Rakryan merasa bulu kudunya berdiri. Sepertinya dia ketakutan dengan makhluk yang dia lihat barusan.


“Teman-teman. Penta, Karang bangunnnn.” Teriak Dyah dengan keras ke arah mereka berdua.


Karang yang mendengar panggilan itu, langsung bangun dengan melompat ke arah dahan pohon di atasnya. Baru kemudian dia membuka matanya saat sudah di atas dahan itu.


Sementara Penta, masih terlihat sangat pulas.


“Wohh, sigap seperti biasa.” Dyah memperhatikan Karang yang sudah di atas dahan pohon setinggi 6 meter. Lalu melihat Penta. “Ahh, Penta kamu merepotkan juga ya ternyata.”


Dyah masih tetap tenang walaupun Rakryan terlihat sangat ketakutan, apa ini adalah efek dari meditasi nya?


“Ketuaaaa, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Rakryan yang baru saja mengambil pedangnya yang menancap di batang pohon.


“Karang, bagaimana mana situasinya?” Tanya Dyah kepada Karang yang memantau lingkungan sekitar dari atas.


“Makhluk itu. Dia berpindah dengan sangat cepat, walau mata ku masih bisa mengikuti kecepatannya, tapi sangat sulit memastikan jumlahnya. Tapi yang pasti jumlah nya lebih dari satu.” Jawab Karang yang sedang menggerakan pupil matanya dengan cepat.


“Ini lebih buruk dari dugaan ku.” Dyah berlari kearah Penta tertidur. “Penta bangun, Pentaaaaa.” Teriak Dyah sambil menggoyangkan bahu Penta.


“Haaa, Dyah, ada apa?” Tanya Penta yang baru saja membuka matanya.


“Kita harus melarikan diri.” Jawab Dyah dengan cepat.


“Haaaaa?” Otomatis Penta sadar sepenuhnya mendengar ucapan itu.

__ADS_1


——


Mereka berempat terus melarikan diri entah ke arah mana. Yang membuat sulit berlari disini adalah akar-akar pohon yang keluar dari tanah, jika tidak hati-hati mereka pasti tersandung.


Tapi halangan itu tidak berlaku bagi Karang, yang melompat-lompat di atas dahan pohon. Dia seperti ninja saja, kerennnnn. Gumam Penta.


“Berhentih, berhentih.” Ucap Dyah yang terengah-engah, memegang batang pohon dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya membawa tongkat sihir yang dia gunakan untuk menyangga tubuhnya saat ini.


“Apahh, makhluk ituhh, masih, mengikuti kitah?” Dyah berusaha bertanya meski bernafas saja sudah sulit untuknya saat ini.


Tanpa adanya Rani disini, tentunya tidak ada yang bisa memberikan mereka sihir penguat, sehingga membuat mereka terutama Dyah dan Penta, kesulitan untuk berlari jauh.


Karang yang berhenti di atas salah satu dahan, masih bernafas seperti biasa. Hal itu tidak mempengaruhi Karang sama sekali yang merupakan seorang pemburu. “Iya, masih. Kita tidak membuat jarak sedikitpun dari mereka.” Jawab Karang tenang.


Begitu juga dengan Rakryan, tidak terlihat terengah-engah sama sekali. Tapi mendengar berita yang disampaikan Karang, Rakryan memukul batang pohon di sampingnya dan mengucapkan sebuah kata. “Sial.”


Sementara Penta seperti Dyah, terengah-engah tapi tidak separah Dyah.


“Terushhh, buat apahh, kita larih, dari tadih?” Sekali lagi Dyah memaksakan diri untuk berbicara dengan nafas yang tinggal setengah.


“Aku juga ingin menanyakan itu.” Gumam Karang, tapi karena suaranya yg kecil dan jarak yang jauh pertanyaannya tidak bisa didengar oleh teman-temannya yang berada di bawah.


Saat menggumamkan itu Karang melihat makhluk itu terbang ke arah Penta, dengan cepat dia memperingatkan Penta meski dia tahu itu tidak akan sempat. “Penta awas.”


Saat mata Karang sampai ke tempat Penta berada. Dia melihat Rakryan sedang menahan serangan makhluk dengan kedua pedangnya.


Penta yang tidak tahu jika di serang, baru sadar jika dirinya dalam posisi bahaya ketika Rakryan berada di depannya tiba-tiba.


“Penta tetap di belakang ku.” Kata Rakryan yang sedang menahan pukulan makhluk yang berpenampilan seperti burung di kepalanya.


“Makhluk apa itu?” Tanya Penta yang sedang terkejut.


“Garuda?” Penta masih tidak paham dengan makhluk yang ada di hadapan Rakryan. “Terus kenapa dia menyerangku?”


“Karang pinjam belati.” Teriak Dyah, sudah tidak terengah-engah seperti sebelumnya.


“Huhh.” Karang menghela nafas tapi dia tetap melempar kedua pisau yang dia pegang ke atas kepalanya.


Dyah menjulurkan tangan kanannya dan mengarahkan telapak tangannya ke arah pisau dilempar. Pisau yang tadi mengarah ke langit tiba-tiba berbalik arah lalu jatuh dengan cepat ke arah makhluk yang berada di hadapan Rakryan, dengan cepat makhluk itu menghilang kembali.


“Hahaha, kalau sihir tidak bisa, bagaimana dengan serangan fisik.” Kata Dyah sambil tertawa jahat.


“Wow, apa itu telekinesis?” Tanya Penta terkagum.


“Saat seperti ini. Pikirkan keselamatan mu, PENTA.” Rakryan yang sejak tadi tampak kesal, berteriak kepada Penta.


“Ma-maaf.” Penta merasa takut dengan sikap Rakryan.


“Jangan bertengkar sekarang.” Karang coba menenangkan.


Tapi keduanya hanya diam saja.


“Huh.” Karang menghela napas lagi, karena sikap keduanya.


Hujan panah datang dari Arah depan Rakryan, panah yang berwarna emas terang, melaju dengan cepat ke arah Rakryan, mungkin berjumlah 100 atau lebih anak panah.


“Kecepatan Ilusi.” Waktu melambat karena jurus yang digunakan Rakryan, tapi yang menyadari itu hanya Rakryan seorang.

__ADS_1


Semua anak panah yang datang bersamaan menuju ke Arah Rakryan di tangkisnya dengan kecepatan yang tidak akan bisa ditiru manusia biasa. Saking cepatnya pergerakan tangan Rakryan, seolah-olah saat ini dia tidak memiliki lengan sama sekali.


Di sisi berlawanan Karang berhadapan dengan makhluk berwujud sama persis dengan makhluk yang menembakan panah pada Raryan. Yang membedakan makhluk yang disebut Garuda ini memegang pedang cahaya di tangan kirinya dengan mencondongkan sisi kiri tubuhnya kedepan.


Karang menyeringai, entah karena takut atau senang, lalu dia melempar sebuah belati ke arah Garuda. Tapi makhluk itu hanya mengabaikan belati yang melewati sisi kirinya.


“Tukar.” Secara instant tubuh karang bertukar dengan belati yang dia lempar dan sekarang berada di belakang Garuda. Dengan cepat Karang mengambil belati baru dari penyimpanan di pahanya dan membalik kan badan untuk menebas sang Garuda.


Menyadari itu Garuda dengan cepat menangkis serang Karang, tapi Karang tidak berhenti dengan satu serangan, dia menebas lagi dan lagi, entah sudah berapa kali dia menebas-nebas dalam waktu kurang dari 5 detik. Tapi semuanya berhasil ditangkis oleh Burung berbadan manusia.


Rakryan tidak bisa beranjak dari posisinya, saat ini dia sedang sibuk menangkis semua anak panah yang data ke arahnya.


Dyah melesatkan belati yang dia pinjam dari Karang dengan kemampuan telekinesisnya. Dengan kecepatan yang hampir sama dengan peluru, kedua belati itu menuju Garuda yang memanah, Makhluk itu berhenti memanah dan mengubah busurnya menjadi pedang.


“Ihh, enak banget.” Gumam Dyah yang sudah memperkuat matanya dengan sihir sehingga bisa melihat menembus pepohonan dan jarak yang jauh walaupun pandangan nya jadi putih-hitam.


Rakryan yang sadar panah berhenti berdatangan, melompat dengan sangat cepat, jarak yang tadinya 20 meter lebih di tempuhnya dalam waktu 1 detik. Langsung memberi tebasan bertubi-tubi kepada Garuda itu saat tiba di depannya. Semua serangan itu berhasil di tangkis juga.


Dyah yang tahu Garuda itu sedang sibuk melawan Rakryan menggerakan lagi belatinya, kali ini dia tepat mengincar kepala burung itu dari sisi kanannya.


Belati dengan kecepatan peluru kembali datang. Clanggg, Suara besi beradu terdengar, Rakryan melompat mundur dan mendecitkan lidahnya saat melihat kejadian yang menyebalkan baginya.


Saat menangkis serangan Dyah, makhluk itu mengeluarkan tangan yang memegang pedang cahaya dari kepalanya.


Secara perlahan sebuah tubuh yang sama persis dengan makhluk itu keluar dari tubuh yang sedang di lawan Rakryan. Kini makhluk yang melegenda itu menjadi 2 di hadapan Rakryan, kalau di total sekarang ada 3, karena satu nya sedang bertarung dengan Karang.


“Ahh, ini yang aku tidak suka dari makhluk mitos. Selalu saja membelah diri.” Keluh Dyah.


Garuda yang baru saja tercipta terbang dengan cepat ke arah Rakryan dan melewatinya. Rakryan sadar siapa yang di incar makhluk itu dengan cepat membalikan badan dan berancang-ancang melompat.


Garuda yang tadi di hadapi Rakryan secara instan muncul di hadapannya, sepertinya dia ingin menghalangi Rakryan melindungi Penta.


“Dyahhhh.” Rakryan berteriak sangat cepat.


“Aku tahu.” Dyah menjawab dengan keras juga.


“Tembok Es.” beberapa lapis es keluar dari tanah dan membentuk tembok untuk menghentikan laju Garuda yang terbang menuju Penta. Tapi semuanya di tembus tanpa ada masalah oleh Burung itu.


Karang yang sedang beradu serangan dengan Garuda lainnya, sadar jika Penta dalam bahaya. Secara sigap dia menendang dada Garuda sebagai pijakan untuk meluncur ke arah Penta. Tapi Karang tidak sadar yang dia lakukan justru membawanya dalam masalah.


Kaki karang yang belum sempat membuat hempasan, di pegang oleh Garuda saat telapak kakinya menyentuh dada sang Garuda. Tanpa peringatan sedikitpun Garuda itu memotong kedua kaki Karang. Kedua kakinya pun terpotong di lutut seperti kertas.


“AAAAAHHHHHH.” karang berteriak kesakitan dan terjatuh dengan wajah menghadap tanah.


Garuda yang sudah menembus tembok es terakhir, mengarahkan ujung pedang ke arah Penta.


Penta yang tidak mampu melihat kecepatan Garuda itu hanya merasakan ada makhluk yang datang ke arahnya.


Kini Garuda itu sudah berjarak 3 meter di depan Penta. Bersiap menusukan pedangnya.


Sebuah belati meluncur dari samping kiri Penta tanpa dia sadari.


“Tukar.” Sesosok tubuh muncul secara instan di depan Penta. Tubuh yang tanpa kaki itu melayang menghentikan pedang bersama Garuda yang meluncur ke arah Penta dengan tubuhnya, dan dia mengatakan sebuah kata lagi. “Tukar.”


Kembali tubuh itu bertukar dengan belati yang dia tancapkan di tanah saat dia terjatuh.


Karena momentum kecepatan dari Garuda yang terbang, membuat tubuh tanpa kaki dan tertusuk itu terdorong ke belakang, pedang cahaya yang menusuk perutnya menembus dan menusuk Garuda lain yang ada di belakangnya.

__ADS_1


Kedua tubuh yang tertusuk itu berhenti setelah menabrak pohon yang berada beberapa meter di belakang mereka.


Dyah menyaksikan apa yang terjadi berteriak histeris. “KARANGGGGG.”


__ADS_2