
Hari ini adalah jadwal pelatihan simulasi perang para pangeran di Istana Black Cart.
Para putri pun duduk dipinggir area lapangan sembari menonton para pangeran yang sudah siap menggunakan pakaian perang serta pedang yang ada ditangan kanan mereka.
Para putri menunggu kegiatan ini, mereka semua antusias melihat kehebatan para pangeran saat sedang menghunuskan pedang.
Walaupun ini adalah simulasi namun para putri tak pernah absen untuk kegiatan yang satu ini.
"Tenang Putri Athanasia, aku merasa pagi hari yang cerah ini akan menunjukkan keajaibannya, gulungan kertas yang kau pegang pasti berisi nama Pangeran Elio." ucap Putri Quely.
"Benar, kau tidak perlu khawatir tuan putri" imbuh Putri Hera.
"Apakah kita bisa request isi gulungan kertasnya?" tanya Putri Kanzia.
"Jika bisa, sudah pasti akan aku lakukan sejak dahulu." jawab Putri Lizzie.
"Aku tahu kau akan memilih pangeran siapa" goda Putri Jannesa
"Siapa?" tantang Putri Lizzie
"Pangeran Raynor! Hahaha, benar bukan?" ucap Putri Jannesa
Putri Lizzie langsung membuka matanya lebar-lebar dan menutup mulut Putri Jannesa menggunakan tangannya
"Hei, jangan mengatakannya dengan keras." ucap Putri Lizzie.
"Oh.. Jadi yang kau maksud selama ini adalah Pangeran Raynor, tuan Putri Lizzie?" tanya Putri Athanasia yang duduk disamping kanan Putri Lizzie.
"Bisakah kau rahasia kan ini Putri Athanasia?" ucap Putri Lizzie dengan pelan
Putri Athanasia tersenyum manis, kemudian pandangannya kembali tertuju pada Pangeran Elio yang sedang serius dengan simulasi perang ini.
(Kenapa Pangeran Elio tampan sekali, ditambah dia sedang berusaha keras seperti itu.) batin Putri Athanasia.
...****************...
Simulasi perang telah usai, para putri berdiri dari duduk mereka dan memberikan tepuk tangan, sorakan serta senyuman terbaik mereka atas kerja keras para pangeran.
Seorang pelayan istana datang membawa baki yang berisi gulungan kertas, disusul satu pelayan istana lainnya membawa baki berisi air mineral dan handuk kecil.
Putri Athanasia berharap gulungan yang dia pegang berisi nama seseorang yang dia cintai-- Pangeran Elio.
Ketika mereka sudah dipersilahkan membuka gulungan kertas. Putri Athanasia langsung tersenyum lebar dan berjalan menuju nama pangeran tersebut.
Pangeran tersebut sedang berbaring diatas rumput sembari memejamkan mata, membiarkan tubuhnya terpapar sinar matahari pagi.
Keringat bercucuran ditubuhnya, bahkan wajahnya juga penuh dengan keringat. Namun matanya terbuka ketika sinar matahari berubah menjadi gelap seakan dihalangi.
"Putri Athanasia?" ucap Pangeran Elio.
"Kita bertemu" ucap Putri Athanasia
Pangeran Elio langsung duduk, Putri Athanasia juga melakukan hal yang sama. Dia duduk didepan Pangeran Elio sembari menampakkan senyum terbaiknya.
"Ini untukmu"
Putri Athanasia menyodorkan air mineral serta handuk kecil yang dia pegang pada Pangeran Elio.
"Terima kasih" jawab Pangeran Elio.
"Sama-sama" jawab Putri Athanasia dengan lembut.
"Kau sudah bekerja keras hari ini, kau terlihat handal dan profesional. Aku kagum denganmu." ucap Putri Athanasia.
__ADS_1
"Kau terlalu kagum denganku, aku tidak seperti itu. Lagipula orang sepertiku tidak pantas untuk kau kagumi." jawab Pangeran Elio.
"Kau memang tidak pantas untuk aku kagumi, karena kau lebih pantas untuk aku cintai." ucap Putri Athanasia sembari memberikan senyuman manis.
Pangeran Elio langsung menunduk dan tersenyum. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan menoleh pada putri cantik didepannya.
"Sejak kapan kau bisa gombal, tuan putri?" tanya Pangeran Elio
"Semalam, karena aku membaca buku tentang rayuan dan gombalan." jawab Putri Athanasia.
"Hahaha, kau lucu sekali tuan putri" ucap Pangeran Elio.
Disela tawanya Pangeran Elio menepuk pundak Putri Athanasia, hal itu sontak membuat Putri berambut panjang berwarna coklat, wajah yang kecil, manis dan cantik itu terkejut.
Sorot mata coklat seketika melebar ketika menerima perlakuan itu.
"Apakah membosankan ketika mendapatkan gulungan berisi namaku?" tanya Pangeran Elio.
Putri Athanasia langsung sadar dari lamunannya, dan menjawab pertanyaan Pangeran Elio.
"Tidak, aku tidak pernah merasa bosan. Bahkan jika aku harus mendapatkan nama mu sampai 100 kali." jawab Putri Athanasia.
"Kau berlebihan putri, bagaimana jika kau bertanya padamu? Kau bersedia menjawabnya?" tanya Pangeran Elio
Putri Athanasia langsung mengangguk dan menjawab...
"Aku bersedia!"
"Apakah benar, kalau kau menyukaiku?" tanya Pangeran Elio
Putri Athanasia diam, dia terlihat kebingungan serta panik karena Pangeran Elio bisa mengetahui perasaannya.
"Tuan Putri Athanasia?" Pangeran Elio menyapa.
"Apakah aku harus menjawabnya saat ini juga?" tanya Putri Athanasia sembari menata iris mata Pangeran Elio yang ternyata menatapnya juga.
"Baiklah, jawabannya... Iya, itu benar." jawab Putri Athanasia.
"Apa alasan kau menyukaiku?" tanya Pangeran Elio
"Tanpa alasan, aku menyukaimu begitu saja." jawab Putri Athanasia
"Bukan kah itu aneh? Kau menyukaiku tanpa alasan apapun?" tanya Putri Athanasia.
"Itu lah yang dinamakan cinta, jika kau menyukai orang itu tanpa alasan maka itu namanya cinta." ucap Putri Athanasia.
"Aku tidak mengerti jalan pikiran mu tuan putri." ucap Pangeran Elio
"Intinya seperti itu, aku yakin kau paham Yang Mulia Pangeran Elio." ucap Putri Athanasia.
Pangeran Elio langsung meletakkan tangannya diatas gaun milik Putri Athanasia.
Pangeran Elio menatap wajah Putri Athanasia dengan intens kemudian dia tersenyum.
"Wajahmu memerah."
Pangeran Elio langsung melipat handuk kecil yang dia pegang kemudian dia letakkan diatas rambut coklat Putri Athanasia.
"Gunakan ini untuk menutupi wajahmu." ucap Pangeran Elio
Pangeran Elio langsung berdiri dan bergabung bersama pangeran lainnya untuk masuk ke dalam istana.
"Putri Athanasia~"
__ADS_1
Putri Quely berlari kecil untuk menemui Putri Athanasia yang masih duduk ditempat dan tidak bergerak sama sekali.
Wajahnya masih terkejut dan ekspresinya masih diam membeku.
"Tuan putri? Kau tidak ingin masuk istana?" tanya Putri Quely
"Iya? Oh iya, aku.. Aku ikut denganmu." ucap Putri Athanasia setelah sadar dari lamunannya lagi.
"Baiklah, ayo! Yang lainnya sudah berjalan masuk ke istana." ucap Putri Quely sembari menggandeng tangan Putri Athanasia.
"A-ayo." ucap putri Athanasia.
...****************...
Para putri dan pangeran menikmati hidangan makan siang dengan baik, kemudian mereka diberikan waktu untuk istirahat.
Dipinggir danau istana Black Cart, Putri Kanzia duduk memeluk kakinya sembari menatapi air yang tenang.
Pangeran Elio datang dan berdiri dengan jarak 3 meter disamping Putri Kanzia duduk.
"Kenapa kau disini sendirian?" tanya Pangeran Elio
"Aku butuh ketenangan" jawab Putri Kanzia
"Yang lainnya ada di halaman depan istana." ucap Pangeran Elio
"Iya, aku tahu." jawab Putri Kanzia.
Pangeran Elio menatap Putri Kanzia sekilas, kemudian dia kembali menatap danau didepannya.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini pangeran? Sedangkan pangeran lainnya sedang berada di area pacuan kuda." ucap Putri Kanzia.
"Aku hanya ingin berjalan-jalan saja." ucap Pangeran Elio.
"Ku kira kau akan menjawab ingin menyendiri." ucap Putri Kanzia.
"Aku berbeda dengan mu." jawab Pangeran Elio
Pangeran Elio beranjak pergi meninggalkan area danau, namun baru beberapa langkah meninggalkan area tersebut, celetukan Putri Kanzia membuat Pangeran Elio menghentikan langkahnya.
"Pedang sapphire..."
Pangeran Elio membalikkan badannya dan menatap punggung Putri Kanzia yang sedang berdiri memunggunginya.
"Apa yang kau ketahui tentang pedang sapphire?" tanya Putri Kanzia.
"Kau bertanya padaku?" tanya Pangeran Elio
Putri Kanzia membalikkan badannya dan menatap Pangeran Elio dengan intens.
"Siapa lagi?" jawab Putri Kanzia.
"Aku tidak tahu apapun soal pedang sapphire." jawab Pangeran Elio.
"Namun reaksi mu mengatakan hal sebaliknya." jawab Putri Kanzia.
"Kau tiba-tiba menyeletuk, tentu saja aku membalikkan badan." elak Pangeran Elio.
"Katakan saja, sudah sejauh mana kau mengetahui tentang pedang sapphire?" tanya Putri Kanzia.
Pangeran Elio diam, dia berpikir sejenak dan meneliti arti dibalik ekspresi Putri Kanzia saat ini.
.......
__ADS_1
.......
.... to be continued ....