Pangeran Elio

Pangeran Elio
Festival Istana Pejasone


__ADS_3

Istana Pejasone mulai di penuhi para putri dan pangeran tampan dari berbagai kerajaan. Mereka saling menyapa satu sama lain dan berbincang hingga aula indoor ini terasa ramai karena obrolan para tamu.


Sementara, semua putri sedang bersiap di ruang kosong Istana Pejasone, karena hari ini akan diadakan Festival Pejasone. Dimana seluruh pangeran dan putri yang menggunakan sistem kerajaan modern akan hadir diacara besar ini.


Butuh beberapa bulan untuk mendapatkan persetujuan festival ini dan saat ini Pangeran Dragomir tersenyum bahagia karena proposal mengenai Festival Pejasone di setujui oleh semua kerajaan.


Para putri akan menampilkan tarian pedang dalam 30 menit lagi, dimana para pangeran-pangeran tampan akan menyaksikan keahlian para putri kerajaan menggunakan pedang dengan sedikit tarian.


Tentunya para pangeran tidak akan tahu siapa saja yang ada di tengah ruangan indoor ini. Karena pakaian para putri tertutup, mereka juga menyembuyikan wajah seakan menggunakan burka.


Hanya tangan dan kaki saja yang dapat dilihat, para putri berpakaian putih sudah masuk ke dalam aula indoor istana besar Pejasone. Ketika musik mulai berbunyi, para putri memulai koreografi yang sudah mereka latih selama ini.


“Kau tahu? Ternyata para putri dari lingkup tetangga terlihat menarik” ucap salah satu pangeran disamping Pangeran Elio.


Pangeran Elio hanya menyimak, dia tidak ingin menimbrung karena dia juga tidak kenal dengan 2 pangeran dari lingkup lain tersebut.


(Dimana Putri Quely? Aku yakin wajahnya pasti memerah dibalik kain itu) batin Pangeran Elio diakhiri dengan senyumannya.


Pangeran Elio terus mengedarkan pandangannya mencari sosok Putri Quely diantara 40 putri berpakaian putih itu.


“Siapa yang kau cari Pangeran Elio?” tanya Pangeran Raynor


“Putri Quely” ucap Pangeran Elio


“Kau mencari sepupu mu? Bagaimana caranya? Kau lihat... mereka semua tampak mirip” ucap Pangeran Raynor


Pangeran Elio mengangguk “Mencarinya sangat mustahil bukan?”


“Kau tahu? Sejak pertunjukan ini dimulai Pangeran Zaire sudah mencari dambaan hatinya” ucap Pangeran Raynor sambil menahan tawanya.


“Putri Eudora?” tanya Pangeran Elio


“Benar sekali, dia terus memanjangkan lehernya mencari Putri Eudora. Yang benar saja, aku saja tidak bisa membedakan putri dari lingkup 7 kerajaan besar yang mana” ucap Pangeran Raynor


“Semua pangeran yang menonton juga mencari-cari para putri, namun itu hanya sia-sia saja” ucap Pangeran Elio


“Lebih baik kita menikmati saja pertunjukan ini hingga selesai” ucap Pangeran Raynor.


Pangeran Elio mengangguk, pandangannya langsung ke arah depan lagi untuk melihat pertunjukkan para putri. Namun, saat matahari masuk dari celah ventilasi yang menyebabkan kilauan biru dari pedang para putri membuat Pangeran Elio tertuju padanya.


5 menit... 10 menit... pandangan Pangeran Elio masih tertuju pada putri yang memiliki permata saphire di pedangnya. Gerakannya lincah dan lihai seakan dia sudah hafal betul tarian ini dan sering mengulangnya.


(Siapa dia? Putri dengan permata saphire di pedangnya.) batin Pangeran Elio.


-Permata saphire pada pedang hanya dimiliki oleh para petinggi kerajaan-


“Petinggi kerajaan? Untuk apa dia hadir diacara ini?” gumam Pangeran Elio ketika ingatannya mengatakan fakta yang dia baca dari buku tentang dunia kerajaan.


(Festival ini diadakan untuk para putri, bukan untuk petinggi kerajaan. Lalu, siapa putri itu? Apakah dia petinggi kerajaan? Atau dia adalah mata-mata dari kerajaan lain? Apakah ada yang menyadari hal ini?) batin Pangeran Elio.


Pangeran Elio langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh pangeran yang sedang duduk dan menatap para putri. Namun dia tidak menemukan setidaknya satu pangeran yang menatap ke arah yang sama.


“Siapapun itu, aku harus bertemu denganmu. Pedang saphire” gumam Pangeran Elio.


...• • •...


Setelah pertunjukan selesai, Pangeran Elio bergegas menghampiri Putri Quely yang sudah membuka kain penutup wajah bersama dengan pangeran lainnya.


Saat sudah sampai di depan Putri Quely, Putri Athanasia, Putri Hera, Putri Eudora, Putri Jannnesa dan Putri Lizzie, Pangeran Elio langsung memberi hormat ditambah senyuman manisnya. Dengan tujuan untuk memberikan apresiasi terhadap apa yang telah mereka lakukan hari ini.


“Kalian luar biasa” ucap Pangeran Zaire


“Terima kasih” ucap Putri Hera


“Tidak perlu diragukan lagi, putri dari lingkup 7 Kerajaan Besar memang berbakat dan cantik.” puji Pangeran Aragon


Pangeran Elio mengedarkan pandangan mencari pemilik pedang biru saphire, dia sudah melirik pedang para putri didepannya namun tidak ada permata saphire. Saat melihat kilauan permata itu sekilas Pangeran Elio langsung mengejar putri itu yang masih menggunakan pakaian lengkap.


Alhasil kejadian kejar-mengejar terjadi, Pangeran Elio tidak ingin orang itu lepas dari genggamannya. Pangeran Elio hanya ingin tahu kenapa petinggi kerajaan hadir di dalam acara ini.


Karena yang dia tahu selama ini, petinggi kerajaan hidup di dalam satu istana dan tidak keluar jika tidak memiliki kepentingan yang benar-benar penting.


Namun, petinggi kerajaan datang hanya untuk mengikuti perform di Festival Pejasone? Itu terasa sangat aneh bagi Pangeran Elio.


Pengejaran diakhiri saat putri itu berhasil bebas dan bersembunyi dari Pangeran Elio, terlebih saat ini Pangeran Elio telah keluar dari Istana Pejasone karena mengejar putri itu.

__ADS_1


Pangeran Elio memilih masuk kembali ke dalam istana dan akan mencari tahu lagi nanti dengan harapan, putri itu akan muncul lagi di depannya.


...• • •...


Saat ini para pangeran dan putri sedang sibuk mencoba permainan panah asmara. Disediakan busur dan anak panah, lalu dijarak 50 meter ada buah persik. Ini adalah acara seru-seruan zaman dahulu.


Dimana jika seorang putri atau pangeran berhasil memanah buah persik disana maka orang yang mereka sukai akan menjadi pasangan hidupnya.


Sebelumnya juga ada banyak papan kayu menghalangi jalur menuju buah persik di depan sana. Namun, para pangeran putri beramai-ramai mencoba permainan itu.


Pangeran Aragon, Pangeran Zaire, Pangeran Elio, Pangeran Raynor, Pangeran Dragomir, Pangeran Theonor dan Pangeran Xavier berkeliling bersama.


Halaman depan istana diisi permainan panah asmara, bagian samping Istana Pejasone diisi bazar perhiasan dan aksesoris yang dibuat para warga sekitar untuk dijual.


Dua tempat ini sama-sama penuh, namun Pangeran Elio dan kawan-kawan memilih berhenti diarea panah asmara. Mereka melihat para putri dan pangeran yang memainkan permainan itu dan beberapa dari mereka gagal namun tidak sedikit yang gagal.


“Kau percaya itu sepupu ku?” tanya Pangeran Aragon pada Pnageran Elio


“Entahlah, aku tidak ada niatan untuk mencobanya” jawan Pangeran Elio


“Hei... kenapa begitu? Ku rasa kau harus mencobanya, kau dan Pangeran Aragon terkenal sebagai Raja memanah diantara kita. Ayo! Aku akan lihat itu” ucap Pangeran Xavier bersemangat


“Tidak, aku tidak mau” ucap Pangeran Elio


“Ayolah..” Pangeran Theonor mendorong Pangeran Elio diikuti Pangeran Aragon yang tersenyum dibelakang Pangeran Elio.


“Aku tidak ikut” Pangeran Elio membalikkan badannya, namun Pangeran Aragon menahannya.


“Kau tidak lihat para putri sedang menatapmu? Kau takut sepupuku?” ucap Pangeran Aragon meledek Pangeran Elio


Pangeran Aragon benar, para putri kini menatap wajah Pangeran Elio dengan senyuman karena wajah tampannya. Dia hanya tidak ingin dicap penakut. Pangeran Elio langsung membalikkan badannya lagi dan menjawab ledekkan sepupunya Pangeran Aragon.


“Tidak, aku tidak takut. Akan aku tunjukkan betapa mudahnya memanah buah itu” ucap Pangeran Elio


Pangeran Aragon menarik tali busur panah nya, mata fokus pada buah persik didepannya pikirannya fokus pada perhitungan dimana anak panah itu bisa sampai tanpa menabrak papan yang lalu lalang.


“Tunjukanlah kemampuan mu, sepupuku. Jangan lupa, bayangkan satu wanita yang kau suka. Siapa tahu permainan ini berhasil” ucap Pangeran Aragon tanpa menatap Pangeran Elio.


Dia melepas anak panahnya, dan betul saja julukan “Raja Memanah” tidak lepas dari Pangeran Aragon. Pangeran Aragon menatap Pangeran Elio dengan senyuman lebarnya.


“Kau lihat, semudah itu. Mustahil jika kau tidak bisa. Cepatlah sepupuku, para putri menunggu mu.” Ledek Pangeran Aragon.


“Bayangkan wanita mu” ucap Pangeran Aragon


Justru hal itu membuat Pangeran Elio buyar, pikirannya menampilkan kembali sosok putri dengan pedang permata saphire. Pangeran Elio ingin tahu siapa putri itu.


Rekaman itu terus berputar diotaknya, hingga dia melepaskan anak panah itu tanpa sadar. Buah persik itu jatuh karena anak panah milik Pangeran Elio. Yang menandakan dia tepat sasaran.


Para putri yang merasakan ekspetasi mereka sesuai dengan realita berteriak histeris karena Pangeran Elio berhasil melakukannya.


“Ku rasa kau berhasil, sepupuku.” Ucap Pangeran Aragon


“Tenang para putri... kebetulan sepupu ku belum memiliki pasangan hidup. Jadi, kemungkinan dia akan memilih salah satu dari kalian” ucap Pangeran Aragon


Pangeran Elio menghela nafas, bagaimana bisa Pangeran Aragon membuat seakan Pangeran Elio sedang sayembara mencari pasangan hidup.


“Tidak, itu tidak benar. Kau ini aneh-aneh saja.” ucap Pangeran Elio menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan Pangeran Aragon.


“Pangeran Elio! Tunggu aku!” teriak Pangeran Aragon dengan keras sambil berlari menyusul Pangeran Elio.


Pangeran Elio masuk ke area perhiasan dan aksesoris, hingga dia bertemu dengan Putri Athanasia.


“Salam Putri Atha” ucap Pangeran Elio


“Salam Pangeran Elio, kau sendirian?” tanya Putri Athanasia


“Tidak, dia bersama kami” ucap Pangeran Xavier yang disusul pangeran-pangeran lainnya.


“Ada kalian juga rupanya” ucap Putri Athanasia


“Kau membeli aksesoris sebanyak itu?” tanya Pangeran Theonor


“Iya, aku memang suka aksesoris” ucap Putri Athanasia.


“Bukan suka, kakak ku adalah kolektor” ucap Pangeran Xavier

__ADS_1


“Hei, kenapa kau berkata seperti itu” ucap Putri Athanasia


Karena kesal Putri Athanasia mengabaikan ucapan adiknya, Pangeran Xavier. Namun, mood nya naik kembali saat Pangeran Elio berbicara.


“Yang ini bagus” ucap Pangeran Elio menunjuk gelang cantik disebelah kanan Putri Athanasia.


Putri Athanasia tersenyum menatap cincin yang ditunjuk Pangeran Elio.


“Kau benar ini bagus” ucap Putri Athanasia sambil mengangkat cincin itu ke udara dan menatap Pangeran Elio dari lubang cincin itu.


Pangeran Elio ternyata sudah ditinggal oleh pangeran-pangeran lainnya.


“Aku akan berkeliling putri, salam..” ucap Pangeran Elio


Dia langsung berjalan-jalan mengelilingi area penjualan aksesoris, saat sedang mengedarkan pandangan Pangeran Elio menemukan gagang pedang yang memiliki permata saphire. Dia meyakinkan kembali penglihatannya karena permata itu ditutupi kain berwarna putih untuk menutupinya.


Pangeran Elio langsung menghampiri pemilik pedang itu, namun saat di dekati putri itu langsung kabur dia menjauhi Pangeran Elio yang akan mendekati dirinya.


“Kali ini aku tidak akan membiarkan mu lepas” gumam Pangeran Elio.


...• • •...


Pulang dari Festival, Pangeran Elio langsung masuk ke dalam perpustakaan untuk mencari sebuah buku yang bersampul merah marun.


Dia membukanya dan membaca yang sedang dia cari, tidak lain Pangeran Elio mencari tentang kepemilikan pedang permata saphire.


Pangeran Elio membaca halaman 30 dengan seksama. Padahal buku yang dia pegang sudah berkali-kali dia baca.


“Benar, aku tidak salah. Pedang permata biru milik petinggi kerajaan. Yang pastinya dia kasta tertinggi. Kenapa orang semacam dia bisa muncul di tengah Festival sebebas itu? Apakah ada masalah?” gumam Pangeran Elio


Pintu perpustakaan terbuka, Pangeran Elio langsung berdiri dan memberi hormat pada Raja Aiden. Kemudian mereka duduk berhadapan.


Raja Aiden tersenyum dan menatap buku yang ada di depan Pangeran Elio.


“Ada yang kau cari?” tanya Raja Aiden


“Tidak Yang Mulia, aku hanya iseng saja membaca buku ini” ucap Pangeran Elio


“Kau seperti ibumu, kemungkinan kau membuka buku itu karena ingin memastikan sesuatu atau ingin mengetahui sesuatu” ucap Raja Aiden


“Iya, aku hanya ingin memastikan sesuatu saja Yang Mulia” ucap Pangeran Elio


“Apa itu? Bolehkah aku mengetahui hal itu?” tanya Raja Aiden


“Bukan rahasia, aku hanya ingin mengetahui tentang satu hal” ucap Pangeran Elio


“Apa itu?” tanya Raja Aiden


“Jika ada seseorang yang memiliki permata saphire di pedangnya maka dia bukan putri atau pangeran bukan?” tanya Pangeran Elio


“Iya, sejarah meyakini, bahwa pemilik permata saphire di pedangnya itu menandakan bahwa dia adalah orang penting atau petinggi kerajaan besar. Yang pasti dia bukan sembarang orang. Kenapa? Kau bertemu orang seperti itu pangeran?” tanya Raja Aiden


Pangeran Elio mengangguk “Iya, dia bahkan menjadi salah satu partisipan Festival Pejasone tadi siang” ucap Pangeran Elio


“Tidak mungkin, untuk apa petinggi kerajaan melakukan hal itu? Akhir-akhir ini kerajaan-kerajaan besar tentram dan damai. Kenapa dia berpartisipasi dalam Festival?” tanya Raja Aiden


“Saya juga tidak tahu Yang Mulia, tadi saat aku ingin mengejarnya dia sudah pergi menjauh dan menghilang begitu saja” ucap Pangeran Elio


“Berhati-hatilah, bisa saja dia ingin mencari tahu informasi-informasi kerajaan. Kemungkinan masalah yang selama ini disembunyikan bisa diketahui olehnya” ucap Raja Aiden


Pangeran Elio mengangguk dan dia memberikan salam penghormatan pada Raja Aiden.


“Aku akan berusaha semampuku untuk terus melindungi Kerajaan Corvus. Bahkan jika nyawa taruhannya.” Ucap Pangeran Elio


Raja Aiden berdiri dari duduknya dan menghampiri Pangeran Elio. Raja Aiden menepukpundak Pangeran Elio.


“Kau punya beban berat untuk ke depannya, aku berharap kau tetap kuat dan kepala dingin menghadapi semua masalah” ucap Raja Aiden


“Baik Yang Mulia Raja Aiden” ucap Pangerran Elio.


“Silahkan istirahat pangeran” ucap Raja Aiden


“Baik Yang Mulia, salam” ucap Pangeran Elio, dia membungkuk memberi salam penghormatan lalu meninggalkan Raja Aiden.


...•...

__ADS_1


...•...


.... to be continued ....


__ADS_2